
Niat Willy yang hanya ingin memandikan bayi Elvano karena perasaan iba-nya, yang ia tinggal berkerja bersama Hanaria, akhirnya terpaksa ikut masuk kedalam bak mandi karena terlanjur basah kuyup terkena percikan air mandi yang tidak sengaja disemburkan oleh bayi mungil itu berkali-kali kearahnya.
Elvano yang terlihat sangat bahagia, merangkak riang diatas perut dan dada Willy yang berbaring terlentang didalam bak mandi milik Elvano yang sebenarnya tidak muat bagi pria dewasa, hingga kedua kaki Willy terpaksa harus menjuntai keluar dari dalam bak mandi itu.
Tangan mungil itu sesekali memercikkan air yang mengalir dari kran supaya mengenai wajah sang ayah adopsinya, Willy yang terkena percikan air ikut membalas, hingga keduanya saling serang-menyerang. Hal itu membuat bayi itu semakin kegirangan dengan gelak tawanya memenuhi kamar mandinya.
Momen itu terekam oleh ponsel Hanaria yang sengaja mengabadikannya dengan diam-diam dicelah pintu yang sedikit terbuka supaya keduanya tidak terganggu atas kehadirannya. Hatinya begitu terharu, ketika menyaksikan Willy sudah mulai membuka dirinya dan dekat dengan anak adopai mereka.
Setelah sekian lama memperhatikan keduanya, akhirnya Hanaria tidak tahan untuk bergabung.
"Mom-Mom," celoteh bayi Elvano ketika disadarinya Hanaria datang mendekati dirinya yang tengah asik didalam bak mandi bersama Willy. Ia segera merangkak dan memegang tepi bak mandi lalu mengulurkan tangannya menggapai Hanaria.
"Kau sudah pulang?" tanya Willy saat melihat kehadiran sang isteri.
"Iya," Hanaria lalu mencium singkat pipi basah Willy dan beralih pada Elvano yang berusaha terus menggapainya.
"Ayo, sayang. Ikut dengan Mommy. Kau pasti sudah kedinginan," Hanaria meraih tubuh basah bayi Elvano yang sudah lebih berisi selama satu bulan penuh ia merawatnya.
"Hana, jangan lupakan bayi besarmu ini juga yang kedinginan!" ucap Willy setengah berteriak.
"Tentu saja! Aku akan mengambil handukmu! Tunggu sebentar! Aku segera kembali!" sahut Hanaria ikut berteriak sambil meninggalkan kamar mandi membawa Elvano dalam gendongannya.
"Bibi, sudah siapkan handuk Tuan dan bayi Elvano?" tanya Hanaria pada bibi Salu yang sedang menunggu didalam kamar.
"Sudah siap Nona," sahut bibi Salu sambil menunjuk pada lipatan handuk Willy dan juga bayi Elvano yang ia bentangkan diatas pembaringan bayi mungil itu.
"Baiklah, terima kasih ya Bibi," ucap Hanaria sambil tersenyum.
"Ini tolong urus bayi Elvano dulu. Aku akan mengantarkan handuk ini buat suamiku," Hanaria menyerahkan bayi Elvano pada bibi Salu.
__ADS_1
"Mom-Mom, Aaooo..." Elvano mencengkram erat lengan Hanaria, seolah tidak mau melepaskan tangan ibu adopsinya itu, merasa belum puas berada dalam gendongannya.
"Sebentar ya sayang, sama Bibi dulu. Mommy mau mengurus Daddy Vano dulu ya," bujuk Hanaria lembut. Untunglah bayi itu tidak jadi menangis karena bibi Salu dengan sigap sudah memberikannya sebotol susu.
Dengan cepat bayi Elvano menghisap pucuk dot-nya dengan lahap. Rupanya, kegiatan mandinya bersama Willy sebelumnya membuatnya sangat lapar dan haus.
"Anak pintar," Hanaria mengulum senyum saat melihat tingkah bayi lucu itu yang dengan mudahnya melupakan dirinya saat diberi susu-nya.
Hanaria meraih handuk Willy yang terlipat diatas ranjang Elvano dan membawanya kekamar mandi. Ia menyapu seluruh isi kamar mandi saat dilihatnya Willy tidak ada dimana-mana.
"Willy," panggil Hanaria dari depan pintu, dan pandangannya tetap mengedar mencari keberadaan Willy. Tidak ada sahutan, ia masuk sedikit, dan masih tetap mencari Willy yang tiba-tiba raib entah kemana, padahal dirinya tidak terlalu lama berada didalam kamar bayi Elvano untuk mengambil handuk suaminya itu.
Ceklek.
Terdengar pintu dibelakangnya tertutup dan terkunci, siapa lagi pelakunya, kalau bukan Willy.
"Bukankah tadi kau sudah kedinginan?" sela Hanaria namun enggan bergerak, merasakan pelukan nyaman sang suami, dan sentuhan-sentuhan diarea tengkuknyanya yang jenjang.
"Itu Boong," ucapnya sambil tertawa, dan menyundul bagian depannya kepinggul isterinya itu.
"Kau nakal sekali," Hanaria terkekeh dan mencubit gemas lengan Willy yang tengah memeluknya, wajahnya ikut memerah saat merasakan benda yang menjulur menekan pinggulnya, ditambah ucapan dan tawa suaminya itu terdengar sexy ditelinganya. Ia buru-buru membalikan tubuhnya menghadap sang suami, memandang wajah tampan yang sepanjang hari ini ia rindukan.
Wajah tampan itu masih dihiasi bulir-bulir bening yang jatuh dari rambut basahnya, membuat suaminya terlihat semakin tampan dan menggairahkan pada pemandangannya.
"Aku, merindukanmu," ucap Hanaria setengah berbisik. Ia melemparkan handuk Willy keatas meja wastafel lalu membalas pelukan suaminya.
"Ku fikir kau melupakanku dihari pertamamu berkerja. Kau pasti sangat sibuk," Willy menatap penuh hasrat. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu, dengan sekali tarikan lengan kuatnya, tubuh isterinya yang tengah memeluknya kini lebih merapat. Hanaria nampak pasrah dan membiarkan ketika bibir basah suaminya menyentuh lembut bibirnya.
"Apa mereka tidak menyulitkanmu hari ini?" tanya Willy, dengan tangannya yang sudah menelusup kedalam blouse Hanaria.
__ADS_1
"Mereka siapa?" Hanaria balik bertanya.
"Tentu saja anak-anak kita didalam sini," ucap Willy seraya mengusap lembut perut sang isteri dengan gerakan memutar membentuk pusaran air.
Hanaria tersenyum, membayangkan bila dalam rahimnya benar-benar ada janin lebih dari satu seperti yang sering Willy ucapkan. Ia dan Willy memang sudah sepakat, setiap kali memeriksakan kandungan, memang meminta pada dokter Rosalia untuk merahasiakan tentang janin mereka termasuk jenis kelaminnya sebelum tujuh bulan, kecuali bila ada kelainan yang perlu diketahui.
Sementara tangan Willy dengan telaten mulai menanggalkan satu persatu atribut yang dikenakan oleh sang isteri.
Lenguhan halus tanpa sadar lolos begitu saja dari mulut Hanaria, saat merasakan tangan Willy merambat keatas, dan mere*as dua benda kenyal miliknya yang semakin hari semakin subur.
"Willy sshhh," Hanaria mendesis, dan berusaha menahan tangan Willy yang mulai merambat turun kebawah.
"Aku sedang membalur sabun cair ini keselurih tubuhmu Hana, dan mengusapnya supaya mengeluarkan busa," sahut Willy beralasan.
"Iyaaahhhh, aku tahu, tapi caramu sshhh agghh," Hanaria kembali mendesis saat usapan tangan Willy sampai ke inti tubuhnya dan mulai bermain-main disana.
Samar-samar bibi Salu mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar mandi disela-sela gemericiknya suara air shower yang jatuh kelantai kamar mandi.
Suara yang sudah tidak asing lagi itu, membuat bulu kuduk bibi Salu tiba-tiba meremang, dirinya sudah hafal benar dengan suara-suara menyeramkan itu.
Bibi Salu buru-buru mengenakan pakaian ketubuh bayi Elvano yang sudah selesai dipijat dengan minyak telon dan ditaburi bedak diseluruh permukaan kulitnya.
"Den Vano, kita harus buru-buru keluar dari sini, bahaya sekali buat kita berdua bila berlama-lama disini Den," ujarnya sambil memindahkan bayi Elvano kedalam kereta bayinya.
Bayi Elvano yang belum mengerti apa-apa hanya menurut, dia memang sangat suka bermain didalam kereta bayinya selepas mandi. Sambil memainkan beberapa mainan dikereta bayinya yang menimbulkan bermacam-macam bunyi-bunyian yang membuatnya tergelak seorang diri, ia tidak perduli dengan bibi Salu yang mendorong keretanya keluar dari dalam kamarnya.
Sementara didalam kamar mandi sana, suara riuh rendah eran*an dan geraman Hanaria dan Willy terus bersahut-sahutan. Mereka masih sibuk berlomba menyebut namanya masing-masing dengan deru napas yang saling berkejaran. Mereka lupa, kalau sudah ditunggu dimeja makan oleh Moranno dan Yurina.
Bersambung...👉
__ADS_1