HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 47 Menginap Di Rumah Sakit


__ADS_3

"Nona Hanaria baik - baik saja tuan muda Willy. Kita bersyukur, tidak ada cedera yang berarti atau ada hal - hal yang mengkhawatirkan lainnya, apalagi seperti patah tulang. Hanya ada satu luka sobek yang lumayan dalam, sehingga perlu dijahit. Yang lainnya hanya terdapat beberapa luka ringan saja, tiga hingga empat hari bisa sudah mengering." Jelasdokter Mozes yang menangani Hanaria.


"Apakah saya sudah bisa pulang sekarang dokter??" Tanya Hanaria menatap kearah dokter.


"Sebenarnya nona Hana harus dirawat inap, tapi bila nona Hana sudah tidak merasa pusing - pusing lagi, nona Hana sudah bisa pulang sore ini." Ucap dokter Mozes melihat kearah Hana.


"Tapi siapa yang akan merawatmu dirumah nona Hana? Bukankah orang tuamu berada dikampung?" Apa tidak sebaiknya kau disini saja sampai luka - lukamu itu membaik." Willy yang mendengar percakapan Hanaria dan dokter Mozes yang menanganinya turut mengemukakan pendapatnya.


"Tuan muda Willy benar nona. Sebaiknya anda dsini saja, besok anda boleh pulang. Kita lihat perkembangan luka jahitan anda nona." Sahut dokter Mozes membenarkan ucapan Willy.


"Tapi adik saya tidak tahu kalau saya ada disini dokter...." Hanaria memberi alasan.


"Mana ponselmu? Berikan padaku....." Perintah Willy.


"Untuk apa tuan?" Tanya Hanaria heran.


"Jangan banyak tanya..... berikan saja....." Perintah Willy lagi.


"Didalam ransel..... masih dimobil tuan." Sahut Hanaria melihat kearah Willy.


"Sebutkan nomor ponsel adikmu itu." Ucap Willy sambil meraih ponsel dari dalam sakunya.


"Untuk apa tuan?" Hanaria kembali bertanya.


"Memang untuk apa lagi, kalau tidak memberitahu adikmu itu bahwa kau malam ini menginap dirumah sakit ini, bukankah itu alasanmu tadi tidak mau menginap?!" Ucap Willy ketus.


Wajah Hanaria langsung merengut, namun dirinya tetap menyebutkan nomor ponsel Firlita.


"Ini..... bicaralah dengan adikmu, bahwa kau menginap disini malam ini....." Willy memberikan ponselnya yang sudah tersambung dengan Firlita pada Hanaria.


Hanaria meraihnya demgan susah payah karena tangannya masih terasa sangat ngilu. Begitu dipegangnya, ponsel Willy tiba - tiba terjatuh kelantai karena tangan Hanaria tidak punya tenaga untuk menggenggamnya.


Willy, Hanaria, dan dokter Mozes yang menanganinya sama - sama terkejut.


Hanaria mendadak pucat, ponsel majikannya itu tentu saja sangat mahal, sudah bisa dilihat dari tampilannya.


"Ma..... maafkan saya tuan muda..... saya..... saya.... tidak sengaja." Ucap Hanaria sedikit gugup.


Willy tidak menjawab. Wajahnya terlihat datar, ia berjongkok, meraih ponselnya yang tergeletak dilantai. Ponsel itu masih utuh, tidak retak sedikitpun walau terhempas keras saat terjatuh keubin.


Terdengar suara seseorang mengangkat panggilan telepon. Willy memegang ponselnya dan mendekatkan pada telinga Hanaria.

__ADS_1


"Hallo Fir..... ini kak Hana."


"Owh...... kak Hana..... Firlita pikir siapa. Memangnya ini nomor ponsel siapa kak?"


"Bos kak Hana......" Ucap Hanaria sambil melihat wajah Willy didekatnya yang masih memegang ponselnya.


"Kakak....tidak pulang, menginap dirumah sakit." Sambung Hanaria lagi.


"Kenapa??" Kakak sakit?? Aku kesana saja ya menemani kakak?"


"Tidak usah Fir. Kau dirumah saja, jaga kesehatanmu, kau sedang mengandung. Kakak hanya kecelakaan ringan saja dilokasi kerja. Besok kak Hana sudah pulang."


"Baiklah kalau begitu..... kakak baik - baik disana ya...."


Hanaria menutup pembicaraannya ditelepon dengan Firlita.


"Terima kasih tuan....." Ucap Hanaria melihat kearah majikannya itu.


"Sama - sama....." Ucap Willy datar sambil memasukkan ponselnya kembali kesakunya.


"Tuan muda Willy, mari saya antar keruang rawat inap yang sudah anda pesan." Ucap dokter Mozes.


"Iya dokter....." Willy lalu mendorong kursi roda Hanaria mengikuti langkah dokter yang berjalan didepannya.


Tidak lama, mereka sudah sampai diruang rawat inap. Hanaria sempat tertegun melihat ruang rawat inapnya yang cukup besar dan terlihat mewah.


"Tuan muda Willy, saya tinggal dulu, masih ada pasien lainnya yang akan saya tangani. Nanti suster akan datang kemari." Ucap dokter Mozes berpamitan.


"Iya dokter, terima kasih banyak." Sahut Willy. Dokter Mozes lalu meninggalkan Hanaria dan Willy berdua diruangan itu.


"Saya menginap disini tuan muda?" Tanya Hanaria masih menatap seluruh ruangan yang nampak bersih dan rapi.


"Iya..... apakah kau tidak suka?" Tanya Willy datar.


"Suka..... tapi ini mahal tuan muda...." Hanaria nampak khawatir dirinya tidak mampu membayar ruangan rawat inapnya. Biasanya ìa hanya memesan ruang kelas tiga, atau kelas dua, tapi ini ruang VVIP baginya.


"Apakah kau khawatir tidak mampu membayarnya?" Ucap Willy datar, namun senyum diujung biibirnya itu sedikit terbit seakan mengejek.


"Saya benci melihat senyum jahat anda tuan muda....." Ucap Hanaria dengan wajah tidak sukanya.


"Kau tidak perlu khawatir. Kau cukup menginap disini, dirawat hingga tanganmu yang baru saja dijahit itu sembuh." Ucap Willy tidak banyak berkomentar.

__ADS_1


Tok.... tok....tok.....


Hanaria dan Willy sama - sama menoleh kearah pintu yang tidak tertutup.


"Masuklah suster......" Ucap Willy mempersilahkan.


"Ini pesanan makan siang untuk nona Hana tuan....." Suster itu membawa nampan mendekati Hanaria.


"Berikan itu padaku suster......" Pinta Willy menatap nampan ditangan suster yang melangkah mendekat.


"Tapi nona Hana belum bisa menggunakan tangannya dengan baik tuan, begitu kata dokter Mozes tadi." Suster itu berusaha mengingatkan.


"Itu sebabnya aku sudah mengatakannya padamu, berikan nampan ditanganmu itu padaku suster." Sahut Willy menatap suster itu datar.


"Baiklah tuan......." Suster itu tidak berani membantah lagi, ia mendekatkan nampan yang dibawanya dengan hati - hati pada Willy yang sedang berdiri didekat kursi Roda Hanaria.


"Tuan muda..... apa sebaiknya saya saja yang membantu menyuapi nona Hana untuk makan?" Suster itu kembali berbicara untuk menawarkan diri. Pikirnya tidak mungkin ia mengabaikan tugasnya untuk melayani pasien dan membiarkan anggota keluarga pemilik rumah sakit tempat dirinya bekerja yang melakukan tugasnya.


"Apa kau tidak mendengarkan apa yang telah kukatakan suster? Atau aku harus mengulanginya untuk ketiga kalinya?" Walau terdengar datar, namun perkataan Willy mampu membuat sang suster gugup.


Hanaria melihat sikap majikannya itu, dirinya tidak merasa kaget. Pasti majikannya itu akan mengerjainya pikirnya buruk.


"Maafkan saya tuan muda......" Suster itu masih berdiri ditempatnya dengan wajah sedikit tertunduk.


"Kenapa kau berdiri disitu saja, pekerjaanmu disini sudah selesai. Ambil pesananku di ruang informasi dan bawa kemari." Perintahnya masih menatap datar suster yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ba.... baik.... tuan...... saya permisi." Suster itu membungkuk hormat lalu segera keluar dari ruangan itu.


Hanaria membuang wajahnya kearah lain, dia yakin permainan akan segera dimulai.


"Nona Hana......" Panggil Willy datar.


Hanaria tidak segera menoleh, ia mendengar seperti suara kursi digeser mendekati dirinya yang masih duduk dikursi roda. Ia memalingkan wajahnya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan tuannya itu. Terrnyata Willy sudah duduk pada kursi dekat dirinya. Benda yang ia dengar bergeser tadi adalah benar suara kursi.


"Bukalah mulutmu....." Perintah Willy masih dengan nada datarnya.


Hanaria mendadak kaku, bagaimana mungkin seorang majikan seperti tuan mudanya itu bisa menyuapi dirinya, pikirnya. Apakah ini awal dari permainan licik tuan mudanya itu untuk mempermalukan dirinya, pikir Hanaria dalam hatinya.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡

__ADS_1


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇



__ADS_2