
Hanaria menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah kaki panjangnya. Pandangannya tidak sengaja menangkap sosok wanita tua yang sangat dikenalnya dilorong rawat anak-anak. Untuk memastikan, Hanaria segera berbelok kearah lorong dimana wanita itu berada.
"Bibi! Bibi Narsih!" panggil Hanaria saat jaraknya dengan wanita itu hanya menyisakan beberapa meter saja lagi. Wanita itu menoleh, lalu membungkuk hormat saat melihat siapa yang sedang memanggilnya.
"Nona Hanaria," sapanya kemudian dan mengulas senyum diwajahnya.
"Apa yang sedang Bibi lakukan disini?" tanya Hanaria membalas senyuman bibi Narsih.
"Itu Non, Den Elvano sakit, sejak semalam panasnya tinggi sekali, saya takut," ucap wanita itu cemas. "Maafkan saya belum sempat mengabari Nona, karena baru saja selesai mengurus semuanya."
"Tidak apa-apa Bi, yang penting Elvano sudah mendapat perawatan. Dimana ruangannya Bi, aku mau melihatnya," kata Hanaria turut merasa cemas.
"Disebelah sana Non. Ayo, ikutlah dengan saya," ajak bibi Narsih. Keduanya lalu berjalan beriringan. Tidak lama, mereka memasuki ruangan yang cukup luas. Didalamnya ada banyak pasien anak-anak bersama kedua orang tuanya yang menemani dengan kain gorden sebagai pembatas.
Beberapa orang dewasa disana sempat memperhatikan keberadaan Hanaria yang bertubuh tinggi melebihi dari wanita-wanita pada umumnya. Orang-orang itu segera memberi senyuman ramah, saat Hanaria terlebih dahulu melemparkan senyum ramahnya pada mereka.
Bibi Narsih mendekati satu ranjang kecil anak batita, seorang bayi laki-laki sedang tertidur, sementara jarum infus tengah menusuk salah satu tangan mungilnya.
Kelopak mata Hanaria langsung menghangat, melihat bayi sekecil itu sudah harus menahan sakitnya jarum infus menembus dagingnya.
Sementara bibi Narsih menarik gorden-gorden berwarna hijau itu, untuk menutup tempat itu hingga membentuk satu ruangan kecil yang sempit, Hanaria menyentuh dahi mungil Elvano.
"Terasa masih hangat Bi," lirih Hanaria.
"Iya Non, dokter baru saja memberi Den Elvano obat penurun panas," jelas bibi Narsih dan mendorong kursi plastik agar Hanaria bisa duduk diatasnya.
__ADS_1
"Terima kasih Bi," sebelum Hanaria mendudukkan dirinya dikursi plastik yang diberikan oleh bibi Narsih, ia menggesernya agar lebih dekat dengan ranjang Elvano.
"Menurut keterangan dokter, apa sakit Elvano Bi?" tanya Hanaria sambil memperhatikan wajah Evano yang terlihat sedikit pucat. Ia membelai rambut bayi itu dengan hati-hati supaya tidak terbangun.
"Kata dokter hanya demam Non, ditambah dehidrasi juga, sebab beberapa hari ini Den Elvano tidak mau minum susu formula, karena mulai lahir, Den Elvano sudah terbiasa minum ASI ibunya," jelas bibi Narsih.
"Elvano pasti sangat merindukan ibunya," tambah Hanaria semakin merasa sedih melihat bayi sekecil itu sudah ditinggal oleh mendiang ibunya.
Hanaria memandang berkeliling, melihat situasi ruang rawat inap Elvano yang hanya berukuran tiga kali tiga meter dan dibatasi oleh gorden hijau sebagai dinding penyekatnya, itu memang ruang rawat para pasien menengah kebawah dirumah sakit itu.
"Bibi, tolong berikan padaku akte kelahiran Elvano, supaya aku bisa memindahkannya keruangan yang lebih nyaman dari ini. Bibi juga bisa beristirahat dengan nyaman sambil menjaganya, tidak bising seperti disini," kata Hanaria menoleh pada bibi Narsih yang duduk disampingnya.
"Saya tidak tahu Non. Saya sudah mencarinya dikamar mendiang non Firlita, tapi tidak saya temukan. Mungkin dikamar nyonya Mingguana atau di kamar tuan Mahendra. Tapi saya tidak berani masuk kesana Non, saya takut," ucap bibi Narsih.
Hanaria mengambil note book miliknya dari dalam tas kerja-nya, dan menuliskan nama dokter yang disebutkan oleh bibi Narsih. Setelah selesai ia berpamitan dengan sang bibi dan tidak lupa mencium pipi bayi Elvano yang masih tertidur dengan lembut.
Hanaria segera menemui salah seorang petugas administrasi diruangannya.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa pegawai administrasi rumah sakit itu ramah saat melihat Hanaria berdiri dihadapannya.
"Selamat siang Bu. Saya Hanaria, mau memesan satu ruangan VIP untuk bayi Elvano yang sedang dirawat diruang kelas tiga Flamboyan nomor delapan puluh delapan," kata Hanaria menyampaikan tujuannya.
"Ditunggu sebentar ya Nona, saya akan mengeceknya dahulu," kata sang petugas wanita itu. Tangannya mulai mengetik diatas keyboard komputer pada mejanya, sambil menggerak-gerakkan kursor dengan tangan kanannya untuk beberapa waktu lamanya. Hanaria menantinya dengan sabar.
"Ruang VIP masih ada dua Nona, VIP N dan VIP R. Nona pilih yang mana?" tanya petugas itu menatap Hanaria.
__ADS_1
"VIP R saja," sahut Hanaria.
"Boleh saya minta identitas Anda nona?" kata perugas itu. Hanaria lalu mengambil E-KTP miliknya dari dalam dompetnya, lalu memberikannya pada sang petugas.
Petugas itu lalu dengan cekatan memasukan data pribadi Hanaria yang diperlukan kedalam komputer dihadapannya, setelah selesai ia lalu mengembalikannya pada Hanaria.
"Maaf Nona, untuk ruangan VIP ini, Anda harus membayar lunas ruangannya sebelum menempatinya, beserta ruangan kelas tiga Flamboyan sebelumnya, sementara biaya perawatan bisa dilakukan setelah pasien diperkenankan pulang oleh dokter," jelasnya pada Hanaria.
"Baiklah Bu, tolong tuliskan total nilai nominal dan nomor rekeningnya, saya akan transfer sekarang," kata Hanaria.
Petugas itu lalu mengambil sehelai kertas memo dan pulpen, lalu menuliskan total nilai nominal yang tertera di komputer dihadapannya beserta nomor rekening yang diminta oleh Hanaria.
"Ini Nona Hana," pegawai wanita itu menyerahkan kertas memo yang ia tulis. Hanaria segera menyambutnya dan mengetik total nilai nominal yang harus ia transfer lewat ponsel miliknya.
"Sudah saya transfer Bu," kata Hanaria, setelah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
"Ditunggu sebentar Nona, saya akan mengeceknya terlebih dulu," kata petugas wanita itu seraya mengutak-atik kembali komputer dihadapannya.
"Iya Nona, transfer uang Anda sudah masuk. Pihak kami akan mengurus kepindahan bayi Elvano ke ruang baru-nya." ujar sang pegawai wanita itu.
"Terima kasih banyak atas bantuannya Bu, saya permisi dulu," pamit Hanaria.
"Sama-sama Bu," sahut sang pegawai administrasi itu.
Bersambung...👉
__ADS_1