HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
246. Aku Menanggung Sisanya


__ADS_3

Billy menurunkan kedua tangannya yang sempat menyilang didepan dada sebelumnya. Tentu saja ia sangat terkejut, saat memastikan nilai yang sangat fantastis itu.


"Kau yakin, kalau nilainya memang segitu Willy?" tanya Billy lagi, menatap lekat wajah adik kembarnya. Ia masih belum bisa percaya dengan nilai yang sangat mengejutkannya itu.


"Iya, itu benar kak," sahut Willy, rasa kagetnya masih belum mereda pasca pekikan sang kakak kembarnya itu.


"Ini, kak Billy boleh melihatnya." Willy menyodorkan ponselnya. Sebelumnya ia sempat mempoto lembaran daftar saham yang diberikan Hanaria dan mengirimnya pada pamam, bibi, buyut, oma, dan sepupunya.


Billy melihat daftar saham yang ditunjukan adiknya itu, dan menggulirnya terus ke bawah hingga melihat jumlah nominal yang harus dibayar, sesuai dengan apa yang telah didengarnya, hanya kurang beberapa juta rupiah saja dari yang telah disebutkan oleh Willy.


"Kenapa para pemegang saham itu mau menjual saham-sahamnya? Setahuku, Mega Otomotif merupakan perusahaan Otomotif raksasa di negeri ini, mereka banyak mengeluarkan product yang sudah diakui kualitasnya oleh masyarakat, baik itu roda duanya, roda empatnya, hingga alat beratnya. Apa tidak sayang dengan keuntungan yang bisa diperoleh dari saham-saham mereka disana?" ungkap Billy sembari mengembalikan ponsel yang dipegangnya pada pemiliknya.


"Hanaria membuat aturan, memaksa para pegawainya wajib memiliki dan mengendarai product Mega Otomotif saat ke kantor atau dinas luar. Tentu saja mereka menolak, dan berujung menjual sahamnya." jelas Willy.


Billy seketika terbahak mendengar ucapan adiknya, hal yang sangat jarang dilihat oleh Willy dari kakaknya yang tidak biasa guyon itu. "Adik ipar seperti seorang militer saja," ungkapnya disela-sela tawanya. "Terus? Lanjutkan!" imbuh Billy lagi, sudah siap dengan penjelasan berkutnya.


"Mega Otomotif sudah pernah mengalami kebangkrutan sekali karena penjualan product tidak pernah mencapai target berturut -turut hampir tiga tahun, dan nyonya Mingguana membeli perusahaan itu dengan menjadikan Hanaria pegawainya waktu itu,"


"Hanaria tidak tega membiarkan ribuan pegawai Mega Otomotif akan kehilangan pekerjaannya bila hal itu terjadi, itu sebabnya ia membuat aturan memaksa seperti itu." jelas Willy panjang lebar.

__ADS_1


"Maksud adik ipar baik, aku mengerti. Sebenarnya dia sedang membangun konsep marketing dari dalam perusahaan itu sendiri. Logika saja, bila pegawainya saja tidak mempercayai dan tidak bangga menggunakan product sendiri, apa lagi masyarakat yang melihatnya. Begitu pula sebaliknya," ungkap Billy.


"Itu sebabnya aku pusing tujuh keliling memikirkan masalah nilai saham itu kak. Karena besok sudah harus dibayar tunai," sambung Willy, kembali melancarkan rencana awalnya. Dia memang bukan pria yang mudah menyerah, apalagi menyangkut masalah Hanaria.


"Apa?!" Billy kembali terkaget. Sebagai abdi negara, dirinya memang sudah biasa menerima tugas kilat dan dengan sigap dituntut bergerak cepat menunaikan tugasnya.


Namun kali ini, ia merasa apa yang didengarnya tentang sang adik ipar, membutuhkan kesigapan lebih dari yang pernah ia jalani selama ini.


"Tenang kak Billy, kau cukup membantuku untuk membayar sisanya saja, selebihnya sudah disanggupi oleh Daddy, Paman, Bibi, Buyut, Oma, dan Edward," ujar Willy cepat, ketika menerima sorot tajam dari sang kakak.


"Heum, ternyata kau tidak berubah Willy," Billy berkata sambil menggelengkan kepalanya, ia memang sangat mengenal sifat adiknya itu. "Memang berapa sisanya?" lanjutnya.


" 4 M," sahut Willy memelan dan menunjukan cengiran kudanya.


"Aduh! Sakit Kak Billy!" pekik Willy tertahan, ia meringis lalu menunduk melihat kaki kakaknya yang menggunakan sepatu bergerigi tengah menginjak jari-jari kakinya yang hanya beralaskan sandal kamar.


"Kau saja pengusaha tidak punya uang segitu, apalagi aku!" ucap Billy tidak perduli pada pekikan kesakitan adiknya yang selalu saja membuat semua keluarga ribet dengan masalahnya.


"Aku kan harus membayar hutang-hutangku juga masih membangun mansion untuk Hanaria di dusunnya kak," ucap Willy memberi alasan. Ia mengangkat kakinya yang telah diinjak kakaknya dengan sengaja, mengusapnya untuk meringankan rasa sakitnya.

__ADS_1


Billy tahu, apa yang dikatakan adiknya itu memang benar. Rasa gemesnya kembali berubah kasihan.


Drrt. Drrt. Drrt.


Billy buru-buru meraih ponsel dari dalam saku celananya, lalu segera mengangkatnya begitu melihat siapa yang menelponnya.


Willy hanya memperhatikannya saja dengan sikap membisu, supaya komunikasi kakaknya tidak terganggu.


"Aku harus segera pergi," Billy buru-buru berlari ke mobilnya, begitu ponselnya terputus.


"Kak Billy kemari ada perlu apa?" tanya Willy yang berhasil mengejar Billy yang tengah menghidupkan mesin mobilnya. Ia baru ingat menanyakannya, setahunya kakaknya itu hanya datang bila ada hal yang sangat penting, atau sekedar melepas rindu pada keluarganya.


"Tadinya aku ingin bertemu Daddy. Lain kali saja." ucap Billy lalu menjalankan mobilnya.


Willy menatap kepergian kakaknya dengan raut menyesal. Ia yakin, pasti hal yang sangat penting bila kakaknya itu ingin bertemu ayah mereka, ia malah sibuk memaparkan segala masalahnya hingga waktu berharga kakaknya itu habis.


Willy berbalik, hendak masuk kerumah untuk beristirahat. Namun teriakan Billy yang menghentikan mobilnya secara tiba-tiba didekat pos jaga membuatnya kembali berbalik melihat kearah kakaknya.


"Sisanya, aku yang menanggungnya!" teriak Billy lagi, lalu melajukan mobilnya meninggalkan pos jaga.

__ADS_1


Terima kasih Kak!" Willy ikut berteriak, walau ia tidak yakin kakaknya itu mendengar suaranya, karena sudah menghilang dibalik pagar kokoh rumah megah mereka.


Bersambung...👉


__ADS_2