
Tatapan mata Hanaria berbenturan dengan sepasang mata seseorang yang sangat dikenalnya. Ya, sepasang mata berkharisma, penuh pesona di atas panggung, yang menjadi narasumber di acara wisuda pagi itu. Nyonya Mingguana Alhandra Liem yang menjadi tamu kehormatan, diundang khusus oleh universitas karena kepiawaiannya sebagai wanita pembisnis yang tengah menjadi sorotan karena banyak prestasi yang telah dirinya ukir dinegeri ini.
Penampilannya yang begitu bersahaja, elegan, dan berkelas membungkus segala hal yang penuh misteri dalam dirinya, itulah yang terlintas dipikiran Hanaria saat melihat sosok nyonya Mingguana Alhandra Liem diatas panggung podium saat itu.
Beberapa kali Hanaria harus menahan napasnya saat mata mereka saling bertemu. Hanaria tidak menyangka, dirinya dapat bertemu dengan wanita yang menjadi ibu dari pria yang telah menghamili Firlita diacara wisudanya. Setiap lisan yang keluar dari mulutnya terlalu indah dan nyaman untuk didengar, semua orang berdecak kagum termasuk dirinya. Hanaria berharap didalam hati kecilnya, sang narasumber memiliki pribadi seperti apa yang telah ia orasikan didepan para wisuda pagi itu.
Hanaria naik ke panggung podium, saat namanya disebutkan untuk menyampaikan kata sambutan mewakili para wisudawan - wisudawati universitas tempatnya menyelesaikan studi S2 jurusan arsitekture. Ia berhasil menyabet predikat cumlaude diantara ribuan mahasiswa seangkatannya yang lulus tahun ini.
Semua mata tertuju padanya. Hanaria menyapu pandangannya keseluruh ruangan akbar itu, ia mengambil napas sejenak sebelum mengucapkan beberapa kata yang telah ia siapkan dalam kepalanya.
Suara Hanaria terdengar lantang dan menggema memenuhi seluruh sudut ruangan wisuda pagi itu.
Pak Muri dan Ibu Muri menatap putrinya dengan penuh haru dari tempat mereka duduk. Tidak mereka sangka, putri kecilnya yang dahulunya pemalu, penakut, tidak percaya diri, sering bersembunyi diketiak ayahnya setiap kali diantar ke sekolah kini berdiri diatas panggung podium dengan berani dan berbicara dengan lantang, dipercayakan mewakili seluruh wisudawan - wisudawati tahun ini.
"Maraknya kekerasan pada perempuan dan anak - anak, mengharuskan seorang perempuan memiliki pendidikan, selain untuk dirinya, ia juga bisa melindungi, mendidik dan membimbing putra - putrinya setelah berkeluarga. Wanita itu harus berkarya, tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan pasti memiliki pola berpikir yang berbeda dengan wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan saat menghadapi suatu tantangan hidup. Kiranya, ilmu yang kita dapatkan lewat pendidikan ini, sungguh - sungguh dapat kita terapkan sehingga bermanfaat saat kita terjun langsung dalam masyarkat. Tentunya harus didukung dengan akhlak dan etika yang baik. Terima kasih dan apresiasi buat kedua orang tua saya yang selalu memberi dukungan mereka yang terbaik dalam meraih cita - cita saya, hingga saya bisa ada sampai hari ini." Hanaria mengakhiri sambutannya.
Tepuk tangan terdengar menggema mengiringi langkah Hanaria menuruni panggung podium menuju tempat duduk dimana orang tuanya berada.
Sepasang mata tajam dan dingin itu turut menatap Hanaria dari tempat duduknya.
...•••...
Pak Muri dan isterinya menatap wajah putrinya yang baru saja keluar dari kantor polisi pukul 17.00 wita. Mereka sengaja tidak bertanya apapun sebelum putrinya itu siap menceritakan hasil pertemuannya selama dua jam didalam.
"Ayah, ibu..... maafkan Hana ya, Hana terlalu lama didalam." Ucap Hanaria sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
"Tidak apa - apa nak..... yang penting urusanmu selesai." Sahut pak Muri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih ayah.... ibu.... Kita pulang sekarang ya....." Hanaria menghidupkan mesin mobilnya.
Mobil yang dikendarai Hanaria merayap lambat hingga keluar dari area kantor polisi.
Hanaria menambah kecepatan mobilnya saat posisi mobilnya sudah berada dijalan raya.
Ponsel didalam tas ibu Muri berbunyi. Wanita itu segera meraihnya dan mengangkat panggilan masuk dari putranya.
"Hallo Jonly....." Ibu Muri mengaktifkan loudspeaker agar didengar oleh pak Muri suaminya, dan juga Hanaria.
"Hallo juga ibu, apakah ibu bersama Hana?" Tanya Jonly dari ujung sambungan telepon.
"Iya nak..... apakah kau ingin bicara dengan adikmu?" Tanya sang ibu.
"Iya bu......" Sahut Jonly lagi.
"Hallo kak......" Sapa Hanaria. Ia melambatkan laju kendaraan yang dikemudikannya.
"Hallo juga adikku...... Kakak hanya mau mengucapkan selamat atas diwisudanya dirimu hari ini. Kakak sudah jauh tertinggal nih kalau begini caranya, hehehee.... tapi kak Jonly ikut bahagia bersamamu. Kau berhak mendapatkannya, karena ketekunan dan kerja kerasmu Hana."
"Terima kasih kak Jonly...... Hanya pendidikanku saja yang sedikit lebih tinggi kak, tapi aku tetaplah adik kecil kak Jonly yang selalu ingin dimanja.... hee...." Ucap Hanaria merasa senang mendengar suara kakaknya itu.
"Jangan lama - lama menahan ibu dan ayah disana, kakak lagi membutuhkan mereka, kakak iparmu Elina sebentar lagi akan melahirkan. Kakak takut sendirian....." Ungkap Jonly dengan suara serius.
"Jadi kakak menelpon ibu hanya basa - basi mengucapkan selamat padaku. Padahal tujuannya meminta ibu dan ayah segera pulang, begitu....!" Suara Hanaria mendadak ketus.
"Bu..... bukan begitu Hana. Kakak serius dan memang berniat kok memberi ucapan selamat padamu. Tapi ya..... kakak juga butuh ayah dan ibu ada disini saat Elina melahirkan nanti. Kau pasti tahu 'kan bagaimana mengerikan dan menakutkannya seorang wanita yang sedang melahirkan, kakak tidak berani menghadapinya seorang diri......" Sahut Jonly dengan nada dibuat takut.
__ADS_1
"Ih kak Jonly..... bisanya bilang begitu, aku kasih tau kak Elina baru tahu rasa." Ancam Hanaria.
Pak Muri dan ibu Muri hanya tertawa kecil mendengar perdebatan putra dan putrinya. Itu memang sering terjadi sejak mereka kecil hingga dewasa, namun dibalik semuanya itu keduanya saling menyayangi.
"Jangan dong Hana...... Bisa - bisa kakak kena hukuman nanti. Tapi serius nih Hana..... kakak memang benar - benar butuh ayah dan ibu untuk segera pulang, sekarang saja Elina sudah sering mules perutnya."
"Iya..... tenang saja kakakku....." Sahut Hanaria kembali tersenyum.
"Terima kasih Hana...... kau memang adikku yang....... terbaik......!"
Ibu Muri menyimpan ponsel ditangannya kedalam tasnya, sesaat setelah Jonly memutuskan sambungan telepon.
"Bener - bener ya kak Jonly, masakan sampai lupa menyapa ayah....." Ucap Hanaria melirik sang ayah yang duduk disisinya.
"Kakak mu itu sama seperti ibumu Hana. Bicara yang ia perlu sampaikan saja, ya seperti tadi....." Sahut ayahnya yang sudah hapal benar karakter anak - anaknya.
"Nah..... ayah....... kok ibu lagi yang kena......" Ibu Muri spontan menukas.
"Hehehe..... ayah lupa ada ibu yang duduk dibelakang. Maafkan ayah ya bu..... Tapi benarkan bu, Jonly 'kan anak kita, pastilah ada salah satu gen atau sifat kita orang tuannya yang menurun padanya." Sahut pak Muri sambil terkekeh.
"Kita kemana lagi ini Hana?" Tanya pak Muri saat melihat mobil yang dikemudikan Hanaria memasuki area sebuah mall.
"Belanja ayah......" Sahut Hanaria sambil mencari lahan parkir.
"Bukankah dua malam berrurut - turut kita sudah berbelanja beberapa pakaian......" Ibu Muri ikut berbicara dari belakang.
"Ini untuk kak Elina dan calon bayinya bu....." Sahut Hanaria sambil memarkirkan mobilnya dilantai paling atas mall itu.
__ADS_1
...•••...