HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
264. Minta Resign


__ADS_3

Rasa sesak, gerah, dan kusut-sekusut-kusutnya kini tengah melanda otak Willy yang menatap layar laptop milik asisten David, sementara telinganya tetap setia mendengarkan semua penjelasan yang disampaikan pria itu.


Sebagai seorang CEO, juga salah satu pemilik perusahaan keluarga Agatsa yang ternama, Willy sudah terbiasa menghadapi berbagai masalah pekerjaan dalam bisnis perusahaan mereka, baik itu dari pegawai sendiri, para petinggi perusahaan, hingga terpaksa harus berbenturan langsung dengan organisasi masyarakat, namun diperusahaan pengalihan nyonya Mingguana pada isterinya, ini kali pertama ia melihat permasalahan bagai benang kusut yang sulit di urai.


Kenapa harus ditangan Hanaria semua kebobrokan itu terbuka? Kenapa tidak saat ada dalam genggaman wanita jelmaan monster itu? Rutuk Willy geram dengan rahangnya yang mengeras.


"Sekarang saya bisa bernafas lega." asisten David mengulas senyumnya lalu menyandarkan punggungnya pada jok dibelakangnya.


"Kau bisa tersenyum lega, tapi otakku sekarang menjadi kusut dan carut-marut," ucap Willy sedikit tidak senang. Perkataan asisten David seolah sedang mengejeknya.


Entah mengapa, bukannya meralat ucapannya atau meminta maaf, asisten David malah terkekeh senang, ia sepertinya lupa berhadapan dengan siapa sekarang.


"Apa kau mulai tidak waras?" tanya Willy heran, dengan mendelikan matanya menatap asisten David yang duduk disebelahnya dengan begitu santainya. Asisten David terus saja tertawa seakan ucapan Willy adalah angin lalu yang hampa.

__ADS_1


Untuk selanjutnya, Willy tidak berkomentar lagi pada sikap aneh yang ditunjukan asisten David, ia malah kembali sibuk memperhatikan data-data yang tertera di layar laptop dengan teliti, hingga akhirnya asisten David yang sudah merasa puas menghentikan tawanya.


"Maafkan saya Tuan," akhirnya kata itu baru bisa terlontar dari mulut asisten David. "Saya tidak keberatan bila Tuan mau menghukum saya." ungkapnya lagi.


"Kau bukan pegawaiku asisten David, jadi aku tidak ada wewenang untuk menghukummu. Aku lebih senang kau tertawa seperti tadi dari pada kau harus menangis." Willy menjauhkan wajahnya dari layar laptop dihadapannya, lalu ikut menyandarkan punggungnya pada jok dibelakangnya.


"Menurutku, mentalmu sangat bagus." puji Willy memandang kearah asisten David.


"Benarkah?" asisten David masih terduduk santai di sebelah Willy, rasa sungkan yang ia tunjukan sebelumnya pada Willy sebagai suami sang Nona majikaannya menguap begitu saja setelah ia tertawa lepas sesuka hatinya tadi. "Tapi saya merasa seperti orang gila Tuan," imbunya tanpa beban.


"Saya minta resign saja Tuan," ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut asisten David.


Willy tertegun. Kalau dirinya jadi pria itu, mungkin resign adalah pilihan yang terbaik.

__ADS_1


"Cukup anak perempuan pertama saya saja yang berkebutuhan khusus, jangan sampai saya juga mengalami nasib yang sama karena pekerjaan, Tuan. Kasihan isteri saya bila harus merawat dua orang yang berkebutuhan khusus." ungkap asisten David memberi alasan.


Willy masih tertegun. Sementara asisten David membereskan laptopnya dan menyimpannya kedalam tas.


"Aku tahu ini sulit. Tapi aku memintamu untuk tetap bertahan pada posisimu asisten David. Aku yakin, Hanaria juga tidak akan setuju bila kau memutuskan untuk resign mendadak seperti ini." Willy kembali menepuk punggung asisten pribadi isterinya itu pelan.


"Setidaknya, setelah kau menceritakan semua garis besarnya padaku tentang permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan-perusahaan itu, malam ini kau bisa tidur dengan lebih nyaman dari sebelum-sebelumnya." ungkap Willy pelan.


"Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak saat ini, tapi aku akan mengatakan semuanya dengan pelan pada Nona majikannmu," janji Willy. "Jadi, aku memintamu untuk bertahan dulu untuk sementara waktu, sampai Hanaria tahu dan memutuskan apa tentang permintaanmu yang ingin resign."


Willy kembali menepuk punggung asisten David pelan. "Sekarang pulanglah. Dan hati-hati dijalan," setelah berkata demikian, ia keluar dari mobil itu diikuti asisten David yang berpindah duduk didepan, dibelakang kemudinya.


Willy mengangguk, begitu mendengar asisten David membunyikan klakson mobilnya. Perlahan, mobil yang dikemudikan David merayap meninggalkan Willy yang masih berdiri menatap kosong pada mobil yang menghilang diluar gapura rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2