HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 75 Tersedak


__ADS_3

"Mas Rey sendiri??" Tanya Gadis itu.


"Tidak, mas Rey dengan teman...... Kenalkan......." Reymon menoleh kearah Hanaria. Hanaria yang mengerti maksud Reymon langsung berdiri dan mengulas senyum pada gadis belia itu.


"Hanaria........" Ucap Hanaria seraya mengulurkan tangannya.


"Aku....... Edrine kak......." Sahut gadis itu ramah, sambil menyambut tangan Hanaria, logatnya terdengar kebule - bulean, terdengar imut dan manja ditelinga.


"Kakak pacarnya mas Rey ya?" Celetuk gadis itu lagi, matanya memandangi wajah Hanaria sambil mengawasi dari atas hingga keujung kaki, hingga ke atas lagi.


"Mmm......." Hanaria menatap Reymon, lidahnya berat untuk bicara.


"Bukan nona muda, Hana hanya temannya mas Rey, kami sama - sama dari dusun yang sama, kebetulan mas Rey ada urusan di kota, jadi mas Rey sengaja mengajak Hana bertemu untuk makan siang." Jelas Reymon, yang seolah mengerti arti tatapan Hanaria padanya.


"Oowhh........ Maaf ya mas Rey..... kak Hana..... Edrine fikir tadi udah pacaran, heheee....... Tapi Edrine lihat cocok banget, kak Hana nya cantik, mas Rey nya ganteng, kelihatannya sangat klop gitu....." Celotehnya dengan logat bahasa yang terkesan lambat, karena dirinya masih harus banyak berfikir dalam mengeluarkan setiap kosakata Indonesia yang masih ia pelajari.


"Uhuk....... Uhuuuk....... Uhhuuuikkkk......." Willy mendadak terbatuk - batuk disebelah Edrine, saat mendengar ucapan sepupunya itu.


"Bro, why are you coughing like that?" Edrine yang kaget, langsung menepuk - nepuk tengkuk kakak sepupunya itu.


"Ahh, no.....it's okay, big brother just choked a little......" Sahutnya dengan wajah memerah, menahan gatal pada tenggorokannya. Hanaria segera meraih botol mineral dari atas meja, dan menyerahkannya langsung pada Willy, untuk meredakan batuk atasannya itu.


Tanpa fikir panjang, Willy segera menerima botol air mineral dari Hanaria, dan segera meneguknya hingga bersisa setengah dari volume botol mineral itu.


"Terima kasih......" Ucap Willy pada Hanaria dengan nada datar, setelah batuknya mereda.


"Sama - sama tuan muda." Sahut Hanaria dengan wajah datar pula.


"Mas Rey, aku dan Edrine duluan ya..... Jam makan siang sebentar lagi akan usai." Pamit Willy, sambil melirik Hanaria sekilas, yang sedang berdiri disisi Reymon.

__ADS_1


"Baik tuan muda, dan nona muda, kami juga akan segera beranjak dari sini."Sahut Reymon. Willy segera beralu, membawa botol mineral yang sudah setengah diminumnya, menuju kasir dan segera diikuti oleh Edrine.


"Mas Rey....... Kak Hana........ Edrine duluan ya......." Pamit Edrine, sambil melambaikan tangannya pada Reymon dan Hanaria. Keduanya pun ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Hana...... mas Rey, maaf ya, lama menunggu." Ucap Shasie yang baru saja selesai dari toilet. Hanaria dan Reymon sama - sama menoleh kearah Shasie yang ada dibelakang mereka. Keduanya sama - sama terperangah, saat memandang wajah Shasie.


"Kenapa mas Rey? Apa aku terlihat jelek?" Tanya Shasie yang merasa aneh pada sikap Reymon dan Hanaria yang terlihat kaget saat melihat dirinya.


"Tidak Shasie...... kau sangat cantik......" Puji Reymon sambil tersenyum tipis, pada gadis berkulit kuning langsat itu. Shasie yang mendapat pujian dalam waktu singkat dari Reymon, begitu tersanjung. Wajah putih mulusnya terlihat merona dan tersipu malu. Hanaria ikut tersenyum melihat sahabatnya yang dalam waktu singkat langsung dimabuk cinta, hanya dalam hitungan menit.


"Shasie, kita kembali kekantor sekarang yuk...... Waktu istirahat makan siang sebentar lagi usai." Ucapan Hanaria membuyarkan angan - angan dan khayalan Shasie yang begitu melambung tinggi.


"Ayolah......." Ucap Shasie terpaksa, ia terlihat kecewa, sebenarnya ia ingin berlama - lama dekat dengan Reymon. Tapi apa daya, waktulah yang memjsahkan. Bukan Shasie namanya, kalau tidak mendapat ide baru untuk dirinya sendiri.


"Mas Rey, jangan lupa menghubungiku ya, nomor ponselku, sudah ku simpan di ponselnya mas Rey....." Ucapnya setengah berbisik, dan merapat ketubuh Reymon yang hendak berjalan menuju kasir.


"Baiklah......" Sahut Reymon, ia mengulas senyum tipisnya, walau dihati kecilnya merasa risih pada sikap Shasie yang sangat caper padanya.


"Ehh..... Iya mas Rey........" Sahut Shasie mempersilahkan, ia segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Reymon. Shasie segera mengikuti Hanaria yang berjalaan keluar dari restoran.


"Apa ada masalah mas Rey?" Tanya Hanaria, saat Reymon sudah ada didekat mereka. Sebelumnya ia sempat mendengar perbincangan Reymon dan kasir saat melewati meja kasir.


"Tidak ada Hana, hanya saja...... makan siang kita sudah dibayarkan tuan muda lebih dulu." Ucap Reymon dengan senyumnya.


"Siapa itu tuan muda, mas Rey?" Tanya Shasie penasaran, sambil menatap kearah Reymon yang berdiri disisi Hanaria.


"Tuan muda Willy, CEO di perusahaan tempat kalian berkerja......." Sahut Reymon.


"Tuan muda Willy?? Dia tadi kemari?? Wuuaaaahhh...... Coba tadi aku tidak berlama - lama didalam toilet, aku pasti bisa bertemu dengannya......." Ucap Shasie dengan wajahnya yang berbinar sambil menangkup pipinya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ehemmm........." Hanaria langsung berdehem, supaya sahabatnya itu tidak berlaku lebih lagi dihadapan Reymon.


"Ma.... Maaf......" Wajah Shasie langsung memerah, ia lupa kalau ada Reymon disana selain Hanaria. Bila Hanaria, wanita itu pasti bisa mengerti akan sikapnya yang tidak bisa tahan melihat pria - pria tampan. Tapi kalau Reymon, jangan - jangan laki - laki itu akan ilfil melihat kelakakuannya, fikirnya. Bisa gawat, padahal yang menjadi targetnya sekarang ada pria tampan berkulit eksotik itu.


" Yuk buruan masuk kemobil......." Ucap Hanaria pada Shasie yang masih tersipu malu, sementara Reymon hanya tersenyum saja, sebenarnya dirinya tidak terlalu mempermasalahkan sikap Shasie yang terlihat agak genit itu.


"Mas Rey naik apa?" Tanya Shasie sambil celingak - celinguk melihat kesana - kemari, seperti sedang mencari sesuatu.


"Mas naik taxi......." Sahut Reymon santai sambil tersenyum.


"Setelah dari sini, mas Rey mau kemana?" Tanya Shasie lagi ingin tahu.


"Pulang ke apartemen tuan muda Willy, kebetulan tuan muda menawarkan menginap ditempatnya selama mas beberapa hari ada disini, besok mas sudah kembali lagi ke dusun." Sahut Reymon.


"Kalau gitu..... gimana kalau kita antar mas Rey, dari pada naik taxi, ya 'kan Hana?" Tawar Shasie sambil minta persetujuan Hanaria.


"Boleh...... Ayo mas Rey......." Sahut Hanaria, sambil menuju mobilnya diparkiran.


"Tidak usah Hana, Shasie...... Kalian berdua 'kan harus kembali kekantor. Nanti bisa terlambat kalau mengantarkan mas ke apartemennya tuan muda, jalurnya 'kan berlawanan arah." Tolak Reymon halus.


"Tidak apa - apa mas Rey...... Ayo...... Setelah ini 'kan kita mungkin akan lama bisa bertemu lagi." Ucap Hanaria. Reymon nampak berfkir sejenak.


"Baiklah........ Tapi maafkan mas ya, telah merepotkan kalian berdua, sampai harus mengantarkan mas pulang segala." Ujarnya sedikit merasa tak enak.


"Yessss!!! Gak pa - pa mas Rey, kami senang kok....." Shasie terlihat lebih bersemangat. Ia langsung menggandeng lengan Reymon masuk kemobil dan duduk dibelakang bersamanya.


"Kalau begini caranya, aku jadi supir tuan dan nyonya nih......" Kelakar Hanaria yang ikut masuk dan duduk dibelakang kemudi mobilnya.


"Tidak apa - apa Hana, sekali - sekali menyenangkan temanmu, itu 'kan banyak pahalanya." ujar Shasie menimpali. Ia merapatkan duduknya pada Reymon. Reymon berusaha bersikap santai, walau dalam hatinya merasa kurang nyaman pada sikap Shasie yang selalu berusaha bersentuhan dengannya.

__ADS_1


"Mas Rey, bisa mengemudi?? Tanya Hanaria. Ia sebenarnya merasa kasihan, dan dapat melihat raut wajah, juga bahasa tubuh Reymon yang merasa kurang nyaman pada sikap Shasie padanya.


__ADS_2