
Asisten David dengan sigap berdiri, begitu melihat Hanaria baru tiba bersama Willy.
"Selamat siang nona Hana dan tuan Willy," sapa asisten David menunduk hormat.
"Selamat siang," sahut Hanaria.
"Mari nona Hana, tuan Willy, silahkan duduk. Sebentar lagi nyonya Mingguana akan kemari," sambung asisten David, mempersilahkan keduanya duduk diruang tunggu. Willy dan Hanaria lalu mengambil tempat duduk saling berdampingan, berhadapan dengan asisten David.
Tidak lama, nyonya Mingguana muncul dibalik pintu, diantar oleh seorang petugas lapas. Asisten David yang melihat kehadiran majikannya kembali berdiri, memberi salam lalu membungkuk hormat.
Sementara Hanaria terlihat enggan berdiri dari duduknya, mengingat apa yang telah dilakukan oleh wanita paruh baya itu bersama putranya pada mendiang Firlita, adik angkatnya.
"Selamat siang nona Hanaria dan tuan Willy, terima kasih sudah bersedia datang kemari," sapa nyonya Mingguana pada kedua tamunya.
"Selamat siang Nyonya," sahut Hanaria balas menyapa, sementara Willy yang duduk disebelahnya tidak ikut menyahut, ia hanya memperhatikan mantan majikan isterinya itu, yang kini tengah mengenakan pakaian tahanan.
"Langsung saja ketujuan Anda nyonya," sambung Hanaria lagi dengan tatapan datarnya.
"Permohonan adopsi-mu atas bayi Elvano cucuku, akan aku setujui dengan satu syarat," kata nyonya Mingguana membuka percakapan mereka siang itu.
Senyum sinis langsung tersungging diujung bibir Hanaria, saat mendengar mantan majikannya itu menyebut bayi Elvano sebagai cucunya.
"Heuhh, bahkan untuk mengurus identitasmya saja Nyonya tidak mau, lalu sekarang meminta persyaratan?" sindir Hanaria.
Nyonya Mingguana terdiam sejenak, ia membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sementara asisten David yang duduk berjarak satu meter darinya tidak berani menengadahkan kepalanya, apalagi bersuara, ia hanya menunduk menatap laptopnya yang masih tertutup rapat diatas meja.
"Maafkan saya," suara nyonya Mingguana terdengar parau dan bergetar, ia menatap Hanaria yang juga tengah menatapnya.
"Saya akui, sudah banyak melakukan kesalahan terhadap nona Hana, mendiang Firlita, juga Elvano. Diakui atau tidak, Elvano tetaplah cucu saya." imbuh nyonya Mingguana lagi, suaranya masih terdengar parau dan sedikit bergetar, sangat kentara bila ia sedang menahan gejolak didadanya.
__ADS_1
Hanaria lebih memilih diam, menyimak apa yang akan disampai wanita paruh baya itu pada dirinya.
"Saat pembicĂ raan terakhir kita lewat telepon waktu itu, ketika Nona Hana mengatakan bahwa masa depan Elvano dan Lania gelap, itu sangat mengganggu fikiran saya,"
"Dan bila tidak ada.yang mengurus perusahaan-perusahaan saya selama saya dan Mahendra dipenjara, mungkin kedua cucu saya akan benar-benar mengalami masa depan yang gelap." ucapnya terlihat sedih.
"Nyonya tidak perlu khawatir pada bayi Elvano, kami akan merawat dan mendidiknya dengan baik, maka berikanlah perserujuan Anda, sehingga pihak pengadilan akan memberi putusan pada kami untuk mengasuhnya," sahut Hanaria.
"Dan untuk Lania, bukankah selama ini ada sepupu ibunya, pak Paris yang sudah mengadopsinya sebagai anaknya," tambah Hanaria lagi.
"Nona Hanaria benar. Tapi keluarga kami memiliki usaha yang tidak sedikit, saya sudah membangun semuanya itu dengan susah payah dari nol. Saya tidak rela, satu persatu perusahaan itu akan bangkrut karena tidak ada yang mengurusnya."
"Padahal semuanya itu saya bangun bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk semua keturunan saya, supaya mereka mendapat penghidupan yang layak,"
"Asisten David, perlihatkan laporan perusahaan-perusahaan itu secara garis besarnya saja pada nona Hana," perintah nyonya Mingguana pada asisten pribadinya yang duduk disebelahnya.
"Baik Nyonya," asisten David segera membuka laptop yang ada dihadapannya, dengan cepat ia menyalakannya, lalu mulai mengoperasikannya.
"Saya mohon nona Hana, beri kesempatan pada asisten David untuk memperlihatkan pada Anda sedikit saja nona," ucap nyonya Mingguana penuh harap.
Willy menyentuh pergelangan tangan Hanaria mengisyaratkan supaya isterinya itu sedikit melunak, memberi kesempatan untuk mendengar apa yang ingin mereka sampaikan, walau sebenarnya ia juga tidak menyukai nyonya Mingguana yang selama ini telah memperalat isterinya itu yang begitu menyayangi adik angkatnya, mendiang Firlita.
"Baiklah, silahkan perlihatkan padaku asisten David," ucap Hanaria akhirnya walau raut wajahnya terkesan terpaksa.
Wajah nyonya Mingguana yang semula menunjukan kesedihanya langsung terlihat berbinar, setidaknya Hanaria mau melihat apa yang akan ditunjukan David asistennya, maka selanjutnya ia yakin akan ada harapan bila Hanaria mau menolongnya.
Begitu mendengar persetujuan Hanaria, asisten David segera memutar arah laptop miliknya kehadapan Hanaria dan Willy, untuk memperlihatkan apa yang ingin ia tunjukan.
"Silahkan Nona," ucap asisten David sambil bergeser ke ujung meja, supaya dirinya juga bisa melihat layar laptopnya yang ada dihadapan Hanaria dan Willy sambil memegang kursor ditangannya.
__ADS_1
Willy ikut melihat kearah laptop, nampak laporan itu tersaji dalam gambar kurva statistik selama dua belas bulan terakhir.
Pada laporan beberapa perusahaan tambang milik nyonya Mingguana, garis kurva itu menanjak terus, lalu pada tiga bulan terakhir terlihat patah menurun, tepat saat nyonya Mingguana dan putranya diketahui terjerat kasus hukum.
Sementara pada perusahaan Mega otomotif, garis kurva terlihat datar pada angka tujuh puluh persen penjualan produk, dan bulan keempat garis kurva terlihat naik dan menukik tajam keatas menyinggung angka seratu dua puluh persen, dan pada tiga bulan terakhir langsung menurun tajam pada angka tiga puluh persen.
"Dari apa yang telah nona Hana lihat pada laporan itu, bila dibiarkan, dan tidak segera ditangani dengan serius, hanya hitungan bulan, mungkin perusahaan-perusahaan itu akan mengalami kebangkrutan. Dan nasib semua pegawainya yang ribuan itu, terpaksa akan dirumahkan," ucap asisten David disela-sela Hanaria dan Willy memperhatikan laporan garis besar dihadapan mereka.
"Kasus hukum nyonya Mingguana dan putranya tuan Mahendra, sangat mempengaruhi semua perusahaan milik Nyonya Mingguana Nona," tambah asisten David, setelah menghela napasnya sejenak.
"Nona Hana, bila Anda ingin mengadopsi bayi Elvano, syaratnya Anda harus membantu saya menangani perusahaan-perusahaan itu," sambung nyonya Mingguana setelah asisten David selesai berbicara.
"Nyonya, syarat Anda itu terlalu mustahil untuk bisa saya penuhi. Maaf, saya tidak bisa," ucap Hanaria spontan tanpa banyak berfikir.
"Itu artinya, saya juga tidak menyetujui bayi Elvano untuk nona Hana adopsi," tegas nyonya Mingguana tak mau kalah.
"Jangan keras kepala Nyonya! Apakah anda tega membiarkan bayi Elvano tidak diberi identitas dan pendidikan dikenudian hari?!" ucap Hanaria dengan nada suaranya yang meninggi, wajahnya-pun ikut memerah menahan kesal didadanya.
"Lebih baik seperti itu saja, biarkan saja bibi Narsih yang mengasuhnya sendiri dengan caranya." ucap nyonya Mingguana dingin.
"Anda memang licik nyonya. Dulu memanfaatkan kondisi mendiang Firlita, sekarang bayi Elvano. Anda memang manusia kejam," cerca Hanaria marah.
"Saya memang manusia kejam. Tapi saya punya alasan untuk semua yang telah saya lakukan Nona," sahut nyonya Mingguana datar.
"Kita pergi!" Hanaria berdiri, meraih pergelangan tangan Willy dan menariknya untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.
Nyonya Mingguana menatap kepergian Hanaria dan Willy dengan tatapan kosong, mungkinkah jerih lelahnya selama ini akan punah tanpa bersisa? Tidak, itu tidak boleh terjadi, batinya.
"Asisten David, apapun caranya, buat nona Hanaria menerima persyaratanku itu," ucapnya datar.
__ADS_1
"Baik Nyonya," sahut asisten David menyanggupi.
Bersambung...👉