
"Kalau begitu, kita temui tuan Moranno dulu, karena setelah dari sini ada beberapa proyek yang harus kita tinjau hari ini." Sahut tuan Doffy menanggapi permintaan Hanaria.
"Tuan Moranno....... maafkan saya......" Ucap tuan Doffy, saat berada didekat Moranno yang siap masuk kemobilnya bersama asisten Rudi.
"Ada apa tuan Doffy?" Tanya Moranno menatap pegawainya itu.
"Nona Hana..... dia meminta izin untuk kembali kekota." Sahut tuan Doffy melihat kearah Hanaria.
Moranno menatap Hanaria, seolah meminta penjelasan langsung dari pegawainya itu.
"Baru saja kantor polisi menelpon saya tuan, meminta saya hadir disana pukul satu siang ini, berkaitan pelaporan saya atas penganiayaan yang terjadi pada adik perempuan saya beberapa hari yang lalu. Saya mohon izin untuk bisa kesana tuan....." Ucap Hanaria penuh harapan.
"Bagaimana caranya kau akan kembali kesana?" Tanya Moranno lagi.
"Saya akan mencoba menghubungi taksi online tuan?" Sahut Hanaria sambil berpikir.
"Apakah kau yakin, ditempat seperti ini akan ada taksi online yang mau menjemputmu menuju kota, dan apakah waktunya akan cukup?"
Hanaria terdiam sejenak, ia bingung harus bagaimana. Ia segera meraih ponsel disakunya dan membuka aplikasi untuk memesan taksi online.
"Tidak ada jaringan internet. Hanya jaringan telepon seluler biasa." Keluh Hanaria sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Moranno dan tuan Doffy yang memperhatikan tingkah Hanaria saling berpandangan.
"Bagaimana nona Hana?" Tanya Moranno selanjutnya.
"Disini tidak ada jaringan internet tuan. Jadi tidak bisa memesan taksi online. Saya terpaksa tidak bisa kesana siang ini." Wajah Hanaria tampak sedikit berputus asa.
"Hana..... bagaimana kalau kau menggunakan mobilku saja." Ucap tuan Doffy menawarkan bantuan. Moranno menyentuh punggung tuan Doffy yang berdiri didekatnya.
"Tidak tuan Doffy, perjalanan kekota cukup jauh, dan jalannya terbilang sepi, biar Willy saja yang mengantarkannya pulang kekota sekarang." Ucap Moranno sambil beralih menatap kearah Hanaria.
"Saya biasa melakukan perjalanan jauh sendiri tuan, tidak masalah." Hanaria berusaha menolak saat mendengar nama Willy yang disodorkan untuk mengantarkannya.
__ADS_1
"Tidak boleh. Kau kemari dalam rangka pekerjaan bersama kami, tidak mungkin aku membiarkan pegawai perempuanku pulang seorang diri. Asisten Rudi panggil Willy kemari." Perintah Moranno pada asistennya itu.
"Baik tuan......" Asisten Rudi bergegas menuju mobil sport merah yang terparkir didepan mobil Moranno. Tidak lama, asisten Rudi sudah kembali bersama Willy.
"Ada apa dad......?" Ucap Willy pada ayahnya.
"Daddy, asisten Rudi, dan tuan Doffy, kami akan melanjutkan meninjau beberapa proyek sesuai rencana. Kau pulang saja kembali kekantor, sekalian mengantarkan nona Hanaria." Jelas Moranno.
"Aku..... mengantar.......?? Bukankah daddy menginginkanku juga belajar proyek - proyek itu......??." Willy menatap ayahnya, namun jari tangannya menunjuk kearah Hanaria.
"Iya, untuk hari ini biarkan daddy saja bersama asisten Rudi dan tuan Doffy. Kau.... kembali saja kekantor. Hari ini, nona Hanaria ada panggilan dikantor polisi. Pukul satu siang ini dia harus ada disana." Ucap Moranno menambahkan.
"Tapi dad......." Willy berusaha memberi bantahan.
"Tidak ada bantahan, sekarang juga berangkat. Kau mau, membiarkan pegawai perempuanmu kenapa - kenapa sendiri dijalan, hmm??" Moranno mendelikkan matanya menatap putranya.
"Baik dad.....Ayo, nona Hana, aku akan mengantarkanmu pulang kekantor." Dengan wajah terpaksa Willy akhirnya menuruti perkataan ayahnya. Walau sedikit bandel dia bukan anak pembangkang.
"Nona Hanaria, ikutlah dengan putraku, dia akan mengantarkanmu. Jangan pernah berpikir kau akan pulang sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan." Ucap Moranno pada Hanaria, saat melihat wanita itu terlihat ragu dan masih berdiri ditempatnya.
Moranno dan asisten Rudi segera masuk kemobil mereka, sementata tuan Doffy pun masuk kemobilnya seorang diri.
"Hati - hati Willy, jangan kebut - kebutan dijalan. Nanti daddy akan bertanya pada nona Hanaria apakah kau memperlakukan dirinya dengan baik atau tidak. Mommymu lah yang akan memberimu hukuman kalau kau memperlakukan seorang wanita tidak baik. Apa kau mengerti Willy?" Ucap Moranno, saat mobilnya berada disisi mobil Willy putranya.
"Iya dad.... Willy mengerti - semengertinya apa yang sudah menjadi amanat daddy....." Ucap Willy memutar bola matanya sedikit malas.
Mobil Moranno yang dikemudikan asisten Rudi segera meluncur disusul mobil tuan Doffy, setelah membunyikan klakson mereka masing - masing.
"Nona Hana..... kenapa kau duduk dibelakang? Apakah kau menganggapku supirmu, hmm??" Ucap Willy menatap Hanaria dari kaca depan mobilnya.
"Tapi tuan muda......" Hanaria berusaha menolak, ia sangat sungkan bila harus duduk disebelah tuannya itu.
__ADS_1
"Tidak ada tapi - tapian. Cepat pindah kedepan!" Perintah Willy masih menatap kearahnya dari kaca depan mobilnya.
"Ba.... baik..... tuan muda......." Hanaria sedikit tergagap mendengar suara tuannya itu yang sedikit bernada membentak.
Hanaria segera keluar dari mobil itu dan pindah kedepan, duduk bersisian dengan CEO barunya.
"Pasang sabuk pengamanmu!" Perintah Moranno. Hanaria langsung menurut tanpa berucap, walaupun tanpa diberitahu tuannya itu, ia pasti akan memasang sabuk pengamannya, pikirnya didalam hati.
"Sudah??" Tanya Willy memastikan, tanpa melihat kearah Hanaria, matanya menatap lurus kedepan memperhatikan jalan yang akan mereka tempuh.
"Sudah tuan......." Jawab Hanaria.
Willy langsung menghidupkan mesin mobilnya. Ia menjalankan kendarannya perlahan dengan berbalik arah, setelah beberapa detik berlalu, ia menambah kecepatannya dengan kecepatan sedang.
Suasana didalam mobil nampak sepi, keduanya sama - sama saling diam. Hanaria tidak berani menoleh sama sekali kearah tuannya yang sedang menyetir disampingnya. Ia hanya menatap lurus pada jalan didepannya.
"Masalah apa yang kau lakukan nona Hana, sehingga dipanggil kekantor polisi?" Tanya Willy tiba - tiba ditengah keheningan ia menyetir.
Hanaria melirik sekilas kearah Willy yang sedang menyetir, ia merasa tidak suka dengan pertanyaan tuannya yang tidak tepat itu.
"Saya sama sekali tidak melakukan masalah tuan muda. Justru saya dipanggil kekantor polisi karena ada pria lain yang melakukan masalah. Sama seperti halnya dengan tuan muda beberapa minggu yang lalu, menyerempet mobil saya. Untung saja dengan cepat mau bertanggung jawab, kalau tidak, tuan muda pasti akan bernasib sama seperti pria yang sudah saya laporkan itu....." Ucap Hanaria pedas.
Willy menyunggingkan senyum diujung bibirnya sinis. Dirinya sudah menduga, pegawai wanitanya ini memang selalu bermulut pedas.
"Kenapa setiap perkataan yang keluar dari mulutmu selalu pedas didengar nona Hanaria, apakah mungkin ibumu dulu, saat mengandung dirimu mengidam sambel rawit....." Ucapnya dengan nada mengejek.
Mata Hanaria mendelik saat mendengar ucapan Willy, ia menatap tajam menoleh kearah Willy. Namun Hanaria berusaha menahan diri, karena dirinya sekarang sedang berhadapan dengan majikannya, orang yang tetap harus ia hargai.
"Saya hanya menjawab sesuai pertanyaan. Tentu saja akan terasa pedas bila ada luka yang menganga, apalagi tertimpa oleh sambel rawit." Sahut Hanaria tidak mau kalah.
"Memangnya.... apa yang membuatmu melaporkan pria itu?" Ucap Wiily yang tidak menggubris sindiran pegawainya itu.
__ADS_1
...•••...
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡