
Willy memandang pekarangan rumah Hanaria yang nampak asri, sudah hampir seminggu ia dan Hanaria sebagai suami isteri menempati kediaman Hanaria yang sederhana itu.
Suara notifikasi ponsel Willy berbunyi beberapa kali, ia segera membukanya. Beberapa laporan melalui e-mail baru dikirim oleh sekretaris Morin, juga jadwal meeting hari ini. Untuk beberapa saat Willy termangu ketika melihat satu pesan yang menunjukan pengiriman dana dari rekening pak Muri, ayah mertuanya dengan nilai dua Milyar masuk ke rekening Hanaria pagi ini.
Ceklek!
Pintu depan terbuka. Hanaria keluar, ia terkesiap melihat Willy duduk dikursi teras rumah sederhananya.
"Willy? Bukankah kau tadi sudah berangkat kekantor. Kenapa ada disini?" tanya Hanaria bingung, seingatnya Willy sudah berangkat dan dirinya sudah mengantarkan suaminya itu didepan pintu pagar rumahnya tadi pagi.
"Aku kembali sebentar, untuk menemanimu mengantarkan Firlita dari rumah sakit kerumah ibu mertuanya," sahut Willy, ia berdiri lalu mendekati isterinya itu.
"Aku bisa sendiri Willy, aku tahu kau sangat sibuk, jadi aku tidak mau merepotkanmu," kata Hanaria menatap suaminya itu.
"Kata siapa kau merepotkanku. Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Willy. Ia menggandeng tangan Hanaria, menuju mobilnya yang terparkir didepan pagar.
Sepanjang perjalanan kerumah sakit, keduanya tidak terlalu banyak bicara. Willy sesekali melirik Hanaria yang sibuk dengan ponsel ditangannya. Walau hatinya sangat penasaran apa yang tengah dilakukan Hanaria, namun ia hanya menyimpannya didalam hatinya.
Suara notifikasi di ponsel Willy kembali berbunyi beberapa kali. Hanaria yang baru selesai melakukan transaksinya menoleh kearah Willy yang fokus menyetir sambil menatap jalan dihadapannya.
"Ponselmu Willy, terdengar ramai sekali," kata Hanaria.
"Biarkan saja, setelah kita tiba dirumah sakit, baru-lah aku akan memeriksanya," sahut Willy tenang dan masih fokus pada kemudinya. Namun didalam hatinya ia sudah menduga bahwa notifikasi yang masuk kedalam ponselnya itu pasti pemberitahuan tentang transaksi yang dilakukan oleh isterinya itu.
Begitu tiba dirumah sakit, Willy memarkirkan mobilnya didepan lobi, disana sudah ada nyonya Mingguana dan Mahendra yang sudah lebih dulu datang untuk menjemput Firlita dan bayinya, keduanya tengah sibuk mengurus administrasi kepulangan Firlita.
"Kak Hana, terima kasih sudah datang." ucap Firlita dengan senyumnya saat melihat Hanaria dan Willy datang menghampirinya.
"Iya Firlita, apakah kau sudah siap?" tanya Hanaria sambil melihat bayi Elvano yang sedang tertidur pulas dalam gendongan Firlita.
"Sudah kak," sahut Firlita.
"Berikan baby Elvano padaku, aku merindukannya," kata Hanaria, ia segera meraih bayi Elvano yang tertidur pulas karena sudah kekenyangan dari gendongan ibunya.
"Nona Hanaria, bisakah saya bicara sebentar dengan Anda?" tanya dokter Domianus yang tiba-tiba sudah berada didekat mereka.
"Oh, tentu saja Dok," sahut Hanaria, ketika dilihatnya dokter Domianus yang berbicara padanyanya.
__ADS_1
"Willy, aku pamit sebentar saja. Tolong temani Firlita dulu disini," ucap Hanaria. Tanpa menunggu persetujuan Willy, bukannya mengembalikan bayi Elvano pada Firlita ibunya, Hanaria malah menyerahkan bayi mungil itu kedalam gendongan Willy.
"Hana, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberikannya padaku?" kata Willy gelagapan. ia tidak menyangka Hanaria berbuat seperti itu padanya. Namun ia tetap menyambut bayi Elvano, khawatir bayi itu terjatuh.
Firlita memperhatikan Willy yang tengah menatap kepergian Hanaria bersama dokter Domianus kekursi taman yang hanya berjarak kira-kira hanya lima puluh meter saja dari mereka menunggu.
Sambil menggendong bayi dalam pelukannya dengan erat, pandangan Willy tidak lepas mengamati Hanaria yang sedang berbincang serius dengan dokter Domianus.
"Tuan muda, terima kasih sudah datang kemari bersama kak Hanaria, untuk mengantarkan saya kerumah keluarga suami saya," ucap Firlita memecahkan keheningan diantara ia dan Willy sambil mengulas senyumnya.
"Maafkan, sudah menyita waktu kerja tuan muda yang sangat berharga," imbuh Firlita, ia masih berusaha menampilkan senyum ramahnya pada pria yang menggendong bayinya itu.
Willy menoleh sebentar kearah Firlita yang sedang berbicara padanya sebagai bentuk kesopanannya, ia berusaha bersikap baik pada Firlita karena wanita itu adalah adik angkat isterinya.
"Sama-sama nona Firlita, ini semua saya lakukan demi Hanaria, saya tidak mau membiarkan isteri saya pergi sendiri bila saya masih bisa menemaninya." sahut Willy datar tanpa senyuman diwajahnya.
Firlita menelan saliva-nya melihat sikap datar Willy padanya, tidak seperti yang pria itu tunjukan bila sedang bersama Hanaria, kakak angkatnya.
"Oh, iya, saya baru ingat mengucapkan terima kasih pada tuan muda hari ini, yang bersedia menggendong dan bahkan memangku saya selama dalam perjalanan kerumah sakit waktu itu, saya sangat berhutang budi," Firlita mengalihkan pembicaraan dan berusaha mencairkan suasana antara dirinya dan Willy yang terlihat sangat kaku padanya.
"Nona Firlita tidak perlu berpikir tentang hutang budi. Saya juga melakukan itu karena Hanaria yang memintanya. Itu artinya, semua yang saya lakukan itu sebenarnya bukan untuk nona Firlita, tapi untuk Hanaria isteri saya," kata Willy masih datar, tanpa sedikitpun menoleh kearah Firlita, pandangannya masih terus memandang kearah Hanaria yang berbicara dengan dokter Domianus.
Firlita kembali menelan salivanya dengan susah payah ketika mendengar perkataan Willy yang sangat jelas dan jujur itu, ada sedikit rasa sakit dibagian hatinya yang lain, karena sudah salah mengira akan kebaikan Willy padanya.
"Tuan muda Willy, anda datang sendiri?" tanya nyonya Mingguana yang batu saja tiba dari menyelesaikan administrasi bersama Mahendra putranya.
"Saya tidak sendiri, saya bersama Hanaria isteri saya," sahut Willy datar menatap wajah nyonya Mingguana.
"Kalau begitu, dimana keberadaan nona Hanaria sekarang?" tanya nyonya Mingguana mencari, sambil menyapu pandangannya kesekitar mereka.
Tidak lama, pandangannya menemukan keberadaan Hanaria yang sedang melangkah mendekati mereka.
"Baiklah, kebetulan nona Hanaria sudah kembali, bagaimana kalau kita langsung saja pulang kerumah kami," ajak nyonya Mingguana.
"Baik nyonya, Firlita akan ikut bersama kami dimobil, karena setelah ini kemungkinan saya agak sulit bertemu dengan Firlita dan bayinya." kata Hanaria.
"Tidak masalah Nona," Sahut nyonya Mingguana menyetujui.
__ADS_1
...***...
"Nyonya, saya titip Firlita, adik saya pada Anda dan Mahendra putra anda," ucap Hanaria yang terlihat sedikit sedih.
"Percayalah, kami akan menjaga Firlita juga bayinya dengan baik dirumah ini nona Hana, sesuai pembicaraan kita tempo hari dirumah sakit," sahut nyonya Mingguana sambil menunjukan senyumnya pada Hanaria.
"Dan jangan lupa, besok hari pertama Anda berkerja di perusahaan kami nona Hanaria," sambungnya dengan senyum mengembang. Willy yang melihatnya merasa muak akan kepura-puraan wanita itu.
"Tentu saja saya ingat nyonya," sahut Hanaria, lalu beralih pada Firlita yang ada didekatnya.
"Firlita, kak Hana pulang dulu, pandai-pandailah membawa dirimu dirumah suami dan mertuamui ini," pesan Hanaria, ia mengelus rambut Firlita yang berwajah sedih, walau dalam hati kecilnya tidak tega membiarkan Firlita kembali lagi kerumah nyonya Mingguana dan putranya.
Tapi Hanaria juga tidak bisa menahannya, karena Firlita sudah memiliki keluarganya sendiri. Ia lalu berbalik dan pergi setelah berpamitan pada nyonya Mingguana dan Mahendra.
Firlita menatap kepulangan Hanaria yang digandeng oleh Willy yang memperlakukan kakak angkatnya itu dengan sangat manis, membukakan pintu buat Hanaria lalu menutupnya kembali.
Setelah mobil yang dikendarai Willy dan Hanaria menghilang dari pandangan, Mahendra lalu beranjak begitu saja meninggalkan Firlita dan ibunya.
"Mahendra! Mau kemana?" nyonya Mingguana memanggil putranya yang sudah agak menjauh.
"Pergi," sahut Mahendra acuh, menuju mobilnya.
"Urus Firlita dan putramu Elvano dulu Mahendra!" perintah nyonya Mingguana setengah berteriak karena jarak yang cukup jauh.
"Mama saja yang mengurusnya, aku kan sudah berkali-kali mengatakan pada Mama, aku tidak menginginkan mereka hadir dalam hidupku," Mahendra membanting pintu mobilnya, lalu melajukan mobilnya menuju gerbang pagar rumah dengan suara ban mobil yang berdecit membuat ngilu bagi telinga yang mendengarnya.
"Bibi!" panggil nyonya Mingguana pada Narsih, asisten rumah tangganya.
"Iya nyonya!" sahut bibi Narsih yang datang segera dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Urus Firlita dan bayinya Bi, saya akan kembali kekantor sekarang," kata nyonya Mingguana, saat asisten rumah tangganya berdiri dihadapannya.
"Baik nyonya," sahut bibi Narsih sambil membungkuk hormat.
"Mari nona Firlita, saya antar kekamar Nona," ucap bibi Narsih bersikap sopan. Tanpa banyak bicara, Firlita mengikuti langkah bibi Narsih dari belakang sambil menggendong bayinya, ia sudah menduga, bahwa suami dan ibu mertuanya tidak berubah, masih sama seperti yang dulu, tidak perduli padanya.
...***...
__ADS_1