
Hanaria melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia, saat suaminya itu membunyikan klakson mobilnya dan berlalu dengan perlahan dari hadapannya.
Mengingat tingkah Willy yang sok manja padanya barusan tidak urung membuat Hanaria terus tersenyum seorang diri, sangat jauh berbeda ketika awal mereka berjumpa dan saling berteriak satu sama lain.
"Adik ipar, apa yang kau lakukan disini seorang diri?" tanya Billy yang entah kapan sudah berdiri dengan jarak dua meter dari Hanaria. Raut wajahnya nampak keheranan melihat ulah adik iparnya itu tersenyum menatap gerbang dengan tangan masih melambai.
"A-eh, kakak ipar," Hanaria seketika salah tingkah dan gugup menerima tatapan dari saudara kembar suaminya itu. Ia khawatir bila kakak iparnya itu sampai berfikir dirinya ada gangguan kejiwaan karena kepergok sedang senyum-senyum sendiri sambil melambaikan tangannya.
Wajah tampan Billy, bak pinang dibelah dua dengan Willy masih menatap Hanaria, menanti kelanjutan penjelasan dari adik iparnya itu.
"Itu tadi-, Willy baru saja berangkat ke kantor," ucap Hanaria terbata-bata seperti mengerti arti tatapan sang kakak ipar yang jarang ia jumpai.
"Apa dia tidak menemanimu seperti biasanya?" tanya Billy lagi.
"Tidak, Willy harus berkerja. Dua hari belakangan dia sudah meninggalkan pekerjaannya selama menemaniku mengurus semua urusanku," sahut Hanaria pada kakak iparnya itu, tidak sengaja matanya tertuju pada ruam merah diceruk leher kakak iparnya itu.
Billy yang menyadari pandangan Hanaria terpokus pada lehernya, segera menaikan kerah bajunya sedikit keatas. Hanaria langsung melemparkan pandangannya kearah lain, merasa malu karena bersikap tidak sopan pada kakak iparnya itu.
"Segeralah pergi ke ruang penyidikmu adik ipar, sepertinya kau sudah ditunggu disana bersama lawyer-mu," ucap Billy ketika melihat kecanggungan Hanaria.
"I-iya kakak ipar," Hanaria bergegas melangkah pergi tanpa berpamitan.
"Tunggu adik ipar!" panggil Billy lagi. Hanaria langsung menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya menatap kakak iparnya, ia sedikit berdebar, mungkin saja kakak iparnya itu mau memberi penjelasan tentang ruam merah dilehernya.
"Bila kau membutuhkan bantuanku, hubungi saja aku," kata Billy dengan raut datar. Setelah berkata demikian ia lalu bergegas meninggalkan Hanaria yang terpaku menatap kepergiannya meninggalkan tempat itu.
Hanaria langsung menepuk jidatnya sendiri sambil menggerutu, "Sepertinya otakku sedang bermasalah, tidak mungkin kakak ipar membahas masalah pribadinya denganku, apalagi itu hal yang sangat sensitif," gumamnya sambil melihat punggung Billy yang berjalan semakin menjauh. Kakak iparnya itu sangat jarang mengenakan seragam dinasnya karena tugasnya yang langsung berhadapan dengan masyarakat dilapangan.
__ADS_1
Tidak mau berfikir lebih jauh, Hanaria langsung meninggalkan halaman luas itu menuju ruangan penyidik yang bertugas menangani perkara pelaporannya.
"Selamat pagi Pak?" sapa Hanaria dengan hormat, ketika dirinya sudah berhadapan langsung dengan penyidik yang bertugas menangani kasusnya.
"Selamat pagi Nona Hanaria, silahkan duduk," kata sang petugas mempersilahkan.
"Berkas apa lagi yang ingin Anda tambahkan untuk memperkuat pelaporan Anda Nona?" tanya sang petugas.
"Ini Pak," Hanaria menyodorkan amplop putih yang ia terima dari dokter Domianus saat dirumah sakit tadi pagi.
Sang petugas itu segera membuka isi amplop yang diberikan Hanaria padanya dan mulai menelusuri isinya dengan teliti.
"Apa maksudnya ini Nona Hanaria?" tanya petugas itu memastikan, setelah dirinya melihat hasil dari test DNA milik Mahendra.
"Beberapa hari yang lalu, mendiang Firlita memberikan sampel rambut dan sikat gigi milik tuan Mahendra pada dokter Domianus untuk mendapatkan hasil test DNA ini," terang Hanaria.
"Itu benar Pak," sahut Hanaria. Petugas itu lalu menuliskan jawaban Hanaria di komputer yang ada diatas mejanya.
"Lalu apa hubungannya surat hasil test DNA ini dengan kematian mendiang nona Firlita?" tanya petugas itu lagi setelah dirinya selesai menuliskan hasil jawaban Hanaria kedalam komputernya.
"Menurut keterangan Firlita, sebelum dirinya meninggal, tuan Mahendra yang mendorongnya dari lantai atas hingga terguling ditangga dan jatuh kelantai dasar. Itu dilakukan tuan Mahendra karena mengetahui isterinya itu mengirim sampel untuk test DNA kerumah sakit. Keterangan mendiang Firlita itu juga didengar oleh suami saya dan beberapa perawat waktu itu, dan kemaren mereka sudah dihadirkan untuk dimintai keterangan," jelas Hanaria memadukan keterangan yang ia dapat dari Firlita dan bibi Narsih dua hari yang lalu.
Sang petugas menganguk-anggukan kepalanya beberapa kali, karena dirinya sendirilah yang telah memeriksa Willy dan beberapa perawat sebagai saksi kasus kematian Firlita. Ia kembali menuliskan apa yang telah diterangkan Hanaria, lalu kembali menanyakan pertanyaan selannutnya.
"Bagaimana mendiang nona Firlita tahu, bila suaminya, tuan Mahendra telah memiliki keturanan dari wanita lain sebelum menikah dengannya?" tanya sang petugas menatap Hanaria dihadapannya.
"Mendiang Firlita tidak tahu. Dia mengambil sampel itu karena permintaan saya. Beberapa bulan lalu saya melihat tuan Mahendra sedang menyandera seorang wanita bernama nona Morin disuatu Mall ketika saya sedang berbelanja bersama suami saya," terang Hanaria.
__ADS_1
"Lalu?" tanya sang petugas.
"Ini poto dan video yang sempat saya ambil secara diam-diam," Hanaria lalu memperlihatkan poto dan video diponselnya pada sang petugas.
"Bukankah ini nona Morin yang melaporkan Anda beberapa hari yang lalu atas tindak pemaksaan Anda yang menyuruhnya melakukan operasi sumsum tulang belakang?" kata petugas itu sambil memperhatikan video yang sedang ditayangkan dalam ponsel Hanaria.
"Iya, wanita itu adalah nona Morin, dan pria yang memeluknya dari belakang adalah tuan Mahendra. Karena pada saat itu saya penasaran pada keduanya, saya meminta seorang teman bernama Shasie menyelidikinya. Ternyata keduanya pernah memiliki hubungan dimasa lalu hingga mempunyai anak. Untuk membuktikan kebenarannya, maka saya berinisiatif untuk melakukan test DNA itu," jelas Hanaria panjang lebar.
"Dan anak itu bernama Lania, yang seharusnya ibunya sendiri mendonorkan secara cuma-cuma sumsum tulang belakangnya, tanpa harus mendapat bayaran apapun," sambung Hanaria lagi.
"Suatu kebetulan yang sangat kebetulan," kata sang petugas terpana. Dirinya memang banyak mengurus kasus-kasus pelik serupa itu, namun tetap saja ia tidak menduga hal kebetulan seperti itu bisa saja terjadi.
Ia lalu kembali menuliskan kata demi kata setiap penjelasan detail yang disampaikan oleh Hanaria untuk membantu proses kasus itu bisa terselesaikan.
"Baiklah nona Hanaria,, saya rasa penjelasan yang Anda sampaikan sudah cukup." katanya sambil membereskan meja kerjanya.
"Setelah ini, apakah nona Hanaria bersedia bertemu dengan Nyonya Mingguana dan tuan Mahendra? Atau diatur jadwal untuk besok saja. Karena tuan Willy sudah berpesan kepada kami bahwa isterinya tidak boleh terlalu lelah karena sedang mengandung," kata sang petugas memberi penawaran.
"Sekarang saja Pak, saya ingin kasus ini segera ditindak lanjuti," kata Hanaria mantap.
"Baiklah, jika demikian, mari ikutlah saya." Hanaria lalu berdiri dari duduknya diikuti lawyer yang mendampingi dirinya. Keduanya mengekori sang petugas meninggalkan ruangan itu menyusuri lorong kantor. Tidak beberapa menit, mereka sudah tiba disuatu ruangan yang lebih luas dari sebelumya.
"Mari silahkan masuk. Dimohon tunggu sebentar, kami akan membawa tuan Mahendra dan nyonya Mingguana datang kemari.
Hanaria dan lawyer-nya lalu mengambil posisi disalah satu kursi dalam ruangan itu untuk menunggu petugas beserta nyonya Mingguana dan putranya.
Bersambung....👉
__ADS_1