
"Hai Mah," Rosalia mencium pipi kiri dan pipi kanan dokter Rosalie.
"Udah lama nunggu?" tanya Rosalia lagi sembari menyebrang meja dan duduk disana agar ayahnya duduk disamping ibunya.
"Lumayan. Tapi gak pa-pa." ucap Dokter Rosalie mengulas senyum lembutnya, ia mengangkat satu tangannya, dan seorang waitress datang mendekat.
"Antarkan pesanan yang saya pesan tadi ya Mba," ucapnya pada sang waitress.
"Baik Nyonya."
"Apa yang kau bawa itu Sayang?" tanya dokter Rosalie memperhatikan tas jinjing yang diletakan diatas meja, setelah sang waitress meninggalkan mereka.
"Ini--, makan malamku yang dibawakan Billy tadi Mah," Rosalia mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam tas jinjing dan membuka sedikit penutup-penutupnya, lalu buru-buru menutupnya lagi. Aroma makanan seketika menguar dari sana.
"Heum, aromanya lezat." puji dokter Rosalie menghirup aroma makanan yang sempat tercium olehnya.
"Kenapa tidak ajak Billy sekalian kesini tadi?" Rosalie menatap wajah Rosalia yang seketika menekuk menatap kearah ayahnya.
"Tuh, tanya si Papah! Bisa-bisanya menyuruh Billy pergi dengan alasan tugas yang tidak jelas." hatinya masih menyisakan kekesalan mengingat apa yang dillakukan ayahnya saat dirumah sakit tadi.
Dokter Rosalie menoleh pada suaminya yang duduk disebelahnya dengan raut penuh tanya.
"Papah tidak mau ada pengganggu. Papah maunya kita makan malam bertiga saja, hanya ada Papah, dan dua wanita kesayangan Papah," ucap Hartawan dengan gaya santai dan datarnya.
"Kalau hanya ingin makan malam bertiga saja, kenapa menawarkan Willy untuk ikut tadi Pah? Apa itu hanya basa-basi saja?" berondong Rosalia.
Dokter Rosalie memandang keduanya, menyaksikan wajah putrinya yang nampak kesal sementara suaminya hanya menunjukan sikap datarnya, dan tidak berniat memberi jawaban.
__ADS_1
"Permisi Tuan, Nyonya, dan Nona," waitress yang sebelumnya kini datang bersama seorang waitress lainnya membawa pesanan makan malam.
"Iya, silahkan letakan saja diatas meja Mba." ucap dokter Rosalie pada kedua waitress itu.
Keduanya sempat melirik empat kotak makanan milik Rosalia yang berada tepat dihadapan gadis itu.
Begitu selesai menata hidangan diatas meja, dua waitress itu segera meninggalkan tamu-tamunya setelah berpamitan.
"Selamat makan," ucap dokter Rosalie pada suami dan putrinya, setelah mereka menaikan doa syukur sebelum makan.
"Kau tidak makan ini Sayang?" Rosalie memperhatikan putrinya yang tidak menyentuh sama sekali pesanannya dari restoran itu.
"Ini kan kesukaanmu," Rosalie menyodorkan sepiring saji daging rica-rica pada putrinya itu. Hartawan ikut memperhatikan putri semata wayangnya sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
"Billy sudah membawakan makanan yang sama untukku Mah. Lihatlah," Rosalia memperlihatkan kotak makanannya pada sang ibu.
"Boleh, ini Mah," Rosalia menyendok dua potong daging yang dirajang kotak-kotak dadu dan menyuapkannya pada ibunya.
"Eumm, enak, lezat, pedesnya pas banget Sayang." ucap dokter Rosalie memberi penilaian, sambil merasakan cita rasa makanan yang ada dalam mulutnya. "Beli dimana dia?" sambungnya lagi.
"Ngakunya masak sendiri sih Mah," sahut Rosalia, sekalian berniat pamer pada kedua orang tuanya.
"Wouw, calon suami idaman itu, Sayang," ucap dokter Rosalie mengerlingkan mata pada putrinya dengan ekor mata melirik suaminya yang tengah makan untuk melihat reaksinya.
Bukan tanpa alasan dirinya berkata seperti itu. Rosalia memang selalu terbuka padanya tentang apapun, termasuk perasaannya pada Billy sejak lama, namun suaminya itu selalu diam seribu bahasa bila dirinya membahasnya.
Seperti biasa, Hartawan hanya diam saja, tidak memberi tanggapan apapun, ia terus mengunyah untuk menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya.
__ADS_1
"Pah, Papah mau?" Rosalia tiba-tiba menjulurkan tangannya ke mulut ayahnya dengan beberapa potong daging yang sama seperti kepada ibunya.
Untuk beberapa saat Hartawan diam mematung, memandang makanan hasil masakan Billy menurut putrinya, begitu yang ia dengar.
"Tenang saja. Pah, Billy tidak akan meracuni Papah walau Papah sering memberikan tugas tidak jelas saat dia sedang bersamaku. Buktinya aku dan Mamah baik-baik saja," ucap Rosalia sekenanya. "Iya 'kan Mah?"
"Kau benar Sayang," sambut dokter Rosalie disela-sela makannya.
"Rosa, papah juga tidak berfikir sampai disitu. Pesanan Mamahmu juga masih banyak, Papah harus menghabiskannya bukan? Karena kau tidak mau memakannya." tolaknya halus.
"Sepotong saja Pah, tidak akan berpengaruh dalam usus besar Papah," Rosalia tetap memaksa.
"Eum, baiklah," percuma saja menolak, putrinya itu pasti akan terus memaksa, batinnya.
"Bagaimana? Enak 'kan Pah?" Rosalia menatap ayahnya dengan raut berbinar, berharap jawaban sang ayah akan enak didengar oleh telinganya.
"Eumm," terlihat Hartawan mengunyah dengan penuh perasaan.
"Enak 'kan Papah??" tanya Rosalia menatap ayahnya dengan harap-harap cemas.
"Tidak buruk--, tidak juga terlalu lezat--, biasa saja," komentarnya lalu meraih gelas air putihnya dan meneguknya hingga habis.
Walau jawaban sang ayah tidak seperti yang diharapkan, Rosalia tetap tersenyum senang, karena ayahnya mau memakan apa yang dimasak oleh Billy. "Terima kasih Pah," Rosalia kembali melanjutkan makannya, tentu saja memakan makanan yang dibawakan oleh Billy untuknya.
Dokter Rosalie memandang keduanya dan ikut tersenyum bersama putrinya.
Melihat sikap putrinya yang pantang menyerah membuat Hartawan mendesah dalam.
__ADS_1
Bersambung...👉