
"Mommy tidak mau tahu Willy......! Kau harus meminta maaf pada Hanaria atas apa yang telah kau lakukan." Perintah Yurina pada Willy putranya.
"Besok pemberkatan nikahmu, mommy tidak ingin hal serupa seperti malam ini terjadi lagi. Jadilah pria sejati Willy, kapan kau akan memulainya bila bukan sekarang. Tidak bisa kau mengandalkan kakakmu terus menerus." Yurina nampak memarahi putranya, yang ia anggap sudah melewati batas.
"Dan kau Billy, apa yang sudah kau lakukan. Hanaria itu adik iparmu. Ini penikahan, kenapa kalian menganggapnya seperti permainan. Ingat ini bukan lelucon! Katakan pada mommy, kenapa kau melakukannya, berkata yang jujur!" Wajah Yurina yang biasa terlihat lembut berubah garang, terlihat ia sangat marah pada kedua putranya.
Billy hanya terdiam, ia tahu dirinya salah selalu menuruti keinginan Willy adiknya.
"Maafkan Wiilly mom.... dad..... Willy yang meminta kak billy melakukan semuanya itu. Willy..... tidak bisa menari, Willy malu kalau terlihat seperti pria bodoh didepan para warga ditempat ini." Willy berusaha mengemukakan alasanya.
"Kak Billy bisa melakukannya karena ia sering bertugas diperbatasan, itu sebabnya Willy minta kak Billy menolong Willy." Sahut Willy dengan perasaan bersalah.
"Kau malu terlihat bodoh hanya karena tidak bisa menari Willy? Sekarang bagaimana dengan Hanaria yang beberapa minggu terakhir, mendapat celaan, hinaan, dan berbagai hal buruk lainnya karena perbuatanmu dulu? Dia tidak lari dari kenyataan seperti dirimu." Pungkas Yurina.
"Untung saja Hanaria, dan semua keluarganya, juga warga dusun tidak mengetahui perbuatan kalian ini, karena kalian berdua kembar."
"Bagaimana kalau mereka sampai tahu? Kita akan bisa menghadapi masalah besar, ini bukan tentang satu keluarga, tapi seluruh warga, dan menyangkut adat istiadat mereka." Ungkap Yurina yang merasa sangat khawatir bila perbuatan kedua putranya itu diketahui.
"Nona Hanaria, dia tahu kalau yang bersamanya malam ini dalam acara adat itu adalah aku bukan Willy." Terang Billy.
Ucapan Billy menyentak Yurina, Moranno dan Willy, mereka menatap Billy seakan tidak percaya akan ucapannya.
"Bagaimana nona Hana bisa tahu kalau yang bersamanya bukan aku tapi kak Billy?" Wajah Willy mendadak pucat.
"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Nona Hanaria bahkan memintaku menjaga jarak dengannya dan memanggilku kakak ipar. Tapi aku dapat melihat, kalau dirinya berusaha menjaga supaya para warga dan keluarganya tidak mengetahui apa yang aku lakukan." Ucap Billy, sambil mengingat, bagaimana Hanaria berkata pelan sambil melirik dengan ekor matanya kesemua arah.
"Kau salah Willy, bila berpikir Hanaria tidak tahu apa - apa tentang dirimu." Ungkap Billy menatap wajah adik kembarnya itu.
Willy kembali tertegun mendengar ucapan Billy kakaknya, perkataan itu sangat mengganggu fikirannya.
"Sudahlah, sekarang kita harus segera beristirahat, sudah larut malam. Besok, masih ada prosesi pemberkatan nikahmu Willy. Kau harus mempersiapkan dirimu. Semua masalah yang telah kau buat berama kakakmu Billy malam ini terhadap Hanaria, kau harus mencari cara untuk meminta maaf pada calon isterimu itu." Ucap Moranno mengakhiri perbincangan mereka malam itu.
Willy kembali kekamarnya, ia berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Namun fikirannya masih mengembara kemana- mana. Wajah Hanaria melintas begitu saja dibenaknya, bagaimana tatapan wanita itu langsung menatapnya kecewa setelah Billy kakaknya menurunkannya dari gendongannya.
__ADS_1
...***...
"Hana......! Kau cantik sekali!" Ucap Shasie menatap wajah Hanaria dengan gaya cerianya.
"Benarkah aku cantik?" Sahut Hanaria menatap Shasie dan berusaha mengembangkan senyum diwajahnya yang sangat sulit ia lakukan pagi itu, saat mereka sudah berada dihalaman gereja.
Peristiwa semalam masih sangat membekas dihatinya, betapa kecewanya dirinya pada apa yang telah dilakukan Willy yang menjadi calon suaminya itu.
"Iya..... kau sangat cantik Hana....." Ucap Laras dan Norsa bersamaàn membenarkan ucapan Shasie, keduanya lalu memeluk Hanaria dengan eratnya diikuti Shasie.
Hanaria membalas pelukan ketiga sahabatnya itu. Namun Linda hanya berdiam diri saja dengan wajah tanpa ekapresi melihat keempat sahabatnya saling berpelukan dihadapannya.
"Linda......." Hanaria menatap Linda yang berdiri dihadapannya. Ia melepaskan pelukan Norsa, Laras, dan Shasie lalu mendekati sahabatnya itu sambil menatapnya.
"Maafkan aku Linda........" Lirih Hanaria.
"Maaf untuk apa?" Tanya Linda dengan suara lirih pula.
"Kenapa kau baru meminta maaf sekarang? Bagaimana kalau aku tidak mau?" Sahut Linda datar.
Hanaria menatap wajah Linda, mulutnya terbuka namun suaranya hanya berhenti ditenggorokannya saja, hanya bibirnya saja yang bergerak - gerak.
"Linda.....! sudahlah......!Jangan menggoda Hana, kasian dia. Kau sudah membuatnya tidak nyaman. Ini hari pernikahannya Linda..... Nanti make - up nya luntur, kau bisa dimarahin tuan besar dan tuan muda suaminya." Ujar Shasie yang tidak tega melihat Hanaria serba salah.
Linda langsung memasang wajah cengir kuda, membuat Hanaria langsung memeluknya gemas.
"Lindaaaa...... Kau membuatku takut." Ucap Hanaria memeluk erat Linda.
"Takut kenapa?" Tanya Linda masih berusaha menggoda, membuat ketiga temannya memelototkan matanya supaya dirinya berhenti menggoda Hanaria.
"Takut disebut sahabat pengkhianat....." Ucap Hanaria spontan. Keempat sahabatnya langsung tertawa bersama mendengar jawaban Hanaria.
"Pengkhianat itu, kalau Linda sudah ada hubungan dengan tuan muda. Ini kan hanya Linda yang suka, bertepuk sebelah tangan gituuuu...." Ucap Shasie ikut bercanda sambil menggigit.
__ADS_1
"Shasie......! Kau sepertinya ada sentimen pribadi denganku..... Bukankah kau juga sama sepertiku dulu." Linda merasa Shasie mengambil kesempatan untuk mengatainya.
"Sudahlah...... Kenapa kalian berdua mesti bertengkar dihari bahagia Hanaria. Yang pasti, tuan muda Willy hanya akan menikah dengan Hanaria, bukan salah satu diantara kita." Ucap Laras sambil meraih tangan Hanaria.
"Kami..... turut berbahagia bersamamu Hana..... Jangan lupakan kami setelah kau nanti menjadi nyonya Willy......." Ucap Laras selanjutnya. Hanaria hanya tertawa mendengar ucapan Laras.
"Kau sangat beruntung Hana, memiliki suami tampan, tajir lagi....." Seloroh Norsa.
"Benarkah? Benarkah aku seberuntung seperti yang kalian katakan? Andai saja...... andai saja kalian tahu seperti apa pria yang aku nikahi, kalian pasti menyesal pernah mengidolakannya." Batin Hanaria.
Mendung tiba - tiba bergelayut diwajahnya yang sudah siap melakukan pemberkatan nikah pagi itu. Hatinya merasa ragu, kembali ia teringat apa yang dilakukan Billy dan Willy diacara adat semalam. Bagaimana mungkin kedua saudara kembar itu bertukar posisi diacara sesakral itu.
Hanaria tiba - tiba menjadi takut, bisa saja kedua saudara kembar itu kembali akan melakukan bertukar posisi dihal - hal lainnya yang tidak ia duga. Membayangkannya saja membuat Hanaria bergidik ngeri.
"Hana...... Apakah kau sudah siap sekarang?" Tanya pak Muri membuyarkan lamunan putrinya.
"Hmm.... Ayah..... Apakah ayah yakin, memberikan putri kesayangan ayah pada pria lain yang belum ayah kenal dengan baik?" Bukannya menjawab, Hanaria malah balik bertanya dengan suara lirih.
Ibu Muri yang berdiri disisi pak Muri suaminya langsung memegang dadanya yang tiba - tiba terasa sesak setelah mendengar ucapan Hanaria.
Keempat sahabat Hanaria juga sempat terkejut, mereka dapat merasakan ada keraguan dari ucapan Hanaria itu.
"Hana..... mengapa kau bertanya seperti itu? Apa yang membuatmu ragu nak, katakan pada ayah dengan jujur." Ucap pak Muri menatap lembut mata putrinya yang mulai berkaca - kaca.
Hanaria berusaha menahan gejolak didadanya, ia tidak mungkin mengatakan apa yang telah dilakukan Billy dan Willy semalam. Keluarga Agatsa pasti mendapat masalah, bukan hanya dengan keluarganya, tapi segenap warga dusunnya karena dianggap meremehkan adat istiadat tradisional mereka.
"Tidak ada ayah......" Ucap Hanaria akhirnya, ia memutuskan untuk berbohong, dirinya juga belum tahu pasti, apa alasan kedua saudara kembar itu sampai melakukan hal itu.
"Kalau begitu.... tunggu apa lagi..... Kita sudah ditunggu didalam sana Hana......" Tunjuk pak Muri ke gedung gereja yang berbentuk rumah panggung, yang ada dihadapan mereka. Ia lalu mengeringkan air mata putrinya yang menggenang dipelupuk mata menggunakan sapu tangan yang ada disaku jasnya.
"Terima kasih ayah....." Hanaria memaksakan senyum diwajahnya, ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang masih belum bisa mempercayai Willy sepenuhnya.
Namun ia juga tidak mau merusak acara hari ini hanya karena pikirannya sendiri. Ia selalu berusaha berkomitmen dalam hidupnya, tidak akan pernah berjalan mundur, tapi tetap harus berani menghadapi apapun yang akan terjadi didepannya.
__ADS_1