HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
176. Tidak Pantas


__ADS_3

Hoarr! Hoarr! Hoarr!


Bayi Elvano terus menangis mulai dini hari. Firlita kebingungan sendiri, ia sudah memeriksa popok bayinya, masih kering dan tidak basah, karena baru saja ia telah menggantinya.


Ia memeriksa perut dan ubun-ubun bayinya, mungkin juga masuk angin, diusapnya dengan minyak telon perlahan, juga masih menangis. Ia berusaha menyusui tapi bayi itu juga tidak mau menyusui karena sudah disusui ibunya sepanjang malam.


Firlita membawa bayi-nya menemui bibi Narsih dikamarnya untuk meminta bantuan.


"Bi Narsih sudah ke pasar subuh-subuh tadi Non, diantar pak Dedi," kata pak Aji, ketika mendengar Firlita berulang-ulang kali mengetuk pintu kamar bibi Narsih.


"Oh, begitu. Terima kasih pak Aji," sahut Firlita, wajahnya terlihat sedih dan panik, entah pada siapa ia harus meminta bantuan lagi, sementara bayi Elvano terus menangis hingga wajahnya pucat.


"Berisik! Berisik!" teriak Mahendra yang baru pulang menjelang pagi. Ia mendekati Firlita yang masih berdiri didepan pintu bibi Narsih, gerak tubuhnya terlihat sempoyongan saat berjalan.


"Mengurus bayi-mu saja kau tidak becus! Aku muak harus melihatmu setiap hari bersama bayimu yang selalu saja rewel itu! Huh!" Mahendra mendorong punggung Firlita, membuat ia dan bayinya yang ada dalam gendongan hampir terjatuh.


Hanaria kembali menegakkan tubuhnya. Ia sudah hafal bahwa Mahendra pastilah sedang mabuk seperti kebiasaannya. Selama satu minggu lebih berada dirumah besar itu, Mahendra selalu pulang pagi dan dalam keadaan mabuk.


"Minggir! Jangan menghalangi jalanku! Enyahlah dari hadapanku!" Mahendra menerebos lewat hingga menyerempet punggung Firlita yang membuat tubuhnya kembali oleng. Untung saja Firlita sudah bersiap sebelumnya, sehingga ia tidak jadi terjatuh, begitu pula dengan bayinya yang masih menangis.


Setelah kepergian Mahendra menuju kamarnya, Firlita yang sudah tidak tahan lagi, langsung menangis sejadi-jadinya. Antara sedih melihat bayinya yang terus-terusan menangis, suami yang tidak perduli sama sekali pada dirinya dan juga bayinya, hanya mementingkan kemabukannya dan selalu pulang pagi, marah-marah tidak jelas.


"Firlita! Apa yang kau lakukan dipagi-pagi buta seperti ini! Mengganggu orang tidur saja!" teriak nyonya Mingguana dari lantai atas depan kamarnya. Sorot matanya terlihat kesal mendengar keributan yang disebabkan oleh tangisan Firlita dan bayinya yang memenuhi rumah besar itu.


"Bayi Elvano nyonya, dia terus-terusan menangis! Saya bingung mengatasinya," ucap Firlita menatap ibu mertuanya dengan wajah menghiba, ia berharap wanita paruh baya itu mau membantunya.


"Dasar, ibu tidak berguna! Bayi-mu sendiri saja kau tidak mampu mengatasinya!" sentak nyonya Mingguana tanpa menggubris Firlita yang mengiba padanya.


Firlita mengentikan tangisnya, perkataan ibu mertuanya begitu menyakiti hatinya, namun ia hanya bisa menundukan kepalanya dalam diam, sementara pungungnya masing berguncang-guncang riuh menahan tangisnya.

__ADS_1


"Masuk kekamarmu sekarang! Urus bayi-mu dengan baik!" setelah berkata demikian wanita paruh baya itu langsung membalikkan tubuhnya dan kembali masuk kedalam kamarnya lagi, sedikitpun ia tidak perduli.


Firlita membawa putranya menuju kamarnya. Pak Aji yang sedari tadi memperhatikannya merasa iba melihatnya, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.


Suara Bayi Elvano semakin terdengar serak karena terlalu lama menangis. Firlita membaringkannya di ranjang bayi, ia tetap berusaha mendiamkan bayi itu semampunya.


Karena bayi itu masih saja tidak mau diam, Firlita akhirnya membiarkannya begitu saja dan kembali menangis bersama bayinya dikamar itu.


Firlita terlihat putus asa, pengalamannya sebagai seorang ibu yang baru seminggu sangat terbatas, tanpa bantuan seorangpun. Ibu mertuanya pun tidak mencari seorang suster untuk membantu menantunya itu.


Firlita yang memang sudah terlalu lelah mengurus bayinya seorang diri, berhari-hari lamanya ia kurang istirahat, akhirnya ambruk dilantai dekat ranjang bayinya.


Samar-samar ia mendengar suara bibi Narsih memanggilnya, namun beberapa detik kemudian ia sudah tidak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat berlalu Firlita kembali sadarkan diri. Ia melihat bayinya sudah tertidur pulas, sementara bibi Narsih sedang membereskan kamarnya.


"Bibi," panggil Firlita dengan suara lemahnya.


"Kepalaku sangat pusing Bi," ungkap Firlita sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Non Firlita istirahat saja dulu, kebetulan den Elvano sudah tertidur. Saya akan kedapur membuatkan non Firlita sarapan," kata bi Narsih. Firlita hanya menganggukan kepalanya saja sambil menahan rasa sakit dikepalanya.


Setelah bibi Narsih kedapur, beberapa menit kemudian, Firlita bangkit dari ranjangnya, ia keluar dari kamarnya, suasana rumah masih terlihat sepi, diluar sudah mulai terang tanah.


...***...


Tok! Tok! Tok!


Hanaria yang sibuk menyiapkan sarapan pagi didapur mininya, bergegas membersihkan tangannya diwastafel, berniat membukakan pintu untuk tamu yang pagi-pagi sudah datang bertamu.

__ADS_1


"Biar aku saja, lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Willy yang buru-buru keluar dari kamar. Hanaria kembali ke dapur, membiarkan Willy membuka pintu untuk tamu mereka.


Willy terperangah, begitu pintu depan berhasil ia buka, seorang wanita yang berdiri didepan pintu langsung memeluknya sangat erat, membuat tubuhnya sulit bergerak.


"Firlita, kau kah ini?" tanya Willy kemudian, ketika diperhatikannya ternyata wanita itu adalah adik angkat isterinya.


"Iya, ini aku kakak ipar," sahut Firlita, namun ia terus memeluk Willy tanpa mau melonggarkan pelukannya sedikitpun dari tubuh suami kakak angkatnya itu.


Willy kembali terperangah, baru kali ini ia mendengar Firlita memanggilnya seperti itu, biasanya tidak, ada apa dengannya, fikir Willy dalam hatinya.


"Firlita, tolong lepaskan aku, jangan seperti ini. Tidak baik dilihat orang," tegur Willy dengan suara datarnya.


"Biar aku seperti ini dulu kakak ipar, aku mohon," rengek Firlita dengan suara menghiba.


"Apa yang kau lakukan ini tidak pantas Firlita, aku suami kakakmu. Kau tidak sopan, cepat lepaskan, atau aku akan mendorongmu paksa," tegas Willy.


"M-maafkan aku kakak ipar," Firlita akhirnya melepaskan pelukannya, ia takut Willy benar-benar akan mendorongnya.


"Satu lagi, panggil aku seperti biasanya kau memanggilku, mengerti?" tegas Willy lagi.


"B-baik kakak ipar. M-maaf, tuan muda maksud saya," ucap Firlita kikuk, ia segera menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sorot mata tajam Willy yang nampak tidak suka melihat dirinya.


"Masuklah," Willy mempersilahkan. Ia segera berbalik dari hadapan Firlita dan masuk kedalam rumah Hanaria lebih dahulu.


"T-terima kasih tuan muda," lirih Firlita, ia lalu masuk membuntuti Willy dari belakang, tidak lupa menutup pintu dengan rapat dibelakangnya.


"Willy, siapa yang datang?" tanya Hanaria, ketika didengarnya langkah sandal kaki Willy mendekat padanya. Ia masih sibuk berkutat dengan masakannya.


"Adikmu Firlita," sahut Willy singkat. Ia segera masuk kembali kedalam kamar Hanaria, berniat untuk mandi kedua kali karena telah dipeluk oleh Firlita.

__ADS_1


Hanaria menghentikan sejenak kegiatan masaknya, ia berbalik, mendapatkan Firlita yang berdiri dibelakangnya.


"Fir, kau datang. Dimana putranu?" tanya Hanaria, ketika tidak melihat bayi Elvano dalam gendongan Firlita.


__ADS_2