
Akibat permainan panas mereka pagi itu, Hanaria terpaksa harus terlambat sampai kekantornya, demikian juga dengan Willy.
Sesampainya diruang kerjanya, Willy dikagetkan dengan kehadiran ayahnya bersama asisten Rudy yang tengah duduk disofa tamunya sambil memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh tanya.
"Pagi Dad, asisten Rudy!" sapa Willy sambil melangkah menuju meja kerjanya dan meletakan tas kerjanya disana.
"Willy, kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru tiba dikantor?" cecar Moranno tanpa menjawab sapaan putranya, ia masih menatap wajah putranya yang tidak menunjukan rasa bersalahnya sama sekali.
"Dari apartemen Dad. Tadi ada urusan penting yang tidak bisa ditunda," sahut Willy.
"Sepenting apa urusanmu itu, hm?" tanya Moranno bernada kesal.
"Apa yang lebih penting dari pada membuat bayi-bayi lucu Dad?" sahut Willy masih dengan gaya cueknya, mengeluarkan tablet dan ponsel dari dalam tas kerjanya.
"Hhhh!" Moranno terkesiap mendengar jawaban putranya. Ya, dirinya sangat menyesal, karena sudah melontarkan pertanyaan yang kurang tepat pada putranya yang slenge'an itu. Ia menoleh kearah asisten pribadinya yang pura-pura tidak mendengar apapun pembicaraan antara ayah dan anak itu.
Sebenarnya asisten Rudy sudah terbiasa dalam situasi seperti saat itu, bahkan lebih lagi, sehingga pembicaraan dengan topik miring antara ayah dan anak itu sudah tidak membuatnya kaget.
"Asisten Rudy! Ayo, kita pergi dari sini. Anak bandel ini kalau bicara suka asal, sering tidak disaring dulu. Mana yang pantas, mana yang tidak!" ujar Moranno sambil berdiri, sementara asisten Rudy seperti biasa hanya patuh tanpa banyak membantah dan mengekornya dari belakang.
Willy tersenyum didalam hati melihat ayahnya yang nampak sensi pagi ini. Bukankah dirinya hanya menjawab dengan jujur apa yang telah ditanyakan oleh ayahnya, batinnya. Dan bukankah tidak ada yang perlu disembunyikan antara ayah dan anak?
"Kami menunggu diruang meeting! Jangan terlambat lagi!" tegas Moranno dari depan pintu lalu berlalu keluar tanpa menoleh lagi, begitu pula halnya dengan asisten Rudy yang tidak banyak berkomentar.
...***...
Di Perusahaan Mega Otomotif, nampak semua pegawai tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, khusunya diruang divisi marketing.
Hanaria mengendus-enduskan hidungnya. Aroma parfum pria yang cukup menyengat sangat mengganggunya. Rasa lelah akibat pergulatan panasnya dengan Willy pagi tadi, ditambah sedikit pusing yang selalu mendera di pagi hari membuatnya mual dan ingin muntah saja. Tapi pekerjaannya yang cukup banyak, membuat Hanaria harus bisa melawan perasaan tidak nyamannya akibat kehamilannya itu.
__ADS_1
Hanaria terkesiap, begitu mendongakan wajahnya, manager marketingnya sudah berdiri tegak dihadapannya sambil melipat tangannya didepan dada.
Pantas saja aroma parfum sialan itu terlalu dekat, ternyata sumbernya sudah ada dihadapan mata, batin Hanaria.
"Selamat pagi tuan Antonio," sapa Hanaria dengan sikap hormatnya, setelah terlebih dahulu berdiri dari duduknya.
Manager Antonio tidak langsung menjawab, ia sengaja melirik arloji tangannya, mengungkapkan dengan caranya bila bawahannya itu sudah terlambat masuk berkerja.
"Apa ini masih pagi?" sindir manager Antonio kemudian.
"Maafkan saya Tuan, atas keterlambatan saya pagi ini," ucap Hanaria masih berdiri dan sedikit membungkuk hornat.
"Heuhh!" senyum sinis tergambar dengan sengaja diwajah pria paruh baya yang sudah mulai ditumbuhi rambut putih pada bagian kiri dan kanan kepalanya.
"Di Perusahaan ini hanya kau saja yang bebas melakukan apapun sesuka hatimu. Bukankah kau adalah orang kepercayaan nyonya IGUANA itu?" manager Antonio sengaja memplesetkan nama pemilik Perusahaan dimana dirinya berkerja.
Hanaria menegakkan wajahnya, menatap lurus pada managernya yang masih menatapnya. Perkataan atasannya itu sangat mengganggunya, bukankah selama ini dirinya sangat menjunjung tinggi kedisplinan dalam berkerja? ini kali pertama dirinya terlambat.
"Tuan Antonio-, Anda seorang pegawai di Perusahaan ini. Bagaimana mungkin Tuan bisa menyebut seenaknya nama Pemilik Perusahaan ini seolah melecehkannya? Sedangkan Anda berkerja dan mendapat gaji setiap bulannya dari Perusahaan ini," lanjut Hanaria masih dengan sorot tatapan datarnya. Baginya, sikap tidak terpuji atasannya itu membuatnya sangat muak, karena kebanyakan pegawai serupa itu yang ia temui di tempat kerjanya yang sekarang.
"Heuhh! Jangan munafik! Kau fikir aku tidak tahu, kalau dirimu-lah yang mengirim nyonya Mingguana beserta putra tunggalnya kedalam sel penjara," kembali tuan Antonio tersenyum sinis.
Sementara para pegawai marketing yang ada didalam ruangan itu hanya diam membisu, namun mereka mempertajam pendengarannya masing-masing. Karena bukan rahasia lagi, bila ada skandal penggulingan kekuasaan yang simpang siur begitu santer terdengar setelah merebaknya pemilik perusahaan yang mendekam dipenjara akibat ulah pegawainya sendiri.
Hanaria mengatur nafasnya, ia tidak kaget akan ucapan yang ia dengar dari atasannya itu. Dirinya yakin bila berita yang beredar tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya telah terjadi, mengingat nyonya Mingguana adalah tokoh pembisnis wanita yang memiliki nama besar sejak lama.
Dari awal berkerja, Hanaria sudah dapat merasakan suasana kerja yang tidak nyaman ditempat itu. Satu sama lain saling menyikut, saling menjatuhkan, dan saling memperlihatkan bahwa dirinya-lah yang paling berjasa tanpa menunjukan prestasi yang membuat perusahaan itu berdiri kokoh. Masing-masing ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri, dengan membangun kubu-kubu dalam Perusahaan itu.
"Saya tidak punya waktu untuk memberi penjelasan, apa lagi membela diri, dan bagi saya itu tidak penting," sahut Hanaria.
__ADS_1
"Saya berkerja, sesuai porsi yang telah dipercayakan pada saya. Selebihnya, saya tidak tertarik." tegas Hanaria.
"Benarkah? Dan sebaiknya memang harus begitu. Kalau tidak, kau akan tamat. Aku hanya mengingatkanmu saja," ucap manager Antonio memperingatkan.
"Apakah ini artinya tuan Antonio sedang membeberkan bahwa kubu tuan Antonio yang paling kuat?" pancing Hanaria.
"Tidak juga, aku hanya kasihan padamu. Bahkan suami, dan mertuamu yang kaya raya itu tidak akan sanggup menolong dan mengeluarkanmu bila kau terlanjur berada dalam circle itu.
"Tidak perlu merasa kasihan padaku Tuan. Saya sudah menyiapkan surat pengunduruan diri dari Perusahaan ini."
Kini manager Antonio yang dikejutkan oleh pernyataan bawahannya itu. Ia menerima selembar kertas yang Hanaria sodorkan, setelah wanita itu mengambilnya dari laci mejanya yang telah ia persiapkan begitu dirinya sampai dikantor.
"Heum, ternyata begitu mudah menyingkirkanmu," gumam manager Antonio setelah membaca surat pengunduran diri Hanaria. Hanaria hanya tersenyum hambar mendengarnya.
"Walau aku tidak suka padamu, tapi cara kerja marketingmu sangat aku sukai," gumamnya lagi sambil menjentikan kedua jarinya pada seorang pegawai yang berada disudut kanan ruang marketing itu.
Tanpa menunggu lama, pegawai pria itu mendekat, membawa beberapa lembar kertas ditangannya. "Ini Tuan," katanya.
"Lihatlah," manager Antonio memberikan berkas yang ia terima dari pegawai pria tadi pada Hanaria.
"Bagaimana? Kemampuan marketingmu ternyata lebih baik dariku, walau aku benci mengakuinya. Kalau kau bersedia ada didalam team-ku, dan mau berkerja sama, tentu aku tidak keberatan," ucap manager Antonio memberi penawaran.
Ia memandang Hanaria yang tengah membuka lembaran demi lembaran berkas ditangannya, meperhatikan angka-angka yang tertera disana, ternyata sudah diatas target penjualan yang telah ditetapkan.
"Sayang sekali saya tidak berminat," ucap Hanaria seraya mengembalikan berkas ditangannya pada atasannya, setelah selesai membacanya.
"Maaf, saya harus kembali berkerja. Menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan sebelum pengunduran diri saya besok sesuai surat yang Tuan baca." ucap Hanaria kembali duduk dikursi kerjanya.
Manager Antonio mengepalkan telapak tangannya lalu segera pergi meninggalkan meja bawahannya itu dengan hati kesal.
__ADS_1
Bersambung...👉