HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 76 Gemes Dengan Pria Berumur


__ADS_3

"Belum bisa Hana, mungkin tunggu mas punya mobil sendiri." Sahut Reymon apa adanya.


"Kalau mas bisa, mas Rey yang nyetir........ " Ucap Hanaria sambil melihat dari kaca spion dalam.


"Baguslah, kalau mas Rey belum bisa menyetir, jadi kita bisa duduk berdua disini mas......" Ucap Shasie senang, tanpa malu - malu lagi.


"Kearah mana ini mas jalurnya?" Tanya Hanaria, saat mereka akan keluar dari area restoran.


"Kiri Hana........" Sahut Reymon. Hanaria lalu membelokkan kemudinya kearah kiri. Saat sudah dijalan raya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mas Rey....... Gimana ceritanya, mas Rey bisa kenal dengan tuan muda Willy dan keluarganya. Tadi Hana dengar, sepertinya mas Rey banyak tahu tentang anggota keluarganya tuan muda Willy." Tanya Hanaria, menatap sekilas kearah Reymon yang duduk dibelakangnya melalui kaca spion dalam, lalu kembali fokus pada jalan raya didepannya.


"Dulunya, nenekku, nenek Nur, menjadi pelayan dirumahnya keluarga Agatsa, termasuk menjadi pengasuh tuan Moranno saat masih kecil, lalu kedua putra kembarnya ; tuan muda Billy dan tuan muda Willy. Dan karena sudah tua, nenek Nur mengajukan resign, untuk pulang kedusun dan berkumpul dengan kami sekarang." Tutur Reymon.


"Keluarga Agatsa, mereka sangat baik, menganggap nenek Nur sudah seperti bagian dari keluarga mereka. Mereka sempat meminta nenek Nur untuk tinggal bersama mereka saja, menghabiskan masa tuanya, tapi nenek Nur menolaknya, ia ingin menikmati masa tuanya didusun saja."


"Bila ayah ke kota, saat masih ada nenek Nur dulu maupun nenek Nur yang sudah pulang kerumah kami didusun, ayah pasti menyempatkan diri untuk mampir, begitu pula dengan kami anak - anaknya. Itulah sebabnya kami bisa saling mengenal sampai sekarang Hana." Ucap Reymon, mengakhiri ceritanya.


"Owh..... Begitu rupanya...... Tadinya, Hana memang sempat heran juga mas, saat mas Reymon terlihat akrab dengan tuan muda Willy." Sahut Hanaria, sambil terus fokus pada jalan didepannya.


"Tadi mas Rey katakan, kalau tuan muda Willy punya saudara kembar. Kok aku nggak tahu ya? Maksudku....... Biasanya ' kan........ pemilik perusahaan itu, selalu memperkenalkan anak - anak mereka, karena anak - anak merekalah yang nantinya akan melanjutkan estafet dari perusahaan keluarga mereka." Ujar Shasie, ia ikut nimbrung dalam obrolan Hanaria dan Reymon.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja tuan Moranno sengaja tidak memperkenalkan anak - anaknya dimuka umum selama ini, dengan berbagai pertimbangan, dan punya alasan tertentu, mungkin demi keamanan mereka, atau apapun itu." Ujar Reymon.


"Aku rasa mas Rey benar, aku memang pernah dengar langsung dari tuan Moranno, bahwa putranya yang bernama Billy itu bekerja sebagai seorang abdi negara, ia seorang inteligen, pekerjaannya sangat rahasia. Aku rasa itu salah satu alsannya, Jadi orang - orang sekarang hanya mengenal tuan muda Willy sebagai pengusaha yang akan menggantikan ayahnya. Sebagian orang memang tahu tuan Moranno memiliki banyak anak, tapi mereka tidak mengetahui keberadaan mereka dan apa yang sedang dilakukan." Ungkap Hanaria.


Shasie, yang biasanya tahu banyak rahasia, karena ayahnya seorang detektif, kini melongo, saat mendengar perbincangan Hanaria dan Reymon. Dirinya sungguh tidak menyangka, keluarga Agatsa sehebat itu dalam menyimpan kerahasiaan keluarga mereka.


Saat Willy baru publikasikan sebagai penerus keluarga Agatsa dimuka umum, Shasie sempat mencari tahu tentang keluarga Agatsa. Dirinya hanya menemukan nama Nyonya besar Agatsa, tuan Moranno dan isterinya nyonya Yurina, dan tuan muda Willy sebagai pennerus, selebihnya, tidak ditemukan apapun, selain prestasi dari perusahaan keluarga Agatsa dan cabang - cabangnya yang ada di hampir seluruh pulau yang ada dinegeri ini.


"Bangunan berlantai 12 didepan, disana apartemen tuan muda......." Reymon menunjuk satu bangunan pencakar langit yang sudah ada didepan mata. Hanaria langsung menginjak rem mobilnya perlahan untuk mengurangi kecepatan. Ia membelokan mobilnya memasuki area apartemen yang dijaga oleh petugas security. Seorang petugas security menghentikan mobil Hanaria, karena dilihatnya mobil itu baru pertama kali memasuki area apartemen itu.


"Permisi nona....... Maaf, boleh saya lihat identitas anda nona?" Tanya sang security bersikap sopan. Hanaria meraih ranselnya, dan mengambil E-KTP dari dalam dompetnya.


"Nona Hanaria......." Eja security itu, sambil mencocokan wajah Hanaria dengan foto yang ada di E - KTP ditangannya.


"Ada keperluan apa anda kemari nona?" Tanya security itu lagi sambil menatap wajah Hanaria.


"Saya mengantarkan teman yang menginap diapartemen tuan muda Willy pak......" Hanaria lalu menurunkan kaca jendela mobil bagian belakang. Security itu melihat kedalam, lewat jendela kaca mobil yang sudah terbuka.


"Pak guru Reymon........?!" Sapanya sambil membungkuk hormat. Reymon melemparkan senyumnya membalas sapaan sang security itu.


"Nona Hana, silahkan jalan kembali." Ucap sang security, sambil mengatur beberapa mobil yang ada dibelakang mobil Hanaria, yang akan memasuki ke area apartemen itu.

__ADS_1


"Terima kasih pak." Hanaria lalu menaikkan kembali kaca jendela mobil, sambil kembali merayapkan mobilnya memasuki area yang cukup luas dari apartemen mewah dan megah itu.


"Kearah mana lagi ini mas Rey?" Tanya Hanaria lagi pada Reymon yang duduk persis dibelakangnya.


"Lurus saja, langsung kelobby yang ada didepan." Jelas Reymon. Hanaria mengikuti arah yang ditunjukan Reymon, lalu berhenti tepat didepan lobby.


"Hana, Shasie......Terima kasih banyak ya, sudah repot - repot mengantar mas pulang kemari." Ucapnya, sambil membuka sabuk pengaman.


"Sama - sama mas...... Makasih juga sudah ditraktir makan siang hari ini......" Sahut Hanaria sambil tersenyum kewat kaca spion dalam mobilnya, melihat kearah Reymon yang juga sedang melihat kearah dirinya.


"Sebenarnya tuan muda Willy yang mentraktir kita makan siang hari ini, karena dia yang lebih dulu membayar tagihannya." Ucap Reymon sambil terkekeh sendiri, saat mengingat dirinya yang tidak jadi membayar dikasir.


"Mas Rey, lihat sini sebentar......" Shasie tiba - tiba merapatkan wajahnya ke wajah Reymon, membuat pria itu terperangah, lau menjepret dengan cepat menggunakan ponselnya.


"Sekali lagi mas Rey...... tersenyumlah, supaya lesung pipitnya itu terlihat." Mau tidak mau, Reymon mengikuti permintaan Shasie, Hanaria hanya bisa tersenyum sambil mengeleng - gelengkan kepalanya, melihat tingkah Shasie memperlakukan Reymon, pria yang berusiah lebih tua sembilan tahun dari mereka.


"Terima kasih mas Rey........" Ucap Shasie sambil mencubit gemes pipi pria berkumis tipis itu dengan kedua tangannya, Hanaria menahan senyumnya, ia masih memperhatikan lewat kaca spion dalam mobilnya.


Reymon tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Laki - laki itu segera turun dari mobil Hanaria, setelah Shasie melepaskan cubitan tangannya pada pipinya. Perasaan dirinya bukan anak - anak lagi, sudah punya kumis, bahkan sudah terbilang tua, tapi kenapa gadis itu begitu gemas padanya. Reymon bernafas lega, sesaat setelah dirinya keluar dari dalam mobil.


Hanaria membunyikan klaksonnya, sambil melambaikan tangannya dari belakang kemudi, diikuti oleh Shasie, yang sudah duduk disampingnya. Dengan senyum manisnya, Reymon membalas lambain tangan kedua gadis itu. Ia melihat sejenak, mobil Hanaria yang perlahan mulai menjauh. Ia lalu masuk ke lobby menuju lift kelantai atas dimana apartemen Willy berada.

__ADS_1


__ADS_2