HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 119 Terungkap


__ADS_3

"Kak Hana....... Kakak diminta paman Moranno keruang kerjanya sekarang?" Ucap Edrine, saat Hanaria baru kembali dari ruang tuan Doffy.


"Tuan Moranno memintaku membawa berkas apa nona Edrine?" Tanya Hanaria, sambil menuju meja kerjanya untuk mempersiapkan apa yang harus ia bawa.


"Paman tidak meminta kak Hana membawa apa - apa tadi....." Sahut Edrine menatap Hanaria yang tengah melihat kearahnya dari meja kerjanya.


"Lalu untuk apa memanggilku bila aku tidak diminta membawa apapun?" Wajah Hanaria nampak bingung, tidak biasanya bos besarnya itu memintanya menghadap tanpa membawa berkas penting.


"Entahlah kak Hana" Sahut Edrine sambil mengedikkan kedua bahunya. " Tapi sepertinya penting, karena kakak diminta segera kesana." Imbuh Edrine lagi.


"Baiklah kalau begitu..... " Hanaria segera membereskan laptop pribadinya dan memasukkan kedalam ranselnya. Buat berjaga - jaga saja, siapa tahu bosnya itu tiba - tiba bertanya tentang design atau proyek lainnya.


Hanaria segera bergegas keluar dari ruang kerjanya dengan terburu - buru menuju lift pegawai. Karena masih dijam sibuk kerja, lift nampak sepi tidak ada yang menggunakannya, sehingga Hanaria dengan mudah menggunakannya dan naik ke lantai 7, satu lantai diatasnya, dimana ruang kerja Moranno berada.


"Ting - tong.....!" Lift terbuka, Hanaria segera keluar. Ia tidak melihat sekretaris Morin dimeja kerjanya, namun tas dan berkas - berkasnya tertumpuk diatas meja, pertanda si pemiliknya tidak absen.


Hanaria mempercepat langkah kakinya menuju ruang kerja Moranno yang berada disebelah ruang kerja Willy.


"Tok.... tok..... tok....!" Hanaria mengetuk pintu ruang kerja sang Direktur utama.


"Masuk......!" Terdengar suara pria dari dalam yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan pemilik ruang kerja itu. Hanaria memegang kenop pintu, ia mendorongnya perlahan dan sangat hati - hati.


"Kemarilah nona Hana, duduklah disini." Panggil Moranno, saat dirinya melihat wajah Hanaria muncul didepan pintu, lalu menunjuk salah satu kursi sofa yang kosong.


Hanaria mendekat, ia melihat sekretaris Morin duduk tertunduk dihadapan Moranno. Ia menduduki salah satu sofa kosong yang ditunjuk oleh Moranno untuknya.


Ponsel Hanaria tiba - tiba berdering, saat dirinya baru saja duduk. Hanaria menatap kearah Moranno karena merasa kurang nyaman atas gangguan ponselnya itu.


"Angkatlah ponselmu, mungkin saja ada hal yang penting......" Ucap Moranno menatap wajah Hanaria datar.


"Baik tuan......" Hanaria segera meraih ponsel dari dalam sakunya, dan melihat siapa yang sedang menelponnya. Ia segera bangkit, berencana beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Disini saja nona Hana..... Tidak masalah......" Ucap Moranno menahan pegawainya itu untuk tetap duduk ditempatnya.


"Iya tuan......." Sahut Hanaria. Ia lalu menggeser dengan ibu jarinya pada layar ponselnya untuk mengangkat teleponnya.


"Hallo nyonya......." Ucap Hanaria, sambil menempelkan ponsel didaun telinganya.


"Apa maksud anda nona Hana, menahan Firlita dirumah sakit ini. Bukankah saya sudah mengatakan pada nona Hana, setelah Firlita sembuh dan boleh pulang, saya akan membawanya kembali kerumah saya." Terdengar suara seorang wanita dengan nada marah namun tidak meninggikan suaranya.


"Firlita masih trauma nyonya, biarkan dia pulang bersama saya saja sementara waktu sampai ia merasa lebih tenang." Sahut Hanaria ikut datar.


"Apakah perlu saya mengulangi perkataan saya pada anda nona Hana, saat kita dirumah sakit. Bahwa saya bisa saja menuntut anda karena menghalangi seorang isteri pulang kerumah suaminya." Ancam nyonya Mingguana.


"Silahkan saja nyonya..... Saya pun tidak segan - segan lagi untuk menjebloskan putra kesayangan anda itu kedalam penjara, atas percobaan pembunuhan yang telah ia lakukan pada Firlita dirumah anda sendiri. Saya sudah mengantongi bukti - buktinya." Ucap Hanaria tenang. Moranno menatap Hanaria, saat mendengar perkataan pegawainya itu.


"Apakah anda mengancamku nona Hana?" Suara nyonya Mingguana terdengar menekan.


"Sama sekali tidak nyonya. Saya hanya mengatakan apa yang akan saya lakukan, bila nyonya membuat laporan atau tuntutan pada saya. Saya hanya berusaha menolong menantu anda, tidak lebih. Bila ia sudah terlepas dari traumanya akibat kekerasan yang telah dilakukan putra anda sebanyak dua kali itu, anda boleh membawanya pulang kerumah anda nyonya." Sahut Hanaria masih bersikap tenang.


"Baiklah....... Saya pegang perkataan anda nona Hana, begitu Firlita pulih, anda harus segera menyuruhnya pulang kerumah saya." Setelah berucap, nyonya Mingguana langsung menutup teleponnya begitu saja tanpa persetujuan Hanaria.


"Ada masalah nona Hana?" Tanya Moranno menatap wajah Hanaria yang duduk dihadapannya. Sementara sekretaris Morin masih duduk mematung, dan masih tertunduk tidak bergerak dari awal Hanaria datang.


"Sedikit tuan...... " Ucap Hanaria singkat, tidak mau berpanjang lebar.


"Baiklah..... Kita akan mulai pertemuan kita sekarang. Sekretaris Morin, kau boleh mulai sekarang." Ucap Moranno menatap kearah sekretaris Morin yang masih tertunduk lesu ditempat duduknya.


Hanaria turut memandang kearah sekretaris Morin yang perlahan mendongakkan wajahnya. Ia terlihat mengenaskan, wajahnya sembab, seperti habis menangis. Namun ia tidak berani menatap wajah Moranno maupun Hanaria disebelahnya. Matanya hanya menatap lurus kearah vas bunga mawar plastik yang ada diatas meja dihadapannya.


"Video berdurasi 6 detik, dan captionnya...... Sayalah yang merekam dan membuatnya, lalu menyebarkannya keseluruh pegawai yang ada di perusahaan Agatsa Properti group ini. Sedangkan teman saya Riana dari Divisi keuangan, dialah yang memberikan coppy video ini pada beberapa teman wartawannya." Suara Sekretaris Morin terdengar bergetar, rasa malu luar biasa menghinggapinya saat itu.


Hanaria terkesiap mendengar pengakuan sekretaris Morin. Ia tidak menduga sekretaris Morin seberani itu melakukan hal yang tidak sepatutnya ia lakukan sebagai seorang sekretaris pribadi Willy.

__ADS_1


Ia juga teringat, bagaimana Riana, gadis berambut merah marron itu begitu bersemangat mengata - ngatai dirinya saat mereka sedang mengantri didepan lift pegawai beberapa minggu yang lalu. Ternyata gadis itu juga ambil andil dalam masalah itu.


"Saya meminta maaf pada nona Hana, atas apa yang sudah saya lakukan pada nona. Saya tidak mau dipenjara nona. Tolong maafkan saya." Pinta sekretaris Morin dengan nada menghiba.


"Bila nona tidak keberatan, tolong berikan keterangan pada polisi bahwa nona memaafkan saya, maka saya tidak akan ditahan, saya mohon nona Hana. Maafkan saya." Ucapnya lagi.


Hanaria yang masih belum move on dari rasa keterkejutannya menatap kearah Moranno. Namun pria paruh baya itu tidak memberi respon apa - apa dengan wajah datarnya.


"Apa yang membuat sekretaris Morin bisa melakukan hal yang tidak sesuai kebenaran seperti itu?" Tanya Hanaria menatap datar wajah sekretaris Morin yang tidak berani menatap wajahnya.


"Saya menyukai tuan muda Willy, dan saya tidak mau anda mendekatinya, itu sebabnya saya melakukannya supaya nama baik anda buruk dihadapan semua orang." Ucap sekretaris Morin masih bergetar, karena ia dapat melihat Moranno dari ekor matanya yang terus mengawasinya.


"Bila nona sudah memaafkan saya, nanti pihak kepolisian akan meminta saya melakukan konferensi pers, karena apa yang telah saya lakukan ini telah melibatkan beberapa awak media." Imbuh sekretaris Morin.


Hanaria menarik nafas dalam, sesungguhnya ia merasa sangat marah saat mendengar pengakuan sekretaris Morin. Wanita itu begitu jahat, hanya soal perasaannya pada Willy, ia telah melibatkan dirinya dalam masalah yang begitu besar dan berkelanjutan sampai harus menikahi sang tuan muda yang nyata - nyata tidak mencintainya, pikir Hanaria didalam hati.


"Bila saya memaafkan sekretaris Morin..... Sekretaris Morin akan terlepas dari hukuman penjara. Sedangkan saya, saya akan tetap menanggung pembullyan dari orang - orang diluar sana, yang telah terlanjur salah faham atas apa yang telah anda lakukan sekretaris Morin."


"Pemberitaan awak media itu memang akan segera anda klarifikasi bersama Riana, dan teman - teman wartawannya. Tapi, apakah itu menjamin, masyarakat akan percaya begitu saja, dan menganggap itu adalah berita hoax yang sekretaris Morin buat. Saya rasa tidak semudah itu, mengembalikan nama baik seseorang yang dengan sengaja anda rusak sekretaris Morin." Ujar Hanaria dalam kekecewaannya.


"Nona Hana benar..... Perbuatanmu itu memang tidak bisa dimaafkan sekretaris Morin." Moranno yang sejak tadi hanya mendengar kini angkat bicara.


"Kau melakukan itu karena merasa cemburu pada nona Hanaria, sedangkan dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan putraku Willy."


"Akibat perbuatanmu itu, akhirnya nona Hanaria terpaksa harus menikah dengan Willy putraku." Moranno menjedah ucapannya.


"Itu atas perintahku, aku tidak mau nama baik keluarga Agatsa, keluarga besarku tercoreng karena pemberitaan itu, yang seolah - olah salah satu anggota keluarga kami terkesan mempermainkan anak gadis orang." Lanjut Moranno menatap sekretatis Morin yang semakin menunduk.


Kini, giliran sekretaris Morin yang terkejut. Bagaimana tidak, tindakannya malah membuat Hanaria beruntung, pikirnya.


Ia mengumpat dirinya sendiri didalam hatinya. Niatnya supaya Hanaria yang sebenarnya tidak ada hubungan apapun pada Willy, atasannya yang ia gandrungi selama beberapa bulan terakhir ini, malah membuat keduanya harus menikah karena perintah sang bos besarnya, ayah dari laki - laki yang dipujanya.

__ADS_1


Sungguh! Dirinya sudah salah langkah. Menyesal kemudian tiadalah berguna, ia hanya bisa menangis didalam hati. Menangisi kebodohannya. Pupus sudah harapannya bisa mendekati laki - laki yang selalu ada dalam hayalannya itu.


"Hanariaaaaaa!!! Kenapa keberuntungan selalu ada dipihakmu!" Teriaknya didalam hati. Tidak henti - hentinya ia merutuki kesalahan fatal yang telah ia lakukan.


__ADS_2