HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
265. Siap Memberi Dukungan


__ADS_3

"Willy, duduk disini," nyonya Agatsa menepuk sofa kosong disebelahnya.


Willy yang baru saja kembali dari mengantar asisten David menatap kosong sofa yang ditunjuk oleh neneknya itu dengan perasaan tak menentu.


"Willy mau masuk saja dulu Oma, mungkin saja Hana sedang memerlukan sesuatu," ucap Willy bergegas.


"Oma sudah meminta seorang perawat untuk menemani Hana, Willy. Jadi kau tidak punya alasan untuk kabur," tandas wanita lanjut itu.


Willy menghentikan langkahnya, menyapu lobby dengan pandangannya, ia melihat formasi anggota keluarga besarnya lengkap berada disana. Kecuali Billy yang selalu sibuk dengan tugas negaranya, sementara dua adik perempuan kembarnya dan dua adik sepupnya, siang tadi berpamitan ikut ke dusun kedua orang tua Hanaria untuk menghabiskan waktu liburan mereka disana.


"Apa yang membuat wajah cucu tampanku tidak enak dipandang seperti ini, heum?" tanya nyonya Agatsa begitu Willy berhasil mendaratkan bokon*nya di sebelahnya. Ia menarik punggung lebar Willy agar bersandar padanya.


"Mom, Willy itu sudah tua bangka. Sudah tidak pantas diperlakukan seperti bayi lagi. Dia bahkan sudah punya dua bayi," Moranno melirik ibunya, sementara Yurina hanya mengulas senyum hangatnya, menyaksikan tingkah putranya dan ibu mertuanya.


"Bagi Mommy, Willy masih seperti bayi, hanya bedanya sekarang dia menjadi bayi besarnya Oma." nyonya Agatsa memeluk tubuh kekar cucunya itu dari samping dengan mendaratkan beberapa kali kecupan di kepala bagian kiri Willy.

__ADS_1


Willy yang di perlakukan bak seorang bayi oleh sang nenek tidak merasa keberatan apalagi protes, ia tetap merasa nyaman saja. Walau ia sudah menikah, tidak ada yang berubah, dan dirinya memang suka bermanja ria pada neneknya itu bila mereka bertemu.


"Buktinya, sudah sebesar ini uang jajannya juga ikutan besar. Kalian semua pasti juga sudah diporotin oleh bayi besar ini 'kan beberapa hari yang lalu?" ucap nyonya Agatsa dibarengi kekehannya.


Seketika suasana menjadi riuh oleh gelak tawa para orang tua itu. Willy yang menjadi bahan tertawaan ikut tertawa pula, tidak sedikitpun rasa malu terpancar dari wajah tampannya, baginya itu sudah hal yang biasa bila dirinya jadi bahan ejekan, yang penting apa yang dirinya minta akan mereka penuhi tanpa banyak komentar.


"Apakah setelah ini kau akan minta uang jajan lagi, setelah bertemu dengan asisten pribadi isterimu itu tadi?" sambung nyonya Agatsa lagi, masih dengan tawa lepasnya.


Willy melepaskan pelukan neneknya, ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya dan menatap wajah wanita lanjut itu dengan penuh tanya. "Apa Oma tahu sesuatu? Maksudku tentang perusahaan tambang Hanaria yang tengah bermasalah?"


"Heum," nyonya Agatsa hanya mengangguk pelan, mengiyakan.


"Oma-mu itu Super Woman, Willy. Jadi kau tidak perlu heran," Margareth, adik kembar Moranno ikut bersuara disebelah Harry suaminya.


"Apa semuanya tahu?" Willy menatap paman dan bibinya, lalu pada kedua orang tuanya, beralih pada nenek dan kakeknya, -- tuan dan nyonya Morgan, dan terakhir pada nenek buyutnya, -- nyonya Naomi.

__ADS_1


"Apa aku saja yang baru tahu?" Willy merasa begitu bod*h.


"Willy, kami sengaja menahanmu disini, untuk berbicara hal penting ini," nyonya Agatsa kembali berbicara. Kali ini suaranya terdengar serius, tanpa embel-embel candaan seperti sebelumnya.


"Empat perusahaan tambang yang dipegang isterimu itu, permasalahannya memang begitu komplit. Mulai dari perijinan perusahaannya yang tidak sesuai jalur, sampai pada pembebasan lahan yang dilakukan oleh mitra kerja perusahaan yang banyak merugikan masyarakat." ungkapnya.


"Hanaria akan menghadapi masalah besar. Karena gugatan para warga yang tanahnya sengaja dibayarkan pada orang yang salah akan menyinggung pada perijinan perusahaan yang memang sudah bermasalah."


"Tapi bukan Hanaria yang melakukan itu semua Oma, apalagi isteriku itu terbilang baru memegang perusahaan-perusahaan itu. Itu terjadi jauh sebelum Hanaria menjadi pemiliknya," sela Willy berusaha memberi pembelaan pada isterinya.


"Kau benar Willy, dan kami semua tahu itu. Tapi perlu diingat, semua permasalahan yang ditimbulkan perusahaan akan menjadi tanggung jawab pemilik. Kecuali Hanaria mampu membuktikan bila dirinya memang bersih," ucap nyonya Agatsa gamblang.


Willy mendesah berat. Data-data yang sempat ia lihat di laptop asisten David beberapa menit yang lalu kini kembali berseliweran dan menari-nari dalam kepalanya yang mendadak terasa penuh.


"Hanaria, isterimu itu tidak sendiri. Kami siap memberi dukungan dalam bentuk apapun," ungkap nyonya Agatsa lagi. Ia mengusap lembut lengan Willy, seolah sedang mentransfer energi positif bagi cucunya itu.

__ADS_1


Willy meletakan tapak tangannya diatas punggung tangan nyonya Agatsa yang masih mengusap lembut lengannya. "Terima kasih Oma," ucap. Willy dengan suara bergetar. "Dan untuk semuanya," ia menatap haru, juga pada kedua orang tuanya, paman dan bibi, nenek dan kakek Morgan-nya, juga nenek buyut Naomi. Selama ini, keluarga besarnya itu memang selalu memberi dukungan padanya juga pada isterinya.


Bersambung...👉


__ADS_2