
Willy mengangkat tubuh isterinya yang sudah polos, dan memindahkannya kekamar peristirahatan yang ada didalam ruang kerjanya.
Dengan hasrat tidak terbendung, dicecapnya kukis-kukis ranum yang bertengger dipuncak-puncaknya. Hanaria mengeliat-geliat kegelian merasakan kegiatan yang dilakukan suaminya disana.
Suara-suara aneh dari mulutnya menggema memenuhi ruangan kamar peristirahatan itu juga, seperti halnya diruang kerja sebelumnya.
Mereka sudah melupakan segala hiruk pikuk aktifitas kerja para pegawai yang terus berjalan dijam-jam kerja yang sangat sibuk itu.
Moranno dan sekretaris Morin juga sudah lama meninggalkan dan menjauhi ruang kerja Willy yang begitu ribut seperti suara hewan liar, membuat keduanya merinding mendengarkannya.
Hanaria sudah tidak bisa berteriak lagi, hanya suara desisan-desisan halus yang keluar dari bibir merah mudanya yang basah, merasakan sesuatu yang penuh dan berotot didalam miliknya dan bergerak-gerak maju mundur menggesek tanpa henti menimbulkan rasa perih dan nikmat sekaligus, hingga miliknya berkedut.
Willy menghentikan kegiatannya setelah merasakan miliknya juga berkedut, dan tersedot didalam sana hingga mengeluarkan lahar panasnya.
Willy memeluk erat tubuh Hanaria yang berada dibawahnya, menatapnya sambil menyunggingkan senyum puasnya, keduanya sama-sama mengatur nafasnya masing-masing.
"Terima kasih Hana, aku mencintaimu," lirihnya ditelinga Hanaria.
"Aku juga mencintaimu Willy," balas Hanaria dengan mata terpejam karena kelelahan.
Willy menatap wajah isterinya, ini kali pertama ia mendengar pengakuan Hanaria setelah berulang-ulang kali kata cinta ia lontarkan pada isterinya itu. Rasa bahagia membuncah didadanya, akhirnya ia bisa membuat isterinya itu jatuh cinta padanya.
Dikecupnya lembut bibir basah Hanaria. Dengan pelan Willy berpindah dari atas tubuh isterinya dan berbaring lemas disisinya.
"Aku ingin tidur Willy. Tadi aku membawa pakaian gantimu didalam paper bag diatas meja kerjamu," Kata Hanaria dengan suara lemasnya sambil meringkuk didalam selimut tebalnya.
Setelah merasakan tenaganya telah pulih, walau belum sepenuhnya, Willy turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya disana.
__ADS_1
Tidak lama ia telah keluar, melirik Hanaria yang tengah pulas tertidur. Ia mengulas senyum dan berlalu keluar kamar menuju ruang kerjanya.
Ia memungut jas hitamnya yang tergeletak dibawah kursinya, memperhatikannya sejenak dan memang tidak bisa ia kenakan lagi karena terlihat sedikit kusut.
Willy juga memungut beberapa pakaiannya dan Hanaria yang berceceran disana sini, ada yang dibawah meja, diatas berkas-berkas, dan CD isterinya yang ia lemparkan ternyata menyangkut pada gagang pintu lemari berkas yang ada dibelakang kursi kerjanya.
Willy tertawa didalam hati sambil membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh adegan panas dirinya dan isterinya itu, ternyata mereka berdua sama-sama ganas.
Setelah dirasa kembali rapi, Willy membawa paper bag yang disebutkan Hanaria kedalam kamar, ia berganti pakaian disana dan mematut dirinya didepan cermin, memperhatikan penampilannya yang mengenakan setelah jas berwarna cokelat gelap.
...***...
Moranno melirik arloji tangannya berkali-kali, wajahnya nampak gelisah menanti kedatangan putranya Willy.
Hari itu, ia merasa sangat tidak nyaman, karena harus membuat para pemegang saham dan anggoga dewan direksi dalam naungan Perusahaannya harus menunggu hingga satu jam karena kegiatan putranya bersama.isterinya yang tidak pada tempatnya.
Masih segar dalam ingatannya bagaimana dirinya pernah dicaci-maki oleh para pemegang saham dan anggota dewan direksi saat mereka mengetahui dirinya menikahi Yurina isterinya yang adalah pegawai cleaning service pada waktu itu. Dan sekarang, Willy putranya yang berulah.
Sementara para peserta pertemuan penting itu sibuk menatap ponsel dan tabletnya masing-masing sambil menunggu pertemuan penting dimulai.
Semua mata tertuju pada pintu yang tiba-tiba terbuka lebar pada pukul sebelas kurang lima menit. Sekretaris Morin dengan penampilan seksinya seperti biasa masuk lebih dulu sambil membungkuk hormat pada semua peserta meeting yang menatap kearahnya.
Hati Moranno berdebar-debar menunggu kemunculan batang hidung putranya yang menjadi sumber masalah penundaan meeting hari itu.
Ia bersiap menyaksikan putranya yang akan mendapat aksi protes dari semua peserta.
Willy masuk, dengan sikap santai, wajah datar, dan langkah ringannya tanpa beban. Semua mata nampak tercengang termasuk Moranno, mengikuti pergerakan Willy menuju kursi kebesaran pemimpin rapat yang berada dikepala meja.
__ADS_1
Moranno kembali menggeleng melihat jas cokelat gelap yang digunakan Willy, putranya itu salah kostum hari ini, bukankah setiap pertemuan penting mereka wajib mengenakan jas berwarna hitam.
Sebelum duduk dikursinya yang bersisian dengan ayahnya, Willy tidak lupa mengucapkan salam pembukanya untuk membuka rapat. Dirinya yang kini menjadi pusat perhatian bukan hanya karena menjadi pemimpin pertemuan dan salah kostum, tapi ada hal aneh yang membuat peserta pertemuan itu pokus pada bagian lehernya yang terekspos. Moranno yang juga melihatnya hanya bisa pasrah sambil menepuk jidadnya pening.
"Tuan Willy, apakah cap bibir dan bekas gigitan-gigitan hewan itu yang menjadi alasan penundaan meeting penting kita tertunda siang ini?" ledek salah satu dewan direksi mengomentari apa yang dirinya lihat, mewakili seluruh isi hati para peserta meeting lainnya.
"Benar tuan Jimy. Tapi ini bukan gigitan hewan, ini gigitan nona Hanaria, isteri saya. Ternyata jadi pengantin baru itu enak dan menyenangkan ya," timpal Willy tanpa rasa malu sambil tersenyum lebar, membuat seisi ruangan pertemuan riuh oleh gelak tawa para peserta meeting itu.
Moranno terperangah, tidak menduga putranya mampu mencairkan suasana dengan banyolannya yang memalukan itu.
Wajahnya sempat merah padam saat mendengar ledekan tuan Jimy sebelumnya. Namun sahutan Willy yang membuat riuh suasana membuat Moranno lega dan ikut tersenyum mendengar ucapan konyol putranya itu.
Dalam setiap pertemuan yang dipimpin oleh Willy, bukan hari itu saja, ia memang sering membuat suasana yang tegang menjadi santai. Ada saja guyonan segar dari jiwa mudanya yang membuat suasana selalu nyaman bagi semua yang hadir yang rata-rata terdiri dari petinggi-petinggi berusia senja.
"Bagaimana? Apakah meeting hari ini bisa dimulai, waktu sudah menunjukan pukul sebelas tepat." kata Willy sambil melihat arloji ditangannya, setelah suasana sudah mulai mereda dari suara-suara tawa para peserta meeting.
"Tentu saja tuan Willy, kami sudah siap," ucap tuan Jimy lagi, dengan wajah yang masih menyisakan perasaan geli menatap Willy yang suka berhumor ria, berbeda dengan ayahnya yang lebih datar dan berkarisma.
"Karena jadwal meeting kita yang sempat mengalami penundaan, maka setelah jam makan siang nanti, kita akan lanjutkan lagi satu jam yang sempat tertunda sebelumnya," ungkap Willy menambahkan.
"Silahkan bacakan agenda meeting kita hari ini sekretaris Morin," perintah Willy pada sekretaris pribadinya yang tidak ikut tertawa bersama semua peserta rapat yang sebagian adalah para pria itu, hanya dirinya saja yang wanita disana, kebetulan beberapa pemegang saham wanita tidak hadir karena ada beberapa orang yang dalam keadaa sakit.
Ruang rapat kembali hening, hanya suara sekretaris Morin yang menggema, menggunakan pengeras suara membacakan agenda pertemuan siang itu.
Pertemuan akhir tahun yang memang ditunggu-tunggu, karena akan mendengar pembagian hasil usaha yang sudah dikelola oleh Perusahaan Agatsa Properti Group untuk para pemegang saham.
...***...
__ADS_1