
Moranno tertegun mendengar keputusan yang diambil Hanaria. Ini lebih mengejutkan dari langkah yang pernah diambil menantunya itu saat menerima pernikahannya dengan Willy beberapa bulan lalu. Ia masih memegang lembaran tulisan tangan milik menantunya.
Ia menatap wajah Yurina yang nampak cemas, dan ia sangat tahu apa alasan wajah isterinya jadi seperti itu. Sepanjang malam Yurina sudah menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi bila menantu mereka akan mengambil keputusan yang sebenarnya tidak mereka harapkan.
Moranno melirik Willy yang duduk disebelah isterinya, wajah putranya itu tidak jauh berbeda dengan sang ibunda, walau berusaha bersikap tenang, roman kekhawatiran tetap dapat terlihat dari wajah tampannya.
"Daddy sebenarnya sudah berencana merekrutmu kembali di perusahaan keluarga kita, mengembalikanmu pada posisimu saat kau mengajukan resign, Wakil Kepala Divisi Arsitektur." ucap Moranno memandang kearah menantunya.
"Itu memang bidangmu Hana, dan harapan Daddy, kau bisa menggantikan tuan Doffy saat ia pensiun nanti," ujar Moranno lebih lanjut.
"Terima kasih banyak Dad, karena sampai hari ini Daddy masih mempercayaiku memegang tugas itu," ucap Hanaria terharu.
"Daddy rasa, sayang sekali bila ilmu yang telah kau pelajari bertahun-tahun itu disimpan, tidak kau gunakan lagi. Seperti sebilah mata pisau, bila tidak diasah, pisau itu akan menjadi tumpul, dan lebih parahnya lagi, mata pisau itu akan berkarat." ucap Moranno memberi perumpamaan.
Penuturan ayah mertuanya itu, langsung mengena kedasar hatinya, membuat Hanaria harus menelan salivanya dengan susah payah. Tidak ada yang salah dari ucapan sang mertua idola-nya itu, namun Hanaria merasa tersudut oleh pemahamannya sendiri, seolah ia menyia-nyiakan ilmu yang telah dimilikinya dari jerih lelah orang tuanya yang turut mendukungnya dengan kerja keras mereka sebagai petani dikampung.
"Hana, kau boleh membantu semua orang yang membutuhkan uluran tanganmu, tapi tidak harus berkorban segala-galanya dari hidupmu, cita-citamu, dan keluargamu," lanjut Moranno memandang kearah menantunya yang sedikit menunduk.
"Bukan tanggung jawabmu melindungi bayi mendiang Firlita. Bayi itu masih ada ayah dan neneknya, walau mereka saat ini sedang dalam penjara,"
__ADS_1
"Nyonya Mingguana tahu, bila dirimu sangat sayang pada mendiang Firlita, dan akan hal itu, ia sudah pernah memanfaatkan kebaikanmu itu. Dan sekarang dengan cucunya, ia kembali berusaha memanfaatkanmu untuk kepentingannya," ucap Moranno dengan nada memperingatkan. Setelah berkata demikian, ia menghirup tehnya dan menyesapnya sedikit demi sedikit.
Hening sesaat, Hanaria mendongakkan wajahnya sedikit, melihat kearah sang ayah mertua yang masih menikmati tehnya, demikian pula dengan ibu mertuanya.
Sementara Willy yang berada disebelahnya tetap duduk tenang dan menatap lurus kedepan, memperhatikan beberapa pelayan yang sedang sibuk sore itu menata taman agar tetap terlihat rapi dan sedap dipandang mata.
"Daddy-," Hanaria nampak ragu mengungkapkan apa yang ada dihatinya, ia juga terlihat sedikit gugup.
Willy menoleh pada Hanaria, ia meraih tangan kanan isterinya itu dan meletakannya diatas pangkuannya sambil mengelusnya dengan lembut.
"Katakan saja apa yang ada didalam hatimu Hana, jangan ragu, jangan menyimpan sendiri apapun itu dariku dan dari Mommy, juga dari Daddy, supaya kami bisa menolongmu," ucap Willy lembut.
"Heum," angguk Hanaria memaksakan senyum dibibirnya.
"Aku tahu, Daddy dan Mommy, juga Willy sangat menghawatirkanku."
"Bayi Elvano, walau tanpa pengadilan, aku bisa mengadopsinya dengan mudah karena bayi itu belum memiliki identitas apapun yang melekat padanya,"
"Dan aku tidak lupa, kalau darah lebih kental dari air. Dan sewaktu-waktu bila nyonya Mingguana mau, dia bisa saja menyerangku dengan test DNA-nya,"
__ADS_1
Mendengar penuturan Hanaria, Moranno dan Yurina menatap lekat wajah menantu pertamanya itu.
"Itu sebabnya, aku berusaha menutup semua celah agar nyonya Mingguana tidak bisa mengganggu-gugat apapun yang sudah kulakukan."
Hanaria kembali berdiam diri sejenak, berusaha menyusun kata-kata yang akan ia katakan kemudian.
"Termasuk menerima persyaratan nyonya Mingguana," ucap Hanaria dengan sangat hati-hati.
Walau ucapan Hanaria itu adalah pengulangan apa yang telah dikatakannya diawal pertemuan mereka sore itu, namun bagi Moranno dan Yurina, juga Willy, perkataan Hanaria itu adalah bentuk penegasan atas apa yang telah ia putuskan sebelumnya.
Walau tidak bersamaan, Hanaria dapat melihat, ketiga orang yang ia hormati dan cintai itu mengambil napas berat dan mengeluarkannya perlahan-lahan sambil menatap ketaman luas yang ada dihadapan mereka, dimana para pelayan masih terlihat melakukan pekerjaan mereka.
"Aku tidak akan berani mengambil keputusan ini bila diriku bukan menantu Daddy dan Mommy, dan juga bukan isteri dari Willy," sambung Hanaria kemudian membuat mereka bertiga kembali menoleh kearahnya dengan raut penuh tanya.
"Aku tahu, bukan perkara mudah memimpin perusahaan. Satu perusahaan saja sangat sulit, apalagi lebih dari satu. Jadi aku butuh Daddy dan Willy untuk membantuku," kembali ucapan Hanaria membuat ketiganya saling berpandangan.
"Hana, dalam dunia bisnis, ada kode etik yang tidak boleh kita langgar sebagai seorang pengusaha, orang luar tidak boleh tahu anggaran dasar dalam rumah tangga suatu perusahaan apalagi harus ikut campur didalamnya. Itu sangat tidak diperkenankan," ungkap Moranno.
"Iya Dad, aku mengerti. Aku tidak akan melibatkan baik Daddy maupun Willy lebih dalam, tapi hanya bagian luarnya saja, misalnya memberikan aku nasihat dan masukan," jelas Hanaria.
__ADS_1
"Dan persyaratan nyonya Mingguana itupun akan kuterima, bila apa yang telah aku tuliskan inipun diterima pula oleh dirinya," ucap Hanaria lagi menunjuk lembaran kertas diatas meja taman yang telah dibaca oleh Moranno juga.
Bersambung...👉