HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
173. Tidak Perduli


__ADS_3

Brugghh!


"Agghh! Sakit!" erang Lucy yang masih tersungkur dilantai.


"Willy! Tolong, aku kesakitan," rengek Lucy dengan mata berkaca-kaca. Willy yang dipanggil namanya pura-pura tidak mendengar.


Nyonya Mingguana segera menghampiri gadis itu dengan perasaan khawatir. Sementara Willy menggeser duduknya semakin merapat pada Hanaria.


"Kau baik-baik saja Lucy?" tanya nyonya Mingguana memegang pundak Lucy. Ia lalu memeriksa bagian-bagian tubuh gadis itu.


"Lututku Bibi, rasanya sakit sekali," keluh Lucy dengan wajah meringis, ia melirik kearah Willy yang sedang duduk disofa berdampingan dengan Hanaria. Pria itu benar-benar tidak perduli padanya, seperti tidak terjadi sesuatu saja. Rasa sakitnya melebihi lututnya yang berdarah.


Hanaria sempat melihat Lucy terjerembab jatuh kelantai dengan keras akibat elakan suaminya itu. Jujur, ia merasa kasihan melihat gadis itu.


Hanaria melirik Willy yang duduk santai disebelahnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Baru kali ini dirinya melihat sisi lain dari suaminya itu.


"Tuan muda, bisakah Anda menolong saya mengangkat Lucy, saya tidak bisa menopang tubuhnya seorang diri," pinta nyonya Mingguana dengan nada memohon.


"Saya tidak berkewajiban membantu wanita yang bukan isteri saya Nyonya. Bukankah Anda memiliki seorang asisten, mintalah tolong padanya saja," ketus Willy acuh. Ia sama sekali tidak menoleh kearah nyonya Mingguana maupun Lucy yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa kecewa, kesal, geram, dan marah tentu saja.


Hanaria menelan saliva-nya ketika ucapan Willy yang tidak berperasaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Inikah pria yang ia nikahi, begitu kejam tanpa rasa belas kasihan walau pada seorang wanita? Batinya bergumam.


"Asisten David, cepat kemari, bantu nona Lucy untuk berdiri," perintah nyonya Mingguana setengah berteriak pada assistennya itu, sesaat setelah mendengar perkataan Willy.

__ADS_1


"B-baik Nyonya," sahut asisten David tergagap. Ia segera bergegas, jangan sampai dipanggil hingga dua kali oleh sang majikan bila tidak ingin mendapatkan hukuman.


Hanaria mengernyitkan keningnya, saat mendapatkan asisten David sedang tersenyum sendiri, sehingga pria itu tergagap ketika dipanggil nyonya Mingguana, pria itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya menggelikan.


"Lihat, lututnya berdarah," tunjuk Hanaria dengan isyarat wajahnya, ketika melihat cairan warna merah merembes turun dari lutut Lucy yang terluka. Nalurinya yang selalu iba dan suka menolong membuat Hanaria beranjak dari duduknya, namun Willy dengan sigap menahanya supaya tetap duduk ditempatnya.


Willy melirik sekilas kearah Lucy yang sudah berhasil duduk disofa berhadapan dengan dirinya dan Hanaria dengan kaki ditekuk, dan ia dapat melihat bahwa lutut gadis itu memang benar terluka. Willy kembali membuang wajahnya kearah lain, membuat Hanaria semakin yakin bila suaminya itu benar-benar sakit hati karena pernah dicampakan oleh mantan pacarnya itu menurut cerita yang ia dengar dari Edrin sepupu Willy.


"Mungkin, karena aku ada disini, jadi kau pura-pura tidak perduli padanya?" goda Hanaria, ia berbisik pelan ditelinga Willy, supaya perkataannya barusan tidak didengar oleh siapa-pun selain mereka berdua.


"Kau belum mengenalnya Hana, wanita itu memang sangat jago berakting, supaya orang lain bersimpatik padanya," sahut Willy ikut berbisik. Hanaria menatap Willy, ia tidak bisa percaya begitu saja pada ucapan suaminya itu, karena ia melihat sendiri bagaimana menderitanya Lucy menahan luka lututnya yang berdarah.


"Asisten David, panggil dokter untuk datang secepayanya, Lucy sebenarnya tidak boleh terluka, karena sebentar lagi ia harus harus menjadi model pada saat launching product kita," kata nyonya Mingguana khawatir.


"Nyonya, kedatangan saya kemari hanya mengantarkan Hanaria isteri saya, dihari pertamanya berkerja pada perusahaan Anda," ucap Willy menyela kesibukan nyonya Mingguana yang menurutnya terlalu over pada Lucy.


"Baik tuan muda, terima kasih karena bersedia berkunjung ke Perusahaan Mega Otomotif ini, semoga nona Hanaria betah berkerja disini," ucap nyonya Mingguana berusaha menampilkan senyum ramahnya, ia masih merasa dongkol pada Willy atas dua kejadian di Perusahaan-nya pagi ini yang disebabkan pria itu.


"Justru saya berharap Nyonya bisa membuat isteri saya merasa betah berkerja di Perusahaan Anda ini. Kalau tidak, dengan senang hati saya akan membawanya kembali berkerja di Agatsa Properti Group milik keluarga kami," ungkap Willy menatap datar pada wanita paruh baya itu.


Nyonya Mingguana masih memasang wajah ramah yang dihiasi senyum palsunya.


"Satu lagi, saya tidak suka melihat ketidak ramahan pegawai anda di pos jaga tadi," ucap Willy blak-blakan memprotes kinerja para pegawai nyonya Mingguana.

__ADS_1


"Keamanan, dan kenyamanan ruang kerja juga harus diperhatikan Nyonya. Model product Perusahaan Anda saja bisa kecelakaan separah itu didalam ruang kerja Anda yang mewah ini," ungkap Willy. Ia menyapu pandangannya pada setiap sudut ruangan kerja nyonya Mingguana sambil menggoyang-goyangkan kakinya santai.


"Jangan sampai hal serupa sampai terjadi pada nona Hanaria, karena isteri saya ini lebih berharga dari pada seorang model." kata Willy sambil menggenggam erat tangan Hanaria. Lucy yang terlihat masih kesakitan pada lukanya hanya bisa terdiam memandang apa yang ada didepan matanya.


"Bila ada sedikit saja keluhan dari mulut nona Hanaria, saya pasti akan bertindak. Apa Anda mengerti Nyonya?" tekan Willy dengan memandang lurus kearah nyonya Mingguana.


Nyonya Mingguana menatap Willy datar, ia berusaha menahan dirinya pada setiap ucapan pria yang duduk tepat berhadapan dengannya itu. Karena saat ini ia sangat membutuhkan Hanaria untuk menjalankan semua misinya.


"Mendengar ucapan Tuan Muda, saya merasa seperti pegawai Anda saja Tuan. Baiklah, saya akan lakukan seperti yang Anda inginkan," sahut nyonya Mingguana memberi sindiran halus pada perkataan Willy yang seolah-ololah mendikte dirinya sebagai owner di Perusahaannya sendiri.


Willy tersenyum tipis, ia tidak perduli, apalagi tersinggung mendengar sindiran wanita yang menjadi bos isterinya itu, bahkan ia memang sengaja melakukannya demi membuat nyonya Mingguana segera melepaskan Hanaria isterinya secepatnya dari kontrak yang telah mereka sepakati.


"Baiklah, saya pamit dulu. Saya juga harus berkerja." kata Willy sembari berdiri dari duduknya.


"Hana, jangan lupa tugas-mu sebagai seorang isteri, mengantarkan makan siangku kekantor saat jam makan siang," ucap Willy dan dibalas anggukan oleh Hanaria.


Cup!


Hanaria terpaku, demikian juga Lucy yang semenjak tadi selalu memperhatikan gerak-gerik Willy dan Hanaria, rasa sakit lututnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan didalam dadanya, saat menyaksikan semuanya itu didepan matanya.


Lucy menatap nanar kepergian Willy yang tidak menoleh sedikit-pun padanya. Ia tidak percaya bila Willy sanggup melupakannya hanya dalam satu tahun perpisahan mereka.


Tanpa disadari olehnya, Hanaria ikut memperhatikan wajah Lucy yang nampak merana menatap kepergian Willy yang menghilang dibalik pintu ruang kerja nyonya Mingguana.

__ADS_1


__ADS_2