
Hanaria mengerjapkan matanya, suasana didalam kamar masih temaram. Ia melihat sisi tempat tidur disebelahnya, Willy sudah tidak ada disana. Ia melirik arloji dinding sudah menunjukan jam enam pagi.
Hanaria segera bangkit, dan merapikan tempat tidur seperti yang biasa ia lakukan.
Dibukanya semua gorden kaca jendelanya, lalu membuka pintu balkon supaya udara pagi bebas masuk untuk mengganti udara yang lama didalam kamarnya.
Dari kejauhan, pandangannya menangkap tiga orang sedang menyusuri taman dibawah sana. Hanaria menajamkan penglihatannya dari balkon dimana ia berdiri sambil memegang erat pagar teralis dihadapannya.
"Ibu, ayah?" gumamnya, saat ia bisa mengenali kedua orang yang bersama Willy suaminya dibawah sana.
Hanaria buru-buru berlari masuk kekamarnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat berdiri didepan pintu. Ucapan Willy langsung terngiang ditelinganya,"Kau tidak boleh keluar kamar sebelum terlihat cantik, bersih, rapi, dan wangi."
Hanaria akhirnya mengurungkan niatnya untuk menemui kedua orang tuanya yang ia rindukan untuk sementara waktu. Ia beralih arah, berlari kecil menuju kamar mandi, mengambil handuk kimononya dari dalam lemari pakaian dengan terburu-buru.
Tidak lama, terdengar suara gemericik air didalam kamar mandi, menandakan Hanaria sedang membersihkan dirinya disana.
Beberapa menit kemudian, Hanaria sudah keluar dengan wajahnya yang segar. Ia segera mematut dirinya didepan cermin.
Dengan berbekal keterampilan merias yang ia peroleh dua hari yang lalu dari nyonya Mexan, Hanaria mulai memoles wajahnya didepan cermin riasnya.
Tidak memakan waktu lama, wajahnya sudah terlihat lebih cerah dan menawan. Setelahnya, Hanaria membalur seluruh tubuhnya dengan handbody yang dibelikan Willy untuknya, saat suaminya itu menemani adik-adik perempuannya berbelanja.
Hanaria beranjak menghampiri lemari pakaiannya, memilih salah satu gaun indahnya dari sana, yang juga baru dibeli oleh Willy suaminya, dan sepatu dengan warna senada.
Ia kembali mematut dirinya didepan cermin untuk memastikan penampilannya pagi itu sambil tersenyum pada dirinya sendiri. Ia meraih jepitan rambut diatas meja riasnya, lalu memasang dirambutnya sebagai tambahan aksesoris pada rambutnya supaya tidak terlihat polos.
Setelah dirasa cukup, Hanaria bergegas keluar kamar menuju lift supaya lebih cepat turun kelantai dasar untuk menuju taman dimana kedua orang tuanya berada bersama Willy.
Pak Muri dan isterinya membalikan tubuh mereka, saat melihat Willy termangu menatap kesatu arah dibelakang mereka.
"Bu, apakah itu Hanaria, putri kesayanganku?" tanya pak Muri pada isterinya, saat melihat penampilan Hanaria yang sangat berbeda.
"Benar Ayah, itu Hanaria, dia bukan putri kesayanganmu saja, tapi juga putri kesayanganku juga," protes ibu Muri pada suaminya.
Pak Muri hanya terkekeh mendengar ucapan isterinya. Keduanya tersenyum lebar menatap Hanaria yang semakin mendekat.
"Ayah, ibu," Hanaria mengambur memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan, melepaskan rasa rindunya.
__ADS_1
"Kau cantik sekali nak, dan juga sangat wangi sekarang," ucap ibu Muri menatap putrinya, setelah mereka saling melepaskan pelukannya.
"Ayah saja sampai pangling melihatmu tadi, makanya bertanya pada ibumu. Baru juga berapa hari kami tidak melihatmu, penampilanmu sudah banyak berubah setelah menjadi isteri nak Willy," ujar sang ayah dengan senyum lebarnya.
Hanaria tersenyum mendengar perkataan kedua orang tuanya yang berkomentar tentang penampilannya.
Sementara Willy tersenyum tipis saat Hanaria menatap kearahnya.
"Terima kasih, telah menjemput ayah dan ibuku?" ucap Hanaria kemudian.
"Sama-sama," sahut Willy masih mengulas senyum tipisnya.
"Ayo, kita lanjutkan lagi jalan-jalan paginya Ayah, Ibu," ajak Willy kemudian.
"Ayo nak Willy," sahut pak Muri. Ia lalu berjalan beriringan bersama menantunya itu, sementara ibu Muri berjalan bersama Hanaria dibelakang keduanya.
"Selamat pagi tuan muda Willy, nona Hanaria, Bapak dan Ibu," ucap bibi Nani menghampiri, sambil membungkuk hormat.
""Selamat pagi Bibi," sahut Hanaria menghentikan langkahnya, saat mendengar salam dari kepala pelayan keluarga Agatsa itu.
"Saya sudah menyiapkan sarapan pagi digazebo sana sesuai permintaan tuan muda," ucap bibi Nani dan menunjuk arah gazebo yang ia maksud.
"Terima kasih Bibi, kami akan kesana sebentar lagi," sahut Hanaria lagi.
"Saya pamit dulu, nona, tuan muda, Bapak dan Ibu." ucap bibi Nani lagi, dan kembali ia membungkuk hormat sebelum pergi.
Pak Muri dan ibu Muri termangu melihat sikap bibi Nani yang penuh hormat itu, hal seperti itu baru mereka lihat, mengingat status mereka sebagai orang biasa.
"Ayo Ayah, Ibu, kita sarapan dulu, nanti kita lanjutkan lagi jalan-jalan paginya," ucap Willy, mengajak kedua mertuanya itu menuju gazebo yang sudah ditunjukan oleh bibi Nani tadi.
"Silahkan duduk Ayah, Ibu," ucap Willy lagi saat mereka memasuki gazebo.
Pak Muri dan ibu Muri mengambil tempat duduk berdampingan, sementara Hanaria-pun duduk disebelah Willy suaminya.
Hanaria menatap beberapa mangkuk saji yang tertutup rapat ditengah-tengah mereka. Sesuai pelajaran yang ia terima dari sang ibu mertua, bahwa seorang menantu perempuan dirumah itu harus melayani orang yang lebih tua, dan suaminya juga.
Uap panas langsung mengepul dari mangkuk pertama yang Hanaria buka, bubur ayam ditambah sayur-sayuran didalamnya, untuk ibunya yang memiliki penyakit asam lambung.
__ADS_1
Hanaria memasukannya kedalam piring saji dan meletakannya dihadapan ibunya.
Kemudian Hanaria membuka mangkuk yang berisi pisang goreng, membuat pak Muri tersenyum melihatnya.
"Ternyata nak Willy ingat betul kesukaan Ayah," ucap pak Muri memandang kearah menantunya.
"Iya Ayah, hampir setiap pagi disawah aku melihat ayah memakan pisang goreng," sahut Willy tertawa kecil.
"Ayo dimakan ayah," ucap Willy mempersilahkan. Ia pun ikut mengambil dan mengunyah pisang goreng kesukaan mertuanya itu.
Hanaria hanya menatapnya heran, padahal yang ia dengar dari ibu mertuanya, bahwa suaminya itu lebih suka makan roti dengan selai nanas saat sarapan pagi, dibandingkan menu sarapan lainnya.
"Apakah kau mau makan ini?" tanya Hanaria, sambil menyodorkan piring berisi roti panggang yang sudah terlanjur ia olesi selai nanas.
"Tidak, kau saja yang makan," tolak Willy sambil terus mengunyah pisang goreng dalam mulutnya.
Hanaria terdiam, ia memandang wajah Willy yang nampak acuh padanya, karena asik mengobrol dengan ayahnya.
Dengan terpaksa Hanaria memasukan roti yang telah ia siapkan untuk suaminya kedalam mulutnya.
Hanaria sangat tidak menyukai selai dengan cita rasa nanas, membuatnya ingin sekali memuntahkan roti gigitan pertamanya itu.
Willy tak sengaja melihat kearahnya dan melihat Hanaria ingin muntah. "Kau kenapa Hana? Apakah kau sakit?" tanya Willy dengan mimik khawatir.
"Aku tidak suka selai nanas, tidak enak," keluh Hanaria.
"Berikan padaku," pinta Willy langsung mengambil roti dari tangan Hanaria.
"Tapi itu sudah bekas gigitanku," ucap Hanaria cepat.
"Tidak masalah, yang penting bukan gigitan hewan," kata Willy langsung memasukan roti itu kemulutnya.
Hanaria menelan salivanya kasar, menatap Willy yang memakan roti bekas gigitannya tanpa rasa canggung.
Pak Muri dan ibu Muri hanya bisa tersenyum dan saling berpandangan melihat tingkah Hanaria dan Willy yang terlihat romantis dimata mereka.
...***...
__ADS_1