HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 55 Perintah Boss


__ADS_3

"Saya sudah memesan taxi online, sebentar lagi akan tiba, jadi saya kemari untuk mengambil barang - barang saya itu tuan....." Jelas Hanaria.


"Sebenarnya, saya yang memerintahkan Willy untuk membawa barang - barangmu dan mengantarkanmu pulang nona Hana." Ucap Moranno melihat kearah Hanaria yang masih menundukkan sedikit kepalanya.


"Benarkah......?? Maafkan saya tuan, sudah merepotkan anda juga tuan muda." Ucap Hanaria merasa tidak enak dan semakin sungkan.


"Tapi saya sudah memesan taxi online, dan sebentar lagi akan datang tuan." Tambah Hanaria lagi.


Moranno menatap kearah Willy putranya, Willy yang dilihat hanya mengangkat kedua bahunya sambil membenarkan kaca mata hitamnya.


"Baiklah nona Hana...... kau tidak mungkin membatalkannya kan?" Ucap Moranno kembali beralih pada Hanaria.


"Iya tuan..... terima kasih....." Ucap Hanaria tersenyum sumringah, hatinya begitu bahagia karena tidak jadi diantar oleh Willy.


Willy membuka bagasi mobilnya, ia mengeluarkan semua barang - barang milik Hanaria dari mobilnya satu - persatu.


"Nona Hana, apakah kau yakin kalau dirimu sudah merasa lebih baik dan tidak mau diantar oleh Willy?" Tanya Moranno lagi sambil mendekati Hanaria dan Willy yang sibuk menurunkan barang - barang.


"Iya tuan saya yakin. Lagi pula saya buru - buru karena ada kedua orang tuan saya dari dusun yang akan datang siang ini." Sahut Yurina dengan senyum tipisnya.


"Kedua orang tuamu akan datang??" Tanya Moranno memastikan.


"Iya tuan.... mereka akan menghadiri wisuda saya tiga hari lagi." Jelas Hanaria.


"Oh begitu..... Saya juga sudah menerima surat permohonan ijinmu untuk hari wisudamu yang disampaikan oleh tuan Doffy beberapa hari sebelum kau mengalami kecelakaan proyek.


Ponsel Hanaria tiba - tiba berbunyi. Ia buru - buru meraih ponsel dari dalam sakunya. "Permisi tuan, saya akan mengangkat telepon." Ucap Hanaria meminta ijin dengan sopan.


"Silahkan......" Sahut Moranno sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Hallo bang......" Sapa Hanaria, sesaat setelah dirinya mengankat telepon.


"Mohon maaf mbak..... terjadi trouble....."


"Jadi gimana bang, sampai kapan saya harus menunggu?"


"Entahlah mbak.... ini saja saya harus membawa ban mobil yang bocor ke bengkel dulu menggunakan transfortasi umum mbak..... mbak cancel aja ya untuk hari ini. Mohon maaf ya mbak....."


"Baiklah bang...... terima kasih." Hanaria menutup teleponnya tidak semangat. Ia mulai mengutak - atik kembali ponselnya untuk memesan taxi online yang baru.


"Apakah ada masalah nona Hana?" Tanya Moranno menatap wajah pegawainya itu yang terlihat agak kusut.


"Oh.... eh..... iya tuan..... maafkan saya..... saya harus memesan taxi online yang lain lagi." Hanaria nampak sedikit tergagap, ia lupa kalau didekatnya masih ada Willy dan Moranno yang melihatnya dengan penuh tanda tanya.


"Untuk apa? Bukankah taxi sebelumnya sudah siap menjemput?" Tanya Moranno lagi sambil membenarkan kaca matanya.


"Itu tuan...... ban mobil taxi onlinenya bocor." Sahut Hanaria.


"Tapi tuan, saya tidak enak merepotkan tuan muda....." Ucap Hanaria beralasan. Ia sebenarnya tidak ingin berdua lagi didalam mobil bersama Willy, yang menurutnya laki - laki itu bisa saja berlaku kurang ajar lagi padanya.


"Ttidak nona Hana, ini perintah dariku padamu sebagai pegawaiku, kau harus mau diantar Willy. Kalau kau memesan taxi online lagi, kau harus membuang - buang waktumu untuk menunggu, sedangkan kau harus banyak istirahat setelah pulang dari rumah sakit. Dan bukankah orang tuamu juga akan datang kerumahmu seperti yang kau katakan tadi."


"Ta.... tapi.... tuan....."


"Saya adalah bos mu nona Hana, saya tidak menerima bantahan..... Willy, masukkan kembali barang - barang nona Hana dibagasi mobilmu, lalu segera antar nona Hana pulang kerumahnya, ingat kau tidak boleh menurinkannya disembarang tempat." Putus Moranno. Hanaria hanya bisa terpaku diam. Ternyata ayah dan anak sama saja, mentang - mentang bos, seenaknya saja memutuskan tanpa meminta persetujuan dirinya, pikir Hanaria yang tiba - tiba merasa kalut setelah mendengar ucapan Moranno barusan.


"Nona Hana..... laporkan padaku bila Willy tidak bersikap baik padamu selama dalam perjalan pulang, atau kebut - kebutan lagi dijalan raya." Ucap Moranno lagi.


"I.... Iya tuan....." Hanaria hanya bisa pasrah.

__ADS_1


"Tuan.........!!" Panggil Hanaria sambil berlari kecil mengejar sang pemilik perusahaan tempat dirinya berkerja.


"Ada apa nona Hana.....?" Moranno menghentikan langkahnya sebelum masuk kedalam mobilnya yang berada disebelah mobil Willy.


"Terima kasih banyak atas bantuan tuan yang telah melunasi biaya selama saya dirawat dirumah sakit ini tuan. Saya berjanji akan mencicil untuk mengganti biaya yang telah tuan keluarkan buat saya." Ucap Hanaria sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali dihadapan Moranno.


"Nona Hana..... saya tidak memintamu mengganti sepeserpun semua biaya yang telah saya keluarkan itu. Kau cukup berkerja dengan rajin, baik, dan jujur selama bekerja di perusahaan kami. Kau mengerti nona Hana?"


"Iya tuan.... saya mengerti." Ucap Hanaria dengan sikap sopannya.


"Baiklah, saya pergi dulu. Willy akan mengantarkanmu pulang." Moranno melangkah masuk kemobilnya. Tidak lama kemudian, mobil Moranno perlahan merayap meninggalkan Hanaria yang masih membungkukkan tubuhnya memberi hornat.


"Nona Hana.....!! Sampai kapan kau membungkuk disana.....!! Ayoo..... Aku akan seegera mengantarkanmu pulang.......!!" Panggil Willy yang sedari tadi menunggu Hanaria dibelakang kemudinya.


Wajah Hanaria langsung menekuk mendengar suara Willy. Ia bergegas menghampiri mobil Willy dan duduk dijok belakang dengan wajah manyun.


Willy menatap datar wajah Hanaria dari kaca spion dalam mobilnya dan tidak berkata apapun. Hanaria menatap kearah spion tengah. Tatapannya saling bertabrakan dengan pria itu, ia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Sampai kapan tuan memandang saya? Saya harus sampai dirumah sebelum orang tua saya tiba duluan dirumah." Ucap Hanaria menatap kekaca depan mobil tanpa melihat kearah Willy lagi.


"Nona Hana...... Apakah kau menganggap atasanmu ini adalah sopirmu yang akan mengantarkanmu kesana - kemari?? hmm?? Cepat !! Pindah kedepan !! Tidak terima bantahan !!" Ucap Willy penuh tekanan namun wajahnya masih terlihat datar menatap pegawainya itu dari balik spion dalam. Hanaria masih diam, tidak sedikitpun bergeser dari duduknya.


"Aku paling tidak suka mengulangi ucapanku untuk kedua kalinya, apa kau mengerti??" Willy kembali berucap. Namun Hanaria tidak menggubris ucapan Willy, ia berpikir pria itu sengaja menyuruhnya duduk didepan hanya ingin melecehkannya saja.


Saat melihat tidak ada gerakan dari pegawainya itu. Willy membuka pintu mobil disebelahnya. Ia melangkah kesamping depan mobilnya dan membuka pintunya dengan lebar. Hanaria melihat apa yang dilakukan tuannya itu dari dalam mobil dimana ia sedang duduk. Hanaria menatap tajam pada Willy, saat pria itu tiba - tiba membuka pintu mobil dimana ia sedang duduk.


"Apa yang ingin tuan muda lakukan" Hanaria memundurkan tubuhnya merapat kesandaran jok mobil. Willy tidak berkata apa - apa, ia terua melakukan apa yang ada didalam kepalanya.


"Lepaskan.....!!! Tuan muda lepaskan saya......." Hanaria berusaha meronta dan melepaskan diri saat Willy menggendongnya paksa dengan kedua tangan kokohnya.

__ADS_1


"Kau bisa diam tidak.....!! Aku tidak segan - segan melakukan sesuatu padamu kalau kau tidak bisa diam. Mengerti??!!"


__ADS_2