
Hanaria membaca ulang, hasil kesepakatan mediasi yang telah dibuat antara dirinya, Firlita, dengan nyonya Mingguana Alhandra Liem dan putranya Mahendra Alhandra Liem.
Setelah isinya sesuai dengan apa yang telah mereka bicarakan, Hanaria lalu membubuhkan tanda tangannya pada lembaran hasil kesepkatan itu bersama Firlita, nyonya Mingguana, dan Mahendra.
"Karena masalah ini sudah mencapai kata sepakat, maka nona Hanaria akan menarik laporannya, dan masalah ini selesai." Ucap IPDA Syemsie menutup pertemuan mediasi itu.
"Nona Hanaria....... Bisakah kau bergabung denganku lebih cepat......" Ucap nyonya Mingguana, saat mereka sudah berada dihalaman kantor polisi.
"Maafkan saya nyonya...... Sesuai dengan kesepakatan kita dipertemuan mediasi tadi, saya akan bergabung dengan anda dua bulan lagi, terhitung dari hari ini, setelah kesepakatan kita tanda tangani bersama." Sahut Hanaria tenang.
"Saya juga sudah mengatakan semua alasannya nyonya. Saya adalah seorang pegawai ditempat saya berkerja sekarang, ada banyak tanggung jawab pekerjaan yang harus saya selesaikan, tidak mungkin saya langsung angkat kaki dari perusahaan tempat saya bekerja tanpa membereskan yang menjadi tanggung jawab saya. Saya punya komitmen sebagai seorang pegawai, dan saya punya integritas yang menjadi prinsip pribadi saya nyonya Mingguana." Tegas Hanaria.
"Baiklah....... Saya mengerti nona Hanaria..... Bagaimana kalau kita makan siang bersama, merayakan perdamaian kita hari ini......" Tawar nyonya Mingguana lagi.
"Sekali lagi saya mohon maaf nyonya...... Sebelum kemari, saya dan Firlita sudah makan siang lebih dulu. Mungkin di lain waktu, saya tidak akan menolak bila nyonya menawarkan undangan makan siang." Sahut Hanaria tetap bersikap sopan.
"Baiklah kalau begitu..... Saya dan putra saya akan makan siang terlebih dahulu, walau waktunya sudah lewat......" Ucap nyonya Mingguana memaksakan senyum tipisnya, yang hampir tidak terlihat.
Hanaria menatap sekilas, kepergian nyonya Mingguana dan putranya dengan mobil fortuner putihnya. Tidak seperti pertemuan sebelumnya, pertemuan kali ini, Mahendra terlihat banyak berdiam diri, fikir Hanaria.
Walau dirinya sudah menandatangani surat kesepakatan perdamaian dengan nyonya Mingguana dan putranya itu, namun hati kecilnya tetap merasa was - was. Ia takut keputusannya itu salah. Namun ia berusaha tetap yakin pada keputusan yang telah dirinya ambil untuk Firlita.
Bukan sehari dua hari ia memikirkannya, namun semuanya sudah difikirkan dengan sangat matang, termasuk konsekuensi yang akan terjadi akibat keputusannya itu.
"Kakak baik - baik saja?" Tanya Firlita, ia menatap Hanaria yang masih termenung didepan kantor polisi menatap kearah jalan, padahal mobil nyonya Mingguana dan putranya sudah tidak terlihat lagi.
"Ah..... iya...... kakak baik - baik saja......Ayo kita kemobil, kak Hana akan mengantarkanmu kembali ke salon." Hanaria tergagap, ia baru tersadar saat mendengar perkataan Firlita padanya. Keduanya lalu menuju mobil Hanaria ditempat parkir, tidak jauh dari mereka berdiri.
__ADS_1
"Kak Hana...... Maafkan aku......" Ucap Firlita lirih, sesaat setelah berada didalam mobil, sambil memasang sabuk pengamannya.
"Minta maaf untuk apa?" Tanya Hanaria, sambil memasang sabuk pengamannya juga dan menghidupkan mesin mobilnya.
"Karena kesalahan dan kecerobohanku..... kak Hana harus berkorban sebesar itu. Aku takut kak...... Pengorbanan kakak akan sia - sia. Mahendra, dia bukan laki - laki yang baik. Sebenarnya aku takut menjadi isterinya." Ucap Firlita dengan wajah cemas.
"Tenanglah Firlita...... Kau tidak perlu takut, bila nanti tuan Mahendra memperlakukanmu tidak baik, katakan saja padaku, maka aku tidak akan ragu - ragu menjebloskannya kedalam jeruji besi, bila sekali lagi ia berlaku tidak baik padamu. Semuanya sudah tertuang didalam kesepakatan yang kita tandatangani bersama tadi." Ujar Hanaria, berusaha meyakinkan Firlita, walau hatinya sendiri merasa tidak yakin, dan was - was.
Hanaria menjalankan mobilnya perlahan. Saat akan keluar dari area kantor polisi, ia melihat sekretaris Morin turun dari ojek online didepan pagar, lalu masuk melewati pos jaga.
"Kakak melihat siapa?" Tanya Firlita, saat melihat Hanaria menghentikan mobilnya.
"Sekretaris Morin, wanita yang ada didepan sana itu. Ia pegawai juga di perusahaan tempat kakak berkerja. Tunjuk Hanaria pada sekretaris Morin yang berjalan menuju depan kantor polisi.
"Ada urusan apa dia kemari kak?" Tanya Firlita ikut memperhatikan wanita yang telah ditunjuk oleh Hanaria.
"Entahlah..... Kak Hana juga tidak tahu." Sahut Hanaria lalu menjalankan mobilnya kembali, keluar dari area kantor polisi.
"Ada apa kak?" Sahut Hanaria sambil menoleh kearah Hanaria.
"Nanti malam..... Kak Hana diundang makan malam oleh nyonya Yurina, apakah kau mau ikut?" Tanya Hanaria tanpa menoleh.
"Ibunya tuan muda Willy yang datang kerumah tempo hari?" Ucap Firlita balik bertanya untuk memastikan.
"Iya..... benar......" Sahut Hanaria singkat.
"Tidak ah kak...... Firlita dirumah saja.... Firlita sungkan..... nanti pasti ada tuan Moranno juga, suaminya nyonya Yurina...... Firlita malu....." Sahut Firlita apa adanya.
__ADS_1
"Kenapa musti malu...... 'kan ada kak Hana......." Ucap Hanaria. Sebenarnya dirinya juga tidak percaya diri bila datang seorang diri. Karena tidak mungkin isteri bosnya itu datang seorang diri tanpa suaminya.
"Iya malu lah kak..... Apalagi Firlita juga sedang hamil besar seperti ini......" Ungkap Firlita berusaha memberi alasan.
"Tidak masalah...... Mereka juga kan sudah pernah bertemu denganmu dan melihat kehamilanmu itu Firlita....." Ucap Hanaria berusaha membujuk.
"Iya kak...... Tapi Firlita tetap merasa malu..... dan sungkan......" Sahut Firlita tetap menolak.
"Ya...... Baiklah...... Berarti kakak harus datang sendiri ini, kalau Firlita tidak mau......" Ucapnya dengan nada putus asa.
"Maafkan Firlita ya kak...... Swear.......! Firlita sungkan banget bila bertemu dengan tuan Moranno dan nyonya Yurina, bawaannya..... jantung Firlita berdebar - debar......" Ucap Firlita polos. Hanaria langsung terkekeh mendengarnya. Bukan Firlita saja, dirinya pun demikian, bila bertemu dengan sang majikan dan isterinya itu.
...***...
"Selamat malam nona...... Dimanakah meja nyonya Yurina, saya ada janji bertemu dengan beliau direstoran ini" Ucap Hanaria pada seorang pelayan restoran yang bertugas didepan pintu masuk.
"Apakah anda nona Hanaria?" Tanya sang pelayan restoran itu sopan.
"Iya benar......." Sahut Hanaria.
"Mari saya antar nona Hanaria......" Ucap pelayan restoran itu. Hanaria lalu mengikuti langkah sang pelayan menuju lantai atas diruang VIP.
"Permisi tuan - tuan dan nyonya...... Nona Hanaria sudah tiba......" Ucap sang pelayan membungkuk hormat didepan pintu, sesaat setelah dirinya mendorong pintu dengan hati - hati.
"Masuklah......" Terdengar suara seorang wanita berbicara dari dalam.
"Silahkan masuk nona Hanaria......." Ucap sang pelayan itu mempersilahkan. Jantung Hanaria tiba - tiba berdebar - debar, perasaannya mendadak jadi tidak enak saat mendengar sang pelayan sempat mengatakan tuan - tuan dan nyonya. Berarti nyonya Yurina tidak datang seorang diri.
__ADS_1
Hanaria muncul didepan pintu, wajahnya langsung menegang, saat dilihatnya Moranno dan Willy duduk disisi kanan dan kiri Yurina. Dengan sigap ia langsung membungkuk hormat pada ketiga orang yang sedang menatapnya dari dalam.
"Masuklah dan duduklah disini nona Hana......" Ucap Yurina sambil mengulas senyum ramahnya. Hanaria masuk dengan gaya kikuk, ia sama sekali tidak menduga kalau Willy juga hadir diacara makan malam ini.