HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
259. Kunjungan Pak Aji dan Bi Narsih


__ADS_3

"Pak Aji? Bi Narsih?" Hanaria nampak kaget saat melihat dua tamunya malam itu. Ia dan Willy baru saja selesai makan malam saat ketukan pintu berkumandang dengan pelan di ruang rawat inap mereka.


"Ayo, mari silahkan duduk," Hanaria mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk dihadapannya.


Walau Hanaria menunjukan keramahannya, namun bi Narsih dan pak Aji nampak sungkan dan kikuk, ditambah kehadiran Willy turut duduk bersama mereka setelah menutup pintu ruang rawat inap dengan rapat, membuat kecanggungan semakin terasa pada keduanya.


"Kami membawa sedikit buah tangan Nona," bibi Narsih menyerahkan oleh-oleh sekantong plastik buah yang sedari tadi ia tenteng.


"Wah bibi repot-repot. Tapi terima kasih banyak ya Bi, pak Aji," Hanaria menyambut pemberian kedua tamunya dengan perasaan senang.


"Tidak repot kok Non," sahut keduanya hampir bersamaan. Bibi Narsih dan pak Aji mengulas senyum bahagia, melihat pemberian mereka yang tidak seberapa itu diterima dengan senang hati oleh Hamaria yang sudah punya segalanya itu.


"Daddy Jo dan El, Mommy-nya Jo dan El pengen makan buah pemberian bi Narsih dan pak Aji, boleh minta tolong dikupaskan?" Hanaria menoleh kearah Willy yang duduk disebelahnya.


"Tentu saja boleh, ditunggu sebentar ya Mommy-nya Jo dan El," balas Willy, ia bergegas bangkit dari duduknya, untuk mengambil pisau yang tersimpan di laci nakas lalu kembali duduk disamping Hanaria sambil mengupas beberapa buah.

__ADS_1


"Maafkan kami Nona. Sebenarnya kami tidak pantas bertamu kemari, kami hanya pelayan." ucap bibi Narsih membuka obrolan. "Tapi pak Aji memaksa untuk datang kemari, dia mau berterima kasih pada Nona," imbuhnya sembari melirik pak Aji yang duduk disebelahnya.


"Ah, jangan berfikir seperti itu bi Narsih dan pak Aji. Saya senang kalian bisa datang berkunjung kemari." ucap Hanaria tetap ramah. Sementara Willy masih sibuk mengupas buah ditangannya dan mendengarkan saja obrolan Hanaria dan kedua tamu mereka, karena dirinya memang tidak sedekat Hanaria dengan kedua tamu mereka itu.


"Bagaimana keadaan pak Aji, apa sudah membaik?" Hanaria memandang wajah pak Aji yang masih terlihat pucat dan lebih kurus dari terakhir ia melihatnya.


"Saya sudah merasa lebih baik Nona. Saya kemari hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan Nona pada saya. Dan saya juga sudah menjumpai isteri saya di panti lansia sore tadi," tuturnya dengan raut terharu.


"Biasanya setiap tiga hari sekali, saya memang selalu menyediakan waktu untuk mengunjungi isteri saya itu Nona, kami berdua sama-sama sudah tua, tinggal menunggu ajal saja yang menjemput." tutur pak Aji lagi dengan senyum getir diwajah keriputnya.


"B-bukan itu maksud saya Nona." pak Aji terlihat tidak enak, ia merasa salah bertutur sehingga Hanaria melontarkan idenya itu.


"Saya rasa pak Aji tidak perlu lagi berkunjung setiap tiga hari sekali di panti itu. Suami-isteri memang seharusnya tinggal bersama. Bukan begitu Daddy Jo dan El?" Hanaria menyentuh lembut lengan Willy disampingnya.


"Kau benar Sayang," Willy memberikan sepiring potongan buah-buahan yang baru selesai ia bersihkan pada isterinya itu.

__ADS_1


"Ini buat pak Aji dan bi Narsih," Willy menggeser satu piring satunya lagi tepat dihadapan kedua tamu mereka.


"Aduh, kami tidak enak Tuan," ucap bibi Narsih memandang pada Willy.


"Makanlah, tidak perlu sungkan. Kapan lagi ada seorang CEO mengupas buah selain disini," ucap Willy santai dan menunjukan senyum ramahnya. Ia berusaha membuat keduanya tetap merasa nyaman dengan berkata demikian.


Walau nampak canggung, bibi Narsih dan pak Aji tetap mencomot potongan buah dari piring yang disiapkan untuk mereka berdua.


"Mengenai apa yang Nona bicarakan tadi, saya tidak tahu bagaimana caranya harus membalas kebaikan Nona pada saya dan isteri saya. Tapi saya takut, nyonya Mingguana bisa marah bila mengetahui isteri saya tinggal dirumahnya." ucap pak Aji khawatir, menyambung ucapan Hanaria sebelumnya.


"Jangan takut pak Aji. Untuk nyonya Mingguana, itu akan menjadi urusan saya. Yang terpenting, pak Aji bisa merawat ibu Maria bila kalian tinggal bersama. Besok, saya akan meminta asisten David untuk mengurus kepulangan ibu Maria dari panti sosial lansia itu," putus Hanaria.


"Terima kasih banyak Nona. Saya benar-benar sangat berterima kasih atas semua yang Nona lakukan pada keluarga saya. Dan saya hanya bisa mendoakan, kiranya segala kebaikan akan selalu mengikuti Nona bersama keluarga Nona." ucap pak Aji lagi, ia benar-benar terharu karena doanya selama ini bisa terkabulkan lewat Hanaria.


Ia memang selalu menaruh pengharapan, bila dirinya dan isterinya suatu hari nanti bisa kembali tinggal bersama sebelum maut memisahkan mereka.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2