HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
293. CEMAS


__ADS_3

"Apa yang terjadi Mah?" Hartawan menatap Rosalie yang terlihat panik menatap kearahnya.


"Dimana Rosa Pah? Kenapa dia tidak ada disini? Bukankah Papah yang menemani putri kita tadi?"


Hartawan memandang kaget kearah ranjang pasien. Seperti kata isterinya, Rosalia memang tidak ada diranjang pasiennya. "Kemana dia?" batin Hartawan.


Hanya tertinggal jarum infus yang sebelumnya terpasang pada tangan Rosalia kini telah bergelantungan pada tiang penyangganya, begitu pula dengan alat oksigen yang teronggok disamping bantal dan hampir terguling jatuh kelantai.


"Mungkin di kamar mandi Mah," Hartawan berusaha membuang rasa paniknya.


"Sudah Mamah cari di semua sudut Pah, tapi Rosalia ridak ada diruangan ini!" Rosalie yang masih panik menyaringkan suaranya sambil terus mencari.


Hartawan dengan gegas menuju kepala ranjang pasien dan menekan bel darurat. Tidak menunggu lama, dua orang suster bersama dokter Faraz yang sebelumnya menangani Rosalia datang menghambur masuk.


"Ada apa tuan Hartawan, dokter Rosalie?" Faraz mendekati keduanya.


"Rosalia Dok, dia tiba-tiba menghilang?" sahut dokter Rosalie menunjuk ranjang Rosalia yang kosong.


Dokter Faraz membenarkan kacamatanya, ia juga terlihat panik, setahunya dokter muda yang ia tangani tadi pagi belum sadarkan diri. "Sus, tolong minta bagian IT memeriksa CCTV, lalu beri pengumuman pada seluruh pegawai rumah sakit, mungkin saja ada orang yang membawanya pergi," duganya.

__ADS_1


"Baik Dok," dua suster itu bergegas pergi.


"Bagaimana ceritanya, dokter Rosalia bisa menghilang?" Faraz kembali bertanya pada Rosalie.


"Entahlah Dok, saya sempat keluar untuk membeli makan siang, dan saat saya kembali, saya melihat suami saya baru saja selesai menelpon, lalu berpamitan karena ada tugas. Dan saat saya melihat ke ranjang pasien, putri kami sudah tidak ada disana," terang Rosalie masih dengan raut cemasnya.


"Itu benar Dok," Hartawan ikut berbicara.


"Sepertinya dokter Rosalia menghilang saat Anda sedang menerima telepon Tuan," ungkap dokter berkacamata itu menyimpulkan.


Drrt. Drrt. Drrt.


"Maaf, saya angkat telepon dulu ya." ucap dokter Faraz sambil meraih ponsel dari dalam saku jas dokternya.


📞"...."


📞"Apa?! Baiklah, kami segera kesana." dokter Faraz menutup sambungan teleponnya, lalu menatap pada Hartawan dan Rosalie yang nasih memandang padanya.


"Tuan, dokter Rosalie, ayo ikutlah dengan saya sekarang."

__ADS_1


"Apa yang terjadi Dok?" cemas Rosalie semakin menjadi, sementara Hartawan tidak sabar mendengar keterangan lebih lanjut dari dokter laki-laki itu.


"Dokter Rosalia, dia sudah ada diruang operasi, pukul 11 tadi dirinya memang ada jadwal mengoperasi pasiennya." Hartawan dan Rosalie seketika terpana mendengar penuturan dokter Faraz, mereka masih tak percaya akan apa yang didengarnya, karena mereka ingat benar beberapa menit yang lalu Rosalia masih belum sadarkan diri.


"B-bagaimana bisa? Bukannya Rosa sedang sakit Dok? Dia bisa membahayakan nyawa pasien," Rosalie mempercepat langkahnya, mengekor dibelakang dokter Faraz, ia begitu cemas pada Rosalia, juga cemas pada pasien yang sedang mendapat tindakan medis itu, begitu juga dengan Hartawan yang tidak kalah cepatnya berjalan disebelahnya.


"Anda benar Dokter Rosalie. Tapi beberapa perawat dan dokter sudah mengamankannya disana. Semoga semuanya baik-baik saja?" sahut dokter berumur itu semakin mempercepat langkahnya.


Beberapa keluarga pasien yang tengah menunggu didepan ruang operasi memandang heran melihat kedatangan dokter Faraz yang terlihat tegesa-gesa bersama.Rosalie dan Hartawan.


"Ada.apa Dok? Isteri saya baik-baik saja bukan?" tanya seorang pria yang diduga suami pasien yang akan melahirkan secara caesar.


"Iya Pak. Jangan khawatir, kami pihak rumah sakit akan melakukan yang terbaik." dokter Faraz menenangkan suami pasien dan keluarganya yang lain. "Saya pamit masuk dulu,"


"I-iya Dok," suami pasien itu memberi jalan.


"Jangan Pah," Rosalie mencengkram kuat tangan Hartawan yang ingin ikut masuk. "Kita duduk dikursi taman sana. Disini banyak keluarga pasien, mereka bisa panik bila kita ikut masuk juga kedalam ruang operasi itu," bisik Rosalie.


Hartawan pasrah, walau hatinya masih teramat cemas sebelum bisa melihat kondisi putrinya. Ia mengikuti langkah kaki Rosalie yang menariknya menuju kursi taman yang ditunjuknya tadi.

__ADS_1


"Percaya pada dokter Faraz, beliau pasti bisa mengatasinya," gumam Rosalie menenangkan suaminya. Keduanya duduk berdampingan dikursi taman sambil terus mengawasi dari jauh, pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.


Bersambung...👉


__ADS_2