
"Kau-, kau salah faham Willy, gaun ini, mommy yang menyiapkannya untukku," kilah Hanaria gugup.
"Benarkah? Oh, kalau begitu aku harus berterima kasih pada mommy, karena sudah menyiapkan untuk isteriku gaun yang seperti ini, mudah dilepas," bisik Willy diakhir kalimatnya, bibir-nya sengaja menyentuh daun telinga isterinya itu. Tangannya menyibak geraian rambut Hanaria yang menutupi punggungnya yang terbuka. Wajah Hanaria memerah mendengar kalimat suaminya itu.
"Tolong-, lepaskan tanganmu Willy, aku susah bergerak," pinta Hanaria, ia berusaha melepaskan jari-jemari Willy yang saling bertautan satu sama lain, menguncinya dalam pelukannya.
Tidak terdengar suara jawaban dari mulut Willy yang berada dibelakangnya, karena suaminya itu sudah sibuk dengan kecupan-kecupan ringan dan lembut yang ia lancarkan pada bagian tengkuknya. Sentuhan-sentuhan lembut Willy, membuat bulu-bulu halus dikulit Hanaria mulai meremang.
"Willy, jangan lakukan ini sekarang, ngghhh-, kumohon," lirih Hanaria berusaha memberi penolakan saat dirasanya hembusan panas dari nafas Willy.
Hanaria berusaha keras menahan gejolak yang mulai menjalar didalam tubuhnya akibat dari sentuhan demi sentuhan bibir basah suaminya pada setiap inchi tulang tengkuknya hingga menuju kepunggungnya yang terekspos.
Model belahan gaun Hanaria yang terbuka dari leher hingga mencapai atas pinggul-nya memudahkan Willy menelusupkan sepasang tangannya menyentuh perut ratanya, bermain disana sebentar, membenamkan dua jari telunjuknya pada pusaran perut hingga Hanaria merasa kegelian dibuatnya.
Setelah merasa cukup bermain-main disana, tangan Willy mulai naik dan meraba-raba keatas. Dengan sigap Hanaria menahan tangan Willy yang mulai nakal dan mencubitnya sekencang-kencangnya dari balik gaunnya," hentikan tangan tidak senonoh-mu ini!" gertak Hanaria.
"Aghhh!"Willy memekik, menahan rasa perih pada punggung tangannya yang dijepit jari Hanaria dengan keras.
"Keluarkan tanganmu dari dalam sana, atau aku akan mematahkan jari-jarimu itu!" ancam Hanaria, sambil menetralkan semua rasa yang tengah bergelora didalam jiwanya.
Dengan terpaksa Willy mengeluarkan sepasang tangan nakalnya itu dari balik gaun sang isteri galaknya. Wajahnya terlihat frustrasi, ini kali ketiga kegagalannya, dan selalu berakhir penolakan Hanaria. Entah dengan cara apa lagi ia harus menaklukan hati isterinya itu.
"Kau kejam sekali padaku Hana," sungut Willy memasang wajah memelasnya supaya dikasihani, berusaha mencari cara mendapatkan hati isterinya itu dengan mengelus-elus rambut Hanaria. Namun dengan gaya acuhnya, Hanaria berbalik sambil mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Willy tanpa sengaja.
__ADS_1
"Mandilah, aku tidak mau tidur seranjang denganmu malam ini bila kau bau. Aku suka suami yang wangi, bersih, dan tampan," ucap Hanaria mengikuti gaya bahasa yang sering dilontarkan Willy padanya. Willy langsung tersenyum mendengar perkataan Hanaria yang menirunya.
"Baiklah, aku akan segera mandi, lalu kita lanjutkan lagi apa yang harus kita lanjutkan," ucap Willy penuh harapan sambil tersenyum senang.
Hanaria mengelus dadanya merasa lega, sembari mengambil nafas dan kembali melepaskannya, saat Willy meninggalkannya dan masuk kekamar mandi, kali ini dia masih bisa lepas, entah berikutnya, ia tidak tahu.
"Maafkan aku, isteri yang kau katakan kejam ini," guman Hanaria. Ia mengambil tas jalannya dan membawanya kesofa. Hanaria mulai memeriksa ponselnya yang sepanjang hari ini ia abaikan karena dalam perjalanan menuju Villa bersama Willy suaminya.
Wajah Hanaria terlihat menegang, saat ia membuka satu demi satu notifikasi yang masuk keponselnya sepanjang hari itu.
"Kenapa wajahmu terlihat tegang," tanya Willy sembari mendekati Hanaria, ia baru saja menyelesaikan mandinya, handuknya masih terlilit dipinggangnya.
"Ini, banyak sekali tagihan yang masuk keponselku atas namamu Willy," tunjuk Hanaria pada Willy yang langsung mengambil tempat duduk disamping isterinya.
Aroma wangi tubuh dan rambut Willy yang baru selesai mandi sempat mengalihkan perhatian Hanaria, membuat ia menoleh pada suaminya itu. Buliran-buliran air yang jatuh dari rambut Willy menimpa pundak dan dadanya yang telanjang membuat suaminya itu terlihat seksi dan semakin tampan dimatanya. Hanaria menelan salivanya, hatinya bergetar, saat Willy duduk merapat disampingnya untuk melihat ponsel yang sedang ditunjukannya.
"Hana, kau tunggu sebentar disini, aku akan mengambil tabletku," ucap Willy sembari berdiri. Hanaria menghembuskan nafasnya lagi, tersadar dari apa yang sedang ia fikirkan dalam kepalanya.
"Sepertinya aku sudah mulai tidak waras," ucap Hanaria sambil menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangannya, berusaha menyadarkan dirinya dari hayalan panasnya.
"Apa yang membuatmu tidak waras Hana?" tanya Willy melirik sebentar kearah Hanaria, lalu kembali fokus mengambil tabletnya dari dalam koper yang belum sempat ia keluarkan sebelumnya.
"Hmm itu- , sebenarnya tidak ada apa-apa, aku hanya asal bicara, mungkin karena sedikit lelah," Hanaria nampak bingung menjawab pertanyaan Willy, ia pasti sangat malu bila berterus terang pada suaminya itu, karena sok menolak keinginan suaminya namun tetap memikirkan hal-hal yang aneh tentangnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, setelah ini kita harus segera beristirahat," ucap Willy sembari mendekat, dan kembali mengambil tempat disamping Hanaria dengan posisi yang sama, merapat pada tubuh Hanaria.
"Eugghh," Hanaria mendesah didalam hati, merasakan debaran-debaran itu kembali menjalar dalam dirinya.
"Lihat ini," Willy menunjuk beberapa daftar dalam tablet yang baru ia buka.
Willy mulai menjelaskan satu persatu daftar tagihan bulanannya yang harus dibayar oleh Hanaria pada setiap tanggal diakhir bulan selama jangka waktu yang bervariasi, ada yang dua tahun, lima tahun, dan tujuh tahun, itu yang paling lama.
Hanaria membeku, dari keempat item tagihan itu, semuanya bersumber dari sepuluh point permintaannya, yang ia ajukan dulu, sehingga dirinya akhirnya bisa setuju menikah dengan Willy. Mulai mahar satu triliun sampai biaya pernikahan, hingga permintaan satu unit manssion mewah. yang sudah mulai berjalan pembangunannya.
Dan keempatnya, semua nilainya sangatlah fantastik menurut Hanaria, mulai dari yang terkecil, enam digit nol dibelakang dua angka hingga yang delapan digit nol dibelakang satu angka.
"Apakah uangmu cukup membayar semua tagihan ini?" tanya Hanaria ragu, takut suaminya itu tersinggung, namun hal itu harus ia tanyakan karena tagihan suaminya itu sepenuhnya telah menjadi tanggung jawabnya yang telah dipercayakan memegang keuangan rumah tangganya.
Willy kembali menggeser dan menggulir layar tablet dengan jarinya.
"Ini daftar pemasukanku," Willy memperlihatkan daftar saham miliknya yang ada di dua puluh empat anak cabang perusahaan milik keluarga Agatsa yang tersebar di sembilan belas kota negeri ini lengkap dengan pembagian hasil pertahunnya. Ditambah beberapa insentif keuntungan proyek yang baru bisa diterima setelah proyek dinyatakan selesai.
Hanaria yang sudah terbiasa bermain dengan angka segera menghitung dan memasukan semua daftar pemasukan dan pengeluaran pada tablet Willy yang segera ia ambil alih.
"Minus seratus tujuh puluh tujuh juta perbulannya?" Hanaria mengerutkan keningnya, setelah melihat kekurangan dana yang harus ditutupi suaminya itu.
"Bagaimana kau mencari kekurangan sebanyak itu Willy?" tanya Hanaria menatap kasihan pada suaminya itu.
__ADS_1
"Aku harus berkerja lebih keras lagi mulai sekarang, untuk menutupi semua kekurangan itu," Willy menanggapi dengan santai.
"Lalu bagaimana dengan belanja bulanan? Kalau membayar tagihan-tagihan ini saja kurang? Kita mau makan apa?" Hanaria nampak panik. Ia semakin merasa kasihan pada Willy yang banyak menanggung beban tagihan akibat ulahnya.