
Hanaria bergegas bangkit, mengisi air putih dalam gelas yang ada diatas nakas dan segera menyodorkan pada suaminya untuk segera diminun.
"Terima kasih," kata Willy setelah menghabiskan air dalam gelasnya.
"Maafkan aku, sudah membuatmu tersedak," kata Hanaria merasa bersalah. Ia mengambil gelas dari tangan Willy dan menaruhnya kembali diatas nakas, lalu kembali naik ke pembaringan dan merapatkan lagi tubuhnya pada tubuh suaminya itu.
"Kenapa kau mau mengadopsi bayi itu?" tanya Willy kemudian.
"Aku kasihan padanya, dia tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini Willy," kata Hanaria dengan nada sedihnya. " Bayi Elvano mengingatkanku pada ibunya, hidup sebatang kara," kata Hanaria lagi dengan kalimat yang semakin mendramatisir.
Willy mendesah berat, lalu mencium rambut isterinya yang wangi itu. Ia kenal benar sifat Hanaria isterinya, mudah sekali berempati pada sesamanya, bahkan tidak cukup sampai disitu, isterinya itu bahkan sanggup merogoh kantongnya sangat dalam untuk memberi bantuan finansial secara nyata, bahkan mengorbankan diri dan cita-citanya untuk Firlita dan Lania contohnya.
"Bayi itu tidak sebatang-kara Hana, dia masih punya nenek, dan juga ayahnya. Mereka belum mati, mereka hanya berada dalam penjara, suatu hari nanti mereka pasti akan keluar kalau mereka tidak mati didalam sana," kata Willy berusaha menekan perasaan jengkelnya saat menyebut kedua orang manusia itu.
"Iya, kau benar Willy. Tapi selama mereka mendekam didalam sana, siapa yang akan mengurus bayi Elvano? Bibi Narsih dan pak Aji? Mereka hanya bisa merawatnya sementara waktu bila bayi itu sehat."
"Tadi, bayi itu hanya mampu memperoleh perawatan kelas tiga, belum lagi pendidikannya dan lain sebagainya," tutur Hanaria.
"Apakah itu sebabnya kau mengeluarkan biaya cukup besar dari rekening pribadimu?" kata Willy menebak.
"I-iya, maafkan aku, aku lupa memberi tahu-mu," sahut Hanaria tersadar, bila suaminya juga sudah mengetahui transaksi yang telah ia lakukan dirumah sakit hari ini untuk bayi Elvano. Walau rekening pribadinya, setiap transaksi baik yang masuk maupun yang keluar akan selalu memberi pemberitahuan secara otomatis ke ponsel suaminya, begitu pula sebaliknya.
Willy tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada pinggang isterinya itu sambil meraba dan mengusap lembut perut Hanaria yang mulai mengembung, tidak rata lagi seperti saat awal mereka menikah.
__ADS_1
"Bayi Elvano bahkan belum memiliki akte kelahirannya Willy. Saat aku menelpon neneknya, ia bahkan mengatakan bila mereka memang sengaja tidak mengurusnya," adu Hanaria pada suaminya itu.
Willy yang mendengarnya merasa tersentuh hatinya. Bagaimana tidak, bayi itu seolah-olah sangat tidak diinginkan kehadirannya, baik oleh ayahnya juga oleh neneknya, sehingga identitasnya didunia ini tidak diurus oleh seorangpun dari keluarganya yang seharusnya mengurusnya.
"Apakah kau sudah memikirkan konsekuensinya Hana, bila nanti kau mengadopsi bayi itu?" tanya Willy kemudian. Hanaria terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah pengadopsian itu.
"Apakah kau siap mendidik bayi itu dengan baik? Aku tidak mau sifat buruk keluarganya menurun pada bayi itu setelah kita mengadopsinya," lanjut Willy.
Mendengar .perkataan Willy, Hanaria kembali berfikir, apa itu artinya dirinya harus punya waktu yang banyak untuk mendampingi bayi adopsiannya?
"Aku siap. Aku bahkan sudah berencana mengundurkan diri dari pekerjaanku yang sekarang," ucap Hanaria mantap dan penuh keyakinan.
Willy terperangah. Demi bayi itu, isterinya bahkan sanggup melepas pekerjaannya. Ia ingat benar saat akan menerima lamarannya, Hanaria bahkan mengajukan sepuluh point persyaratan, yang mana salah satu pointnya ia harus tetap berkerja walau sudah menyandang status isteri Willy. Padahal kala itu, walau ia harus dibebankan mahar dan biaya pernikahan yang fantastis, dirinya masih sanggup memberi makan satu orang isteri seperti Hanaria.
Sepertinya sangat menyenangkan, saat pulang berkerja, meihat isterinya yang dikelililingi belasan anak mereka seperti anak kucing. Willy tersenyum lebar membayangkannya.
Mendengar belum ada jawaban, Hanaria segera membalikan tubuhnya, ia merasa aneh saat melihat Willy tersenyum sendiri.
"Kau kenapa tersenyum sendiri?" tanya Hanaria penasaran.
"Kau serius ingin berhenti berkerja Hana?" Willy balik bertanya.
"Iya, sepertinya orang-orang disana tidak menginginkanku berada disana. Para pegawainya sangat tidak ramah," adu Hanaria lagi.
__ADS_1
Willy menggeram didalam hati, hatinya serasa panas mendengar isterinya diperlakukan tidak baik oleh sesama pegawai ditempatnya berkerja. Ia kembali ingat, bagaimana seorang security berani berlaku sangat tidak ramah saat dirinya mengantarkan Hanaria dihari pertamanya berkerja di Perusahaan itu.
Baginya, perusahaan sekelas Mega Otomotif milik nyonya Mingguana, walau termasuk dalam hitungan perusahaan raksasa dibidang jasa otomotif, masih jauh peringkatnya dibawah perusahaan keluarganya yang memiliki banyak anak cabang dan ribuan pemegang saham disetiap anak cabangnya itu.
Namun di lain pihak, ia merasa bersyukur, sikap tidak ramah mereka membuat isterinya itu merasa tidak betah dan berencana untuk resign dari sana. Ya, ada saja hal-hal yang baik, yang tidak terduga dari setiap hal buruk, walau tidak selalu seperti itu.
"Bagus kalau begitu. Kapan kau akan resign? Aku harap secepatnya," kata Willy menanggapi.
"Mungkin dalam satu atau dua hari ini." ucap Hanaria yang sebenarnya belum rela berhenti dari pekerjaannya itu. Sebab ia belum sempat menorehkan prestasinya disana seperti pada perusahaan Agatsa Properti Group kala itu, karena durasi waktu ia berkerja belum genap tiga bulan disana.
"Untuk adopai bayi Elvano bagaimana?" tanya Hanaria kembali ketopik awal pembahasan.
"Asal kau yakin saja bisa berbagi kasih sayangmu nanti. Tidak sampai sembilan bulan lagi, bayi kita akan lahir, mungkin saja kau belum tahu, bagaimana para bayi-bayi itu akan memperebutkan kasih sayangmu nanti," kata Willy mengingatkan.
"Aku takut bayi Elvano akan kalah dengan anak-anak kita. Mereka mungkin saja seperti diriku semasa kanak-kanak. Mommy saja sampai kewalahan, karena aku tidak mau mengalah dengan kak Billy, apalagi dengan si kembar Marina dan Malizha adik-adikku itu," ujar Willy mengingat kenakalannya dimasa kanak-kanaknya.
Hanaria kembali memikirkan apa yang dikatakan suaminya itu, ia tahu tidaklah mudah berbagi kasih sayang, apalagi pada anak yang bukan anak kandungnya. Namun rasa kasihannya pada bayi Elvano membulatkan tekadnya untuk tetap mewujudkan keinginanya mengadopsi bayi malang itu.
"Aku yakin, dan aku siap," kata Hanaria lagi memantapkan keputusannya.
"Baiklah, aku harap kau benar-benar sanggup memposisikan dirimu seadil-adilnya sebagai seorang ibu untuk semua anak-anakmu. Dan jangan lupakan bayi besarmu ini ya," Hanaria tertawa geli saat Willy tanpa seijinnya langsung menghujamkan ciuman-ciuman mautnya di ceruk-ceruk lehernya yang jenjang dengan perasaan gemes.
Bersambung...👉
__ADS_1