
Willy bergerilya, menapaki lantai demi lantai di dalam rumah tua peninggalan mendiang kakeknya yang sekarang dihuni kedua orang tuanya juga dirinya dan Hanaria, sembari asik merayu paman dan bibinya yang sudah lama menetap di Singapura lewat ponselnya.
Tidak lupa, ia juga menelpon buyut Naomi-nya juga Oma Agatsa-nya yang tinggal di luar negeri.
Tentu saja ia mendapat omelan dari kedua sesepuh keluarganya itu karena telah mengganggu istirahat malam mereka. Bagi Willy itu tidak masalah, yang penting keinginan tercapai.
Selesai menelpon, Willy segera mencatat nominal bantuan yang disanggupi oleh paman, bibi, buyut, oma, juga Edward sepupunya. Melihat jumlah yang sesuai dengan harapannya, senyum Willy langsung mengembang, dirinya tinggal menutupi sisa yang hanya berkisar sepuluh digit saja lagi.
"Akhirnya, malam ini aku sudah bisa tidur dengan tenang," gumam Willy lega, ia melirik arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 2 pagi.
Willy menoleh kiri dan kanan suasana begitu sepi. Tanpa ia sadari, ternyata dirinya berada di halaman depan rumah, karena begitu fokus melancarkan rayuannya pada keluarga besarnya di telepon, tak sadar kakinya membawanya turun hingga kehalaman rumah.
Willy yang berencana kembali masuk kerumah, segera mengurungkan niatnya, begitu mendengar suara derumam mobil memasuki area rumah dari pos jaga security. Ia menatap sorot lampu yang menyilaukan matanya hingga berhenti tepat dihadapanya.
Seorang laki-laki, poto copy dirinya turun dari mobil dinasnya dan menghampiri.
"Tumben kemari kak?" ujar Willy menyapa dengan caranya.
__ADS_1
"Kau yang tumben, jam segini belum tidur." sahut Billy. Kakak Willy itu memang sangat jarang memunculkan batang hidungnya dirumah orang tuanya bila tidak rindu atau ada hal yang sangat penting, karena tugas negara yang ia emban sangat menyita waktunya.
"Aku lagi pusing," ucap Willy dengan wajah dibuat memelas, sengaja untuk menjerat korban selanjutnya.
"Pusing? Apa yang kau pusingkan?" Billy bertanya dengan kening mengkerut.
"Hana kak, isteriku itu ngidam saham," ucap Willy.
"Ngidam saham?" kening Billy semakin mengkerut. Nampak berfikir, mendengar ucapan Willy yang dirasanya aneh. "Emang ada?" tanya Billy, masih merasa aneh.
Billy melipat kedua tangannya didepan dada, lalu menatap rumah megah peninggalan sang kakek yang hingga kini masih berdiri kokoh dihadapannya dan Willy.
"Aku pikir, wanita hamil hanya ngidam makanan yang aneh-aneh, yang sulit dicari, dan minta diperhatikan suami atau keluarga terdekatnya secara berlebihan," Ujar Billy, sementara kakinya menendang satu batu kerikil yang ada didekat kakinya mengarah ke rerumputan.
"Kau 'kan kaya Willy, belikan saja. Bereskan? Ngapain pake pusing. Awas lho, kalau tidak diturutin, aku dengar nih ya, si bayi akan ileran nantinya," ucap Billy menakuti sambil tertawa mengejek adiknya.
Willy tersenyum didalam hati, ia yakin bila dirinya akan kembali mendapat korban empuk berikutnya.
__ADS_1
"Kak Billy pikir aku suami yang tegaan, membiarkan isteriku ngidam tidak kesampaian?" Willy berkata dengan raut tidak berdayanya. "Ini masalah nilainya kak, dan aku tidak punya uang sebanyak itu," sambungnya.
"Memangnya berapa nilai saham yang adik ipar inginkan?" tanya Billy penasaran dan mulai berempati.
"Tiga belas T kak," sahut Willy memandang wajah Billy, penasaran akan respon yang akan kakaknya itu tunjukan.
"Tiga belas Triliun maksudnya?" tanya Billy masih santai, ia tidak terlalu yakin pada pendengarannya, juga tidak terlalu yakin bila adik iparnya ingin membeli saham senilai itu.
Willy lega, ekspresi Billy ternyata tidak menunjukan keterkejutannya. Sudah dapat dipastikan bila kakaknya itu akan membantunya dengan rela hati fikirnya sambil tersenyum didalam hati lagi.
"Iya kak, ti-ga be-las tri-li-un," ucap Willy melambatkan lafalnya dengan memberi penekanan. "Ada dua belas nol dibelakang angka tiga belas," sambung Willy lagi dengan semangat.
"Gila!! Untuk apa saham dengan nilai sebanyak itu Willy!!" pekik Billy kaget kebelakangan.
Wily sontak ikut terkejut mendengar pekikan kakaknya itu, begitu pula dengan dua security yang tengah berjaga di pos jaga, menoleh ke arah keduanya dengan raut bingung dan saling berpandangan.
Bersambung...👉
__ADS_1