HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
193. Peringatan


__ADS_3

Ponsel Hanaria terus berderit, ia menghentikan sejenak aktifitasnya di workshop bersama seorang insinyur mesin yang sudah berusia senja, tuan Guandoo.


"Hallo asisten David," sapa Hanaria, sesaat setelah dirinya menempelkan ponselnya didaun telinganya.


"Nona Hana, Anda diminta datang keruangan Nyonya Mingguana sekarang juga," terdengar suara berat asisten David dari seberang sambungan telepon.


"Baik," sahut Hanaria singkat.


Selesai menerima telepon, Hanaria kembali mendekati tuan Guandoo yang tengah sibuk memperhatikan gambar 4D di layar komputer hasil kalborasi dirinya bersama Hanaria.


Kembali ponsel Hanaria berderit minta diangkat, ia menatap layar ponselnya yang tertera nama dokter Domianus disana.


"Hallo Dok?" sapa Hanaria lagi.


"Hallo nona Hana, maafkan saya mengganggu. Saya hanya mau memastikan saja untuk pendonor yang telah Anda janjikan ," terdengar suara tenang dokter Domianus dari seberang sambungan telepon.


"Iya Dok, dalam dua hari ini, pendonornya akan datang ke rumah sakit," sahut Hanaria mengingat percakapannya dengan sekretaris Morin tadi pagi.


"Baiklah terima kasih nona Hana," ucap dokter Domianus mengakhiri teleponnya. Hanaria menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya dan kembali mendekati tuan Guandoo.


"Tuan Guandoo," panggil Hanaria.


"Iya Nona Hana," tuan Guandoo mengalihkan pandangannya dari layar komputernya. Ia membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot, dan menyangkut pada puncak hidungnya.


"Bagaimana menurut Anda tuan Guandoo?" tanya Hanaria seraya menatap layar komputer diatas meja kerja insinyur mesin andalan Perusahaan Mega Otomotif itu.


"Sempurna," sahut tuan Guandoo sambil mengacungkan dua jempolnya ke udara seraya tersenyum lebar menatap Hanaria.


Hanaria ikut tersenyum lebar, hatinya begitu bahagia karena desainnya bisa diterima dan akan segera dirakit.


"Tuan Guandoo, saya mau unit mobil yang dikeluarkan ini limited edition, hanya dikeluarkan untuk nyonya Mingguana dan nyonya Maigna Orine saja," ungkap Hanaria pada pria yang duduk dikursi kerjanya itu.


"Bagi saya, mobil juga adalah salah satu karya seni, dan mobil ini kita desain khusus sesuai karakter kedua Nyonya terhormat itu, saya mau mereka merasa bangga saat mengendarainya tuan Guandoo," ucap Hanaria sambil berhayal tingkat tinggi.


"Saya setuju dengan statement Anda Nona, saya pun berharap hasil desain unit mobil ini sangat memuaskan," ungkap tuan Guandoo penuh harap.


"Dan desain yang kedua, itu boleh diperbanyak sesuai permintaan pasar," ucap Hanaria menunjuk desain berikutnya yang terlihat dilayar komputer tuan Guandoo.


"Siap Nona Hana," sahut pria itu masih tetap tersenyum lebar.


"Kira-kira dalam enam puluh hari kerja, unitnya bisa siap tuan?" tanya Hanaria memastikan.


"Saya usahakan Nona," kata tuan Guandoo menyanggupi.


"Baiklah, kerja bagus Tuan, saya rasanya tidak sabar melihat hasilnya." ungkapnya menatap wajah tuan Guandoo. Sementara tuan Guandoo hanya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Guandoo," pamit Hanaria.


"Baik Nona," sahut pria itu.


Hanaria meraih tas punggungnya dan menggendongnya, meninggalkan workshop, dimana beberapa engineering lainnya tengah sibuk membuat gambar kerja pada komputernya masing-masing.


...***...


"Apa maksud manager Antonio dengan surat pemecatan ini?" tanya nyonya Mingguana pada manager Marketing Perusahaannya itu sambil melempar amplop ditangannya kehadapan pria paruh baya itu.


"B-bagaimana surat ini bisa sampai ke tangan Nyonya?" Manager Antonio meraih amplop yang dilemparkan padanya dengan wajah gugup.


"Apakah kau terlalu bodoh manager Antonio. Bagaimana mungkin surat seperti ini tidak sampai padaku selaku Pemilik Perusahaan ini? Apa lagi pegawai yang kau pecat adalah orangku, hmm?" geram nyonya Mingguana.


"M-maafkan saya Nyonya, tapi saya punya alasan melakukannya," ucap pria itu membela diri.


"Katakan alasanmu," nyonya Mingguana memandang Manager Antonio dengan tatapan dinginnya sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya.


"Nona Hanaria, dia berani menentang perkataan saya dihadapan semua pegawai marketing. Apa yang ia lakukan, saya khawatir akan berdampak buruk bagi pegawai yang lain, bisa jadi mereka akan mengikuti jejaknya," ungkap Manager Antonio.


"Apakah kau berfikir seperti ìtu Manager Antonio?" tanya nyonya Mingguana.


"Iya Nyonya," sahutnya sedikit menunduk.


"Benar Nyonya," sahut manager Antonio, ia mulai merasakan aura yang tidak baik dari majikannya itu.


"Kau berani memecat orangku, apakah kau tidak takut?" nyonya Mingguana sengaja memberi penekanan pada ucapannya.


"Maafkan saya Nyonya," Manager Antonio semakin menundukkan kepalanya, ada rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya.


"Asal kau tahu manager Antonio, aku sudah berkorban hal yang besar untuk menjadikan nona Hanaria pegawai marketing di Perusahaan ini."


"Aku bahkan rela kehilangan seorang manager marketing seperti dirimu dan dewan direksi yang selalu mendukungmu itu dibandingkan kehilangan satu orang pegawai seperti nona Hanaria," tegas wanita dingin itu menatap manager marketingnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" kata nyonya Mingguana menatap kearah pintu.


"Nona Hana sudah tiba nyonya," kata asisten David yang muncul diambang pintu yang terbuka.


"Persilahkan masuk," ucap nyonya Mingguana lagi.


"Baik Nyonya," asisten David lalu berbalik keluar menemui Hanaria.


"Setelah mendengar perkataanku ini, aku harap kau tidak mengganggunya lagi," imbuh nyonya Mingguana pada manager Antonio.

__ADS_1


"Ingat, bulan ini penjualanmu harus mencapai target manager Antonio, dan kau harus bisa berkerja sama dengan nona Hanaria bawahanmu itu,"


"Bila tidak, siapkan surat pengunduran dirimu, supaya aku tidak dianggap kejam karena memecatmu," ucap nyonya Mingguana datar.


"Baik Nyonya," sahut manager Antonio dengan wajah memerah, walau merasa terhina namun ia tidak berani membantah perkataan majikannya itu.


"Sekarang kau boleh pergi," ucap nyonya Mingguana seraya menegakkan tubuhnya yang sedang bersandar dikursinya ketika melihat Hanaria masuk.


Manager Antonio berdiri dan membungkuk hormat," saya permisi Nyonya," ucapnya lalu berbalik.


"Hmm," nyonya mingguana hanya menjawab dengan gumamannya.


Manager Antonio menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan Hanaria dibelakang pintu masuk.


"Maafkan saya Nona Hana," ucap manager Antonio tiba-tiba membuat Hanaria keheranan, pasalnya atasannya itu tidak perah bersikap manis padanya mulai awal ia bergabung di Perusahaan itu.


"Maaf untuk apa Manager Antonio?" tanya Hanaria.


"Apa yang terjadi diantara kita tadi pagi," sahut pria itu.


"Hmm, baiklah," sahut Hanaria menyetujui.


'Terima kasih." setelah berkata demikian ia segera meninggalkan Hanaria.


"Nona Hana, kemarilah," panggil nyonya Mingguana ketika melihat pegawainya itu masih berdiri menoleh kearah perginya manager Antonio.


"Iya Nyonya," Hanaria segera mendekat dan duduk pada kursi yang telah disediakan.


"Kudengar dari asisten David tadi pagi kau ijin keluar karena ada sesuatu yang perlu kau urus. Apakah ada masalah?" tanya nyonya Mingguana menatap pegawainya itu penuh selidik.


"Hanya masalah kecil nyonya, dan sudah diselesaikan," sahut Hanaria singkat, ia tidak mau urusan pribadinya diketahui oleh siapapun.


"Oh, begitu." Nyonya Mingguana nampak mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali tanda mengerti.


"Bagaimana rencana marketingmu?" tanya nyonya Mingguana ingin tahu.


"Awal pekan depan saya akan mengunjungi beberapa Perusahaan tambang milik Nyonya yang ada dipinggiran kota ini, dan saya telah mendapatkan data-data yang saya perlukan dari asisten David," kata Hanaria.


"Bisakah kau mengajak manager Antonio untuk ikut bersamamu?" kata nyonya Mingguana memberi ide.


Hanaria berfikir sejenak," apakah Nyonya yakin bila manager Antonio mau ikut bersama saya?" tanya Hanaria tidak yakin.


"Tentu saja," sahut nyonya Mingguana tersenyum tipis penuh arti. Hanaria merasa heran, tentu ada hal yang direncanakan oleh majikannya itu karena jarang sekali ia melihat nyonya Mingguana berlaku demikian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2