HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 34 Informasi Lengkap


__ADS_3

Dimana suaminya, kenapa bukan suaminya yang mengantarnya kemari? Apakah mereka sedang bertengkar? Saya melihat beberapa luka lebam dan luka terbuka didahinya? siapa yang melakukannya? Itu sangat berbahaya bagi seorang wanita yang sedang hamil muda seperti nona Firlita." Ucap dokter Rosalia dengan pertanyaan beruntunnya.


Semua pertanyaan dokter cantik itu membuat Hanaria bingung harus menjawabnya. Ia berpikir sejenak sebelum menjawabnya.


"Firlita..... dia hamil diluar nikah....." Ucap Hanaria jujur. Mata dokter cantik itu mendelik dengan wajah kagetnya. Namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia berusaha menjadi pendengar yang baik, karena Hanaria terlihat akan melanjutkan ucapannya.


"Luka - luka lebam itu, juga luka pada dahinya adalah ulah dari pria yang telah menghamilinya dokter. Mereka bertengkar semalam karena laki - laki itu menolak untuk bertanggung jawab."Jelas Hanaria lebih lanjut, dokter Rosalie masih menyimaknya.


"Mereka sempat dekat, atau lebih tepatnya lagi.... mereka berpacaran. Tapi setelah Firlita mengatakan pada laki - laki itu bahwa dirinya telah mengandung dari pacarnya itu, laki - laki itu lalu menghilang. Dan semalam, karena Firlita melihatnya didekat pusat perbelanjaan tempat ia berkerja, Firlita langsung mengikutinya, hingga dicafe milik laki - laki itu, disanalah mereka bertengkar hingga terjadi insiden itu." Jelas Hanaria.


Dokter Rosalia menatap wajah Hanaria yang sudah menyelesaikan penjelasannya tentang Sahabatnya yang sangat memprihatinkan itu.


"Begitulah nona, bila kita sebagai wanita tidak dapat menjaga diri dan kehormatan kita. Laki - laki akan mudah meninggalkan kita setelah puas dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi sebelum ada ikatan pernikahan, kita sudah melakukan apa yang terlarang, biasanya yang sering dirugikan adalah pihak wanitanya" Ungkap dokter Rosalie, dan dibalas anggukan oleh Hanaria.


"Anda benar dokter Rosalia....." Ucap Hanaria menyetujui apa yang dikatakan dokter Rosalia, ia masih setia duduk dikursinya, lalu meneruskan kata - katanya.


"Firlita, dia gadis sebatang kara. Saat terjadi hal seperti ini, sungguh sangat menyulitkannya, terbukti rumah kost yang telah ia tempati beberapa tahun ini, pemiliknya sudah tidak mau menerimanya lagi karena masalah ini. Kebanyakan masyarakat tidak mau tahu, hanya bisa menghakimi saja." Ucap Hanaria menambahkan.


"Lalu apa yang akan anda lakukan untuk sahabat anda itu nona Hana?" Tanya dokter Rosalia kemudian.


"Saya masih belum tahu dok.... Setelah ini saya akan bertemu dengan Firlita dahulu."


"Baiklah, kalau begitu. Untuk dua hari kedepan, nona Firlita sepertinya masih harus dirawat dirumah sakit ini dulu, sampai luka pada dahinya bisa dibuka perbannya. Untuk kandungan, juga kondisi tubuhnya yang lain tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya perlu cukup istirahat saja. Usia kandungannya sudah 15 minggu, tidak lama lagi, perutnya akan terlihat membesar. Semoga anda dan sahabat anda itu segera mendapatkan jalan keluarnya. Tetap berikan nona Firlita semangat, supaya kandungannya juga tetap bisa terjaga dengan baik." Ucap dokter Rosalia menasehati, ia tidak biasa berbuat banyak, hanya bisa merasa prihatin pada pasiennya itu sebagai sesama wanita.


"Terima kasih banyak dokter. Saya pamit dulu...."


"Sama - sama nona Hana......" Dokter Rosalia menatap Hanaria yang pergi meninggalkan ruangannya.


"Untung saja ada orang yang seperti nona Hanaria, kasian nona Firlita, gadis muda yang malang...." Gumam dokter Rosalia, ia duduk kembali dikursinya. Sekilas ia melirik arloji ditangannya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


...•••...


"Firlita......" Panggil Hanaria, saat ia masuk keruang rawat inap Firlita. Ia kembali menutup rapat gorden yang membatasi ranjang pasien milik Firlita dengan ranjang pasien yang lainnya.

__ADS_1


"Kak Hana..... " Sahut Firlita sambil menyunggingkan senyumnya saat melihat kedatangan orang yang sudah banyak membantunya itu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Firlita, apakah perasanmu sudah lebih baik?" Tanya Hana sambil duduk dikursi plastik dekat Firlita berbaring.


"Iya kak..... aku merasa sudah baikan, aku ingin pulang, disini membosankan. Aku rasanya mual - mual terus mencium bau dirumah sakit ini kak." Keluh Firlita.


"Kau harus sabar Hana. Kata dokter, kau masih harus dirawat dirumah sakit ini selama dua hari kedepan. Setelah itu kau boleh pulang."


"Tapi aku tidak tahan kak. Disini pengap, dan sangat berisik." Keluh Firlita lagi.


"Kakak mengerti Fir..... tapi kau harus ingat, ada bayi dalam kandunganmu yang harus kau jaga, kasian bayimu, dia berhak untuk hidup, kau mengerti?"


"Iya kak, aku mengerti....." Firlita memelankan suaranya.


"Firlita..... apakah kau masih mencintai laki - laki yang membuatmu mengandung?" Tanya Hanaria, setelah mereka berdua sama - sama terdiam.


"Kalau dulu ia kak. Tapi, setelah ia menghilang, lari dari tanggung jawabnya, ditambah lagi perlakuan kasarnya padaku semalam. Aku tahu dia sebenarnya tidak mencintaiku dengan sungguh - sungguh seperti katanya dulu." Ungkap Firlita menatap kearah Hanaria yang sedang menatapnya.


"Sekarang ada bayi dalam kandunganmu, apakah kau siap menjadi orang tua tunggal? Apakah kau siap saat anakmu itu nanti menanyakan ayahnya ketika ia melihat teman - temannya memiliki sepasang ayah dan ibu? Dan apakah kau siap akan gunjingan orang - orang yang tidak bisa kau tutup mulutnya?" Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Hanaria membuat Firlita mau tidak mau memikirkan apa yang dikatakan sahabat yang ia anggap sudah seperti kakaknya sendiri.


Hanaria menatap Firlita iba, gadis itu memang masih terlalu muda menghadapi situasi seperti ini. Hanaria memeluk tubuh Firlita erat. Kembali Hanaria merasakan rasa sakit didadanya. Laki - laki itu, mengapa ia tega memperlakukan wanita sepolos Firlita, yang tidak punya siapa - siapa untuk berlindung ucap Hanaria didalam hatinya.


Terdengar suara notifikasi diponsel Hanaria. Dan tidak lama kemudian, ponsel Hanaria berdering. Ia segera melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Firlita.


Pada layar ponselnya tertera Shasie memanggil. Hanaria buru - buru menggeser dengan jarinya untuk mengangkat panggialan Shasie.


"Hallo Hana....." Terdengar suara Shasie dari sambungan telepon.


"Iya Shasie, ada apa?"


"Aku sudah mendapatkan informasi tentang Mahendra Alhandra Liem. Periksa e- mailmu, aku sudah mengirim semuanya disana."


"Terima kasih Shasie.... Aku lihat dulu ya......"

__ADS_1


"Okey......"


Hanaria segera membuka e-mail lewat ponselnya. Matanya sedikit terbelalak. Ia tidak menyangka, Shasie bisa mendapatkan informasi sebanyak itu.


"Kau memang hebat Shasie......!" Ucap Hanaria dengan wajah senangnya.


"Ada apa kak Hana?" Tanya Firlita yang sedari tadi memperhatikan wajah Hanaria.


"Kak Hana sudah mendapatkan informasi tentang pacarmu itu, MAHENDRA ALHANDRA LIEM!" Sahut Hanaria sambil tersenyum, sambil menunjukan photo seorang laki - laki yang sedang duduk santai ditepi kolam renang.


"Iya, ini orangnya kak, tapi kok kak Hana tahu nama lengkapnya, aku kan belum pernah memberitahu kakak?" Ucap Firlita heran menatap Hanaria yang tengah mengeluarkan sekantong apel dari dalam tas ranselnya.


"Nantilah kakak ceritakan..... kau sudah makan malam belum?" Tanya Hanaria sambil mengupas satu apel, lalu memasukkan pada piring plastik yang ia bawa dari rumah.


"Sudah, tak lama sebelum kak Hana datang tadi."


"Nih makan buahnya, kak Hana buru - buru, nanti kita sambung lagi." Hanaria memberikan piring yang berisi buah apel yang sudah dipotong - potong pada Firlita, lalu segera meraih ranselnya dan menggendongnya dipunggungnya.


"Kak Hana mau kemana?" Firlita menatap Hanaria yang nampak akan pergi dengan tergesa - gesa.


"Kesuatu tempat, maafkan kak Hana tidak bisa menemanimu disini malam ini, jaga dirimu baik - baik. Kalau masih kepengen buahnya, kupas sendiri ya, ini masih banyak. Kakak pergi dulu." Hanaria segera bergegas. Firlita hanya bisa menatap kepergian Hanaria yang terlihat sangat buru - buru.


...•••...


Hanaria menghentikan mobilnya didepan pagar yang nampak kuat dan kokoh. Sebuah mansion mewah dan megah menjulang didepannya.


Sudah hampir 2 jam Hanaria ada disana, berpikir bagaimana cara melewati security. Tentu saja para security itu tidak akan mengijinkan dirinya dengan mudah masuk kesana tanpa ada alasan yang jelas.


Arloji tangan Hanaria sudah menunjukan jam 2i.59. Hanaria menghidupkan mesin mobilnya, berniat untuk pulang.


Saat ia hendak berbalik arah, nampak mobil portuner berwarana hitam meluncur lambat melewati mobil Hanaria dan berhenti sejenak didepan pintu gerbang, menunggu petugas security membuka pagar.


Sebuah ide muncul dikepala Hanaria. Dengan sigap, ia langsung mengikuti portuner itu dari belakang.

__ADS_1


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡


__ADS_2