
"Rosa kok belum turun untuk sarapan Mah? Ini sudah jam berapa?" tanya Hartawan ketika dirinya baru saja tiba di meja makan. Ia menarik kursinya dan duduk tepat didepan isterinya sembari mengecek arloji tangannya yang sepuluh menit lagi menunjukan pukul 8 pagi.
"Sudah berangkat dari dua jam yang lalu," sahut Rosalie sambil mengoles selai pada sepotong roti untuk diberikan pada suaminya itu.
"Jadi dia tidak sarapan lagi?" laki-laki itu memberi tatapan lekat pada isterinya yang juga sudah terlihat cantik dan rapi untuk bersiap berangkat berkerja.
"Tidak lagi," singkat Rosalie. "Ini rotinyanya Pah," Rosalie meletakan roti yang baru selesai di olesi selai kehadapan suaminya.
"Kenapa Mamah membiarkannya? Nanti Rosa sakit Mah," ungkapnya khawatir.
"Katanya banyak pekerjaan." Jawab Rosalie masih singkat.
"Iya Mah, pekerjaan tidak akan pernah ada habis-hanisnya. Tapi kesehatan harus terjaga."
Rosalie mendesah, ia memandang pada suaminya yang tengah memasukan roti kedalam mulutnya setelah mengungkapkan apa yang dikandung hatinya.
"Akhir-akhir ini, sikap keras kepala Papah menurun pada Rosa. Mamah seakan sedang menghadapi Papah saja, nggak bisa dibilangin," jujur Rosalie sambil mengigit roti sarapannya.
Hartawan hanya mendengarkan, sambil menyesap minuman hangatnya. Ia memang tahu benar, Rosalia adalah dirinya yang lain, sikap keras kepalanya kadang memang sangat menyebalkan.
Perhatian Hartawan dan Rosalie teralihkan ketika melihat asisten rumah tangga mereka datang tergopoh-gopoh dengan raut cemas. "Maaf Tuan, Nyonya. Barusan telepon dari rumah sakit Pemerintah kabarnya Non Rosa tiba-tiba pingsan pagi ini," ucap bibi Uni sambil menggenggam erat tangannya sendiri dibawah perutnya.
"Nah, apa kata Papah tadi," Hartawan seketika panik begitu pula Rosalie. "Ayo Mah kita ke rumah sakit sekarang," keduanya gegas berdiri.
"Bi, kami berangkat dulu. Tolong bereskan saja yang ada diatas meja," Rosalie gegas meraih tasnya dan berlari kecil mengejar Hartawan yang sudah beranjak lebih dulu dari sana.
"Kasian Tuan dan Nyonya, sarapan saja belum selesai." gumam bibi Uni sembari memindahkan semua sarapan dari atas meja.
...⚘️⚘️⚘️...
Rosalie mendekati Rosalia yang tengah berbaring diranjang pasien seolah seperti sedang tertidur tenang. Bibir itu nampak kering dan memucat, demikian juga dengan wajahnya. Jarum infus sudah terpasang rapi di tangannya, tubuhnya terasa panas.
__ADS_1
"Kau demam Sayang," lirih Rosalie dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap lembut wajah pucat Rosalie, hatinya begitu sedih melihat kondisi Rosalia yang belum sadarkan diri. Tubuh itu nampak kurus dari biasanya.
Ceklek.
Pintu ruang rawat inap VIP hunian Rosalia terbuka perlahan, Hartawan masuk dengan hati-hati.
"Apa kata dokter Pah?" tanya Rosalie penasaran.
"Asam lambung Rosalia naik, sepertinya jadwal makannya tidak teratur akhir-akhir ini kata dokter Faraz, dia juga mengalami dehidrasi ringan dan kelelahan karena kurang istirahat." terang Hartawan yang baru kembali dari ruang dokter Faraz.
"Dua bulan ini Rosa memang tidak pernah mau makan dirumah, baik sarapan ataupun makan malam, mungkin dirumah sakit juga dia tidak memperhatikan asupan makanan untuk tubuhnya," ucap Rosalie menatap Hartawan, pria itu juga mengetahuinya walaupun isterinya tidak mengatakannya padanya.
Memaksa Rosalia untuk makan tidaklah mudah, putrinya itu memang sangat keras kepala seperti dirinya, batinya. Hartawan termangu dikursinya sambil memandangi wajah pucat dan kurus Rosalia.
"Kenapa Sayang? Kenapa kau seolah sengaja ingin menyakiti dirimu sendiri seperti ini?" Hartawan mengusap rambut hitam putrinya, sebagai ayahnya tentu saja ia sangat sedih melihat keadaan putrinya. Ia tidak pernah melihat lagi senyum ceria dan tawa lepas diwajah putrinya itu semenjak pertengkaran mereka yang terakhir beberapa bulan lalu.
Hartawan menggenggam tangan Rosalia yang telah terpasang jarum infus, terlihat pucat dan dan terasa dingin dalam genggamannya.
"Tidak, berlian Papah sedang sakit, tidak mungkin Papah meninggalkannya. Mamah saja.yang berkerja, ada Papah yang menungguinya disini," Hartawan menatap isterinya yang duduk.disebelahnya.
"Melihat kondisi Rosa seperti ini Mamah juga tidak bisa meninggalkannya, Mamah khawatir." ucapnya cemas. "Lagi pula Mamah sudah mengabarkan ke rumah sakit kalau hari ini Mamah ijin."
"Mamah mau pesan makanan dulu untuk kita makan siang, tadi kita tidak sarapan dengan baik," Rosalie melirik arloji tangannya yang sebentar lagi akan menunjukan pukul 11 siang, tapi lambungnya sudah terasa perih. Ia tidak ingin kalau dirinya dan suaminya sampai jatuh sakit, tidak ada yang bisa menemani putri mereka nanti batinnya.
"Hati-hati Mah," Hartawan menatap kepergian isterinya.
Drtt. Drtt. Drtt.
Hartawan buru-buru meraih ponselnya yang begetar dalam sakunya. Ia segera menggeser log hijau begitu melihat siapa yang menelponnya. Laki-laki itu berdiri dari duduknya, melangkah menjauh menuju tirai jendela kaca agar suaranya tidak mengganggu putrinya yang masih belum sadar juga.
📞"Maaf Jendral, saya sedang dirumah sakit, putri saya sedang sakit," ucapnya pelan namun tidak mengurangi rasa hormatnya.
__ADS_1
📞"Kalau begitu, limpahkan tugas itu pada yang siap melakukannya sekarang. Jangan sampai terlambat! Semoga putrimu cepat sembuh."
"Siap Pak!"
Begitu sambungan telepon terputus. Hartawan segera mencari nomor kontak seseorang,"Billy, hanya kau yang paling tepat melakukan tugas kilat ini," gumamnya saat nomor kontak panggilan cepatnya menampilkan nama bawahannya itu.
"Tidak, kau sedang melakukan tugas rahasia. Aku tidak bisa menugaskanmu karena kau sudah dibawah wewenang Jendral Giran."
Hartawan segara menggeser lagi dengan jarinya, untuk menemukan orang berikutnya yang lebih tepat. Setelah menemukannya ia segara menekan nomor kontaknya untuk menghubunginya.
Hanya sepersekian detik panggilan sudah tersambung.
📞"Lumpuhkan sniper itu, dan bersihkan lokasi. Seratus dua puluh menit lagi rombongan kepresidenan akan melintas wilayah itu. Semua data lokasi dan pericuh itu akan terkirim sekarang juga ke ponselmu oleh sistem."
Hartawan kembali menutup teleponnya begitu selesai memberi perintah pada bawahannya.
"Mah, seperti Papah harus pergi sekarang," Hartawan mendekati Rosalie yang baru kembali. Perempuan itu menutup pintu dengan pelan namun tidak menguncinya.
"Ada apa?" Rosalie bertanya pelan.
"Seorang Sniper gelap. Masih diselidiki ia bertindak untuk siapa," sahut Hartawan, Rosalie yang tidak asing mendengar hal demikian terlihat berfikir lalu mengangguk pelan.
"Pergilah. Biar aku yang menjaga Rosalia disini,"
Hartawan merapat, memberi kecupan pada kening isterinya itu. Lalu bergegas keluar.
"Oh tidak! RO-SA!!"
Hartawan tersentak kaget, dirinya baru saja menutup pintu dibelakangnya ketika suara isterinya berteriak histeris didalam ruangan yang ia tinggalkan.
Repleks, Hartawan berbalik dan melompat kepintu dan mendorongnya dengan kasar.
__ADS_1
Bersambung...👉