HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
220. Ketukan Pintu


__ADS_3

******* dan geraman dari mulut Willy mulai ikut terdengar memenuhi kamar dengan matanya yang terpejam, saat merasakan pijatan tangan Hanaria dibagian inti tubuhnya. Isterinya itu memang suka sekali meringkus senjata pamungkasnya, entah apa kelebihannya dari aset tubuhnya yang lain, batin Willy dengan hasratnya yang mulai menggelora.


"Kau berani sekali bermain-main dengannya Hana," geram Willy dengan suara serak tertahan dan tatapan matanya yang sudah mulai berkabut.


"Aku hanya tidak tahan bila dia menjulur kesana-kemari tidak tentu arah, seperti sulur liar yang merambat sesuka hatinya," ucap Hanaria tanpa bermaksud menyinggung suaminya, mengatakan apa yang ada didalam fikirannya, karena milik suaminya membuat dirinya merasa geli saat menusuk dan menekan kesana kemari diarea sensitifnya.


"Apa? Sulur liar?" Willy merasa terganggu dengan sebutan Hanaria pada aset berharganya yang selalu mendapatkan perawatan spesial itu, bahkan melebihi perawatan wajah tampannya.


Jujur saja, rutin setiap bulan sekali ia harus memeriksakan kesehatan kejantanannya pada dokter kelaminnya, tanpa diketahui oleh Hanaria, karena tagihannya akan dibayarkan oleh kakak kembarnya Billy yang selalu geleng-geleng kepala setiap kali tagihan itu masuk ke ponselnya. Willy mulai rutin melakukan hal itu seminggu sebelum menikahi isterinya.


"Apakah aku salah bicara? Maafkan aku," Hanaria tersadar, saat mendapatkan tatapan Willy seolah ingin memberi hukuman berat padanya.


Willy sebenarnya tidak mempermasalahkan apa yang diucapkan isterinya itu, hanya saja perkataan Hanaria sedikit menggelitik perasaannya.


"Oh, bibir ini perlu dididik dulu," ucap Willy gemas, seraya melahap rakus bibir pink isterinya. Sebenarnya, ia pun sadar, Hanaria hanya menjawab ucapan tidak pentingnya yang sempat ia lontarkan sebelumnya.


Hanaria mendorong dada Willy, hingga tautan mereka terlepas. "Kau membuatku tidak bisa bernafas," protes Hanaria, nafasnya terdengar memburu dan terengah-engah.


Willy terkekeh, "maafkan aku," ia menyentuh bibir pink isterinya dengan jarinya, mengusapnya lembut dengan penuh hasrat, lalu kembali menurunkan wajahnya hingga bibir keduanya kembali bertemu.


Kali ini Willy tidak bersikap seperti sebelumnya, ia memberikan sentuhan selembut mungkin, sesuai yang disukai isterinya. Hanaria melingkarkan sepasang tangannya dileher suaminya, menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka hingga sekian lamanya.


Suara cecapan-cecapan bibir kembali menggema, mengalun dipagi yang semakin terang dan menghangat itu, Willy melepaskan pagutan mereka dan mulai menuruni lekukan-lekukan leher yang meninggalkan geli-geli ķenikmatan bagi pemiliknya.


Willy menghentikan gerakannya saat wajahnya membenam diantara kelembutan dua gunung yang semakin hari semakin berisi dan membesar seolah menantangnya.


Dengan senyum mengembang, Willy mengangkat sedikit wajahnya dan mulai mencicip salah satu puncaknya, memainkan dengan lidahnya yang mencecap, menghisap dan sedikit menggigit, membuat pemiliknya menggeliat-geliat menahan rasa geli, sedikit sakit akibat sambaran gigitan nakal Willy dan berbagai rasa nikmat lainnya yang tidak mampu tergambarkan.


Bibi Salu menahan tangannya yang sudah melambai ke udara, siap mengetuk pintu kamar Willy dan Hanaria, untuk membangunkan kedua majikannya yang sudah kesiangan menurutnya.

__ADS_1


Suara-suara itu terdengar sangat jelas namun asing ditelinga bibi Salu yang lanjut usia namun masih perawan dan polos itu. Ia berpikir sejenak, walau sedikit bimbang, dirinya akhirnya tetap melanjutkan mengetuk pintu dengan hati-hati.


Tok. Tok. Tok.


Bibi Salu berhenti sebentar, memasang telinganya dengan baik, berusaha mendengarkan suara dari dalam sana, tidak ada jawaban. Hanya suara-suara asing itu lagi yang masih mendominasi.


Mungkin mereka tidak mendengar batinnya, karena ketukan pintunya terlalu pelan.


Tok! Tok! Tok!


Kali ini bibi Salu lebih mengeraskan ketukan pintunya, berharap kedua majikannya mendengar, karena jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi kurang lima menit, itu sudah sangat kesiangan, dan dipastikan sudah terlambat berangkat kekantor.


Bukannya jawaban yang bibi Salu dapatkan seperti yang dirinya harapkan, suara-suara asing itu malah semakin kencang menggema mengalahkan ketukan pintu yang dilakukannya, bahkan suara majikan perempuannya yang semula sedikit samar-samar kini mulai meneriakan nama majikan laki-lakinya berkali-kali. Tidak sampai disitu saja, sang majikan laki-laki seolah tidak mau kalah, turut meneriakan nama sang majikan perempuan, sehingga keduanya terdengar saling berbalas-balasan.


"Aghhh!"


"Aaaggggghhhh!"


"Tuan...!"


"Nona....!"


"Apa yang terjadi!" Teriak bibi Salu.


"Apa Tuan dan Nona baik-baik saja didalam sana?!" kembali bibi Salu berteriak khawatir sambil mengetuk-ngetuk pintu kisruh.


Tidak ada jawaban, suara-suara ribut seperti sebelumnya juga sudah tidak terdengar lagi. Hanya ada keheningan didalam sana, seperti tidak ada manusia, dan tidak terjadi apa-apa. Bibi salu semakin khawatir dan kembali mengetuk pintu dengan rusuh.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Tuan! Nona! Apa kalian baik-baik saja!" panggil bibi Salu lagi dengan nada khawatirnya.


Masih belum ada jawaban, bibi Salu semakin khawatir lalu kembali mengetuk-ngetuk pintu dengan rusuh dan memanggil kedua majikannya sambil mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.


"Iya Bibi!"


"Kami baik-baik saja!"


"Baru selesai membuat anak-anak kembar!"


Bibi Salu merasa lega setelah mendengar suara Willy dari dalam sana sambil mengelus dadanya sendiri. Ia terdiam sebentar, mencerna kalimat terakhir dari majikan laki-lakinya itu.


"I-iya Tuan, maafkan saya. Saya sudah menyiapkan sarapan, dan sekarang sudah pukul delapan tepat Tuan" sahut bibi Salu.


"Iya Bi, nanti kami keruang makan sebentar lagi!" kata Willy setengah berteriak dari dalam kamar.


Setelah mendengar jawaban Willy lagi, bibi Salu segera bergegas meninggalkan depan pintu. Jujur saja ia cukup merasa ngeri. Ternyata membuat anak begitu sulit, sampai harus berteriak-teriak menyebutkan nama pasangan masing-masing, batinnya. Seperti film-film kolosal mandarin yang pernah ia tonton, saling serang dengan pedangnya masing-masing, lalu berteriak meregang nyawa saat tertikam pedang masing-masing.


Itu sebabnya, sampai kini ia masih setia melajang, tidak ingin melakukan hal-hal sulit saat menikah dengan pasangan.


Sementara didalam kamar sana, Hanaria sedang membekap mulut Willy dengan kedua tangannya sambil berbaring manja diatas tubuh suaminya.


"Kenapa kau bicara seperti itu pada Bibi Salu Willy?" ucap Hanaria dengan wajahnya yang memerah, merasa malu bila bibi Salu tahu apa yang sedang dirinya dan Willy lakukan di pagi hari itu.


"Supaya lain kali bibi Salu tidak terlalu khawatir seperti tadi," sahut Willy enteng.


"Tapi kau tidak perlu mengatakan kita sedang membuat anak kan, masih banyak hal lain yang bisa kau katakan selain kata-kata itu," protes Hanaria.


"Kau tidak tahu sepolos dan semurni apa pikiran bibi Salu, itu sebabnya aku harus bicara apa adanya," kata Willy sambil mengusap lembut rambut isterinya.

__ADS_1


"Kalau bibi Salu mengerti apa yang sedang kita lakukan, dia tidak akan mengetuk kamar kita berulang-ulang seperti tadi setelah mendengar berbagai suara yang sengaja kita perdengrkan," sambung Willy lagi.


Bersambung...👉


__ADS_2