
Pesanan menu makan siang sudah datang, dan tersaji rapi diatas meja, oleh pelayan restoran. Mata Hanaria langsung berbinar, rasa laparnya semakin menjadi - jadi.
"Ayo dimakan........" Reymon mempersilahkan Hanaria dan Shasie dengan ramah. Hanaria yang sudah lapar, langsung melahap makanannya, demikian juga dengan Reymon.
Shasie menatap menu makan siang yang rata - rata berbahan ikan air tawar itu. Ia memang sering melihat Hanaria memakannya, saat ia dan teman - temanya makan siang bersama dikantin kantor, namun dirinya tidak pernah mencicipinya satu kalipun.
Patin Goreng Asam Manis
Ikan Bakar Patin kecap
Nila Goreng Bumbu Pedas
Nila Bakar Bawang
Ikan Gabus Balado
Tumis daun pepaya
Tumis Kangkung
__ADS_1
Tumis Terong
"Shasie, ayo dimakan.........." Ucap Reymon lagi, saat dilihatnya Shasie hanya memandang piring - piring saji diatas meja, tanpa sedikitpun berusaha mengambilnya.
"Ahh...... I..... Iya mas Rey......." Shasie tergagap. Ia menatap semua menu makan siang yang telah dipesan oleh Hanaria, dan Reymon, semua serba pedas, baik lauknya, maupun pauknya.
Ada patin goreng asam manis, patin bakar kecap, Nila goreng bumbu pedas, Nila bakar bawang, ikan gabus balado, tumis peoaya, tumis kangkung, dan tumis terong pedas.
Shasie mulai mengambil sayur pepaya, dan memasukannya kedalam piringnya. Seumur hidupnya, Shasie belum pernah mencicipi sayur itu, ia menyendoknya sedikit dan memasukannya kedalam mulutnya, mengunyahnya perlahan - lahan.
Wajah Shasie langsung berubah, matanya sedikit menyipit dengan wajah meringis, merasakan rasa pahit yang sangat tidak ia sukai. Namun, Shasie berusaha untuk menelannya dengan susah payah.
Shasie mengambil air mineral dan menuangkannya dengan cepat kedalam gelasnya, dengan buru - buru ia meneguknya untuk menghilangkan rasa pahit dirongga mulutnya.
Ia menatap sekilas kearah Hanaria dan Reymon yang sedang asik menikmati hidangan makan siang mereka. Mereka terlihat begitu menikmati, dan sangat lahap.
Shasie kembali melihat piring - piring saji, ia bergidik melihat lauk - pauk semuanya dihiasi lombok. Jujur, dirinya bukan penyuka makan pedas. Ia kembali mengambil ikan gabus balado, memasukannya kedalam piringnya. Saat ikan itu berhasil masuk kemulutnya, Shasie langsung mengipas - ngipas mulutnya dengan tangannya, ia merasa kepedasan. Hanaria langsung mengambil gelas milik Shasie dan memberikannya pada temannya itu.
"Ayo cepat diminum Shasie......." Ucap Hanaria. Shasie langsung meneguk minumannya hingga habis.
"Tidak Hana...... aku bisa kok, memakan semuanya ini......." Ucap Shasie, sambil melirik pada Reymon yang fokus pada piringnya, ia berusaha menunjukan bahwa dirinya juga bisa makan ikan dan sayuran seperti halnya Hanaria dan juga Reymon.
"Terserah kau saja Shasie......." Ucap Hanaria menyerah, ia tahu bahwa sahabatnya itu hanya memaksakan dirinya, selama ini ia tidak pernah melihat Shasie makan apapun jenis ikan, apalagi sayur - sayuran.
Hanaria menatap sejenak wajah Reymon, yang duduk berseberangan dengannya, yang menjadi penyebab Shasie melakukan semuanya itu. Pria itu, dia memang cukup tampan, dengan lesung pipit yang menggapit kedua pipinya, rahangnya yang tegas tidak mengurangi keteduhan wajahnya. Pantas saja, pertemuan pertama mereka, membuat Shasie berusaha menarik perhatian pria itu, walau harus berusaha sekuat tenaga memakan yang tidak biasa ia makan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Hana? Apakah hari ini mas terlihat rakus?" Kelakar Reymon sambil tertawa kecil, saat tidak sengaja ia menangkap basah, Hanaria yang sedang memandangi wajahnya. Hanaria ikut tertawa kecil mendengar candaan Reymon, pria itu semakin terlihat tampan, apalagi sedang tertawa.
"Aku juga makannya rakus mas....... Lihat, piringku sampai licin....." Ucap Hanaria ikut berkelakar. Reymon melihat piring dihadapan Hanaria yang memang sudah bersih, tanpa ada satu butirpun nasi yang tersisa. Lalu dipiring satunya lagi, hanya menyisakan tulang belulang goreng ikan nila pedas, dan beberapa sisa cabe merah.
"Kalau begitu caramu makan...... kasian kucing, tidak kebagian Hana......." Reymon kembali tertawa kecil.
"Uhukkk........ Uhuukkk........ Uhuuuukkkk......." Shasie terbatuk - batuk.
"Kàu kenapa Shasie??" Tanya Hanaria khawatir.
__ADS_1
"Aku..... ketulangan Hana........" Sahut Shasie masih terbatuk - batuk, dengan wajah memerah dan air mata menggenang dikelopak matanya.
"Ayo, aku temani kau ke toilet sekarang Shasie......" Hanaria segera berdiri dan menggandeng punggung Shahie menuju toilet, ia tidak lupa membawa botol mineral dan tas Shasie ditangannya. Reymon turut khawatir melihat sahabat Hanaria itu.
Sesampainya ditoilet, Shasie berusaha mengeluarkan tulang yang ada diujung tenggorokannya. Hanaria berusaha menolongnya, dengan memukul pelan tengkuk Shasie.
"Dasar......! duri ikan bandel, gak mau keluar - keluar........!" Shasie mulai menangis, untuk beberapa detik berlalu, tulang ikan itu tidak mau keluar dari ujung tenggorokannya, walau ia berusaha terbatuk - batuk dengan keras sampai mengeluarkan banyak lendir dari mulutnya.
"Shasie..... buka mulutmu........!" Perintah Hanaria.
"Untuk apa Hana?" Tanya Shasie masih menangis, tenggorokannya terasa semakin sakit dan perih akibat gesekan tulang.
"Ikuti saja Shasie sayanggg...... sahabat cantikku yang imut......" Sahut Hanaria, sambil membersihkan tangannya menggunakan cairan sabun dan membilasnya dengan air dikran wastafel.
Shasie menurut, ia membuka mulutnya lebar - lebar. Hanaria langsung memasukan jari tengahnya yang panjang kedalam mulut Shasie hingga menyentuh ujung tenggorokannya.
"Tahan ya Shasie, aku akan mengeluarkan duri ikan dari tenggorokanmu ini." Ucap Hanaria, sambil mencari keberadaan tulang ikan. Begitu tangannya menemukan, ia berusaha mencuil untuk melepaskannya, hal itu membuat mata Shasie mendelik karena ingin muntah.
Hanaria akhirnya berhasil mengeluarkan tulang ikan itu dari tenggorokan Shasie, Shasie yang sudah tidak tahan lagi, langsung memuntahkan semua makanan yang telah dimakannya dengan susah payah dan penuh perjuangan. Perutnya kian bergolak, berkali - kali ia mengeluarkan isi perutnya, hingga salivanya terasa pahit.
Hanaria segera memberikan botol mineral yang telah dibukanya pada Shasie, lalu memijat tengkuk sahabatnya itu hingga kepunggungnya, dan mengolesnya dengan minyak kayu putih sedikit, yang ia ambil dari tas kerja Shasie.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Shasie?" Tanya Hanaria sambil menatap Shasie, dan membantu membersihkan wajah yang penuh dengan air mata dan sedikit cairan meleleh dari hidungnya.
"Sudah enakan Hana...... tenggorokanku sudah tidak sakit lagi, setelah duri ikan bandel itu keluar dari mulutku. Itulah sebabnya aku tidak suka makan ikan Hana, banyak durinya, aku tidak pandai memilahnya." Sungut Shasie dengan wajah yang masih terlihat kusut.
" Aku sudah mengatakan padamu Shasie, kau tidak perlu memaksakan dirimu, kau makan saja apa yang bisa kau makan, supaya kau tidak perlu merasakan hal seperti ini." Ucap Hanaria, masih membersihkan wajah Shasie dengan tissue.
"Lihat....... Make - Up mu sampai luntur semua......." Hanaria tidak sengaja tergelak, membuat Shasie mengerucutkan bibirnya.
"Namanya juga usaha Hana.......?" Ucap Shasie ringkas.
"Usaha sih usaha Shasie sayangggg....... Tapi tetaplah jadi dirimu sendiri. Jangan berusaha menjadi seperti orang lain, itu akan membuatmu lelah, dan membahayakan dirimu sendiri. Contohnya saja tadi........ kau ketulangan saat makan, sampai semua make - up mu itu luntur tidak karuan seperti ini." Ucap Hanaria, dengan tawanya yang masih tersisa.
"Jangan menertawaiku Hana....... Tetangga dusunmu itu memang membuatku terpesona padanya saat pandangan pertama. Aku akan tetap belajar makan ikan dan sayur - sayuran, demi mas Reymon." Ujarnya terlihat jujur.
__ADS_1