HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
177. Aku Merindukan Kakak


__ADS_3

Firlita tidak segera menjawab, ia tersenyum kecil pada Hanaria, lalu memeluk erat tubuh kakak angkatnya itu. "Aku merindukanmu kakak," ucapnya sambil menangis dalam pelukan Hanaria.


Hanaria membalas pelukan Firlita dengan erat, dan mengusap punggung Firlita lembut untuk menenangkannya. Untuk beberapa saat lamanya ia membiarkan Firlita melepaskan segala energi negatifnya lewat tangisannya.


"Firlita, ayo duduk dulu." Hanaria akhirnya melonggarkan pelukannya. Ia membawa Firlita kemeja makan yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari tempat keduanya berdiri.


"Duduklah disini, kakak akan membawakanmu teh," Hanaria menarik kursi dan mempersilahkan Firlita duduk disana, sementara dirinya beranjak menuju ke dapur mininya kembali yang berjarak beberapa langkah dari meja makan untuk menyeduh teh.


Tidak lama berselang, Willy keluar dari kamar dan sudah berpakaian rapi. Ia melewati meja makan untuk menghampiri Hanaria yang tengah sibuk didapurnya.


"Biar aku yang selesaikan sisanya Hana, kau gantilah pakaianmu, sebentar lagi jam kerja akan dimulai," kata Willy memberitahu.


"Baiklah, terima kasih Willy," sahut Hanaria sambil tersenyum tipis memandang wajah suaminya, ia berlalu membawa satu teko panas dan tiga gelas cangkir teh kosong keatas meja makan dimana Firlita duduk memperhatikan gerak gerik sepasang suami isteri itu.


"Firlita, maaf kakak tinggal sebentar untuk berganti pakaian. Minumlah dulu teh ini." ucap Hanaria mempersilahkan, setelah menuangkan teh panas kedalam cangkir gelas untuk Firlita.


"Iya, terima kasih kakak." sahut Firlita. Sepeninggal Hanaria, Firlita memperhatikan Willy yang memindahkan hasil masakan Hanaria dari panci kedalam pring saji dengan telaten.


Ia mulai berkhayal bila saja Mahendra suaminya bisa seperti Willy, memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh perhatian, seperti Willy memperlakukan kakak angkatnya itu, tentu hidupnya akan lebih menyenangkan, batinnya.


Willy mulai membawa piring-piring dan mangkuk saji kemeja makan. Firlita termangu menatapnya, ia seolah terhipnotis oleh pesona pria itu. Selain kaya dan tampan, ternyata Willy adalah type seorang suami ideal, batin Firlita. Ah, Firlita kembali berkhayal yang bukan-bukan, matanya tidak mau berkedip sedikitpun memandang pria yang nyaris sempurna dimatanya itu, sambil menangkup dagunya dengan kedua telapak tangannya.


Ditengah-tengah kesibukannya yang bolak-balik dari dapur mini Hanaria menuju meja makan untuk memindahkan semua hasil masakan Hanaria ke meja makan, Willy sadar bila Firlita terus memperhatikannya.


Walau ia sedikit risih mendapatkan perhatian dari tatapan Firlita, Willy memilih tidak perduli, baginya Firlita bukanlah siapa-siapa, tidak lebih dari adik angkat Hanaria isterinya, dan itulah yang menjadi alasan baginya untuk bersikap tetap baik pada wanita mungil itu.


Hanaria keluar dari kamarnya, lalu duduk dihadapan Firlita. Willy, suaminya, ikut duduk disebelahnya.


"Kita sarapan dulu Fir," ajak Hanaria, ia lalu menyendok makanan, lauk-pauk untuk Firlita, dan meletakkannya dihadapan adiknya itu.

__ADS_1


Begitulah Hanaria, walau hanya sekedar sarapan pagi, ia selalu menyediakan makanan berat, karena dirinya sudah terbiasa melakukannya sejak kecil bersama keluarganya didusun, sementara Willy hanya mengikutinya tanpa protes.


"Ini untukmu Hana," Willy memberikan piring ditangannya yang telah ia isi dengan menu yang ia ambil dari atas meja.


"Terima kasih Willy," ucap Hanaria memandang wajah suaminya. Senyum hangat terpancar dari wajahnya, perhatian Willy hari demi hari padanya membuatnya merasa bahagia. Ia segera menerima piring dari tangan Willy.


Semua perhatian kecil itu tidak luput dari tatapan Firlita, juga respon yang diberikan Hanaria pada suaminya. Melihat semuanya itu, Firlita berandai-andai bila ia yang berada diposisi kakak angkatnya itu.


Sebelum memulai sarapan pagi, ketiganya sama-sama menaikan syukur pada Sang Pemberi Berkat, lalu mulai menikmati sarapannya masing-masing.


"Dimana putramu Fir? Apakah dia sehat-sehat saja?" Hanaria mengulang pertanyaannya yang belum sempat dijawab oleh Firlita ketika ia baru datang.


"Baby Elvano, aku meninggalkanya tidur dikamar setelah ia tertidur pulas tadi pagi kak," sahut Firlita disela-sela sarapannya.


"Baby Elvano, dia juga sangat sehat," ungkapnya sedikit berbohong.


Spontan wajah Firlita langsung berubah mendengarnya," Apakah kakak tidak terlambat berkerja bila singgah kerumah.


"Tenang saja, kak Hana tidak lama-lama, hanya mampir sebentar. Kak Hana rindu pada baby El, dia pasti lebih berisi dan lebih besar," ucap Hanaria kembali tersenyum mengingat bayi mungil yang sempat ia timang dihari kelahiran bayi itu.


Willy tidak ikut mengobrol, ia hanya menjadi pendengar yang baik, sambil tetap menikmati sarapan paginya.


...***...


Hoarr! Hoarr! Hoarr!


"Dimana perempuan itu Bi?" tanya nyonya Mingguana, ketika dilihatnya bibi Narsih sibuk menenangkan bayi Elvano yang sedang menangis dengan suara melengking.


"Tidak tahu nyonya. Tadi saya meninggalkan nona Firlita dan bayinya untuk menyiapkan sarapan, setelah saya kembali nona Firlita sudah tidak ada." sahut bibi Narsih sambil terus menimang bayi itu untuk mendiamkannya.

__ADS_1


"Berikan padaku Bi," pinta nyonya Mingguana pada bibi Narsih sambil mengulurkan tangannya.


"Berikan ASI-nya padaku Bi, biar aku menyusukannya pada baby Elvano," ucap nyonya Mingguana lagi pada sang Bibi.


"Itu nyonya, ASI-nya tidak ada," sahut bibi Narsih dengan wajah khawatir.


"ASI-nya tidak ada? Perempuan itu, apa saja yang ia lakukan, tidak menyediakan ASI-nya saat meninggalkan bayinya, dia sungguh tidak berguna," omel nyonya Mingguana.


Bibi Narsih hanya terdiam mendengar omelan nyonyanya pada menantunya, sementara bayi Elvano terus menangis dengan suaranya yang semakin melengking dan memilukan dalam gendongan neneknya.


"Nyonya, berikan baby Elvano pada saya" kata Firlita yang tiba-tiba masuk dari pintu dengan langkah terburu-buru menghampiri ibu mertuanya.


"Akhirnya kau kembali juga, darimana saja kau, pagi-pagi sudah meninggalkan bayimu?" kata nyonya Mingguana dengan tatapan tajam melihat menantunya.


"Saya mencari angin segar nyonya," sahut Firlita memberi alasan.


"Banyak alasan! Kau memang perempuan tidak jelas. Ibu seperti apa kau, meninggalkan bayimu tanpa ASI," ketus nyonya Mingguana kesal.


"Maafkan saya nyonya," ucap Firlita dengan wajah memerah sambil menunduk. Baru saja ia menenangkan diri, kini dirinya sudah mendapat hujatan-hujatan dari sang mertua yang tidak perduli sama sekali akan apa yang dirasakannya.


"Ini, susui bayimu!" nyonya Mingguana menyerahkan bayi Elvano yang ada dalam gendongannya pada Firlita yang menunduk dihadapannya.


Firlita segera menerima bayinya dan menyusuinya, namun bayi itu tidak mau, ia bahkan semakin kencang mengeluarkan lengkingan tangisannya, membuat Firlita kaget.


"Lihat, bayimu saja tidak menyukaimu, kau memang sangat tidak berguna," timpal nyonya Mingguana.


"Cukup nyonya! Semua perkataan Anda teralu kasar! Dan begitu sakit didengar telinga," ujar Hanaria diambang pintu kamar Firlita, sejak tadi dirinya hanya diam, berusaha menahan diri mendengar semua perkataak kasar yang dilontatkan nyonya Mingguana pada Firlita adiknya.


Nyonya Mingguana tersentak, ia mengenal suara yang menegurnya dengan lantang, dengan cepat ia menoleh, dan melihat Hanaria yang sedang menatapnya dengan wajah datarnya.

__ADS_1


__ADS_2