
Hanaria segera berlari kedalam rumah setelah mobil suaminya menghilang didepan pagar rumahnya. Ia menghampiri meja makan, memandang sarapan yang telah ia sajikan tidak tersentuh sedikitpun.
Dengan terburu-buru Hanaria memasukan sarapan yang ada diatas meja kedalam beberapa kotak makanan. Setelah selesai ia masuk kekamar dan berganti pakaian kerja.
"Firlita, kak Hana berangkat kerja dulu ya. Sarapan diatas meja jangan lupa dimakan," Kata Hanaria, ketika ia berpapasan dengan Firlita yang sedang mendorong kereta bayinya didepan pintu.
"Kak Hana tidak sarapan dulu?" tanya Firlita.
"Kak Hana akan sarapan dikantor bersama suami kakak. Jangan lupa mengunci pintu dengan baik, kau masih menyimpan kunci rumah kakak kan Firlita?"
"Iya kak," sahut Firlita.
"Baiklah, kakak berangkat dulu." Sebelum pergi, Hanaria tidak lupa mencium pipi bayi Elvano yang memerah karena habis berjemur.
Firlita memandang kepergian Hanaria yang nampak terburu-buru menyetir mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
Didalam mobil, Hanaria terlihat resah, mengingat sikap Willy yang dingin. Ia sadar suaminya bersikap seperti itu padanya karena salah dirinya, itu sebabnya ia bertekad menyusul Willy kekantornya.
Tidak membutuhkan waktu lama, walau lalu lintas menuju kantor Agatsa Properti Group terbilang ramai, namun Hanaria bisa menempuhnya dalam waktu hanya dua puluh menit saja. Ia melirik arloji tangannya yang menunjukan pukul tujuh lewat lima puluh menit. Ia segera turun dari mobilnya setelah memarkirkannya diantara mobil Willy dan Moranno di parkiran khusus.
"Selamat pagi Nona Hanaria," sapa seorang resepsionis tersenyum ramah dan berdiri dibelakang mejanya, ketika melihat Hanaria memasuki lobby kantor.
"Selamat pagi," sahut Hanaria, tidak lupa ia membalas senyum ramah sang pegawai resepsionis. Dengan langkah panjangnya, ia menuju lift owner.
Didalam lift, Hanaria tidak sabar menatap kearah nomor yang ada didinding lift, yang serasa lambat berganti dari angka ke angka, hingga akhirnya bunyi yang ia tunggu-pun terdengar juga.
Ting! Tong!
Lift terbuka, Hanaria segera melangkahkan kakinya keluar lift dengan terburu-buru.
"Selamat pagi nona Hanaria," sapa sekretaris Morin yang tengah berdiri dibelakang mejanya, matanya melirik kotak makanan warna-warni yang sedang ditenteng Hanaria.
__ADS_1
"Selanat pagi juga sekretaris Morin," sahut Hanaria sambil melintas didepan meja sekretaris pribadi suaninya itu.
"Tunggu Nona, apakah Anda ingin bertemu tuan muda sepagi ini?" tanya sekretaris Morin menghentikan langkah isteri majikannya itu.
"Iya, Kenapa? Apakah kau keberatan bila aku menemui suamiku?" sahut Hanaria yang tiba-tiba kesal melihat tingkah sekretaris Morin yang menahan dirinya.
"Maaf Nona, lima menit lagi tuan muda akan menghadiri meeting bersama para manager," sahut sekretaris Morin. Bertepatan dengan itu, Willy keluar dari ruangannya. Hanaria buru-buru menghampiri Willy yang berdiri didepan pintu untuk menutupnya.
"Willy," panggil Hanaria lirih.
Willy menoleh, namun matanya tidak menatap pada Hanaria, melainkan kearah sekretaris Morin yang tengah memperhatikan dirinya dan isterinya dari meja kerjanya.
"Ada apa kau kemari Hana?" tanya Willy datar, ia masih menatap lurus kedepan tanpa melihat wajah Hanaria sedikitpun. Hanaria menelan salivanya, hatinya terasa sakit melihat Willy yang sama sekali tidak ingin melihatnya.
"Aku-, aku mengantarkan ini untukmu," Hanaria menunjukan kotak-kotak makanan yang ia tenteng, walau ia tahu Willy tidak akan melihatnya.
"Tadi pagi kau belum sempat sarapan, jadi aku membawakannya kemari untukmu. Aku-, aku khawatir kau sakit," sambung Hanaria menatap wajah datar suaminya yang masih tidak melihat dirinya.
Willy berbalik menghadap pintu kerjanya yang sudah tertutup rapat dan membukanya kembali dengan lebar,." Masuklah," ucap Willy mempersilahkan. Hanaria lalu bergegas masuk mengikuti Willy yang melangkah kedalam ruangannya lebih dulu. Ia dapat melihat suaminya itu tetap menjaga sikapnya dihadapan sekretaris pribadinya yang terus melihat dari kejauhan dengan pandangan curiga.
"Kau makan saja sarapan yang kau bawa itu, aku tahu kau juga belum sarapan pagi ini. Tapi aku tidak bisa menemanimu, aku harus menghadiri meeting sekarang," ucap Willy masih dengan nada datarnya.
"Jangan lupa kunci ruang kerjaku setelah kau selesai sarapan. Titipkan kuncinya pada resepsionis dilantai dasar, aku akan mengambilnya disana nanti." Setelah berkata demikian, tanpa melihat kearahnya, Willy berlalu sambil menenteng tas kerjanya.
Hanaria kembali menelan salivanya dengan susah payah, sikap Willy yang dingin padanya pagi itu membuat tubuh Hanaria terasa lemas tidak bertenaga. Ia memandang kepergian Willy dan sekretaris Morin yang melangkah dibelakang suaminya itu dengan tatapan nanar.
Setelah Willy dan sekretaris Morin menghilang dari pandangannya, Hanaria segera membawa kotak makanan yg masih ditentengnya ke kursi sofa tamu yang ditunjuk Willy, setelah meletakannya diatas meja sofa, Hanaria segera meninggalkannya disana dan keluar dari ruang kerja suaminya, dan tentu saja tidak lupa menguncinya.
Hanaria berjalan gontai menuju lift dan masuk kedalamnya dengan wajah lesu. Sesampainya dilantai dasar, ia menitipkan kunci pada resepsionis sesuai pesan Willy padanya.
Hanaria menatap mobil sport merah menyala yang terparkir bersebelahan dengan mobilnya untuk beberapa saat lamanya. Sikap pemilik mobil itu membuat dirinya tidak bersemangat menjalani kegiatannya hari ini.
__ADS_1
Tanpa Hanaria sadari, sepasang mata diruang pertemuan lantai tujuh sedang memperhatikannya hingga ia meninggalkan parkiran khusus owner dengan mobilbya.
...***...
"Ada apa denganmu Nona? Kau terlihat menyedihkan hari ini. Dan biasanya kau selalu diantar oleh suamimu, kenapa hari ini tidak?" Ucap Lucy yang tiba-tiba muncul didepan Hanaria yang baru saja selesai berbicara dengan seorang engineer yang merakit mobil pesanan nyonya Mingguana dan nyonya Maigna Orine.
"Apakah mengawasiku adalah salah satu pekerjaanmu sebagai model di Perusahaan ini?" ungkap Hanaria yang merasa perasaannya sudah buruk semenjak pagi tadi.
"Tenang Nona, kenapa wajahmu langsung tidak enak dipandang seperti itu? Biarkan aku menduga dulu," Lucy melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah terlihat sedang berfikir.
Sementara Hanaria memutar bola matanya malas, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya, wanita yang berprofesi sebagi model itu selalu berusaha merusak mood-nya setiap hari bila mereka bertemu.
"Aku tahu, kau seperti itu karena Willy pasti sudah merasa bosan pada wanita dusun yang sederhana sepertimu kan?" ucap Lucy dengan senyum menyebalkan. Hanaria tidak menjawab, hanya menatap gerah melihat wanita usil dihadapannya itu.
"Aku heran, apa yang dilihat Willy padamu. Kau tidak lebih cantik dari diriku, dan bahkan tidak lebih seksi dariku," ucapnya lagi sambil memperhatikan Hanaria yang tengah duduk dibelakang meja kerjanya.
"Apakah masalah hatimu dengan suamiku belum selesai Nona Lucy? Oh, aku sekarang baru mengerti, kenapa suamiku itu mencampakkanmu. Pria paling tidak suka dengan wanita bawel sepertimu," ucap Hanaria ketus sambil bangkit dari duduknya.
"Tunggu, aku belum selesai," tahan Lucy, ketika dilihatnya Hanaria ingin meninggalkan meja kerjanya.
"Bukan Willy yang mencampakan diriku, tapi aku yang mencampakannya, apa kau tidak dengar gosif yang pernah beredar seperti itu?" sanggah Lucy tidak terima.
"Iya, aku pernah mendengarnya Nona Lucy. Tapi saat kita pertama kali bertemu diruangan Bibimu, menurutku kaulah yang tercampakan. Kau ingatkan, saat itu kau sampai terjatuh ketika ingin bersikap akrab dengannya, sedangkan suamiku sama sekali tidak perduli padamu," ucap Hanaria sambil terkekeh dengan gaya mengejek
"Huhh, kasihan sekali kau Nona. Sudahlah, aku harua pergi makan siang bersama suami tercintaku dulu," Hanaria sengaja mengibaskan rambutnya kewajah Lucy dengan sisa tawanya, dan segera berlalu.
"Kau! Dasar perempuan perebut pacar orang," Lucy nampak geram sendiri melihat Hanaria yang meninggalkannya begitu saja. Pandangannya tidak sengaja melihat beberapa pegawai wanita yang sedang tertawa cekikikan sambil mencuri pandang kearahnya.
"Apa yang kalian tertawakan?!" Bentak Lucy kesal menatap tajam pada beberapa pegawai wanita yang tertangkap basah menertawai dirinya.
"Kami hanya heran saja Nona, model cantik dan seksi seperti Anda bisa kalah dengan Nona Hanaria," sahut salah seorang pegawai wanita itu jujur, para pegawai wanita lainya kembali melanjutkan tawa mereka setelah mendengar ucapan teman mereka tanpa rasa sungkan sedikitpun.
__ADS_1
"Awas, pegawai tidak tahu sopan, akan aku laporkan kalian pada Bibi," gerutu Lucy kesal seraya meninggalkan ruangan marketing itu.
...***...