HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 97 Minta Maaf


__ADS_3

"Nona Hanaria...... Silahkan membuat pesanan makan malam mu" Ucap Yurina sambil menyodorkan kertas dan pulpen yang diberikan sang pelayan dihadapan Hanaria.


"Saya ikut pesanan nyonya saja......" Ucap Hanaria merasa gugup, hatinya terus berdebar tidak menentu.


"Pesanlah sesuai yang kau inginkan nona Hana...... Aku dengar dari Willy, kau hanya menyukai ikan. Kami sudah memesan, tinggal dirimu saja yang belum membuat pesanan.


Walau masih merasa gugup, Hanaria akhirnya meraih kertas dan pulpen dihadapannya, lalu menuliskan pesanannya, begitu selesai ia langsung menyerahkannya pada sang pelayan yang sedang menunggu.


"Bagaimana kabarmu hari ini nona Hana?" Ucap Yurina. Ia berusaha membantu Hanaria mengusir ketegangannya dengan senyum hangatnya. Ia sangat menyadari, gadis itu pasti merasa gugup bertemu dengan dirinya dan keluarganya.


"Kabar saya..... baik nyonya......" Sahut Hanaria, ia berusaha bersikap biasa, tapi kegugupannya tetap terlihat.


"Syukurlah nona Hana..... Saya turut senang mendengarnya. Kalau Willy...... dia sepertinya kurang baik, lihat saja rahang dan bibirnya memar seperti itu. Sudah jadi CEO, tapi masih suka berkelahi." Ucap Yurina sambil memandangi putranya yang pura - pura tidak mendengar.


Hanaria turut memandang kearah Willy sekilas, laki - laki itu sedang memainkan ponselnya. Itu artinya, Willy tidak memberitahukan pada kedua orang tuanya bila bekas memar itu adalah akibat pukulan dari Jonly, kakaknya.


"Tok.... tok.... tok....." Suara ketukan, mengalihkan pandangan mereka kearah pintu.


"Masuklah......." Ucap Yurina mempersilahkan. Tiga pelayan langsung masuk membawa nampan berisi menu makan malam ditangan mereka masing - masing.


"Permisi tuan - tuan dan nyonya...... juga nona......" ucap salah satu pelayan. ia langsung menyajikan semua pesanan diatas meja dan menatanya dengan teratur.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati........ tuan - tuan...... nyonya..... nona......." Ucap pelayan itu lagi dengan sopan sambil membungkuk hormat, setelah selesai menyajikan menu makan malam para tamunya diatas meja.


"Terima kasih......." Sahut Yurina dengan senyum ramahnya. Pelayan itu, bersama dua pelayan lainnya lalu meninggalkan tempat itu.


"Mari..... Silahkan dimakan nona Hana......" Ucap Yurina menawarkan pada Hanaria.


"Iya nyonya......" Sahut Hanaria. ia berusaha bersikap biasa, walau hatinya terus berdebar sehingga membuatnya tetap merasa gugup. Bagaimana tidak, ini kali pertamanya bagi dirinya diundang makan malam bersama keluarga majikannya yang sangat ia hormati.


Hanaria sekilas memperhatikan Yurina yang sedang melayani suaminya untuk mengambil makanan. Mereka terlihat tetap mesra, tuannya itu terlihat lumayan manja pada nyonyanya. Dan putranya, tidak mau kalah, minta dilagani juga oleh ibunya.


Hanaria tersenyum didalam hati, sambil mengunyah makanannya. Ternyata tuan Moranno yang ia lihat begitu berwibawa, berkarisma dan begitu dihargai saat dikantor, mempunyai sisi yang berbeda saat bersama dengan keluarganya. Juga Willy, laki - laki menyebalkan itu, ternyata bisa berubah seperti bayi saat bersama ibunya. Melihat semuanya itu, membuat Hanaria menjadi sedikit rilex, tidak setegang pada saat awal ia datang.


"Suamiku..... Juga Willy...... mereka jarang makan ikan, bukan karena tidak suka..... Tapi suka tertelan durinya, nyangkut ditenggorokan. Jadinya mereka lebih memilih makan daging kalau sedang makan diluar seperti ini." Ujar Yurina, setelah selesai melayani suami dan putranya, sambil mengambil menu makanan untuk dirinya sendiri.


"Saya suka ikan, karena mulai kecil dibiasakan oleh ibu. Karena didusun kami, ikan lebih mudah didapat. Berbeda halnya dengan daging atau ayam nyonya, kalau mau memakanny, harus menyembelih kebih dahulu, jadi harus melalui proses yang cukup panjang, kita sempat kelaparan menunggunya." Ucap Hanaria, menyambung kata - kata Yurina.


"Apalagi kalau mau makan daging sapi nyonya, tunggu ada hajatan didusun baru bisa menikmatinya, masalahnya terlalu besar biayanya kalau hanya untuk satu keluarga." Imbuhnya lagi.


Moranno yang mendengar perbincangan antara isterinya dan Hanaria langsung terkekeh pelan, bukan tentang biayanya, tapi mebayangkan mulai dari proses penyembelihannya, memotong daging - dagingnya menjadi bagian - bagian kecil, bahkan hingga memasaknya yang cukup lama, benar saja kata pegawainya itu, pasti orang yang ingin memakannya akan sempat kelaparan.


Obrolan - obrolan ringan kedua wanita beda generasi itu menghantarkan mereka hingga menyelesaikan makan malam yang terasa santai. Hanaria sudah terlihat lebih rileks dibandingkan dari sebelum - sebelumnya.

__ADS_1


"Nona Hana....... Apakah nona punya hubungan khusus dengan nak Reymon? Kudengar nak Reymon sempat melamar nona Hana? Lalu kenapa nona menolaknya? Maafkan saya bila bertanya terlalu pribadi." Ucap Yurina dengan senyuman dibibirnya, saat memulai pembicaraannya. Suaranya terdengar begitu lembut keibuan. Ia menatap wajah gadis itu, mencoba melihat kejujuran dimatanya.


"Tidak apa - apa nyonya...... Mas Reymon tetangga saya didusun nyonya. Dia laki - laki yang baik, sudah seperti kakak bagi saya, itu sebabnya saya tidak bisa menerimanya. Dari mana nyonya bisa tahu kalau mas Reymon pernah melamar saya?" Hanaria berusaha bertanya dengan sangat hati - hati.


"Mas Arta, ayah nak Reymon. Kami sudah seperti keluarga. Karena ibunya mas Arta, bibi Nur, pernah berkerja pada keluarga kami." Sahut Yurina sedikit memberi penjelasan.


"Iya, mas Reymon sempat cerita sedikit tentang hal itu." Ucap Hanaria sambil mengangguk - anggukan kepalanya.


"Nona Hana..... Maksud utama dari acara makan malam kita ini......Kami...... ingin bertemu dirimu secara khusus, berkaitan dengan adanya masalah yang telah terjadi antara nona Hana dengan putra kami Willy. Saya, mommy nya Willy, juga daddy nya Willy, sungguh - sungguh minta maaf atas kelakuan putra kami Willy yang tidak sepatutnya itu padamu nona." Ujar Yurina.


Hanaria memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut isteri majikannya itu. Wajah segar nan cantik itu, semakin mempesona bila dipandang berlama - lama. Mungkin saja perawatannya sangat mahal, fikir Hanaria didalam hati, saat memandang wajah Yurina yang duduk dihadapannya.


"Saya rasa, permintaan maaf saja tidaklah cukup, atas segala akibat yang sudah nona Hana terima karena perbuatan putra kami Willy. Saya dan daddynya, sudah meminta Wiily, untuk bertanggung jawab atas segala kesalahannya selama ini pada nona Hanaria."


"Dalam waktu dekat ...... Willy harus menikahi anda nona Hanaria......" Putus Yurina menutup kalimatnya, membuat Hanaria mendadak tegang.


Kegugupan kembali menguasai Hanaria, napasnya tiba - tiba menjadi sesak, ia tidak menduga akan mendengar kalimat mengejutkan itu dari mulut Yurina. Apakah hal ini yang membuat perasaannya tidak enak saat menerima undangan makan malam sang isteri tuan besarnya itu.


Hanaria berusaha mengatur nafasnya, ia memperbaiki posisi duduknya, namun saat disadarinya Moranno, tuan besarnya itu sedang memperhatikannya, membuat ia semakin gugup dan salah tingkah.


"Bagaimana nona Hana?" Tanya Yurina lagi. Pertanyaan itu kembali mengejutkan Hanaria yang masih fokus untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Saat ini, Hanaria merasa benar - benar sangat bingung dan serba salah harus menjawab apa, dirinya merasa belum siap menerima pertanyaan sersulit itu.


__ADS_2