HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 114 Identitas


__ADS_3

"Sejak awal, saya sudah tidak menyetujui ide anda nyonya, untuk membawa Firlita tinggal dirumah anda itu. Karena disana juga ada putra anda tuan Mahendra."


"Saya hanya menginginkan anak yang ada dalam kandungan Firlita itu memiliki identitas yang jelas setelah dia lahir. Tanpa identitas, bagaimana dia bisa hidup ditengah - tengah masyrakat nantinya."


"Jangan fikir, karena nyonya dan putra nyonya tuan Mahendra, adalah orang yang kaya raya, maka saya bersikeras menikahkan Firlita dengannya. Sekalipun laki - laki yang telah menghamili adik saya itu bukanlah siapa - siapa, saya akan tetap menikahkan untuk mendapatkan kejelasan identitas bayi yang tidak berdosa itu.


"Mengenai biaya dan lain sebagainya dalam membesarkan bayi itu, kami sanggup, kami akan berkerja keras, walau tidak ada bantuan dari nyonya, juga tuan Mahendra."


"Setelah Firlita membaik, dan pulang dari rumah sakit ini, saya tidak akan mengijinkannya kembali kerumah nyonya, dia akan pulang dan tinggal bersama saya. Saya sudah tidak bisa mengambil resiko, ini mengenai keselamatan Firlita, juga bayi yang ada dalam kandungannya." Tegas Hanaria.


"Nona Hana..... Saya mohon maaf atas semua kejadian yang menimpa Firlita, ini semua karena keteledoran saya dalam menjaganya. Saya berjanji..... Ini tidak akan terulang lagi. Dan saya mohon, Firlita tetap tinggal dirumah saya." Ucapnya memohon dengan merendahkan suaranya.


"Tidak bisa nyonya, saya sudah tidak mau ambil resiko lagi. Putra anda, tuan Mahendra terlalu liar, dan seorang psikopat. Saya tidak bisa membiarkan Firlita tinggal serumah dengan orang seperti itu, sekalipun ia suaminya." Tandasnya lagi.


"Saya mengerti kekhawatiran anda nona Hana. Itu sebabnya, saya sudah menyuruh Mahendra keluar dari rumah saya malam ini, setelah apa yang sudah ia lakukan pada Firlita." Ucap nyonya Mingguana datar tanpa emosi.


"Apakah....... Dengan kata lain..... Anda mengusir putra anda sendiri??" Tanya Hanaria memastikan, dari wajahnya ia merasa tidak percaya bila wanita paruh baya disebelahnya itu bisa melakukan hal itu.


"Iya..... Bisa dikatakan seperti itu....." Kembali nyonya Mingguana menyahut dengan nada datarnya, bahkan tanpa emosi sedikitpun terpancar dari wajahnya.

__ADS_1


Sementara dokter Rosalia hanya turut mendengarkan tanpa menyanggah salah satu dari pembicaraan kedua wanita dihadapannya itu.


"Sungguh sulit dipercaya. Anda tidak memiliki putra lainnya selain tuan Mahendra, bagaimana mungkin sebagai seorang ibu anda tega mengusirnya dari rumah anda. Atau ini hanya akal - akalan saja, supaya saya percaya." Hanaria tersenyum sinis.


"Percaya atau tidak, itulah sebenarnya yang saya lakukan nona Hana." Sahut nyonya Mingguana.


"Bila itu benar adanya...... Saya bertambah khawatir untuk membiarkan Firlita tinggal kembali bersama anda nyonya. Putra anda yang tunggal saja, mampu anda usir, apa lagi adik saya Firlita, yang bukan siapa - siapanya anda nyonya." Ucap Hanaria tajam.


Nyonya Mingguana kembali menelan salivanya. Ia berusaha menekan emosi dijiwanya, ucapan Hanaria teralu menyudutkannya. Tidak pernah ada seorangpun seberani gadis itu mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaanya.


"Bila saya telah memutuskan sesuatu, saya pasti mempunyai alasannya nona Hanaria. Dan saya rasa, saya tidak punya tanggung jawab apapun untuk memberi penjelasan pada anda." Ucap nyonya Mingguana masih dengan suara datar.


Hanaria terdiam, ia dapat merasakan wanita paruh baya itu sedang menunjukan dirinya yang sesungguhnya. Ia tahu, bahwa semua yang dikatakan wanita itu benar, Firlita memang sudah menjadi tanggung jawab keluarga dari pihak suaminya secara penuh.


"Memang benar..... Firlita adalah adik Nona Hana. Tapi nona pun tidak boleh melampaui batas dalam mencampuri urusan rumah tangga adik nona. Dan saya memaklumi apa yang nona lakukan adalah semata - mata adalah untuk melindungi, dan saya sangat tidak keberatan akan hal itu."


"Namun bila nona melarang Firlita kembali kerumah suaminya, saya bisa menuntut anda secara hukum nona Hanaria. Tapi saya sangat berharap, itu tidak terjadi diantara kita. Seperti kata saya sebelumnya, saya berjanji akan menjaga Firlita dengan baik dirumah saya, saya menjamin keselamatannya selama berada dirumah saya." Tegas nyonya Mingguana lagi.


"Tapi saya tidak akan melarang nona Hana untuk menengok ataupun mengunjungi Firlita kapan saja nona mau, karena nona adalah kakanya."

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau Firlita dirumah, lalu tuan Mahendra tiba - tiba datang, dan melakukan kembali kekerasan pada Firlita seperti yang sudah - sudah?" Tanya Hanaria, ia tidak mau menerima begitu saja sebelum dirinya merasa yakin akan apa yang akan dilakukan ibu mertua Firlita itu.


"Mulai sekarang Mahendra sudah tidak bisa keluar masuk rumah saya secara bebas nona Hana, saya sudah mengatur pengamannya. Termasuk dirumah sakit ini, khusus Firlita, tidak ada orang yang bisa datang menjenguknya dengan bebas selain saya dan nona Hana saja. Para pelayan saya juga tidak. Semua keperluan Firlita, sepenuhnya akan dilayani para perawat dirumah sakit ini." Jelas nyonya Mingguana secara gamblang.


"Baiklah.... Kita akan lihat, bila semua perkataan nyonya yang telah saya dengar ini sesuai dengan apa yang nyonya lakukan nanti. Saya setuju, bila Firlita kembali kerumah anda nyonya. Tapi bila tidak, saya tidak main - main pada ucapan saya. Saya akan membawa Firlita pulang kerumah saya." Sahut Hanaria akhirnya.


"Baik nona Hana...... Dan jangan lupa pada rangkaian kesepakatan kita....." Ucap Nyonya Mingguana mengingatkan, ia memang tidak sabar Hanaria segera memenuhi janjinya.


"Saya ingat nyonya, saya bukanlah termasuk orang yang suka ingkar janji. Kesepakatan kita akan tetap berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan." Sahut Hanaria meyakinkan.


"Saya percaya itu, dan saya akan pegang kata - kata nona Hana. Baiklah, bila sudah tidak ada yang kita bicarakan lagi saya akan pamit. Dokter Rosa, saya titip Firlita menantu saya, mulai malam ini sampai ia pulih dan dinyatakan boleh pulang. Tolong saya selalu dikabari tentang perkembangan kesehatannya." Ucapnya kemudian.


"Baik nyonya Mingguana, nanti perawat kami akan memberikan laporan setiap harinya pada anda mengenai kesehatan nona Firlita." Sahut dokter Rosalia sambil mengulas senyum tipisnya.


"Apakah nona Hana masih tetap disini?" Tanya nyonya Mingguana beralih memandang kearah Hanaria yang masih duduk disebelahnya.


"Iya nyonya..... Untuk malam ini, saya akan menginap disini, menemani Firlita, saya khawatir dia masih merasa takut sendirian." Sahut Hanaria ringkas.


"Baiklah kalau begitu...... Saya akan pulang duluan nona Hana." Setelah berkata demikian, nyonya Mingguana berdiri, begitu pula dengan Hanaria dan dokter Rosalia, lalu mengantarkan nyonya Mingguana hingga kepintu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak dokter Rosa, anda sudah mengabarkan pada saya bahwa Firlita ada disini. Pantas saja perasaan saya sangat tidak enak, ternyata telah terjadi sesuatu padanya sehingga teleponnya tidak diangkat." Ucap Hanaria setelah dilihatnya nyonya Mingguana sudah cukup menjauh.


__ADS_2