
"Selamat malam Pah," Willy datang mendekat, ia langsung meraih tangan Hartawan lalu mencium punggung tangannya.
Begitulah cara Willy memanggil orang tua dari Rosalia, karena mereka memang akrab sejak bayi. Rosalia pun memanggil Moranno dan Yurina sama seperti keduanya memanggil, Daddy dan Mommy, hanya saja ada penambahan kata kembar dibelakangnya.
"Malam juga Willy," sahut Hartawan ramah. "Selamat ya, atas kelahiran putra kembarmu, Rosalia yang cerita." sembari tangannya menepuk-nepuk lembut punggung Willy.
"Maaf, Papah belum sempat menengok, masih sibuk. Kebetulan malam ini Mamahnya Rosalia mengajak makan malam bersama, jadi Papah menjemput Rosalia kemari. Kau boleh bergabung kalau ada waktu," ujar Hartawan menawarkan.
"Iya, Willy ngerti kesibukan Papah, tidak masalah. Dan terima kasih banyak Pah untuk undangan makan malamnya, mungkin lain waktu saja. Kasihan Hana sendirian." tolak Willy halus.
"Willy ditawarin, buat apa Pah? Dia itu pria beristeri, mana bisa seenaknya main pergi, harus tanggung jawab menjaga isteri yang baru melahirkan." celetuk Rosalia datang mendekat.
"Kenapa Billy yang lajang gak ditawarin? Malah disuruh pergi melakukan tugas yang tidak jelas," sungut Rosalia sembari mencebikan bibirnya kesal.
"Rosa??" tegur Hartawan lembut, namun penuh penekanan.
"Bukan Papah loh yang memberi tugas, kau lihat sendiri 'kan kalau Billy menerima tugas dari orang yang menelponnya." kilah Hartawan setenang mungkin.
"Rosa bukan putri kecil Papah lagi. Ingat Pah, Rosa udah besar, udah jadi dokter sekarang. Rosa lihat sendiri kalau tangan papah sibuk didalam saku celana yang ada ponselnya itu," tunjuknya dengan bibirnya yang memancung.
Willy terkekeh, namun tidak berani kekencangan. Dari kejauhan ia juga menyaksikan kecurangan yang dilakukan ayah Rosalia itu.
__ADS_1
"Jangan main tuduh, Papah tidak suka." ujar Hartawan masih berusaha ngeles.
"Ayo, berikan ponsel Papah pada Rosa,. Rosa bisa buktikan kalau dipanggilan keluar itu ada XX1 GARUDA," tantangnya sembari menadahkan telapak tangannya pada Hartawan dengan menyebut nama rahasia Billy sebagai seorang inteligen.
Willy kembali tertawa. Hal yang sudah biasa baginya, melihat ayah dan anak itu bertengkar. Sang ayah yang terlalu kaku, sementara sang anak terlalu bawel bila sedang beradu argumen.
"Sudahlah, kita berangkat sekarang, kasihan Mamahmu lama menunggu." Hartawan tidak mau memperpanjang perdebatan, karena ujung-ujungnya ia akan kalah. Pria berumur dan berkharisma itu buru-buru menarik pergelangan tangan putrinya itu.
"Kami pergi dulu ya," Hartawan melirik kearah Willy yang masih tertawa melihat keduanya.
"Iya Pah, hati-hati!" sahut Willy setengah berteriak.
"Rosa! Tadi kau mau bicara apa?!" teriak Willy lagi, begitu teringat apa tujuan utamanya keluar dari ruang rawat inap Hanaria.
Willy meninggalkan taman mini itu untuk kembali ke ruang rawat Hanaria begitu dilihatnya ayah dan anak itu sudah masuk kedalam mobil.
"Hana?!" Willy kaget, lalu buru-buru mendekati Hanaria yang berdiri dengan setengah tubuhnya bersembunyi dibelakang daun pintu rawat inapnya.
"Kenapa kau berdiri disitu? Apa kau perlu sesuatu?" Willy mengusap sayang pucuk rambut isterinya itu.
Bukannya menjawab, Hanaria malah memberondong banyak pertanyaan yang sejak tadi sudah bercokol dalam kepalanya, menyaksikan perlakuan tidak adil pria yang dihormati oleh kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Kenapa ayahnya dokter Rosalia sikapnya berbeda? Padamu dia begitu ramah, tapi pada kak Billy dia terlalu kaku dan tegas." Tanya Hanaria merasa heran. Jujur saja, ia tidak habis pikir dengan apa yang ia saksikan.
"Bukankah kalian bertiga selalu bersama mulai bayi seperti ceritamu waktu itu?" ungkapnya, mengingat Willy pernah bercerita padanya mengapa dirinya dan Billy bisa begitu dekat dan akrab dengan Rosalia, dokter kandungan yang cantik itu.
Willy menggandeng punggung Hanaria lalu membawanya masuk dengan langkah perlahan dan hati-hati, supaya isterinya itu jangan sampai tersandung.
"Entahlah, mungkin karena kak Billy adalah bawahan Papah Hartawan, jadi sikap tegasnya terbawa hingga diluar jam kerja," duganya.
"Apa kau lapar?" Willy mendudukan Hanaria dengan hati-hati di sofa kamar dekat ranjang dua bayi kembar mereka yang tengah terlelap kekenyangan.
Hanaria mengangguk, "Iya, begitu kau keluar untuk menemui dokter Rosalia, aku langsung merasa lapar," ucapnya jujur.
"Baiklah aku akan memesan makanan untukmu dulu ya," Willy mengambil ponselnya, ia buru-buru membuka aplikasi pemesanan online.
"Kau mau makan apa?" tanya Willy melihat kearah Hanaria.
"Apa saja, yang penting sayuran dan lauknya yang berkuah. Ibu menyusui dianjurkan makan makanan yang demikian," sahut Hanaria menyandarkan kepalanya dibahu Willy.
"Apakah ayah dokter Rosalia lebih menyukaimu dari pada Billy untuk menjadi menantunya?" tanya Hanaria tiba-tiba, disela-sela lamunannya yang masih memikirkan sikap tidak biasa Hartawan.
Willy sedikit tersentak, tidak menduga bila Hanaria akan melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.
__ADS_1
Bersambung...👉