HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Epjsode 102 Jawaban Hanaria


__ADS_3

Hanaria kembali memejamkan matanya sebelum mengetuk pintu, ia mengambil nafas sebanyak - banyaknya dan mengeluarkannya dengan perlahan - lahan.


Ia mengucapkan doa dan harapannya didalam hati, semoga saja keputusan yang dirinya ambil hari ini adalah baik, bukan hanya untuk dirinya saja, tapi semua orang yang terkena dampak dari masalah yang telah terlanjur terjadi itu.


"Tok..... Tok.... Tok....." Hanaria mulai mengetuk pintu.


"Masuklah.......!" Terdengar suara pemilik dari ruang kerja itu mempersilahkan.


Jantung Hanaria langsung berdetak tidak beraturan saat suara sang majikannya itu sampai ketelinganya. Didorongnga pintu hingga terbuka perlahan. Hanaria muncul didepan pintu, ia melihat Moranno duduk dibelakang meja kerjanya bersama asisten Rudi yang berdirii disisi meja sambil menatap kearahnya.


Tanpa dikomando, Hanaria segera membungkuk hormat seperti biasa yang telah ia lakukan selama menjadi pegawai di perusahaan Agatsa Properti Group.


"Kamarilah nona Hana......." Panggil suara lembut seorang wanita dari arah sofa tamu.


Hanaria menegakkan kepalanya dan melihat kearah sofa tamu, disana sudah duduk Yurina dan putranya Willy menatap kearahnya. Kembali Hanaria membungkuk hormat, lalu melangkah mendekat sambil berusaha menenangkan dirinya.


Jantungnya tidak mau berkompromi sedikitpun, terus berdetak tidak beraturan, membuat dirinya gugup dan merasa kikuk. Dengan sekuat tenaga Hanaria berusaha melawan kegugupannya, sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada sang nyonya yang masih terlihat demikian cantik.


"Duduklah nona Hana......." Yurina mempersilahkan. Melihat gadis itu, membuat dirinya teringat akan masa mudanya yang teramat singkat, karena harus menikah muda dengan Moranno suaminya.


"Terima kasih nyonya......" Sahut Hanaria sopan sambil mendudukkan tubuhnya dengan hati - hati disofa berhadapan dengan Yurina dan juga Willy.


"Suamiku...... kemarilah........" Panggil Yurina pada Moranno yang masih duduk dibelakang meja kerjanya sambil mengerjakan beberapa pekerjaan bersama asisten Rudi.


"Asisten Rudi, kita rehat sejenak, saya ada urusan keluarga, bila sudah selesai kau boleh masuk kembali." Ucap Moranno sambil berdiri, dan merapikan jas kerja yang ia kenakan.


" Baik tuan, saya permisi dulu......" Asisten Rudi segera membungkuk hormat, lalu undur diri dari ruangan itu.


Moranno mendekati isterinya yang telah memanggilnya dan duduk disisi Yurina dengan wajah tenangnya.

__ADS_1


Moranno, Yurina, dan Willy yang telah duduk berhadapan dengan Hanaria, menatap gadis dihadapan mereka yang sama sekali tidak terlihat canggung ataupun rendah diri.


Tidak seperti yang dilihat dari luar. Dalam hati Hanaria begitu bergemuruh, semakin keras ia berusaha menenangkan dirinya, jantungnya semakin berpacu kencang. Beberapa kali ia harus mengambil nafas dalam supaya ketegangan yang tengah melandanya tidak terlihat oleh ketiga orang dihadapannya itu.


"Bagaimana nona Hana? Apakah hari ini kami sudah boleh mendengar jawabanmu?" Terdengar suara lembut Yurina menyingkirkan keheningan yang sempat tercifta beberapa menit lamanya.


"Iya nyonya......." Sahut Hanaria dengan suara rendah, ia tetap berjuang menenangkan dirinya. Berhadapan dengan tiga orang yang sangat berpengaruh ditempat kerjanya itu, apa lagi saat ini mereka sedang membahas masalah pribadi dengannya, membuat Hanaria merasa hal ini sangat menyerang mentalnya.


"Katakanlah jawabanmu...... Kami siap untuk mendengarkan......" Ucap Yurina lagi, masih dengan sura lembut keibuan sambil tersenyum hangat pada Hanaria.


Suasana hening sejenak. Hanaria memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya, dan menatap ketiga orang yang duduk dihadapannya, yang masih menatap dirinya dengan wajah tenang.


"Di dusun, saya masih memiliki kedua orang tua. Bila mereka mengijinkan saya menikah dengan tuan muda Willy, maka saya pun akan setuju. Tuan dan nyonya, juga tuan muda...... bisa datang ke dusun kami untuk menemui kedua orang tua saya disana."


"Bila orang tua saya sudah mengijinkan saya menikah dengan tuan muda Willy...... Ini persyaratan terakhir yang saya ajukan untuk dipenuhi oleh tuan muda Willy." Hanaria menyerahkan satu lembar kertas yang sengaja ia laminating dan meletakannya diatas meja tamu.


Yurina masih mengulas senyumnya menatap Hanaria dihadapannya, yang ia anggap sebagai gadis yang pintar, setelah membaca 10 poin persyaratan yang gadis itu ajukan.


"Apakah masih ada yang ingin anda sampaikan nona Hana?" Tanya Yurina, sambil memandang kearah Hanaria.


"Sudah cukup nyonya....... " Sahut Hanaria sopan.


"Baiklah nona Hana....... Terima kasih untuk


jawabanmu hari ini. Kami akan berusaha memenuhinya satu persatu sesuai permintaanmu nona Hana......" Ucap Yurina lagi.


"Kalau sudah tidak ada yang kita bicarakan lagi, saya mohon pamit nyonya, tuan Moranno...... tuan muda Willy......" Ucap Hanaria bersiap.


"Baiklah nona Hana......." Sahut Yurina dengan senyuman, Moranno hanya mengangguk tanpa suara, demikian pula dengan Willy.

__ADS_1


Hanaria berdiri, lalu membungkuk hormat, sebelum meninggalkan tempat itu. Perasaan begitu lega setelah berada diluar ruangan.


Sementara didalam ruangan, Yurina memberikan lembaran ditangannya pada Moranno suaminya. Pria paruh baya yang masih sangat enerjik itu, segera menerima lembaran yang diberikan padanya oleh isterinya, lalu membacanya dengan wajah tenangnya.


"Apa yang ditulis gadis itu dad? Willy yang penasaran langsung mendekati ayahnya. Tanpa bicara Moranno langsung memberi lembaran kertas ditangannya pada putranya itu, dengan posisi masih duduk ditempatnya berdampingan dengan Yurina.


Mata Willy langsung membola saat membaca poin pertama, lalu kedua, ketiga, keempat, hingga poin ke sepuluh. Sambil menggeleng - gelengkan kepalanya rusuh, sangat jauh berbeda dengan reaksi dari kedua orang tuannya.


"Ini...... maksudnya meras...... mengerjai....... atau gimana.......?!" Komentar Willy setelah membaca semua yang ditulis tangan Hanaria di lembar kertas yang telah dilaminating itu.


"Apakah kau berfikir seperti itu putraku?" Ucap Yurina menoleh dan menatap lurus kewajah Willy yang duduk disebelah Moranno suaminya.


"Dari apa yang nona Hanaria tulis ini, bukankah menjelaskan bahwa dirinya ingin memeras kita, mengerjai kita...... memang siapa dirinya??? Membuat permintaan dan aturan begini seenaknya saja......!" Ungkap Willy dengan nada kesalnya.


" Dari yang nona Hanaria tulis itu saja, pemikiranmu masih terlalu dangkal menilainya. Putraku....... Ternyata kau memang harus banyak belajar tentang kehidupan. Kau terlalu jauh tertinggal dari nona Hanaria. Ternyata pemikirannya sudah mampu melampaui beberapa langkah darimu Willy."


Willy langsung bungkam, tidak bisa menjawab, saat mendengar ucapan ibunya yang langsung mengenai sasaran. Walau nada bicara Yurina terdengar rendah, namun Willy merasa malu karena seusia ini, ibunya menilai dirinya masih berfikir begitu dangkal.


"Willy...... Dia wanita yang bisa menghargai dirinya dengan caranya. Kau memang harus menikah dengan wanita seperti itu, terlepas dari tanggung jawab karena perbuatan tidak patutmu yang pernah kau lakukan padanya." Imbuh Yurina lagi, masih dengan nada rendahnya.


"Mommymu benar Willy...... Mulai besok kau harus menjalankan misimu." Moranno akhirnya ikut bicara.


"Misi apa dad?" Tanya Willy binggung, melihat kewajah ayahnya.


"Misi untuk memenuhi persyaratan nona Hanaria yang sudah ia tulis itu. Jadi, mulai besok kau harus berangkat menuju dusun orang tuannya nona Hanaria, disana ada mas Arya, ayahnya Reymon, kau bisa menginap disana sampai misimu mendekati orang tuannya berhasil." Jelas Moranno.


"Apa semuanya itu harus Willy yang melakukannya sendiri, apa tidak bisa menyuruh orang - orang suruhan daddy saja." Ucap Willy dengan wajah tidak percaya mendengar ucapan ayahnya.


"Harus kau Willy, yang mau menikah itu kan dirimu, bukan orang - orangnya daddy, gimana sih......!" Moranno tiba - tiba kesal mendengar ucapan putranya yang keluar begitu saja tanpa dipikirkan.

__ADS_1


__ADS_2