
"Akhirnya kalian datang juga...... Kita sudah terlambat 2 menit. Waktuku teramat sangat berharga...... " Ucap nyonya Mingguana dengan wajah dinginnya.
Hanaria pura - pura tidak mendengar. Ia langsung mengambil tempat duduk yang telah dipersiapkan oleh petugas pencatatan sipil, diikuti oleh Firlita dan pak Firman.
"Persyaratan untuk pencatatan sipil pernikahan apakah sudah dipersiapkan nona Hanaria dan nyonya Mingguana?" Tanya petugas pencatatan sipil pada kedua wanita yang dahulu datang untuk mendaftarkan pengajuan pencatatan sipil pernikahan.
"Ini pak......." Hanaria lalu menyerahkan satu amplop cokelat dari dalam tas ranselnya, berisi akte kelahiran,, E- KTP, Kartu Keluarga dan perlengkapan persyaratan lainnya milik Firlita sebagai persyaratan pencatan sipil pernikahan, demikian pula halnya dengan nyonya Mingguana, menyerahkan persyaratan milik putranya, Mahendra.
"Ditunggu sebentar ya tuan - tuan dan nyonya - nyonya." Petugas pencatatan sipil itu lalu memeriksa kelengkapan persyaratan itu, setelah dirasa cukup, ia lalu membawanya masuk keruangannya.
Keadaan diruang tunggu nampak senyap, tidak ada yang berusaha membuka obrolan. Nyonya Mingguana sibuk memeriksa tabletnya, sementara putranya Mahendra menatap ponselnya, sambil mengetik sesuatu, entah apa yang dikerjakannya diponsel pintarnya itu. Seorang pria yang sudah lanjut duduk termangu dibelakang nyonya Mingguana dan Mahendra.
Firlita terlihat tegang, Hanaria yang duduk disampingnya menautkan jari - jemarinya pada jari jemari Firlita. " Kau pasti kuat, kau pasti bisa, asalkan tetap bersabat Firlita......" Bisik Hanaria untuk menguatkan adiknya itu.
Firlita hanya menganggukan kepalanya pelan. Hatinya sungguh risau saat itu, tapi ia berusaha untuk tetap tegar, semua demi anak yang ada didalam kandungannya, yang butuh status, dan diakui anak oleh ayahnya, Mahendra Alhandra Liem.
Bayangan - bayangan kekelaman yang sudah menantinya didepan sana hampir membuatnya goyah. Firlita kembali berusha menguatkan hatinya sendiri, berkorban sebagai seorang ibu, demi sang buah hati yang akan lahir dari rahimnya.
Tidak lama kemudian, petugas pencatatan sipil itu sudah kembali dengan membawa dua lembaran surat pencatatan sipil ditangannya, dan meletakkannya diatas meja untuk ditanda - tangani oleh para pihak sepasang pengantin dan saksi - saksinya.
"Silahkan tanda tangan disini, tuan Mahendra Alhandra Liem." Ucap petugas itu memberikan pulpen dan menunjuk tempat yang harus ditanda tangani oleh Mahendra.
Tanpa ragu, Mahendra meraih pulpen diatas meja, dan mengukir tanda tanganya dengan cepat sesuai arahan dari petugas pencatatan sipil itu.
"Nona Firlita, silahkan anda tanda tangan disini......" Tunjuk petugas itu lagi. Firlita meraih pulpen dan mengarahkan ujung pulpennya untuk tanda tangan, namun ia berhenti sejenak, keraguan itu kembali muncul dihatinya.
" Kenapa? Apakah kau sudah berubah fikiran?" Ucap nyonya Mingguana bernada sinis.
__ADS_1
"Firlita......." Hanaria mengusap lembut punggung Firlita, untuk memberi dukungan pada wanita yang sedang hamil besar itu. Firlita memejamkan matanya sejenak. Akhirnya, ia membubuhkan tanda tangannya disana.
Setelah Mahendra dan Firlita bertanda tangan, lalu petugas catatan sipil itu mempersilahkan para saksi juga untuk membubuhkan tanda tangan di lembaran surat itu.
...***...
"Pak Firman...... terima kasih banyak, karena sudah berkenan menjadi saksi dicatatan Sipil adik saya. Kami tidak bisa membalas budi baik bapak yang telah banyak membantu. " Ucap Hanaria, sesaat setelah dirinya mengantarkan pak Firman pulang dikediamannya.
"Sama - sama nak Hana, saya ikhlas membantu..... Nak Firlita sudah saya anggap seperti anak sendiri juga, sama seperti nak Hana." Sahut pak Firman sambil tersenyum.
"Hanya saja...... Kalau boleh saya menasehati, nak Firlita harus berhati - hati dengan tuan Mahendra yang sudah menjadi suaminya itu, juga pada nyonya Mingguana ibu mertuanya." Ucap pak Firman dengan wajah terlihat khawatir.
"Iya pak, saya mengerti akan kekhawatiran pak RT..... Sebenarnya saya pun merasakan hal yang sama."ujar Yurina sambil melamun menatap bunga mawar merah berduri yang ada di halaman rumah pak RT.
"Pak RT.... Saya pamit, mau kembali kekantor, tadi saya ijin dua jam saja untuk mengurus urusan Firlita ini." Ucap Hanaria yang baru tersadar dari lamunannya.
"Tidak mampir dulu nak Hana.......?" Tawar Pak RT Firman.
"Baiklah nak Hana, hati - hati dijalan......"
"Terima kasih pak RT......."
Hanaria lalu beranjak menuju mobilnya. Ponselnya tiba - tiba berbunyi saat ia baru menghidupkan mesin mobilnya. Hanaria buru - buru mengangkat teleponnya, saat dilihatnya nama isteri majikannya yang sedang memanggil.
"Hallo, selamat siang nyonya......." Sapa Hanaria.
"Selamat siang nona Hana.......Saya sudah ada dikantor Agatsa Properti Group sekarang." Terdengar suara merdu Yurina dari ujung sambungan telepon.
__ADS_1
"Maafkan saya nyonya, urusan saya baru saja selesai, kira - kira 20 menit lagi saya akan tiba disana." Sahut Hanaria.
"Baiklah nona Hana, tidak masalah..... Kami akan menunggumu. Langsung saja keruangan tuan Moranno bila nona Hana sudah tiba."
"Baik nyonya......."
Telepon terputus. Hanaria segera menjalankan mobilnya, meninggalkan halaman rumah pak RT Firman. Ia membunyikan klaksonnya sekali, sambil tersenyum kearah pak RT yang masih setia menunggunya diteras rumahnya.
Lalu lintas jalan raya nampak cukup ramai, namun tidak seramai dipagi hari maupun disore hari, karena bertepatan waktu dengan jam masuk kerja dan jam pulang kerja.
Hanaria melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu banyak kemacetan, sehingga dalam tempo kurang dari 20 menit ia sudah tiba dikantor tempatnya berkerja.
Sebelum memasuki lift, Hanaria terlebih dahulu merapikan dirinya ditoilet. Ia menatap wajahnya dari pantulan cermin yang berada dihadapannya, yang terlihat sedikit tegang.
Hari ini terasa begitu berat bagi Hanaria. Dua jam yang lalu, ia telah mendampingi Firlita dalam urusan mencatat pernikahannya dengan Mahendra di catatan Sipil.
Dan beberapa menit kedepan, dirinya harus menyelesaikan urusan pribadinya dengan keluarga Agatsa. Hanaria memejamkan matanya sejenak, sambil berdoa didalam hatinya, ia mengambil nafas dalam - dalam dari hidungnya, lalu mengeluarkannya perlahan dari mulutnya, demikian ia lakukan berkali - kali, hingga dirinya lebih rileks dan siap menghadapi apa yang akan terjadi didepannya dalam menit - menit berikutnya.
Dengan langkah ringan, Hanaria keluar dari toilet menuju lift pegawai. Didalam Lift pegawai, ia menekan angka 7, menuju lantai dimana ia akan bertemu dengan anggota keluarga Agatsa.
"Ting - tong.......!" Lift pegawai terbuka, Hanaria lalu melangkah keluar. Tatapan matanya berbenturan dengan mata milik sekretaris Morin yang sedang duduk dimeja kerjanya.
Tidak ada saling menyapa ataupun sekedar melempar senyum dari kedua wanita itu. Sekretaris Morin langsung membuang muka saat Hanaria melintas dihadapan mejanya.
Sedangkan Hanaria yang diperlakukan demikian oleh sekretaris Morin, semakin tidak perduli akan sikap aneh sekretaris Morin yang tidak ramah itu, sambil berjalan dengan langkah ringannya menatap lurus kedepan.
Sekretaris Morin yang sebelumnya membuang mukanya, diam - diam memperhatikan Hanaria dengan ekor matanya. Teryata tidak seperti yang ia duga, Hanaria melangkah melewati ruang kerja Willy, membuat dirinya semakin memperhatikan kemana sebenarnya tujuan wanita itu.
__ADS_1
"Huhh......! Mampus kau wanita penggoda......! Kemaren - kemaren anaknya, hari ini ayahnya......! Kena batunya kau hari ini, didalam sudah ada nyonya......." Ucap sekretaris Morin pada dirinya sendiri, dengan senyum jahatnya, saat melihat Hanaria berhenti dan mengetuk pintu ruang kerja Moranno.
...***...