HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
189. Hukuman


__ADS_3

Diruangan marketing, Hanaria nampak gelisah, duduk salah dan berdiri juga salah. Sudah dua jam berlalu saat dimulainya jam kerja, Hanaria yang menyandang tugas sebagai marketing baru, tidak bisa berkonsentrasi dengan baik dalam melakukan pekerjaannya.


Willy, siapa lagi, hanya suaminya itu yang membuatnya seperti itu sekarang. Situasi hatinya lagi galau, bagaimana tidak, penolakan Willy yang blak-blakan padanya tadi pagi dirumah, menjadi bahan fikirannya yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.


Padahal selama ini, suaminyalah yang berusaha mendapatkannya, tapi kenapa tadi pagi ia menolak membuat bayi bersamanya. Apakah suaminya sudah tidak tertarik padanya? Atau, bahkan mungkin saja tidak pernah tertarik padanya? Hanya dirinya saja yang terlalu percaya diri bila Willy menyukainya dan mengharapkannya, dan dirinya selalu berlagak sok menolak.


Ditambah lagi dengan ucapan Lucy tempo hari, yang kembali terngiang-ngiang ditelinganya, mengatakan bila ia heran bagaimana Willy bisa tertarik pada gadis dusun yang sederhana seperti dirinya, membuatnya semakin tidak tenang.


"Kau mau kemana nona Hana?" tanya manager Antonio, yang kebetulan sedang melintas didepan meja Hanaria. Ia menatap bawahannya itu yang berpenampilan berbeda hari itu.


"Saya mohon ijin keluar Pak," pinta Hanaria dengan sikap hormatnya.


"Ini jam kerja, untuk apa pegawai baru sepertimu keluyuran diluar," ungkapnya garang, ia memang tidak menyukai bawahannya itu dari awal Hanaria bergabung di Perusahaan itu.


"Bukankah seorang marketing area kerjanya berada diluar ruangan Pak, bukannya mengeram seperti burung didalam sarang?" ketus Hanaria yang awalnya bersikap hormat mulai menjadi kesal, ia pun sudah mengerti bila atasannya itu memang tidak menyukainya sejak awal dia berkerja disana.


Ditambah lagi saat ini hatinya sedang kusut-kusutnya memikirkan suami bening-nya yang tidak mau membuat adik bayi bersamanya. Rasanya ingin sekali ia menjadikan dadar gulung, orang-orang yang berani mengusiknya seperti pria paruh baya dihadapannya itu.


"Tidak sopan, berani kau berbicara demikian pada atasanmu!" geram Manager Antonio marah. Pegawai-pegawai yang ada diruangan itu menoleh kearah Hanaria dan Manager Antonio ketika mendengar suara bernada tinggi dari sang atasan mereka.


"Sekarang juga, kembali duduk. Aku tidak mengijinkanmu keluar kemana-mana sebelum jam kerja berakhir!" ucap Manager Antonio masih dengan suara tingginya.


"Atau kau akan di pecat dari Perusahaan ini!" imbuh Manager Antonio lagi disertai ancamnanya.

__ADS_1


Semua pegawai disana membisu mendengar ucapan terakhir sang manajer marketing mereka. Bila ancaman itu ditujukan pada mereka, tentu saja mereka akan sangat takut, dan berusaha melakukan hal yang terbaik, sekalipun harus menjadi penjilat, supaya tidak kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan mereka. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Hanaria.


"Maafkan saya Pak Manager, bila Anda bisa melakukan hal yang Anda ancamkan pada saya, saya akan sangat berterima kasih," ucap Hanaria datar. Semua pegawai dalam ruangan marketing yang mendengar perkataan Hanaria spontan terbelalak atas ucapan beraninya itu.


"Dan saya harus pergi sekarang," Hanaria langsung beranjak meninggalkan Manager Antonio yang berwajah merah padam, amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


...***...


Hanaria turun dari mobilnya, ia melirik sejenak kearah mobil suaminya yang sedang terparkir rapi disebelah mobilnya dan ayah mertuanya .


Dengan langkah ringan, Hanaria bergegas memasuki lobby samping. Beberapa pegawai pria yang berpapasan dengannya segera membungkuk hormat sambil menelan salivanya masing-masing melihat penampilan tidak biasa mantan rekan kerja yang kini menjadi sang majikan.


"Selamat pagi menjelang siang Nona Hana," sapa dua pegawai resepsionis bersamaan saat Hanaria akan melintas dihadapan meja mereka sambil membungkuk hormat.


"Selamat siang juga," balas Hanaria sambil berlalu dan tidak lupa memberikan senyum ramahnya pada kedua pegawai resepsionis itu.


"Selamat pagi Nona Hana," sapa sekretaris Morin yang tengah berdiri dibelakang mejanya ketika melihat Hanaria keluar dari lift.


"Maaf Nona, bila Anda ingin menemui tuan muda, sekarang waktunya tidak tepat karena lima menit lagi tuan muda akan menghadiri meeting penting antara Anggota Dewan Direksi dan Para Pemegang Saham," jelas. sekretaris Morin sambil melirik dua paper bag di tangan Hanaria yang ia duga adalah kotak makanan seperti biasanya.


Hanaria yang akan melintas menghentikan langkahnya, ia menatap datar wajah sekretaris Morin yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tidak kalah datarnya.


"Bukankah kemarin sudah meeting?" tanya Hanaria.

__ADS_1


"Benar nona Hana, kemarin meeting dengan Para Manager Perusahaan, sedangkan hari ini meeting penting dengan Anggota Dewan Direksi dan Para Pemegang Saham," sahut sekretaris Morin.


"Kalau begitu, aku memberimu waktu lima menit saja seperti katamu tadi untuk menunda satu jam lagi meeting penting-nya," kata Hanaria tanpa beban membuat sekretaris Morin terbelalak.


"Tidak semudah itu Nona Hana, ini berkaitan dengan Para Pemegang Saham dan Anggota Dewan Direksi. Bukankah Anda pernah berkerja di Perusahaan ini, Anda pasti tahu apa sanksi-nya bila melakukan penundaan meeting mendadak, apalagi lima menit berselang berlangsungnya rapat. Semua peserta meeting sudah bersiap menunggu diruangan." jelas sekretaris Morin berusaha menahan rasa kesalnya.


"Itu hukuman buatmu yang sudah ingkar janji sebagai pendonor sumsum tulang belakang," ungkit Hanaria.


"Seperti mudahnya diriku melepaskanmu dari jerat hukum karena video yang pernah kau sebarkan dengan sengaja itu, semudah itu juga aku akan memasukkanmu kedalam jeruji besi, bila dalam dua kali dua puluh empat jam dari sekarang kau tidak menepati janjimu menjadi pendonor sumsum tulang belakang sahabat kecilku, Lania,"


"Apakah Anda sedang mengancamku Nona Hana?" kata sekretaris Morin tidak suka.


"Tidak, aku sangat serius dengan ucapanku sekretaris Morin," tegas Hanaria menatap tajam wajah wanita licik dihadapannya itu.


"Kau fikir aku tidak tahu, siapa ibu kandung dari Lania? Dan pria yang bersamamu di pusat perbelanjaan itu, bukankah dia ayah Lania?" kata Hanaria mengungkapkan apa yang ia ketahui lewat penyelidikan yang dilakukan oleh Shasie atas perintahnya, setelah ia melihat sekretaris Morin berbicara dengan seorang pria yang sangat dikenalnya ketika ia berbelanja bahan makanan di supermarket bersama Willy.


Wajah sekretaris Morin memucat, rahasia yang ia simpan dengan rapi selama bertahun-tahun lamanya kenapa begitu mudahnya terbongkar oleh wanita dusun yang sangat dibencinya itu.


"Bagaimana saya harus memberi alasan Nona, bila meeting penting itu harus ditunda satu jam lag?" ungkap sekretaris Morin, ia bingung antara harus mengikuti perintah Hanaria atau tidak, karena semua keputusan yang harus ia ambil dalam waktu singkat itu, sangat berat baginya. Rasanya ingin sekali ia berontak dan teriak, tapi ia tidak punya keberanian untuk itu.


"Bukankah itu tugasmu sebagai sekretaris pribadi suamkku." sahut Hanaria tidak perduli.


"Dan satu lagi, siapapun orangnya, tidak boleh memasuki ruang kerja suamiku dalam satu jam kedepan, kau mengerti?!" tegas Hanaria lagi.

__ADS_1


"Baik Nona, saya mengerti," sahut sekretaris Morin terpaksa menyanggupi.


...***...


__ADS_2