
"Billy, Edward," panggil Rosalia yang datang mengampiri kedua pemuda itu disudut ruangan pesta, napasnya terlihat memburu setelah melarikan diri dari Edrine.
"Aku minta air mineralmu," ucap Edrine sambil melihat botol air mineral yang masih bersisa ditangan Billy.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan yang baru untukmu," ucap Willy sambil akan berlalu.
"Tidak perlu, aku mau yang ditanganmu saja, aku sudah sangat haus," Rosalia menahan Billy dengan memegang tangannya.
Billy melihat botol mineral ditangannya, ia nampak ragu memberikan bekas mulutnya pada Rosalia, namun gadis itu segera merampas dari tangan Willy dan segera meneguknya hingga tandas, membuat Billy dan Edward terpana melihatnya.
"Sepertinya aku harus segera pergi sekarang," ungkap Edward, ia sepertinya sangat faham tentang situasi yang tengah terjadi, dan sinyal-sinyal yang ditunjukan Rosalia pada Billy.
"Kau mau kemana?" tanya Billy menatap adik sepupunya itu.
"Memeriksa nenek buyut dulu, ia pasti mengomel bila aku lama menghilang," ucapnya memberi alasan.
"Baiklah aku juga akan ikut denganmu menemui nenek buyut," ucap Billy ikut bergegas.
"Jangan kakak, kau disini saja bersama ibu dokter," tahan Edward pada kakaknya itu, ia dapat melihat wajah Rosalia yang berubah saat mendengar ucapan Billy itu.
"Kak Rosa, aku permisi dulu mau menemui nenek," pamit Edward.
"Baik Edward," sahut Rosalia dengan senyumnya.
"Billy, lihat apa yang kubawa ini," Rosalia menunjukan bunga pengantin, hasil rebutannya dari Edrine adik sepupu Billy, sesaat setelah Edward pergi meninggalkan mereka.
"Sebuket bunga?" ucap Billy sambil melihat bunga yang ditunjukan Rosalia padanya.
"Iya, ini sebuket bunga pengantin milik Willy dan Hanaria," imbuh Rosalia, sambil meneliti bunga segar ditangannya itu beberapa detik lamanya, setelahnya ia menatap Billy dihadapannya.
"Apakah kau melihat bagaimana aku berjuang supaya bisa mendapatkan bunga pengantin ini?" tanya Rosalia.
"Iya, aku melihatnya, kau mendapatkannya dengan cara yang luar biasa Rosa," sahut Billy memberi pujian.
"Sungguh, kau melihat perjuanganku mendapatkannya?" Rosalia nampak berbinar, ternyata Billy memperhatikannya.
__ADS_1
"Eum," angguk Billy bersahaja dengan alis wajahnya ikut bergerak.
"Walau sepertinya kau sedikit mencurangi Edrine, merebut bunga yang hampir diraihnya," imbuh Billy yang mengingat bagaimana detik-detik Rosalia mendapatkan bunga pengantin itu.
Mendengar ucapan Billy, bukannya tersinggung, Rosalia malah terkekeh, ia ingat bagaimana Edrine marah besar atas kecurangan yang ia lakukan pada gadis itu.
Billy yang sangat mengenal watak Rosalia sejak kecil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil ikut tertawa bersama Rosalia.
"Kau tahu Billy, aku bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cintaku, sama seperti aku mendapatkan sebuket bunga pengantin itu," ucap Rosalia disela-sela tawanya.
"Benarkah?"
"Iya, tentu saja," sahut Rosalia berusaha menghentikan sisa-sisa tawanya.
"Kata orang, siapa yang mendapatkan bunga pengantin, dialah yang akan menikah selanjutnya," ucap Rosalia yang sudah berhasil menghentikan tawanya.
"Itu artinya, sebentar lagi kau akan menikah kalau begitu," sahut Billy menduga.
"Aku berharap seperti itu Billy. Dan aku mau, kaulah yang menjadi pengantin priaku, Aku mencintaimu Billy sejak kita masih kecil," ungkap Rosalia berterus terang, ia sudah mengumpulkan keberaniannya mulai beberapa hari yang lalu untuk mengungkapkan perasaannya pada pria yang selalu ada dalam fikirannya itu setiap hari.
...***...
Ada pula undangan yang baru datang dan memberi ucapan selamat pada sepasang pengantin di pelaminannya.
Nyonya Mingguana menghampiri Moranno dan Yurina yang baru saja selesai mengobrol dengan salah satu koleganya.
"Selamat malam tuan Moranno dan nyonya Yurina," sapa nyonya Mingguana sambil mengulas senyum tipis dibibirnya.
"Selamat malam juga nyonya Mingguana," balas Moranno. Ia lalu mengulurkan tangannya diikuti Yurina dan disambut hangat oleh nyonya Mingguana.
"Selamat, atas pernikahan putra anda Willy Moranno Agatsa dengan Hanaria," ucap nyonya Mingguana pada Moranno dan Yurina, tetap dengan senyum tipisnya.
"Terima kasih nyonya, dan terima kasih juga karena anda telah meluangkan waktu dan bersedia datang pada acara resepsi pernikahan putra-putri kami malam ini," imbuh Moranno menatap nyonya Mingguana yang datang hanya seorang diri.
"Saya-lah yang berterima kasih tuan, karena anda sudah memberi undangan khusus pada saya untuk menghadiri resepsi pernikahan yang amat sangat megah ini." ulasnya dengan senyum elegannya.
__ADS_1
"Apakah anda tahu tuan Moranno, menantu anda, nona Hanaria telah menjadi pegawai saya, dan besok setelah pesta mewahnya ini, dia sudah mulai berkerja di perusahaan saya?" tegasnya lagi masih dengan senyum elegannya.
"Saya tidak mengira, bahwa keluarga Agatsa yang berkelas dan sangat dihormati dikota ini, memilih seorang menantu dari kalangan biasa, sungguh sangat disayangkan," imbuhnya lagi.
"Bukankah keluarga Agatsa tidak kekurangan kolega yang bersedia untuk melakukan pernikahan bisnis?" Ucapnya lancar tanpa hambatan.
Mendengar ucapan nyonya Mingguana yang penuh sindirian, Moranno melirik wajah Yurina isterinya yang tetap terlihat tenang berdiri disampingnya.
Yurina yang memahami maksud Moranno melirik kearahnya segera angkat bicara.
"Maafkan saya nyonya Mingguana, bukan level suami saya untuk bergosip, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya untuk bisnis, dan mengusahakan kesejahteraan ribuan para pegawainya." ucap Yurina ikut mengulas senyum seperti yang dilakukan nyonya Mingguana.
"Bagi kami, sekalipun Hanaria adalah gadis dari kalangan biasa seperti yang anda sebutkan, setidaknya kami berani mengumumkan tentang keberadaan menantu kami dengan rasa bangga dimuka umum lewat acara resepsi pernikahan malam ini nyonya,"
"Dan bagi seorang menantu, bisa diterima menjadi anggota baru dalam keluarga suaminya adalah hal yang sangat membahagiakan," ucap Yurina sengaja balas menyindir.
"Apakah ini suatu sindiran?" tanya nyonya Mingguana dengan memaksakan senyum tipisnya.
"Apakah anda merasa tersindir nyonya?" balas Yurina dengan memberi pertanyaan balik. ia tetap mengulas senyumnya pada nyonya Mingguana yang menjadi lawan bicaranya.
"Dan satu lagi nyonya Mingguana, setelah resepsi mewah malam ini, besok menantu kami Hanaria belum bisa turun berkerja di perusahaan anda, karena ia dan suaminya akan berbulan madu selama satu minggu kedepan," ungkap Yurina
"Oh, tidak bisa demikian nyonya, kami sudah membuat perjanjian bersama," sahut nyonya Mingguana tidak terima.
"Baiklah, bila anda tidak mengijinkan Hanaria untuk menikmati bulan madunya bersama suaminya, saya bisa mendoktrinnya untuk tidak terikat lagi pada perjanjian yang telah disepakati itu," ancam Yurina.
"Tidak semudah itu nyonya Yurina," nyonya Mingguana tersenyum sinis.
"Secara otomatis, bila menantu anda Hanaria tidak terikat pada perjanjian kesepakatan itu, adiknya Firlita juga akan menjadi korban," nyonya Mingguana balas mengancam.
"Anda fikir kami tidak tahu bahwa anda hanya memanfaatkan kebaikan hati menantu kami yang sangat menyayangi adik angkatnya itu,"
"Sebenarnya bila sampai Firlita berpisah dengan putra anda, yang dirugikan adalah pihak anda nyonya, hak asuh bayi itu pasti akan jatuh pada ibunya, dan anda pasti tahu kami mampu melakukannya."
"Satu-satunya alasan menantu kami Hanaria menikahkan Firlita dengan putra anda hanya menginginkan status bayi Firlita yang jelas," jelas Yurina.
__ADS_1
Nyonya Mingguana terdiam, apa yang telah diungkapkan oleh Yurina memang pernah diungkapkan pula oleh Hanaria padanya saat terjadi insiden pencekikan Firlita dirumahnya beberapa bulan lalu.
...***...