HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
167. Firlita Melahirkan


__ADS_3

Willy mondar-mandir didepan pintu ruang tindakan. Suara teriakan kesakitan Firlita didalam sana membuatnya tidak tenang, ia merasa sangat ngeri. Nampak Moranno dan Yurina dengan langkah tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit datang mendekati Willy.


"Bagaimana keadaan Firlita Willy?" tanya Yurina, sesaat setelah ia dan Moranno tiba didekat Willy.


"Masih didalam Mom, Hanaria yang menemani. Mommy dengarkan suara teriakan Firlita itu? Terdengar sangat menakutkan," ujar Willy dengan wajah serius dan sedikit tegang.


"Sssttt," Yurina menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri, memberi isyarat pada putranya itu untuk diam dan jangan diteruskan. ia juga mendengarkan teriakan Firlita, demikian pula dengan Moranno suaminya.


"Bagaimana keadaan menantuku?" tanya nyonya Mingguana yang tiba-tiba muncul bersama putranya, mengagetkan Moranno Yurina, dan Willy.


"Firlita masih didalam, kita semua bisa mendengar suaranya," jawab Yurina, ia sengaja menjedah ucapannya, supaya suami dan ibu mertua Firlita itu bisa mendengar teriakan kesakitannya.


"Kebetulan sekali Anda datang bersama putra Anda nyonya, bagaimana kalau saya antarkan kedalam? Bukankah lebih baik seorang isteri ditemani oleh suaminya," ucap Yurina menatap nyonya Mingguana dan putranya Mahendra yang baru tiba.


"Baiklah, kita masuk sekarang nyonya Yurina," sahut nyonya Mingguana.


"Mahendra, ayo ikut," ucapnya pula pada putranya yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Aku-, disini saja Ma," sahut Mahendra datar, ia terlihat enggan masuk mengikuti ibunya untuk menemui Firlita. Sebenarnya Mahendra juga tidak tahan mendengar suara Firlita yang berteriak-teriak kesakitan, ià merasa sangat ngeri mendengarnya.


"Mahendra! Putramu sebentar lagi akan lahir, jadi sekarang juga kau harus masuk. Apakah kau tidak mau menyaksikan moment berharga itu?" tegur nyonya Mingguana pada putranya itu.


"Jangan paksa aku Ma. Bukankah aku sudah pernah bilang, bila aku tidak menginginkan kedua-duanya? Baik ibunya apalagi bayinya! Semuanya itu hanya merepotkanku saja," sahut Mahendra kesal. Ia sungguh tidak mau berpura-pura seperti ibunya.


Willy yang merasa muak melihat tingkah Mahendra yang keterlaluan menurutnya, tanpa sadar meraih kerah baju pria itu dan menariknya untuk menghajarnya.


"Willy! Jangan kotori tanganmu dengan perkara yang tidak penting," cegah Morannno, nada datarnya mengandung sindiran tajamnya.

__ADS_1


"Kalau bukan karena Daddy, juga isterimu yang adalah adik dari isteriku, dengan senang hati aku akan menghajarmu." Geram Willy dengan tatapan tajam, ia semakin menarik kerah baju Mahendra hingga membuat lehernya terasa tercekik.


"Aku berharap didunia ini tidak ada pria yang sebrengsek dirimu lagi, menanam benih lalu tidak menginginkannya!" suara Willy masih terdengar geram, namun ia akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari kerah baju Mahendra, sambil mendorongnya dengan kasar.


Mahendra terbatuk-batuk, ia hampir saja jatuh tersungkur akibat dorongan Willy. Pria itu mengatur nafasnya yang sempat terasa sesak, akibat tercekik kerah bajunya yang ditarik kuat oleh Willy. Ia segera merapikan dan mengibaskan-ngibaskan kemejanya yang sempat kusut dan berantakan, namun tidak berani memprotes perbuatan Willy padanya.


"Sudahlah, cukup, jangan diperpanjang lagi," ucap nyonya Mingguana yang melihat apa yang telah dilakukan Willy pada putra kesayangannya.


"Mahendra, kau mau ikut mama masuk, atau tetap disinii?" tegas nyonya Mingguana menatap putranya itu.


"Aku disini saja Ma," sahut Mahendra masih bersikukuh pada pendiriannya. Willy yang mendengar perkataan Mahendra langsung memalingkan wajahnya kearah lain, ia berusaha menahan geramnya pada manusia yang sungguh tidak punya hati itu.


"Baiklah kalau begitu. Ingat, kau jangan kemana-kemana dulu Mahendra," ucap nyonya Mingguana mengingatkan.


Setelah berkata demikian, nyonya Mingguana mendekat pada perawat yang berdiri didepan pintu. Perawat itu lalu mengenakan pakaian khusus dan penutup kepala pada nyonya Mingguana dan juga pada Yurina, sebelum mereka masuk keruang tindakan.


"Bukan hanya menakutkan, mereka bahkan akan membuatmu skot jantung dan pingsan Willy," sahut Moranno menyambung obrolan putranya itu.


"Apakah Mommy dulu juga berteriak kesakitan saat melahirkan aku dan kak Billy?" tanya Willy dengan wajah serius memandang ayahnya.


"Tidak, Mommy-mu bisa menguasai dirinya, ia menahan sakit bersalin hanya untuk dirinya sendiri, karena saat itu Daddy sedang koma karena kecelakaan," ucap Moranno sambil mengingat masa lalu.


"Jadi Mommy melahirkan seorang diri dan hanya ditemani dokter saja?" tanya Willy lagi.


"Tidak, Daddy juga turut menemani. Karena Mommy-mu meminta dokter Rosalie untuk melakukan tindakan diruangan rawat inap Daddy, walaupun Daddy sedang koma. Itu Mommy-mu lakukan karena mengingat janji Daddy sebelum kecelakaan, Daddy akan menemani Mommy pada saat bersalin, " jelas Moranno.


"Luar biasa, ternyata Mommy dan Daddy sejak dulu sampai sekarang memang selalu komitmen, saling memegang janji dalam kondisi apapun, dan saling menjaga satu sama lain," Willy merasa kagum pada kedua orang tuanya. Ia memang pernah mendengar ibunya bercerita, namun kini ia mendengarkan kisah itu dari mulut ayahnya juga, ayahnya yang terlihat luar biasa pada saat ditempat kerja menurut pemandangannya, ternyata juga hebat dalam keluarga.

__ADS_1


Mahendra yang sibuk dengan ponselnya, juga turut mendengarkan obrolan antara ayah dan anak itu, sejak remaja, ia memang sudah kehilangan sosok seorang ayah. Baginya, apa yang ia dengar seperti dongeng saja, karena yang ia lihat dan rasakan, ayah dan ibunya tidak seperti apa yang ada dalam obrolan Willy dan ayahnya.


Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis, menganggap apa yang ia dengar adalah bualan semata, palsu, dan penuh kebohongan.


Arrgghhh! Arrrgggghhhhhhhh!


Ooeeèkk! Ooeekk! Ooeeeekkk!


Suara teriakan panjang Firlita itu akhirnya disambut oleh tangisan nyaring seorang bayi. Mahendra tersentak mendengarnya, demikian pula Willy dan Moranno ayahnya, tanpa disadari mereka saling berpandangan.


Setelah itu, Mahendra kembali fokus pada ponsel ditangannya. Willy dan Moranno hanya bisa saling bertatapan melihat ekspresi datar Mahendra, terbuat dari apakah hati pria itu, sama sekali tidak menunjukan rasa bahagianya mendengar suara tangisan bayinya yang sudah di ijinkan lahir kedunia.


Sementara bibi Salu yang ditemani dua pengawal pribadi Moranno yang duduk tidak jauh dari mereka terlihat mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, wajahnya nampak bahagia.


...***...


"Nona Hanaria, saya minta, lepaskan Firlita. Biarkan dia tinggal dirumah suaminya, dirumah kami, keluarga barunya," ucap nyonya Mingguana. Sambil duduk di sofa tamu, ia memperhatikan Hanaria yang sedang berdiri disisi ranjang pasien Firlita, menimang bayi laki-laki yang telah dilahirkan oleh adik angkatnya itu.


Willy membuka mulutnya hendak bicara, namun Yurina menahannya dengan menepuk lengan putranya itu sambil mengelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat tidak turut campur urusan Hanaria dan nyonya Mingguana.


"Apa maksud perkataan anda nyonya Mingguana?" sahut Hanaria, seraya menatap kearah. Ia merasa perkataan ibu dari Mahendra, suami Firlita itu seolah memojokan dirinya.


"Maksudku, jangan menahan Firlita lagi untuk tinggal bersamamu nona Hana. Bukankah Firlita sudah memiliki kami, keluarganya? Dan seharusnya Firlita tinggal bersama kami." Jelas nyonya Mingguana.


"Apa yang nyonya katakan itu benar, seharusnya Firlita memang tinggal dirumah suaminya," ucap Yurina sambil tetap menimang bayi mungil yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya.


"Kalau saja nyonya saat itu tidak datang tepat waktu, mungkin saja Firlita tidak akan selamat, dan baby Elvano tidak akan lahir hari ini," ucap Hanaria sambil mencium lembut pipi merah baby Elvano lalu menatap kearah nyonya Mingguana dan Mahendra yang duduk disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2