HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
187. Rumit dan Memusingkan


__ADS_3

"Semarah itu kah kau padaku Willy? Sampai tidak menyentuh sama sekali sarapan pagi dan makan siangmu?" guman Hanaria sedih. Ia memasukan semua isi kotak-kotak makanan itu ke dalam plastik sampah karena sudah mulai berbau tidak sedap.


Setelah mencuci kotak-kotak makanan yang kotor, Hanaria memandangi hidangan makan malam yang telah ia siapkan diatas meja. Ia beralih menatap ponselnya, sudah beberapa kali ia berusaha menghubungi Willy namun tidak diangkat, demikian pula pesan yang dikirimnya tidak kunjung dibaca apalagi dibalas.


Hanaria teringat pada ibu mertuanya, dengan cepat ia meraih ponselnya, mungkin saja suaminya sedang berkunjung kerumah orang tuanya fikirnya.


"Hallo sayang," terdenga sapaan lembut dari ujung sambungan telepon. Hanaria terdiam sejenak, ada rasa sungkan dalam hatinya menanyakan Willy, suaminya. Tapi rasa cemasnya pada Willy mengalahkan rasa sungkannya itu.


"Hallo juga Mom, Mommy apa kabarnya?" tanya Hanaria berusaha tersenyum saat balas menyapa ibu mertuanya itu disambungan telepon.


"Baik sayang. Kau dan Willy apa kabarnya?" Yurina balas bertanya, dari ucapan lembutnya, Hanaria yakin bila ibu mertuanya itupun sedang tersenyum diseberang sana.


"Kami berdua juga baik Mom," sahut Hanaria sambil memijit pelipisnya, ia semakin cemas karena dari ucapan mertuanya barusan, ia bisa menebak Willy tidak sedang mengunjungi kedua orang tuanya, lalu kemana suaminya itu? batinnya. Ia merasa semakin resah memikirkan keberadaan suaminya yang entah berada dimana.


"Diakhir pekan nanti, berkunjunglah kemari bersama suamimu sayang. Mommy kangen pada kalian berdua," ucap Yurina masih dengan suara lembutnya.


"Iya Mom, kami akan usahakan berkunjung kerumah Mommy dan Daddy pekan ini bila Willy tidak ada kesibukan," ucap Hanaria, ia lalu mengakhiri sambungan teleponnya setelah berbasa-basi secukupnya dan mengucapkan salam pada sang ibu mertuanya itu


Hanaria menatap jam dinding yang tergantung diruang makan mini-nya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Makan malam yang ia siapakan sudah menjadi dingin, ia pun tidak berselera menyantap makan malamnya seorang diri.


Ponsel Hanaria tiba-tiba berbunyi, ia buru-buru meraihnya, berharap bila Willy yang menghubunginya. Namun dilayar tertera nama Edrine, adik iparnya yang sempat ia telepon satu jam yang lalu. Walau sempat kecewa karena bukan suaminya, namun Hanaria segara mengangkat teleponnya karena ia pun membutuhkan informasi dari adik sepupu suaminya itu.


..."Hallo kakak ipar," terdengar suara Edrine dari seberang sana....


"Iya adik ipar. Bagaimana, apa kakakmu ada diapartemennya?" tanya Hanaria tidak sabar. Berharap mendengar kabar baik tentang suaminya yang belum pulang hingga kini.


"Kak Willy tidak kemari kakak ipar, aku juga sudah menanyakan security dibawah tadi," sahut Edrine memberi kabar.


"Apakah kak Willy sering seperti ini kakak ipar?" tanya Edrine ragu, takut menyinggung perasaan kakak iparnya itu. Namun ia pun merasa cemas, karena kakaknya itu tidak pernah berbuat demikian selama tinggal dirumah mereka yang ada di Singapura.

__ADS_1


"Tidak adik ipar." sahut Hanaria lesu.


"Kakak ipar, coba hubungi dokter Rosalia, siapa tahu kak Willy bersamanya," ucap Edrine memberi ide, saat ia mengingat sahabat kakak sepupunya itu.


"Baiklah Edrine, kak Hana akan coba. Terima kasih ya," setelah mendengar jawaban dari Edrine, Hanaria menutup teleponnya. Ia segera mencari kontak dokter Rosalia, sahabat suaminya itu.


Dari sambungan telepon, Hanaria mulai berbicara dengan dokter Rosalia. Lagi-lagi ia merasa kecewa karena wanita itu pun mengatakan Willy tidak sedang bersamanya.


Hanaria menghembuskan napasnya dengan berat sambil duduk bersandar dikursi makan. Ia mengusap layar ponselnya saat mendengar notifikasi masuk.


Pesan dari doker Rosalia masuk, sesuai janjinya untuk mengirim nomor Billy, kakak Willy. Hanaria buru-buru menekan nomor Billy yang tertera dilayar ponselnya, ini harapannya yang terakhir untuk mengetahui keberadaan suaminya itu.


"Hallo adik ipar," sapa suara berat diseberang sambungan telepon. Hanaria terdiam sejenak, mereka bukan hanya kembar rupa, tapi suara merekapun hampir mirip ditelepon, batin Hanaria. Ternyata kakak iparnya itu menyimpan nomor ponselnya.


"Hallo juga Kakak Ipar. Maaf mengganggu kesibukan Kakak Ipar ," ucap Hanaria yang baru pertama kali menghubungi saudara kembar suaminya itu.


"Willy, apa dia bersama kakak ipar?" tanya Hanaria dengan hati-hati.


"Tidak, apa ada masalah?" tanya Willy datar, nalurinya merasakan ada sesuatu yang terjadi pada hubungan rumah tangga adik kembarnya, karena selama menjadi anggota keluarga Agatsa, ini kali pertama adik iparnya itu menelponnya dan menanyakan Willy padanya, sementara dirinya jarang sekali berkumpul dengan keluarga besarnya.


"Itu-, Willy belum pulang sampai sekarang, aku cemas, dia tidak pernah seperti ini," ucap Hanaria mengungkapkan kecemasannya.


"Mungkin Willy kerumah tua, biasanya ia sering kesana," kata Billy menduga.


"Tidak ada kakak ipar, aku sudah coba menghubungi Mommy, Edrine, bahkan dokter Rosalie," sahut Hanaria.


Tidak ada suara, keduanya sama-sama terdiam sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikirannya dan berusaha menduga dimana keberadaan Willy yang menjadi topik pembicaraan mereka.


"Adik ipar, istirahatlah. Aku yakin Willy baik-baik saja. Aku akan pastikan dia pulang malam ini," ucap Billy mengakhiri keheningan diantara mereka, ia berusaha membuat adik iparnya itu tenang.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih kakak ipar," ucap Hanaria terdengar lesu.


Billy menatap ponselnya sejenak, "Itu sebabnya aku belum mau menikah. Menikah itu rumit dan memusingkan," gumamnya seorang diri.


Ia lalu mulai menelpon beberapa sahabatnya, menggunakan ilmu inteligennya hanya untuk mencari saudara kembarnya yang sengaja menghilangkan dirinya sendiri.


Begitulah tugas Billy sebagai seorang kakak tertua, bila terjadi sesuatu pada adik-adiknya, kedua orang tuannya pasti menelponnya untuk mengurusnya. Dan sekarang, karena Hanaria telah menelponnya, mau tidak mau ia harus turun tangan mencari adik kembarnya yang sudah beristeri itu.


Sementara itu, Hanaria belum beranjak dari meja makan saat ponselnya kembali berdering. Ia mengerutkan keningnya saat melihat nama dokter Domianus tertera dilayar ponselnya.


""Hallo Dok," sapa Hanaria, sesaat setelah ia mengangkat teleponnya. Hatinya bertambah berdebar-debar, takut dokter Domianus membawa kabar buruk tentang suaminya.


"Selamat malam nona Hana, maafkan saya menelpon Anda malam-malam begini," ujar dokter Domianus dari seberang sana.


"Tidak apa Dokter Domianus, ada apa ya Dok?" tanya Hanaria penasaran, ia yakin itu pasti sesuatu yang sangat penting hingga membuat dokter Domianus menelponya selarut ini.


"Begini nona Hana, pendonor yang Anda ajukan untuk pasien Lania, dia tidak kunjung datang. Seharusnya kemarin sudah diadakan operasi, tapi harus tertunda karena pendonornya tidak datang sampai hari ini,"


Hanaria mengambil napas dalam dan mengeluarkannya kembali, ia sedikit merasa lega, karena bukan kabar buruk tentang Willy.


Namun ia merasa sedikit terganggu bila pendonor yang telah ia ajukan jauh-jauh hari sebelumnya tidak menepati janjinya, padahal dirinya sudah membayar semuanya lunas didepan.


"Baiklah Dok, besok akan saya urus lagi," sahut Hanaria.


"Terina kasih banyak nona Hana,"


Hanaria meletakan ponselnya diatas meja, rasa lelah yang menyerangnya membuat matanya sangat mengantuk. Namun ia berusaha menahannya, ia tidak boleh tidur karena suaminya belum pulang. Hanaria menyandarkan kepalanya diatas meja makan dangan kedua tangannya yang melipat sebagai penyangganya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2