
Situasi Pemakaman Umum dipinggiran kota itu sudah sepi dari beberapa jam yang lalu, karena para pelayat dan petugas penguburan sudah pulang satu persatu, namun Hanaria masih betah disana, menatap gundukan tanah merah yang ditaburi bunga.
Hanaria hanya bisa menangis pilu, menatap batu nisan bertuliskan nama Firlita tanpa embel-embel nama ayahnya dbelakang namanya. Sampai ajal menjemputnya, wanita muda bernasib malang itu tidak tahu siapa nama ayahnya apalagi sampai bertemu.
Memori Hanaria kembali berputar, mengingat saat pertama kali bertemu Firlita, gadis remaja yatim piatu yang masih sangat belia saat itu, begitu cantik, lembut dan terlihat lemah, sehingga membuatnya ingin melindunginya seperti seorang kakak pada adiknya.
Dengan alasan itulah ia mengajak Firlita tinggal satu kamar kost dengannya. Sampai suatu ketika gadis belia itu mengaku telah hamil dari seorang pria yang tidak bertanggung-jawab setelah mereka tinggal terpisah karena Hanaria membeli rumah baru dari hasil kerja kerasnya diawal-awal menjadi seorang arsitek. Disitulah awal malapetaka gadis belia itu.
Setelah memanjatkan doa buat adik angkatnya itu, Hanaria bangkit perlahan, karena kakinya yang ditekuk sekian jam lamanya sudah terasa kram.
Willy yang setia menemani isterinya itu membantu Hanaria yang kesulitan berdiri. Ia memapah Hanaria tanpa mengeluarkan sepatah katapun, memberi ruang pada isterinya itu mengekspresikan kesedihan dengan caranya seperti kebanyakan orang yang sedang berduka.
"Ini, ambillah," Willy menyodorkan kotak tissue.
"Terima kasih," kata Hanaria setelah mengambil beberapa lembar lalu mengusap air mata yang merembes membasahi hampir disemua wajahnya.
Setelah meletakkan kembali tissue diatas dashboard mobilnya, Willy lalu menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan area pemakaman umum.
"Aku mau itu," tunjuk Hanaria pada dagangan kaki lima yang ada dipinggir jalan.
Willy lalu memelankan laju mobilnya dan mencari tempat kosong untuk menepikan mobilnya dijejeran pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka ragam jenis rujak.
"Apa kau yakin ingin membeli makanan itu disini? Ini kan tidak jauh dari area tempat pemakaman?" tanya Willy setelah berhasil memarkirkan mobilnya disalah satu ruang kosong.
"Iya, aku yakin. Apa kau keberatan dan menyangka makanan ditempat seperti ini tidak higienis?" Hanaria balik bertanya, seolah mengetahui apa yang sedang suaminya itu fikirkan.
"Sebenarnya iya, tapi terserah kau saja." ucap Willy tidak mau berdebat, mengingat isterinya itu sedang ingin memakan apa yang telah dilihatnya, mungkin keinginan si jabang bayi fikirnya, ditambah lagi isterinya itu masih dalam suasana berduka. Jadi ia memutuskan untuk menuruti saja apa yang diinginkan isterinya itu.
"Ingat, bukan yang disini, tapi abang-abang yang nomor sebelas dibelakang sana ya," kata Hanaria, ketika Willy hendak keluar dari mobilnya.
"Terus cabainya tujuh ya," imbuhnya lagi, spontan membuat Willy yang hendak menutup pintu berbalik menatap wajah sembab Hanaria yang masih memandang kearahnya.
__ADS_1
"Tujuh? Apa itu tidak kebanyakan. Perutmu nanti bisa sakit," protes Willy.
"Lidahku sedang kurang dapat merasakan rasa makanan, jadi aku ingin pedasnya lebih berasa. Ingat, harus cabe rawit, bukan yang lain." kata Hanaria lagi.
"Baiklah, seperti apa yang kau inginkan," kata Willy, ia lalu berlalu setelah menutup pintu mobil dengan rapat. Ia mulai melewati satu demi satu pedagang kaki lima sambil menghitungnya didalam hati.
"Mas, rujak segar mas!" tawar seorang pedagang rujak yang tengah dilintasi Willy sambil mengulas senyum ramahnya supaya Willy sudi singgah dan membeli dagangannya.
"Maaf ya Bang, isteri saya sedang hamil muda, dia maunya rujak abang yang disebelah sana. Kalau tidak, bisa-bisa dia akan memasang wajah angkernya," kata Willy berterus terang.
Si abang penjual rujak semakin melebarkan senyumnya. "Apa yang Mas hadapi itu sudah pernah saya lewati juga," katanya seraya tertawa renyah, sambil memasukan potongan-potongan buah kedalam wadah untuk pesanan seorang ibu hamil tua yang sedang menunggu sambil menatap wajah Willy dengan pandangan penuh damba.
"Saya permisi Bang," ucap Willy sambil membungkuk sopan sebelum berlalu pergi membuat sang ibu hamil tua itu semakin terpana pada setiap gerak gesture tubuh yang ditampilkan Willy.
"Loh Mas, kok balik lagi?" tanya si pedagang heran, karena melihat Willy kembali berbalik melintas didepannya.
"Saya lupa hitungannya Bang, isteri saya maunya rujak pada penjual nomor sebelas dari mobil kami yang diparkir," sahut Willy berhenti sebentar.
Sang penjual rujak kembali tertawa diikuti para penjual rujak lainnya yang ada didekatnya tatkala mendengar perkataan Willy.
"Ma, kau mau kemana?" tanya suami wanita hamil tua itu menatap isterinya yang mengekor dibelakang Willy yang baru melintas lagi dibelakang mereka.
"Mengikuti pria ganteng itu, supaya anak kita lahir setampan pria itu Pa," sahut ibu hamil tua itu tanpa menoleh pada suaminya yang nampak malu pada para penjual rujak yang mendengar pengakuan isterinya.
"Bang, bisa cepat sedikit gak?" kata pria itu gelisah.
"Bentar ya Mas," sahut sang penjual rujak dengan gaya buru-burunya. "Jangan dimarah isterinya ya Mas, kasihan. Wanita hamil memang begitu, rada-rada aneh," imbuh sang tukang rujak menasehati, ia sedikit memelankan suaranya.
"Saya ngerti kalau orang hamil kadang aneh-aneh. Tapi yang isteri saya lakukan terlalu berlebihan Bang, masa mau anak kami setampan pria itu. Saya kan ayah anak kami, ya jelas mirip saya atau isteri saya-lah, masa mirip orang lain?" timpalnya kesal.
"Iya juga sih Mas," kata sang penjual rujak nyengir sambil menyerahkan bungkusan plastik pada sang pria.
__ADS_1
"Terima kasih ya Bang," setelah menerima bungkusan plastik, pria itu lalu membayar dengan uang pas dan segera beranjak pergi menyusul isterinya.
"Mas suka pedes ya?" kata si penjual rujak nomor sebelas yang dimaksud Hanaria dengan gaya kemayunya sambil senyam-senyum menatap Willy dihadapannya.
"Isteri saya yang suka pedes Bang, dia lagi hamil muda," sahut Willy bersikap biasa mendapat tatapan aneh sang penjual rujak padanya.
"Panggil Mbak to Mas, jangan Abang ah," kata sang penjual rujak genit sambil tersenyum menggoda dan mengerjap-ngerjapkan matanya menatap kearah Willy.
Seketika Willy bergidik ngeri, ia hanya memasang wajah datarnya, kalau bukan karena permintaan Hanaria, mungkin sudah lama dirinya melesat kabur dari tempat itu.
"Mas, Mas-nya kok ganteng banget sih, pasti anaknya yang lahir nanti setampan Mas, ayahnya," ujar sang penjual itu dengan gaya kemayu dan genitnya berpadu satu.
"Anak saya perempuan, jadi dia pasti secantik ibunya," kata Willy asal tanpa berpikir. "Itu rujak, jangan lama-lama motongnya. Nanti saya gak jadi beli," ancam Willy ketika melihat sang penjual lebih sibuk melihat dirinya dibandingkan menyiapkan pesanannya.
"Jangan dong Mas, sabar ya," kata si penjual rujak kembali berkonsentrasi pada pisau dan buah ditangannya. "Abis, saya jarang mendapat pelanggan ganteng seperti Mas ini, jadinya saya tidak mau melewatkan kesempatan langka ini Mas," imbuhnya sambil kembali melayangkan senyum genitnya.
"Ibu mau beli rujak juga?" tanya sang penjual melirik ibu hamil tua yang ikut mengantri sambil terus memandangi Willy tanpa sedikitpun memandang kearahnya.
"Tidak Mas, saya sudah beli disana tadi," sahutnya melirik sang penjual lalu kembali menatap Willy seolah ingin mengatakan sesuatu namun terlihat ragu. Willy yang merasakan keanehan dari kehadiran si wanita hamil tua itu hanya berdiam saja ditempatnya berdiri, berharap pesanannya segera selesai dibuatkan oleh si abang rujak.
"Ini Mas rujaknya," kata si penjual rujak menyerahkan sekantong plastik pesanan yang sudah dipesan oleh Willy.
"Terima kasih Bang, ini uangnya," Willy akhirnya merasa lega dan cepat-cepat meraih kantongan plastik dan bergegas untuk pergi.
"Kembaliannya mas," kata sang penjual rujak sambil melambaikan uang pecahan seratus ribuan yang diberikan Willy.
"Buat Abang saja," sahut Willy sambil berlalu.
"Terima kasih Mas ganteng,"ujar sang penjual senang.
"Mas, boleh minta tolong tidak?" kata ibu hamil tua itu menghadang jalan dan menengadahkan wajahnya keatas menatap Willy yang jauh lebih tinggi dari dirinya dengan tatapan malu-malu.
__ADS_1
"Minta tolong apa ya Bu?" tanya Willy sedikit menundukkan wajahnya kearah wanita hamil tua itu.
"Boleh saya minta satu ciuman saja? Saya lagi ngidam. Takutnya anak saya beliuran kalau tidak dituruti," kata sang ibu hamil tua sambil menunjuk satu sisi pipinya pada Willy yang spontan terkaget-kaget mendengar permintaan aneh si wanita hamil tua itu.