
Pagi itu Hanaria, tuan Doffy, dan Willy sudah ada dilokasi proyek. Hanaria yang mengenakan perlengkapan kerja lapangan seperti sepatu safety dan helm berwarna putih, menuruni perbukitan bersama tuan Doffy dan Willy yang menggunakan perlengkapan kerja yang sama.
Proyek perumahan 'Bukit Biru' yang sudah 4 bulan berjalan mengalami beberapa permasalahan teknis dilapangan. Ada beberapa unit perumahan yang mengalami retak rambut. Dan para kreditur yang sudah membeli mengajukan komplain pada debitur diperusahaan.
Tuan Doffy dan Willy yang mendapat laporan dari pimpinan proyek segera turun kelokasi proyek untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Pimpinan proyek, pak Paris Nugraha memperlihatkan beberapa perumahan yang dindingnya terlihat banyak retak rambut pada Willy, tuan Doffy dan juga Hanaria.
"Maafkan kami tuan Muda Willy, kami sudah melakukan campuran beton sesuai formula yang telah diberikan oleh pihak laboratorium. Tapi retak - retak rambut pada dinding - dinding beton dibeberapa unit rumah ini masih tetap terjadi. Dan hanya dideretan sebelah sini saja yang terjadi demikian. Dilokasi lainnya tidak tuan muda." Jelas pak Paris.
Willy memperhatikan retak - retak rambut yang terdapat dimana - mana di dinding perumahan itu.
"Ada berapa unit yang seperti ini pak Paris?" Tanya Willy setelah melihat keretakan pada dinding beton perumahan itu.
" 12 unit tuan muda." Sahut pak Paris.
"Berikan palu itu padaku......" Pinta Willy. Seorang tukang yang berdiri tidak jauh dari mereka segera memberikan sebuah palu besi yang ada dilantai pada Willy sambil membungkuk hormat.
"Ini tuan muda....."
"Terima kasih." Willy menerima palu besi dari tukang tersebut. Ia lalu mendekati didinding dihadapannya dan mulai membenturkan palu besi itu pada dinding yang terjadi retakan dengan perlahan. Tidak ada perubahan, dinding itu masih terlihat kuat dan kokoh.
Willy kembali membenturkan palu besi itu lebih keras dari sebelumnya. Juga retak - retak tersebut tidak ada yang berjatuhan, masih terlihat kokoh dan kuat.
"Bagaimana menurutmu tuan Doffy dan nona Hana? Apa yang membuat terjadinya banyak retakan - retakan rambut ini?" Tanya Willy memandang kearah Hanaria dan tuan Doffy.
""Bolehkah saya meminjam palu besi yang anda pegang itu tuan muda?" Tanya Hanaria mendekati Willy.
"Ambillah......" Willy menyerahkan palu besi itu pada Hanaria.
__ADS_1
Hanaria menerimanya lalu mendekati dinding yang lain, yang juga terdapat retakan - retakan rambut. Hanaria mulai memalu dengan pelan menggunakan palu besi itu. Selanjutnya Hanaria memalu dengan lebih keras hingga beberapa kali. Tiba - tiba beberapa dinding retakan rambut itu rubuh sebagian hingga menimpa tubuh Hanaria. Willy, tuan Doffy, dan pak Paris, juga beberapa tukang yang ada ditempat itu begitu terkejut melihat kejadian yang tiba - tiba itu.
Willy segera menarik Hanaria supaya tidak tertimpa reruntuhan dinding itu lagi.
"Anda tidak apa - apa nona Hana?" Willy melihat lengan tangan Hanaria yang terluka. Hanaria hanya meringis kesakitan.
"Kau ceroboh sekali nona Hana..... cepat berikan aku kotak P3K." Seru Willy pada semua orang yang ada disekitarnya.
"Tidak ada kotak P3K disini tuan....." Ucap pak Paris merasa tidak enak.
"Apa?? Tidak ada kotak P3K?? Tuan Paris, bagaimana anda bisa mengabaikan hal sepenting itu??? Bagaimana bila terjadi kecelkaan tiba - tiba pada para pekerja lapapangan itu seperti pada nona Hana sekarang ini???" Willy nampak sangat gusar pada keteledoran bawahannya itu.
Ia melepas rompi kerjanya dan dengan cepat melipatnya lalu membalut lengan Hanaria yang mengalami luka terbuka akibat puing - puing beton yang runtuh menimpanya, supaya tidak terjadi pendarahan terus menerus.
"Maafkan saya tuan muda Willy......" Ucap pak Paris merasa bersalah.
"Ayo bantu saya membawa nona Hana kemobil saya..... kita harus segera membawanya kerumah sakit.....!" Ucap Willy cepat.
Namun karena puing - puing beton itu ada yang menimpa kepalanya, ia merasa sedikit pusing saat berjalan.
"Jangan membantah..... kau itu sedamg sakit nona Hana.....! Kami juga tidak ingin menggendongmu bila kau tidak seperti ini !" Tuan Doffy, dan pak Paris segera membantu Willy mengangkat Hanaria memasuki mobilnya.
Tidak menunggu lama Willy langsung menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukannya setelah memasang sabuk pengaman Hanaria dan dirinya.
Sambil menyetir dengan kecepatan sedang Willy segera menelpon seseorang lewat ponselnya.
"Hallo...... 30 menit lagi saya sampai disana membawa pegawai saya yang mengalamai kecelakaan kerja, tolong siapkan segala sesuatunya." Perintah Willy singkat lalu mematikan ponselnya.
Willy melajukan mobilnya dengan keceparan tinggi dijalan yang tidak terlalu ramai, ia sesekali melihat kearah Hanaria yang duduk membisu disebelahnya.
__ADS_1
"Apa darahnya masih mengalir??" Tanya Willy melirik sekilas kearah Hanaria sambil memperhatikan jalan raya didepannya.
"Masih tuan muda......" Sahut Hanaria menahan perih.
"Lain kali, kau tidak boleh nelakukan hal itu lagi nona Hanaria. Apa yang kau lakukan tadi sangat berbahaya. Bagaimana kalau aku tidak cepat menarikmu, kau pasti tertimbun direruntuhan puing - puing beton itu!" Willy nampak ngeri saat mengingat kejadian yang baru saja menimpa Hanaria.
"Iya..... maafkan saya tuan muda...... saya hanya ingin mengetahui secara langsung kenapa retakan rambut itu bisa terjadi pada campuran beton yang sudah sesuai dengan formula yang diberikan oleh orang laboratorium kita. Atau ada kesalahan lainnya??" Hanaria memegang rompi Willy yang membalut lengannya yang sudah penuh dengan darah. Willy menjadi semakin panik melihatnya.
"Kau tahanlah..... sebentar lagi kita akan sampai kerumah sakit." Willy semakin mempercepat laju mobilnya.
Hanaria masih memegang lengannya yang terasa sakit, ia berusaha tidak mengeluh. Baginya itu sudah resiko pekerjaan saat turun kelokasi pekerjaan. Ia melirik sekilas kearah majikannya itu. Ternyata masih ada sisi kebaikan pada diri tuannya, pikir Hanaria didalam hati.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil yang dikemudikan Willy tiba dirumah sakit Agatsa Hospital dan berhenti tepat didepan IGD. Para perawat sudah siap menanti. Dengan sigap mereka mengangkat Hanaria dari mobil dan membaringkannya dikereta pasien dan segera membawanya keruang tindakan.
Hanaria meringis kesakitan, setiap kali tangan para perawat itu menyentuh beberapa luka dilengannya untuk dibersihkan.
Setelah dibersihkan dan dibalut dengan perban, dokter yang menanganinya melakukan beberapa test lagi. Hanaria dibawa keluar ruangan setelah semuanya selesai.
"Bagaimana keadaan nona Hanaria dokter?? Apa tidak ada patah pada tulang tangan dan kakinya??" Tanya Willy memburu, wajah terlihat khawatir.
"Apakah tuan muda mengharapkan terjadinya patah tulang dan kaki pada saya akibat kecelakaan kerja itu.....??" Hanaria yang mendengar pertanyaan aneh tuannya itu tiba - tiba merasa kesal.
"Bukan itu maksud saya nona Hana, saya hanya khawatir pada anda....." Jelas Willy jujur dengan wajah yang memang terlihat khawatir.
Dokter yang melihat perdebatan singkat antara Willy dan Hanaria hanya bisa tersenyum.
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡
__ADS_1
Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇