
"Kenalkan, saya Yurina, ibunya Willy. Dan ini suami saya, Moranno Agatsa, ayah Willy." Ucap Yurina, memperkenalkan diri, pada Firlita yang masih berdiri didepan pintu.
"Saya Firlita. Terima kasih, karena tuan dan nyonya berkenan hadir dikediaman kami yang sederhana ini, untuk menjenguk kak Hanaria." Sahut Firlita sambil membungkuk hormat.
"Mari masuk tuan dan nyonya. Kita langsung saja kekamar, saya bingung harus berbuat apa, karena kak Hana tidak mau dibawa kerumah sakit, ia hanya mau istirahat dirumah saja." Kata Firlita, sambil melangkah masuk lebih dulu kedalam rumah, diikuti yurina, Moranno Agatsa dan, Willy.
Moranno berhenti diruang tamu bersama Willy, sementara Yurina terus masuk kekamar Hanaria mengikuti Firlita yang melangkah didepannya sambil membawa paper bag ditangannya.
Yurina menghampiri Hanaria yang tergolek lemah diranjangnya, ia memperhatikan wajah pucat Hanaria yang sedang tertidur. Dengan sangat pelan, Yurina menyentuh kening gadis itu dengan punggung tangannya, tidak terasa hangat, ataupun panas. Ia lalu menyentuh bagian tubuhnya yang lain, juga sama. Suhu tubuhnya terbilang normal.
"Kak Hana sudah minum obat penurun panas nyonya." Ucap Firlita yang berdiri disisi tempat tidur Hanaria.
"Berarti nona Hana sempat deman?" Tanya Yurina menatap Firlita.
"Iya nyonya, selama dua hari ini, kak Hana tidak mau makan sedikitpun, ia hanya mau minum teh manis saja." Sahut Firlita lirih, ia menatap wajah Hanaria dengan sedih sambil merapikan anak rambut kakak angkatnya itu yang berantakan.
"Apakah sempat berobat kedokter?" Tanya Yurina lagi, ia memperhatikan tangan halus Firlita yang merapikan anak - anak rambut Hanaria.
"Tidak nyonya, kak Hana tidak mau kedokter juga, walau hanya berobat jalan. Ia hanya ingin istirahat dirumah saja, dan minum obat yang sudah biasa ia sediakan dikotak obatnya nyonya." Firlita menunjuk kotak obat yang ada diruang makan, yang masih bisa terlihat dari kamar Hanaria yang tidak ditutup pintunya.
Hanaria mengerjap - ngerjapkan matanya, ia terbangun karena mendengar suara orang yang sedang mengobrol didekatnya. Begitu matanya dapat melihat lebih jelas, ia langsung bangkit.
"Nyonya.......! Bagaimana anda bisa ada disini?!" Hanaria nampak kaget, awalnya ia fikir dirinya masih bermimpi, saat ia merasakan tangannya dapat menyentuh tangan Yurina, ia baru sadar bahwa isteri majikannya itu benar - benar ada dihadapannya.
"Saya kemari bersama suami saya, diantar putra saya Willy nona Hana......." Ucap Yurina sambil tersenyum, saat ia merasakan tangan Hanaria memegang tangannya erat.
__ADS_1
"Ber.......sama tuan Moranno, juga....... tuan muda?" Hanaria tergagap, wajahnya terlihat gugup. Ia langsung melepas pegangan tangannya dari tangan Yurina, dan langsung memegang kepalanya yang tiba - tiba terasa sakit.
"Kau baik - baik saja nona Hana?" Tanya Yurina khawatir, ia memegang punggung Hanaria untuk menahannya, supaya gadis itu tidak terjatuh bebas.
"Kepala saya, kepala saya tiba - tiba terasa sakit nyonya." Hanaria memegang kepalanya erat - erat, ia meringis menahan rasa sakit yang tiba - tiba menyerangnya.
"Willy......!!!" Teriak Yurina memanggil putranya itu. Dalam sekejap Willy sudah berdiri didepan pintu dengan raut wajah khawatir mendengar teriakan ibunya, Moranno Agatsa juga tidak ketinggalan, ia pun berdiri dibelakang putranya itu.
"Iya mommy.......??!" Sahut Willy, ia sempat melihat ibunya memegangi pundak Hanaria, sementara gadis itu terlihat memegang kepalanya dengan kedua tangannya yang nampak sangat sakit.
"Panggil dokter Herman kemari....... cepat.......!!" Perintah Yurina.
"Iya mommy......." Willy meraih ponsel yang ada didalam sakunya, ia segera menghubungi dokter Herman sambil melangkah keluar menuju teras rumah Hanaria. Langit diluar rumah nampak sudah gelap.
Setelah selesai menghubungi dokter Herman, Willy langsung mengirimkan share location untuk memudahkan dokter Herman datang kerumah Hanaria.
"Selamat malam mas........?" Seorang pria setengah baya dan seorang wanita yang seumuran dengan ayahnya melemparkan senyum dari luar pagar rumah Hanaria.
"Selamat malam juga pak, buu......" Willy balas tersenyum pada kedua orang yang telah menyapanya, dan masih berada diluar pagar itu.
"Nak Hanaria ada mas?" Tanya pria itu lagi.
"Ada pak. Ada perlu apa ya pak?" Sahut Willy, lalu balik bertanya.
"Saya ketua RT dikomplek perumahan ini mas, nama saya Firman, dan ini isteri saya. Kami berdua hendak menjenguk nak Hanaria, kabarnya dia sedang sakit." Sahut pria itu lagi, ia dan isterinya masih mengulas senyum pada Willy yang menatap kearah mereka.
__ADS_1
"Oh pak RT, maafkan saya, saya tidak tahu. Mari silahkan masuk. Nona Hanaria ada didalam." Willy segera membukakan pintu pagar, dan mempersilahkan pak RT Firman, juga isterinya maauk.
"Tin..... tin.... tin......"Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti didepan pagar rumah Hanaria. Pemilik mobil itu membuka jendela kaca depannya. Nampak wajah dokter Herman menyembul dari belakang kemudi.
"Disinikah rumah nona Hanaria, tuan muda??" Tanya dokter Herman dari dalam mobil.
"Iya dokter......" Sahut Willy.
"Parkirnya dimana tuan muda?" Tanya dokter Herman lagi, sambil menoleh kesekelilingnya mencari lahan parkir. Willy juga terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan dokter keluarganya itu, karena dihalaman rumah Hanaria sudah tidak bisa menambah satu mobil lagi, sudah ada mobil miliknya dan Hanaria.
"Parkir didepan pagar saja mas." Ucap pak RT Firman, saat dirinya melihat kebingungan antara kedua pria itu.
"Apakah tidak mengganggu lalu lintas mobil lainnya pak RT?" Tanya Willy sedikit Ragu, karena melihat jalur jalan yang sempit, hanya cukup 2 mobil saat saling melintas.
"Tidak masalah mas, kan sementara saja, nanti mobil - mobil yang mau melintas bisa bergantian." Jelas pak RT Firman yang sudah sangat mengetahui kondisi komplek perumahan dimana dirinya dipercayakan menjadi ketua RT.
"Dokter Herman, parkir didepan pagar saja. Pak RT sudah memperbolehkan untuk sementara waktu." Ujar Willy pada dokter yang masih menunggu didalam mobil.
"Baik tuan muda." Dokter Herman bergegas turun dari mobilnya, lalu menghampiri Willy yang ada dihalaman rumah Hanaria bersama pak RT Firman dan isterinya.
"Selamat malam pak, saya dokter Herman." Ucap dokter Herman sambil mengulurkan tangannya pada pak RT Firman dan isterinya.
"Saya Firman, ketua RT dikomplek perumahan ini dokter. Dan ini isteri saya." Sahut pak Firman sambil menyambut uluran tangan dokter Herman, dan tidak lupa memperkenalkan isterinya yang ikut dengannya.
"Ayo kita segera masuk dulu dokter, pak RT dan ibu RT, supaya nona Hanaria segera diperiksa oleh dokter Herman." Ucap Willy, mengingat keadaan Hanaria yang sedang sakit dikamarnya.
__ADS_1
"Iya dokter...... masnya benar...... " Sahut pak RT Firman. Mereka berempat lalu masuk kedalam rumah Hanaria yang sederhana itu. Dokter Herman langsung menuju kamar Hanaria diantar oleh Willy, sedangkan pak RT Firman dan isterinya menunggu diruang tamu, bergabung dengan Moranno Agatsa yang sejak tadi duduk seorang diri disana.