HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 40 Tawar - Menawar


__ADS_3

Mobil sport merah yang dikemudikan Hanaria sudah tiba digerbang kantor Agatsa Properti Group. Hanaria menurunkan kaca mobil depan yang ada disampingnya saat akan melintas di pos jaga.


Security membungkuk hormat saat mobil sport merah itu melintas. Mereka sedikit termangu saat melihat Hanaria yang mengemudikan mobil anak majikannya itu.


Hanaria menuju parkiran khusus pemilik Agatsa Group, dan dengan sempurna memarkirkannya disana, lalu mematikan mesinnya.


Tanpa bicara apapun, Willy keluar dari mobilnya setelah melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Ia merasa merdeka, karena sudah tiba dikantor. Ia berharap, ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya semobil dengan pegawai perempuannya yang termasuk kategori tidak waras menurutnya.


"Mimpi apa aku semalam?" Gumam Willy pada dirinya sendiri, ia bergidik ngeri saat membayangkan memiliki pasangan hidup seperti pegawainya itu.


"Tuan muda Willy, terima kasih ya..... atas tumpangannya.....!" Ucap Hanaria setengah berteriak sambil melempar senyum dari samping pintu mobil yang baru saja ia tutup.


"Lihat....! mobil tuan tidak ada yang tergores apa lagi sampai lecet saat saya mengemudikannya." Sambung Hanaria bangga. Ia sengaja mengucapkan perkataan itu untuk menyindir sang majikannya itu.


Willy yang masih merasa kesal atas sikap Hanaria disepanjang perjalan pulang sebelumnya, menatap datar kearah Hanaria dari samping pintu mobil dimana ia keluar. Ia sudah bersiap dengan kata - katanya, baru saja ia akan membuka mulutnya, gerombolan pegawai wanitanya dengan suara berisiknya menghampiri Hanaria sambil menatap dirinya penuh rasa terpesona.


"Hanaaaaa......!!!! Kau sudah kembali......!!!???" Siapa lagi kalau bukan Shasie, Linda, Norsa, dan Laras. Willy spontan menutup telinganya dengan kedua belah tanggannya, sambil memicingkan matanya.


Masih dengan wajah datar, dan tanpa bicara sepatah katapun, Willy bergegas meninggalkan area parkir yang sudah gaduh akibat kehadiran dari para sahabat Hanaria itu. Telinganya terasa sakit mendengar suara mereka yang seolah ada tombol volumenya yang sengaja di-full-kan. Selain itu, ia merasa risih saat mata gadis - gadis itu menatapnya seakan ingin menelannya.


Para gadis itu menatap kepergian Willy dengan mata tidak berkedip.


"Orang yang kalian lihat itu sudah menghilang dibalik didinding itu ...." Ucap Hanaria menyadarkan lamunan keempat sahabatnya yang masih menatap kearah mana Willy pergi.


"Barang bagus dan bening jangan diabaikan Hana..... Heheeee......" Ucap Laras terkekeh.


"Iya bener, setuju......" Norsa, Linda dan Shasie turut menyetujui ucapan Laras.


Hanaria hanya tersenyum, ia merasa bingung apa yang ada pada diri Willy yang membuat keempat sahabatnya itu begitu menggandrungi majikan mereka itu. Ia tidak ramah, dingin, dan terkesan sombong, pikir Hanaria. Tapi majikannya itu memiliki wajah yang..... memang sangat tampan. Yah, sepertinya itu pesona yang dimiliki sang majikan selain kekayaannya. Hanaria terpaksa kembali tersenyum aneh saat pikiran itu terlintas dibenaknya, membuat keempat sahabatnya itu saling berpandangan.

__ADS_1


"Hanaaa..... iiihhh senyum - senyum sendiri, pasti membayangkan saat berduaan dengan tuan muda dimobil tadi ya??" Tanya Linda penasaran penuh selidik.


"Nggak....!." Bantah Hanaria sambil menggeleng rusuh.


"Udah, jangan bo'ong.... Tidak baik....." Tuduh Linda sambil mengoyang - goyangkan telunjuknya diudara didepan wajah Hanaria.


"Ceritain dong Hana, kami jadi penasaran nih..... Gimana rasanya saat berada satu mobil dengan tuan muda yang tampan itu, pasti mengasikkan ada didekatnya......" Ucap Linda lagi sambil menerawang.


"Serius.... beneran nggak bo'ong......Dan berada didekatnya tidak seasik yang kalian pikirkan." Ucap Hanaria menyangkal. Andai saja mereka tahu apa yang telah Hanaria lakukan pada sang idola mereka itu, entah apa reaksi dari para pengagum berat itu.


"Sadarlah para bestieku..... tuan muda Willy itu majikan kita, dia tidak terjangkau. Dia kaya, wajahnya tampan..... pasti akan memilih wanita dari kalangannya, bukan seperti kita. Aku katakan ini supaya kalian tidak kecewa." Ucap Hana mementalkan angan - angan keempat temannya itu.


"Ihhh Hanaaa kau selalu berkata begitu..... kau sih enak, bisa sering bertemu tuan muda Willy, tidak seperti kami." Ucap Norsa merengut.


"Udah dulu ya...... nanti saja kita lanjut lagi obrolan ini, aku buru - buru kekantor polisi sekarang. Aku ditunggu pukul satu siang ini, dan harus sudah ada disana."Ucap Hanaria membenarkan tas ransel yang digendongnya sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya.


"Kantor polisi? Ada urusan apa?" Tanya Shasie mengerutkan keningnya.


"Mahendra Alhandra Liem?" Shasie menyebutkan nama yang ia ingat untuk memastikan.


"Iya..... nanti aku ceritakan pada kalian kalau waktunya sudah tepat ya. Aku sedang buru - buru..." Ucap Hanaria saat melihat wajah keempat sahabatnya itu penuh tanya. ia bergegas menuju parkiran pegawai, dimana mobilnya terparkir tadi pagi.


" Kau tidak makan siang dulu.....!?" Teriak Shasie.


"Nanti saja.....!" Hanaria balas berteriak dari jauh. Ia memasuki mobilnya lalu meluncur pergi.


Aksi kelima wanita itu ternyata sedang diperhatikan seseorang dari lantai tujuh kantornya.


...•••...

__ADS_1


"Terima kasih banyak pak Habsono....." Ucap Hanarià merasa puas atas penyidikan yang telah dilakukan pihak kepolisian yang membuat semua masalah yang ia laporkan menjadi jelas dan diakui oleh pihak terlapor.


"Sama - sama nona Hana, kami sebagai pengayom dan pembina masyarakat berusaha melakukan yang terbaik sesuai tugas kami." Sahut pak Habsono yang menjadi penyidik kasus yang dilaporkan Hanaria.


"Bolehkah saya bertemu dengan pihak terlapor itu pak?" Tanya Hanaria selanjutnya.


"Silahkan nona. Mari saya antar....." Pak Habsono membawa Hanaria menuju salah satu ruangan yang tidak jauh dari ruangan pak Habsono.


"Selamat siang nyonya Mingguana dan tuan Mahendra." Sapa pak Habsono saat memasuki ruangan dimana nyonya Minguana dan Mahendra ada disana.


"Selamat siang pak....." Sahut keduanya menatap kearah pak Habsono yang bepakaian dinas kepolisian dan Hanaria yang berdiri disebelahnya.


"Perkenalkan, ini nona Hanaria yang telah melaporkan tuan Mahendra Alhandra Liem, silahkan berbincang - bincang dahulu sejenak. Saya tinggal dulu sebentar." Ucap pak Habsono, ia segera berlalu meninggalkan Hanaria dan kedua orang yang menatapnya dingin.


Hanaria mendudukan dirinya disalah satu kursi kosong dimeja bundar itu, tepat berhadapan dengan Mahendra dan ibunya yang masih menatapnya dingin. Ia turut menatap keduanya dengan tatapan yang sama mereka lakukan padanya, dan sengaja tidak berbicara satu patah katapun. Untuk beberapa menit berlalu, hanya terjadi adu tatapan saja antara Hanaria dan kedua orang dihadapannya itu.


"Bukankah aku sudah menawarkan pada anda tentang bayaran mengenai masalah Firlita ini. Tapi anda malah membuat laporan polisi. Apa yang anda inginkan nona Hana?" Ucap nyonya Mingguana yang sudah jemu dengan adu tatap yang tak kunjung usai itu.


"Tuan Mahendra harus menikahi Firlita." Sahut Hanaria tanpa berbasa- basi.


"Jangan bermimpi, aku tidak akan menikahi gadis itu!" Mahendra berucap dengan nada kasarnya.


"Terserah pada anda.....tuan MAHENDRA ALHANDRA LIEM, saya akan melanjutkan kasus ini." Ucap Hanaria tenang, penuh percaya diri.


"Kau pikir aku takut......!!" Mahendra berdiri dari kursinya dengan wajah kesal menatap Hanaria. Suara kursi yang bergesek terdengar sedikit berisik saat didorong dengan kasar oleh laki - laki itu. Nyonya Mingguana segera menahan tubuh putranya untuk kembali duduk dan tetap bersikap tenang.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡

__ADS_1


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇



__ADS_2