HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 91 Boss Aneh


__ADS_3

"Beraninya kau menyentuh barang - barangku tanpa seijinku? Kata siapa itu sampah! Sekarang juga, ambil botol mineral itu!" Ucap Willy dengan nada marah.


"Tapi tuan, saya sudah memasukkannya kedalam tempat sampah....." Sahut sekretaris Morin merasa tidak enak atas kecerobohannya.


"Tetap ambil sekarang dan bersihkan! Lalu bawa kemari......!" Perintah Willy lagi.


"Ba.... Baik tuan......." Sahut sekretaris Morin terbata - bata. Ia segera keluar dari mobil tuannya itu menuju tong sampah dimana dirinya telah membuang botol mineral itu.


Perasaan sekretaris Morin jadi campur aduk, baru saja beberapa jam yang lalu ia begitu bahagia melihat bosnya yang bersikap baik dan manis padanya, saat makan siang direstoran. Kenapa kini, sikap tuannya itu seketika berubah pada dirinya, hanya karena botol mineral kosong yang tidak berharga itu, yang mudah didapatkan dimana saja, pikirnya sedih. Begitu berharganyakah botol mineral sampah itu dibandingkan dirinya, yang sudah memberikan dedikasi penuh dalam bekerja bersama tuannya itu.


Rasanya ingin sekali dirinya meremukkan botol itu, menginjak - injaknya dengan heels sepatunya, namun ia mengurungkan niatnya itu. Ia membawa botol air mineral itu ke kran air yang ada disudut lahan parkir, membalurnya dengan sabun dan membilasnya dengan air. Setelah dirasa cukup bersih, sekretaris Morin lalu membawanya kembali menuju mobil majikannya.


"Ini tuan, botol mineral tuan." Sekretaris Morin menyerahkan botol mineral itu. Willy langsung mengambilnya dan menyimpannya dengan rapi di dashboard mobilnya bagai benda keramat.


Hanaria sempat melirik sekilas botol mineral yang diberikan sekretaris Morin pada Willy, ia tersenyum sinis didalam hati, menurutnya bosnya itu hanya mencari alasan untuk melampiaskan kemarahannya, tidak mungkin hanya karena botol mineral yang kosong, membuat dirinya sampai semarah itu pada sekretaris Morin yang sudah banyak membantunya.


"Boss aneh.......!!!" Teriak Hanaria didalam hati.


...***...


Setelah menurunkan Hanaria dan sekretaris Morin dilobby samping kantornya, Willy langsung memutar kendaraannya, karena waktu sudah menunjukan pukul 5 sore lewat beberapa menit, pertanda jam kerja telah usai.


Ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat, sambil menghubungi seseorang dengan ponselnya. Seperti biasanya, lalu lintas disore itu pun terbilang macet, apalagi jam - jam pulang kerja seperti ini. Jarak tempuh yang seharusnya hanya memakan waktu cukup 20 menit, namun karena kemacetan, membuat jarak tempuh seolah sangat jauh. Setelah 40 menit mengemudikan mobilnya, akhirnya Willy tiba ditempat tujuannya.


Seorang wanita cantik, dengan rambut sebahu, masih menggunakan baju dinas dokternya menghampiri Willy yang berhenti tepat didepan lobby rumah sakit Pemerintah.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Willy, sesaat setelah dokter cantik itu masuk dan duduk disebelahnya.


"Lumayan....... lima menit saja kau tidak muncul...... dapat kupastikan...... ..I will leave you....." Sahut Rosalia, sambil melirik sekilas wajah Willy disampingnya.

__ADS_1


"Alright, I'm sorry, Doctor Rosalia.......kau tau 'kan lalu lintas selalu macet disore hari." Ujar Willy memberi alasan tentang keterlambatannya.


"Baiklah...... aku terima alasanmu Willy...... Sekarang kita mau kemana?" Tanya Rosalia kemudian.


"Kita makan...... aku lapar sekali..... " Ujar Willy sambil menyetir mobilnya dan fokus pada jalan raya didepannya.


"Tidak biasanya kau selapar ini......Dan wajahmu itu tidak seperti Willy yang kukenal, terlihat penuh problematika." Dokter Rosalia memperhatikan wajah Willy yang nampak kusut dan lelah.


Willy.tidak menjawab sepatah katapun, ia hanya bisa menyunggingkan sedikit senyum dibibirnya yang nyaris tidak terlihat saat mendengar ucapan dokter Rosalia pada dirinya sore itu, dalam hati ia membenarkan ucapan sahabatnya itu.


Saat tiba direstoran, Willy dan dokter Rosalia mengambil tempat didekat jendela kaca yang memperlihatkan lalu lintas kota yang masih begitu padat, dari ketinggian lantai dua restoran itu.


Langit diluar sana sudah terlihat gelap. Lampu - lampu kendaraan saling sorot menyorot satu sama lain, dan suara klakson terdengar saling bersahut - sahutan dibawah sana.


Rosalia menatap wajah Willy yang nampak termenung, sambil menunggu pesanan makan malam mereka. Tidak biasanya sahabatnya itu terlihat sepert itu. Kacamata gelap yang biasa ia kenakan ditaruh disisi kiri tangannya.


"Willy, buat apa kau membawaku untuk menemanimu makan malam disini, kalau hanya untuk menonton dirimu yang melamun seperti itu. Kau belum tua Willy, tapj lagakmu seolah - olah menanggung beban yang begitu berat, melebihi daddy kembar." Ujar Rosalia. Ia melihat Willy memperbaiki posisi duduknya.


"Kekantor polisi......? Apa yang kau lakukan sampai berurusan dengan polisi Willy?" Tanya Rosalia dengan tatapan berubah serius, sambil mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang karena kesibukanmu, kau tidak tahu dengan berita yang tengah beredar luas dimasyarakat tentang video diriku dan pegawai perempuanku itu." Sahut Willy berusaha santai.


"Permisi tuan dan nyonya...... pesanan makan malam sudah datang....." Ucap seorang pelayan yang datang bersama seorang temannya, membawa makan malam dinampan mereka masing - masing.


Willy dan Rosalia menjedah ucapan mereka, sambil memperhatikan kedua pelayan restoran itu menyajikan menu makan malam mereka diatas meja dengan tersusun rapi.


"Silahkan tuan dan nyonya......" Ucap salah satu pelayan itu mempersilahkan dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih nona......" Sahut Dokter Rosalie turut tersenyum ramah.

__ADS_1


"Sama - sama nyonya......" Kedua pelayan itu segera undur diri dari meja Willy dan Rosalia.


"Kita makan dulu..... nanti kita lanjut lagi ceritamu itu Willy....." Ujar Rosalia, ia mengambil piringnya dan segera mengisinya dengan menu makanan yang sudah keduanya pesan.


"Bisakah kau mengambil makanan itu untukku?" Pinta Willy menatap Rosalia yang sudah mengayunkan sendoknya keudara, siap menyuapi dirinya sendiri.


"Willy...... Willy...... Gayamu yang slengean itu berlagak manja....... tidak cocok tahu......" Ujar Rosalia sambil menggerutu. Willy tersenyum melihat bibir Rosalia yang mengerucut kesal, namun tetap saja wanita itu mengambil makanan dan memasukkannya kepiring Willy dengan gaya beringas.


Willy hanya tersenyum memandang wajah Rosalia seperti itu, ia sudah terbiasa melihatnya seperti itu sejak mereka sama - sama masih kecil, bahkan hal itu selalu menjadi hiburan baginya.


"Ini....... kau harus menghabiskannya.......!" Rosalia meletakkan piring yang sudah ia isi dihadapan Willy. Pria itu sempat melongo melihat isi piringnya yang menggunung.


"Rosa...... Kau yang benar saja......! Masa isi piringku sampai menggunung seperti ini......?" Ucap Willy dengan wajah terpana melihat nasi, sayuran, sambel, daging, bercampur jadi satu dalam piringnya.


"Bukankah kau tadi mengatakan sangat lapar waktu dijalan, sekarang habiskan itu......" Sahut Rosalia sambil mengunyah makananya.


"Aku memang lapar...... Tapi jangan seperti ini juga Rosa, nanti saat ku ambil, isi piringku bisa tertumpah keluar. Masak CEO perusahaan ternama makannya kaya anak TK....." Ucap Willy dengan wajah merengut.


"Baiklah...... adik bayi kembarku yang manja, kakak Rosa akan menguranginya." Rosalia mengulas senyum saat mengatakan hal itu, ia teringat masa kecilnya bersama Billy dan Willy yang sudah seperti adik baginya.


Willy tersenyum senang saat melihat Rosalia memindahkan sebagian isi piring dihadapannya kedalam piring makan milik dokter cantik itu.


"Terima kasih kakak Rosaaaa..... Kau memang selalu yang terbaikkkk......." Ucap Willy sok bersikap imut.


"Hentikan itu Willy......! Kau sudah berkumis......! Sudah tidak lucu lagi seperti dulu.....! Kau tidak cocok bersikap sok imut seperti itu!" Sergah Rosalia merasa gelianan.


" Berkumis?? Aku tidak berkumis.....! Wajahku bersih......" Ucap Willy sambil meraba wajah diantara bawah hidung mancungnya dan atas bibirnya.


"Itu karena kau sudah mencukurnya Willy, tapi dibagian lain yang tidak kau cukur pasti berkumis." Ucap Rosalia sambil tertawa kecil. Willy yang menyadari arti perkataan Rosalia ikut terkekeh.

__ADS_1


"Dasar....... mulutmu nakal yah.......! Itu sebabnya aku selalu gemas, karena mulut Hanaria seperti mulutmu itu, memang harus mendapat hukum......an......" Willy memelankan kalimat akhirnya, saat dirinya sadar, bahwa secara tidak sengaja ia menyebutkan nama gadis yang sedang berseteru dengannya itu.


__ADS_2